NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Peran Indonesia dalam pasokan kobalt dunia diproyeksikan akan terus meningkat seiring perubahan struktur pasar global yang dipengaruhi kebijakan kuota ekspor Republik Demokratik Kongo atau Democratic Republic of the Congo (DRC) serta pertumbuhan permintaan dari sektor kendaraan listrik, pusat data, dan kecerdasan buatan.
Pernyataan tersebut disampaikan Director General of Cobalt Institute, Dinah McLeod, dalam paparan berjudul “Cobalt in Focus: Powering the Next Chapter of Critical Minerals” pada Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026, yang digelar Shanghai Metals Market (SMM) dan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
“Sumber kobalt yang paling penting ada di DRC, tempat 70% atau lebih pasokan berasal. Namun, Indonesia, yang 10 tahun lalu memiliki cadangan kobalt yang sangat sedikit, kini menjadi pemasok kobalt terbesar kedua di dunia. Di DRC kobalt merupakan produk sampingan dari tembaga, sedangkan di Indonesia, kobalt merupakan produk sampingan dari nikel,” ungkap McLeod.
Dia menjelaskan, tahun lalu pemerintah DRC melarang ekspor kobalt, yang disusul dengan sistem kuota karena pertimbangan harga. Kondisi tersebut mengubah kondisi pasar dari sebelumnya mengalami kelebihan pasokan menjadi lebih ketat dan berdampak signifikan terhadap dinamika perdagangan kobalt global.

“Akibat dari larangan ekspor tersebut oleh DRC, pasokan kobalt kini sangat bergantung pada Indonesia” katanya.
Kondisi saat ini, sambungnya, membuat pasar kobalt berada dalam situasi yang lebih ketat, meskipun secara produksi global masih terdapat volume yang cukup besar dari berbagai negara penghasil.
“Jadi, saat ini produksi kobalt masih berlangsung di DRC. Masih ada tambang-tambang yang sangat produktif di DRC dan di tempat lain di dunia yang memproduksi kobalt. Namun, karena intervensi Pemerintah DRC, kita melihat bahwa sebenarnya pasokan kobalt yang tersedia telah berubah secara dramatis” ucapnya.
Menurut konklusinya, kondisi tersebut turut mendorong pergeseran aliran pasokan kobalt global, termasuk meningkatkan peran Indonesia dalam memenuhi kebutuhan kobalt dunia di tengah perubahan struktur perdagangan tersebut.
Di sisi lain, Cobalt Institute mencatat bahwa permintaan kobalt global tumbuh sekitar 15% secara tahunan dan diperkirakan masih akan berlanjut seiring meningkatnya kebutuhan dari berbagai sektor industri.
Pertumbuhan tersebut tidak hanya berasal dari kendaraan listrik tetapi juga dari sektor lain, seperti pusat data dan aplikasi kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI) yang membutuhkan sistem penyimpanan energi berbasis baterai dalam jumlah besar. Dengan kombinasi keterbatasan pasokan dan meningkatnya permintaan global, Cobalt Institute menilai, pasar kobalt akan tetap berada dalam kondisi ketat dalam beberapa tahun ke depan, dengan Indonesia menjadi salah satu negara yang paling diuntungkan dari dinamika tersebut. (Tubagus)









































