Beranda Berita Nasional ASEAN Hadapi Dilema Strategis Mineral Baterai, Transisi Energi Terancam Tanpa Koordinasi Regional

ASEAN Hadapi Dilema Strategis Mineral Baterai, Transisi Energi Terancam Tanpa Koordinasi Regional

66
0
Analis energi Sarah (Foto: Tangkapan layar)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Kawasan ASEAN berada di persimpangan krusial dalam perebutan posisi di ekonomi baterai global. Di satu sisi, kawasan ini memiliki kekayaan sumber daya mineral penting, seperti nikel dan bauksit. Namun, di sisi lain, ketergantungan tinggi terhadap impor litium dan grafit berpotensi menjadi titik lemah serius dalam upaya transisi energi hingga 2040.

Dalam forum industri ASEAN Energy Transition Minerals Demand-Supply Assessment Roundtable, analis energi Sarah menegaskan, masa depan ASEAN dalam rantai pasok baterai sangat ditentukan oleh keputusan jangka pendek yang diambil saat ini.

“Kami melihat adanya kekuatan besar di sisi penyediaan, tetapi juga gap struktural yang membutuhkan aksi koordinatif lintas negara,” ujar Sarah dalam paparannya, Senin (27/4/2026).

Analisis tersebut memetakan tiga skenario utama, yakni business as usual, kebijakan saat ini (current policies), dan jalur net-zero. Hasilnya menunjukkan bahwa tanpa intervensi strategis, ASEAN berisiko tertinggal dalam kompetisi global meskipun memiliki modal sumber daya alam yang signifikan.

ASEAN saat ini memiliki cadangan melimpah untuk mineral, seperti nikel, tembaga, dan mangan. Namun, dua komponen kunci baterai litium-ion, yakni litium dan grafit, hampir sepenuhnya masih bergantung pada pasokan dari luar kawasan.

“Ini bukan sekadar isu pasokan, tetapi juga menyangkut keamanan energi dan ketergantungan geopolitik,” katanya.

Lonjakan produksi nikel, terutama dari Indonesia, menjadi sorotan utama. Kebijakan hilirisasi dinilai berhasil mendorong pertumbuhan pesat industri smelter. Namun, tantangan berikutnya adalah meningkatkan kapasitas pemrosesan menjadi nikel kelas baterai.

“Baterai tidak membutuhkan nikel mentah, melainkan nikel yang telah melalui proses refining yang kompleks,” jelasnya.

Dari sisi permintaan, karakteristik pasar ASEAN juga berbeda dibandingkan kawasan Eropa dan Amerika. Elektrifikasi kendaraan di kawasan ini diperkirakan akan didominasi oleh sepeda motor dan kendaraan roda tiga, bukan mobil pribadi. Hal ini turut memengaruhi desain teknologi baterai dan struktur rantai pasoknya.

“Transisi di ASEAN akan digerakkan oleh mobilitas urban—motor listrik, skuter, dan kendaraan ringan. Ini membutuhkan pendekatan berbeda, termasuk dalam pemilihan kimia baterai,” ujarnya.

Selain kendaraan listrik, kebutuhan sistem penyimpanan energi (battery energy storage) untuk mendukung pembangkit energi terbarukan juga meningkat signifikan. Setelah 2030, permintaan baterai diproyeksikan melonjak hingga 2,5 kali lipat dibandingkan skenario business as usual. Kondisi ini menciptakan kompetisi langsung antara sektor kendaraan listrik dan penyimpanan energi dalam memperebutkan mineral yang sama.

“EV dan battery energy storage tidak bisa direncanakan secara terpisah. Keduanya bersaing untuk sumber daya yang identik,” tegasnya.

Dalam konteks ini, litium menjadi tantangan terbesar. Tanpa cadangan lokal, ASEAN harus mengandalkan impor dari kawasan seperti Amerika Selatan, Australia, dan Afrika, sementara proses pemrosesan masih didominasi oleh China.

“Semua skenario menunjukkan permintaan litium akan meningkat drastis, dan seluruh tambahan pasokan harus berasal dari luar kawasan,” ungkap Sarah.

Ia menekankan pentingnya strategi jangka panjang, termasuk diversifikasi sumber impor serta penguatan kerja sama antarnegara untuk mengamankan rantai pasok.

“Jendela untuk mendapatkan posisi strategis masih terbuka saat ini, sebelum pasar menjadi terlalu kompetitif,” katanya.

Di sisi lain, dinamika teknologi turut menambah kompleksitas. Pergeseran global menuju baterai berbasis lithium ferro phosphate (LFP) berpotensi mengurangi relevansi nikel, yang selama ini menjadi keunggulan utama ASEAN.

“Jika tren ini berlanjut, kekuatan nikel kawasan bisa tereduksi,” ujarnya mengingatkan.

Sebagai kesimpulan, ASEAN memiliki peluang besar, tetapi juga menghadapi risiko yang tidak kecil. Tanpa strategi terpadu dan investasi berkelanjutan, kawasan ini berpotensi kehilangan momentum dalam perlombaan global menuju ekonomi energi bersih.

“Ini bukan hanya soal sumber daya, tetapi bagaimana mengubahnya menjadi nilai strategis,” tutupnya. (Shiddiq)