Beranda Berita Nasional Setelah Membangun Industri Nikel Berskala Dunia, Indonesia Harus Membangun Kepercayaan

Setelah Membangun Industri Nikel Berskala Dunia, Indonesia Harus Membangun Kepercayaan

100
0
Booth Neo Energy di ICMCE 2026 (Foto: MNI/RDj.)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Indonesia dinilai sudah berhasil membangun industri nikel berskala dunia. Sekarang waktunya melangkah ke tahap berikutnya dengan membangun kepercayaan di tingkat global.

Penilaian dan saran tersebut disampaikan oleh President Commissioner of Neo Energy, Joseph Hong, pada Indonesia Critical Mineral Conference and Expo (ICMCE) 2026, di Hotel Pullman Central Park, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Rabu (3/6/2026).

“Indonesia telah menunjukkan kepada dunia mampu membangun industri nikel berskala dunia. Kini harus menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu membangun kepercayaan. Indonesia telah lama dianggap memiliki citra kurang fokus pada lingkungan, tetapi pada saat yang sama Indonesia telah menunjukkan bahwa kita bisa membangun industri nikel dan juga membangun kepercayaan,” ujar Joseph Hong pada acara yang diselenggarakan Shanghai Metals Market (SMM) bekerja sama dengan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) itu.

Saat ini, katanya melanjutkan, dunia tidak lagi hanya menilai kemampuan produksi nikel, tetapi juga bagaimana nikel tersebut diproduksi, termasuk jejak karbon dan praktik keberlanjutan di sepanjang rantai produksi.

“Bagaimana kita memproduksi, bagaimana mengambil nikel dari tanah, serta seberapa besar jejak karbon yang dihasilkan, kini menjadi semakin penting, tidak hanya bagi pasar internasional, tetapi juga bagi konsumen, bankir, dan investor,” katanya.

Dia menegaskan, konsep nikel hijau tidak dapat hanya dilihat dari produk akhirnya, melainkan harus dimulai dari proses produksinya. Baterai kendaraan listrik tidak bisa disebut hijau jika diperoleh dari praktik penambangan yang buruk atau jika dalam proses produksinya menghasilkan emisi karbon yang tinggi.

Industri nikel Indonesia saat ini tengah bertransformasi dari teknologi RKEF menuju HPAL dengan arah pengembangan yang menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari desain sejak awal, bukan sekadar tambahan di akhir proses.

“Keberlanjutan energi dirancang sejak awal, bukan ditambahkan di akhir. Kami juga menargetkan penggunaan energi hijau 100% ke depan dan berupaya menurunkan intensitas karbon hingga di bawah 10 ton per ton nikel yang diproduksi,” ucapnya.

Energi hijau tidak hanya berkaitan dengan tanggung jawab lingkungan, tetapi juga menjadi strategi bisnis karena dapat menurunkan biaya operasional dan meningkatkan ketahanan usaha dalam jangka panjang.

“Jika kita menerapkan energi hijau di setiap pabrik, memang membutuhkan modal besar di awal, tetapi pada akhirnya biaya operasional menjadi lebih rendah dan membuat bisnis lebih tahan terhadap fluktuasi biaya energi,” katanya.

Di akhir paparannya, ia menegaskan, industri harus membangun kepercayaan tidak hanya kepada pasar dan investor, tetapi juga kepada masyarakat dan generasi mendatang.

“Kita dapat menunjukkan kepercayaan kepada pelanggan, investor, dan karyawan bahwa bisnis ini berkelanjutan, serta kepada komunitas lokal bahwa kita bisa bekerja berdampingan tanpa merusak lingkungan mereka. Dan, yang paling penting, kita menunjukkan kepercayaan kepada generasi mendatang bahwa kita telah mengelola sumber daya ini secara bertanggung jawab,” tutupnya. (Tubagus)