Beranda Berita Nasional Aldo Namora: Tak Semua Standar ESG Global bisa Langsung Diterapkan di Indonesia

Aldo Namora: Tak Semua Standar ESG Global bisa Langsung Diterapkan di Indonesia

121
0
Presdir PT Ceria Metalindo Prima, Aldo Namora (Foto: MNI/Tubagus)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Tidak semua parameter dalam standar environmental, social, and governance (ESG) yang berlaku secara global dapat diterapkan secara langsung di Indonesia. Karena,  perbedaan kondisi sosial, budaya, dan karakteristik masyarakat di setiap negara berbeda.

“Kita pahami, walaupun standar ESG ini banyak dan banyak syarat kepatuhan yang cukup ketat, tetapi ada beberapa parameter yang tidak serta-merta bisa diterapkan untuk kondisi Indonesia,” kata Presiden Direktur PT Ceria Metalindo Prima, Aldo Namora, kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id) di sela-sela acara 2nd ESG Forum 2026, yang diselenggarakan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI),di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

ESG tetap, menurut Aldo, menjadi aspek penting dalam pengelolaan industri mineral. Tetapi, implementasinya perlu memperhatikan kondisi riil di lapangan agar dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat yang optimal.

Ia mencontohkan isu indigenous people atau masyarakat adat atau penduduk asli yang kerap menjadi salah satu parameter dalam penilaian ESG global. Menurutnya, kondisi tersebut tidak selalu dapat disamakan dengan Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang telah mengalami asimilasi dan perkembangan masyarakat yang sangat beragam.

“Di beberapa daerah boleh dibilang sudah tidak ada lagi indigenous people, misalnya di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi sudah plural. Kita sudah tidak bisa lagi bilang mana yang penduduk asli mana yang pendatang karena sudah asimilasi, kecuali di beberapa daerah di Indonesia bagian timur seperti Papua,” ujarnya.

Kendati demikian, ESG tidak boleh dipandang sekadar sebagai pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan harus menjadi bagian dari operasi perusahaan. ESG perlu menjadi komitmen jangka panjang dalam pengelolaan industri mineral yang berkelanjutan.

“ESG ini perlu menjadi fundamental operasi, perlu menjadi komitmen, bukan sekadar compliance atau kepatuhan terhadap regulasi atau kebijakan,” ucapnya.

Pendekatan tersebut, lanjutnya, penting untuk memastikan pemanfaatan sumber daya mineral yang berkelanjutan mengingat karakteristiknya yang tidak dapat diperbarui. Karena itu, prinsip ESG di Ceria telah diterapkan sejak tahap perencanaan proyek, termasuk dalam penentuan kapasitas produksi yang disesuaikan dengan ketersediaan cadangan agar umur operasi tambang dan fasilitas pengolahan dapat berlangsung dalam jangka panjang.

“Dari hari pertama kita merencanakan operasi itu kita sudah mengimplementasikan prinsip-prinsip ESG. Jadi, terkait dengan rencana strategis perusahaan, kita mendefinisikan strategi pengembangan itu bukan semata-mata memaksimalkan kapasitas output, tapi kita merencanakan kapasitas produksi berdasarkan sumber daya nikel dan cadangan nikel yang kita punya,” tutupnya. (Tubagus)