
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Indonesia Nickel Price Index (INPI) yang dirilis Asosiasi Penambang Nikel Indonesia bersama Shanghai Metals Market (SMM) pada 13 April 2026 menunjukkan pergerakan yang beragam dibandingkan rilis sebelumnya pada 6 April 2026.
Harga bijih nikel kadar rendah (1,2% CIF) tercatat stabil, sementara bijih nikel kadar lebih tinggi (1,6% CIF) mengalami kenaikan tipis. Di sisi lain, produk antara (intermediate), seperti nickel pig iron (NPI) dan high-grade nickel matte (HGNM) mengalami koreksi penurunan, sedangkan mixed hydroxide precipitate (MHP) justru menguat.

Secara rinci, perbandingan harga INPI 6 April 2026 dan 13 April 2026 adalah sebagai berikut.
| PRODUK | 6 APRIL 2026 | 13 APRIL 2026 | KETERANGAN |
| Bijih Nikel 1,2% (CIF) | US$28,5/mt | US$28,5/mt | Tetap |
| Bijih Nikel 1,6% (CIF) | US$71,2/mt | US$72,2/mt | Naik US$1/mt |
| NPI (FOB) | US$136,83/mt | US$136,79/mt | Turun US$0,04/mt |
| HGNM (FOB) | US$15.666/mt | US$15.607/mt | Turun US$59/mt |
| MHP (FOB) | US$15.383/mt | US$15.282/mt | Turun US$101/mt |

Bijih Nikel 1,2% (CIF): Tidak mengalami perubahan harga, menunjukkan keseimbangan antara pasokan dan permintaan untuk kadar rendah. Bijih Nikel 1,6% (CIF), naik tipis mencerminkan permintaan yang masih cukup kuat, terutama dari smelter yang membutuhkan kadar lebih tinggi. NPI turun tipis mengindikasikan tekanan harga dari sisi permintaan baja nirkarat (stainless steel) yang belum pulih signifikan.
HGNM, penurunan lebih dalam dibanding NPI, menunjukkan adanya tekanan di rantai pasok bahan baku baterai. MHP, satu-satunya produk yang mencatat kenaikan, menandakan masih adanya permintaan dari sektor baterai kendaraan listrik.
Secara keseluruhan, rilis INPI 13 April 2026 memperlihatkan pasar nikel Indonesia yang masih cenderung sideways dengan tekanan pada produk hilir tertentu, namun tetap ditopang oleh permintaan sektor baterai yang menjaga harga MHP tetap positif. (Li Han)








































