

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri nikel Indonesia dinilai perlu memperkuat integrasi operasi dari hulu hingga hilir guna menghadapi tekanan pasar dan menjaga keberlanjutan hilirisasi nasional. Model operasi yang terintegrasi secara vertikal disebut menjadi kunci pelaku industri mampu bertahan di tengah berbagai guncangan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Country Manager Indonesia of Ame Research, Boy Firman, mengatakan, kebijakan hilirisasi dan pembangunan fasilitas beneficiary telah membawa dampak positif bagi sektor pertambangan nasional.
“Semangat hilirisasi itu sangat bagus, terutama untuk industri pertambangan di Indonesia. Kita tidak hanya meningkatkan kualitas metodologi pertambangan yang baik, tetapi juga dari sisi output perlu dilakukan hilirisasi yang terukur,” kata Boy dalam acara APNI Talkshow Series, yang diselenggarakan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia, di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, pekan lalu.
Ia menjelaskan, dengan adanya strategi hilirisasi investasi asing mulai masuk untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian nikel sebagai bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri.

Ia berpandangan, hilirisasi tidak seharusnya berhenti di sektor midstream, seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) atau produk setengah jadi lainnya. Tetapi, industri nasional perlu bergerak lebih jauh hingga ke sektor manufaktur dan otomotif agar nilai tambah ekonomi yang dihasilkan lebih besar.
“Kalau kita melihat player seperti Harita dan yang lain, mereka memiliki operasi yang terintegrasi secara vertikal yang sebenarnya bisa bertahan,” ujarnya.
Meski menghadapi sejumlah tekanan, industri nikel di Indonesia masih terus berupaya untuk bertahan. Karena, kondisi saat ini dinilai sebagai fase penting untuk menguji daya tahan industri sebelum memasuki kondisi pasar yang lebih stabil.

Selain itu, penguatan hilirisasi hingga sektor otomotif juga akan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai ekspor nasional.
“Jadi, barang yang kita ekspor tidak hanya MHP, tetapi bisa sampai produk kendaraan atau industri turunannya. Itu yang sebenarnya perlu didukung,” pungkasnya.
Konsolidasi industri nikel juga dapat menjadi solusi untuk memperbaiki tata kelola operasi pertambangan yang dinilai masih belum optimal di sejumlah wilayah. Dengan integrasi yang lebih kuat dari hulu hingga hilir, operasi pertambangan dan pengolahan dinilai dapat berjalan lebih efisien dan terkontrol. (Fi Yun)








































