Beranda Nikel INPI 18 Mei 2026: Bijih 1,6% Menguat, Produk Hilir Masih Tertekan

INPI 18 Mei 2026: Bijih 1,6% Menguat, Produk Hilir Masih Tertekan

83
0

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Pergerakan harga nikel menunjukkan kontras antara penguatan harga bahan baku dan tekanan yang masih membayangi sektor hilir nikel global. Hal itu tercermin pada rilis terbaru Indonesia Nickel Price Index (INPI) per 18 Mei 2026 yang diterbitkan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Shanghai Metals Market (SMM).

Pada INPI terbaru itu tercatat harga bijih nikel kadar tinggi masih mengalami penguatan, sementara produk hilir, seperti nickel pig iron (NPI) dan mixed hydroxide precipitate (MHP), masih bergerak melemah. Dibandingkan INPI 11 Mei 2026, harga bijih nikel kadar rendah 1,2% (CIF) tetap stabil di level US$30,5/mt. Tetapi, bijih nikel kadar 1,6% (CIF) naik dari US$76/mt menjadi US$79,3/mt. Sementara itu, sebagian produk hilir masih mengalami koreksi.

Berikut perbandingan harga INPI 11 Mei 2026 dan 18 Mei 2026.

PRODUK11 MEI 202618 MEI 2026KETERANGAN
Bijih Nikel 1,2% (CIF)US$30,5/mtUS$30,5/mtStabil
Bijih Nikel 1,6% (CIF)US$76/mtUS$79,3/mtNaik US$3,3/mt
NPI (FOB)US$147,88/mtUS$146,73/mtTurun US$1,15/mt
HGNM (FOB)US$17.555/mtUS$17.563/mtNaik US$8/mt
MHP (FOB)US$17.557/mtUS$17.262/mtTurun US$295/mt

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah ESG-forum-2026-1024x341.jpeg

Kenaikan harga bijih nikel kadar tinggi menunjukkan kebutuhan smelter terhadap saprolit masih cukup kuat, terutama untuk menjaga efisiensi produksi feronikel dan NPI. Namun di sisi lain, pasar ore global sebenarnya masih berada dalam kondisi oversupplied akibat besarnya pasokan dari Indonesia dalam dua tahun terakhir.

Kondisi tersebut membuat harga bijih relatif stabil, tetapi pasar dinilai rentan kembali turun apabila kuota produksi Indonesia tidak dikurangi. Situasi ini juga membuat banyak smelter global mulai fokus mencari bahan baku dengan harga lebih murah demi menjaga margin usaha.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah ICM-2026-Baru-update-1024x341.jpeg

Tekanan terbesar kini justru datang dari kenaikan biaya produksi hilir. Harga sulfur dan energi yang meningkat membuat biaya operasional smelter semakin tinggi, terutama pada fasilitas high pressure acid leach (HPAL) yang memproduksi bahan baku baterai kendaraan listrik. Akibatnya, banyak smelter mulai mempertimbangkan impor bijih dari Filipina untuk menekan biaya bahan baku. Disparitas harga antara bijih Indonesia dan Filipina menjadi perhatian utama pasar.

Berdasarkan data terbaru, harga bijih nikel Indonesia kadar 1,2% CIF berada di kisaran US$22–24/mt dengan rata-rata US$23/mt dan relatif stabil sejak September 2025. Sementara bijih nikel Indonesia kadar 1,6% CIF berada di kisaran US$50,5–53,8/mt atau rata-rata US$52,15/mt.

Di Filipina, harga bijih kadar 1,3% berada di level US$61/wmt, turun dari sebelumnya US$63/wmt, sedangkan bijih kadar 1,6% masih bertahan di US$83/wmt.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah EV-2026-1024x341.jpeg

Perbedaan harga tersebut membuat pasar mulai menghitung ulang keekonomian impor ore. Bijih 1,6% Filipina memang lebih mahal dibanding Indonesia, namun untuk kadar lebih rendah, beberapa smelter melihat peluang memperoleh pasokan dengan biaya lebih kompetitif tergantung kebutuhan proses dan logistik.

Sementara itu, pemerintah Indonesia juga terus memperkuat kebijakan harga domestik. Harga patokan mineral (HPM) nikel periode II Mei 2026 tercatat mencapai US$18.849,29/dmt, naik dibanding April 2026. Kebijakan HPM Indonesia bahkan disebut memberi dampak langsung terhadap pasar global. Harga nikel di London Metal Exchange (LME) sempat melonjak ke level US$18.206/ton atau naik sekitar US$1.100/ton dalam waktu relatif singkat setelah penyesuaian kebijakan harga domestik Indonesia.

Meski harga nikel global menguat, kondisi sektor hilir masih belum sepenuhnya pulih. Harga NPI turun dari US$147,88/mt menjadi US$146,73/mt, mencerminkan pasar baja nirkarat global yang masih bergerak moderat. Pada sektor bahan baku baterai, high-grade nickel matte (HGNM) justru mencatat kenaikan tipis dari US$17.555/mt menjadi US$17.563/mt. Kenaikan tersebut menunjukkan pasar matte masih cukup bertahan di tengah perlambatan industri kendaraan listrik berbasis baterai nikel.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

Sebaliknya, MHP mengalami koreksi lebih dalam dari US$17.557/mt menjadi US$17.262/mt. Penurunan ini memperlihatkan masih adanya tekanan permintaan terhadap bahan baku prekursor baterai, terutama akibat dominasi baterai lithium ferrophosphate (LFP) di pasar kendaraan listrik China.

Secara keseluruhan, pasar nikel global saat ini bergerak dalam situasi yang cukup kompleks. Pasokan ore dunia masih besar akibat dominasi produksi Indonesia, tetapi tekanan biaya produksi hilir membuat smelter semakin agresif mencari bahan baku murah dan efisien.

Di tengah kondisi tersebut, bijih nikel berkadar tinggi tetap menjadi komoditas paling dicari karena mendukung efisiensi produksi smelter, sementara sektor hilir masih menghadapi tantangan margin, biaya energi, dan perlambatan permintaan global. (Li Han)

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg