
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Harga nikel di London Metal Exchange (LME) pada perdagangan Kamis (21/5/2026) tetap bertahan di level tinggi di atas US$19.000/ton seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pasokan global dan kenaikan biaya produksi industri pengolahan nikel.
Berdasarkan data resmi LME, harga tunai (cash settlement) nikel tercatat sekitar US$18.875/ton, sedangkan kontrak tiga bulan (3-month nickel) berada di kisaran US$19.070/ton. Level tersebut menunjukkan harga nikel masih berada pada tren yang relatif kuat dibanding periode sebelumnya.

LME menyebutkan, harga resmi nikel menjadi acuan utama perdagangan logam dunia dan digunakan dalam transaksi antara perusahaan tambang, smelter, pedagang, serta konsumen industri di berbagai negara. Harga tersebut dibentuk melalui mekanisme perdagangan resmi di bursa logam terbesar dunia tersebut.
Penguatan harga nikel terjadi di tengah meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap prospek pasokan dari Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia. Di sisi lain, kenaikan biaya bahan baku pendukung pengolahan nikel, termasuk sulfur yang digunakan dalam industri bahan baku baterai kendaraan listrik, turut menambah tekanan terhadap biaya produksi global.

Analis pasar menilai sentimen tersebut telah mendorong optimisme bahwa surplus pasokan nikel dunia akan berkurang sehingga menopang harga tetap berada di level tinggi. Kondisi itu menjadi perhatian penting bagi industri nikel global mengingat Indonesia saat ini memasok sebagian besar kebutuhan nikel dunia untuk industri baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik.
Bagi Indonesia, bertahannya harga nikel di atas US$19.000/ton berpotensi memberikan dampak positif terhadap pendapatan perusahaan tambang dan smelter, sekaligus meningkatkan kontribusi sektor mineral terhadap penerimaan negara dan investasi hilirisasi nikel yang terus berkembang. (Shiddiq)









































