Beranda Berita Nasional Indonesia Terlalu Fokus EV, Industri Dasar Baja Nirkarat Belum Kuat

Indonesia Terlalu Fokus EV, Industri Dasar Baja Nirkarat Belum Kuat

125
0
Baja nirkarat (Foto: Istimewa)
Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah ESG-forum-2026-1024x341.jpeg

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Indonesia melalui program hilirisasi saat ini sudah dapat mengolah bijih nikel hingga tahap produksi baja nirkarat (stainless steel). Tetapi, sekitar 80% produk setengah jadi diekspor dan Indonesia harus mengimpor 80% produk turunan stainless steel jadi.

“Ini yang membuat kami dilema. Kenapa tidak bisa diproduksi sendiri? Sementara kita mengimpor 80% lagi dari apa yang kita konsumsi, sendok garpu. Itu hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa kita produksi dalam negeri,” kata associate principal dari Energy Shift Institute (ESI), Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma, dikutip, Jumat (29/5/2026).

Ia menilai, Industri manufaktur untuk produksi, seperti stamping, motong, dan rolling stainless steel, tidak memerlukan modal yang banyak untuk diproduksi.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah ICM-2026-Baru-update-1024x341.jpeg

“Tanpa tekanan dari pemerintah untuk menyalurkan stainless steel ke dalam negeri, industri manufaktur untuk produk tier-2 dan pasarnya tidak akan terbentuk,” ujarnya.

Indonesia menargetkan untuk hilirisasi nikel dapat menghasilkan kendaraan listrik (EV) made in Indonesia dengan baterai berbasis nikel.

“Target pemerintah, kita bisa bikin produk sendiri, made in Indonesia. Tapi, tier-2-nya kosong, bagaimana kita mau masuk ke tier-1-nya? Hal yang paling simpelnya kita kosong. Kita langsung mau melompat ke tier-1, punya brand sendiri, bikin mobil sendiri dan segala macam. Itu sebuah leapfrog (melompati) yang mungkin butuh bertahun-tahun dilakukan oleh China,” tutur Zuhdi.

Ekspor stainless steel yang diolah di Indonesia, menurut dia, justri berisiko kalah dengan produk serupa yang ada di negara-negara lainnya dari aspek keberlanjutan atau produksinya yang kurang ramah lingkungan.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

“Dengan membuat industri yang semakin kuat, green industrialization sebenarnya bukan lagi tantangan yang berat. Karena kita bisa saja request di dalam negeri untuk stainless steel producer untuk menyediakan stainless steel yang diproduksi dengan lebih bersih. Itu logika yang bisa dipakai di seluruh industri sebenarnya,” pungkasnya.

Selama ini hilirisasi nikel dalam industri stainless steel di Indonesia hanya menghasilkan produk tier-3, seperti lempengan baja (slab) dan hot rolled coil (HRC). Namun, untuk berlanjut ke produk tier-2, tidak ada industri di dalam negeri yang mampu mengolah slab, HRC, dan berbagai produk setengah jadi lainnya.

Sementara itu, produk tier-3 yang diproduksi dari hilirisasi nikel di Indonesia masih didominasi penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI) dari China. Tidak ada alasan untuk FDI dari China mendukung pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Kemudian, produk tier-2 dari hilirisasi nikel di Indonesia diproduksi oleh tiga perusahaan besar, dengan salah satu di antaranya berasal dari India dalam tahap proses likuidasi. (Fi Yun)

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg