

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Ame Research menilai integrasi industri nikel dari sektor hulu hingga hilir menjadi faktor penting dalam menciptakan industri yang lebih ekonomis dan berkelanjutan di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Country Manager Indonesia of Ame Research, Boy Firmanto, saat wawancara khusus dengan Media Nikel Indonesia dalam rangkaian APNI Talk Show Series pada ajang EV & Charging Indonesia 2026, di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, pekan lalu.
Boy mengatakan, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) selama ini dinilai konsisten membangun komunitas industri nikel sekaligus mengedukasi masyarakat terkait perkembangan sektor nikel nasional.
“APNI sangat terkenal dengan konsistensinya membangun komunitas yang bagus dalam industri nikel terutama dan tetap mengedukasi masyarakat terkait nikel Indonesia,” ujarnya.
Menurut dia, pengembangan industri nikel nasional tidak hanya berfokus pada sektor baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), tetapi juga harus mencakup industri stainless steel agar rantai industri menjadi lebih efisien secara ekonomi.

“Diperlukan industri yang sangat ekonomis antara hulu nikel ke hilir nikel, yang tidak hanya berkutat pada EV baterai tapi juga ke industri stainless steel,” katanya.
Ia menambahkan, integrasi sektor hulu hingga hilir akan menciptakan efisiensi yang lebih baik bagi seluruh pelaku industri.
“Jadi lebih sangat ekonomis apabila dari hulu ke hilirnya terintegrasi dengan baik,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung tantangan yang dihadapi industri pertambangan dan smelter, khususnya terkait pengaturan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB). Kebijakan pengendalian kuota RKAB menunjukkan upaya pemerintah Indonesia untuk memperkuat kendali terhadap pasar nikel global.

“Saya melihat pemerintah Indonesia ingin menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kendali terhadap nikel dunia,” ujarnya.
Kebijakan pengendalian RKAB, sambungnya, turut mempengaruhi harga nikel global. Meski demikian, ia memperkirakan kebijakan tersebut ke depan dapat berjalan lebih fleksibel.
“Mungkin ke depannya akan lebih melunak, tapi memang pastinya Indonesia menjadi punya kendali lebih,” katanya.
Pada akhir wawancara, dia berharap APNI terus memperbanyak kegiatan diskusi dan edukasi guna memperkuat sinergi antar pelaku industri nikel nasional.
“Tambang membutuhkan smelter, smelter juga membutuhkan industri baterai dan industri stainless steel. Jadi, baiknya kita pengusaha Indonesia, industri nikel di Indonesia perlu bersinergi dengan sebaik-baiknya,” tuturnya. (Shiddiq)








































