Nikel Indonesia, Game Changer Mobil Listrik Dunia

Opini oleh: Sihol Manullang *)

NIKEL.CO.ID –  Elon Musk sempat menjadi orang terkaya sejagat, karena saham Tesla Motors selama 2020 naik 743%. Meskipun saham Elon Musk tinggal 20% di Tesla, sudah cukup mengantarkannya menjadi terkaya sedunia.

Persisnya, 8 Januari 2021 pukul 10.16 waktu New York, ketika harga saham Tesla US$ 872,36 per lembar. Kapitalisasi pasar saham Tesla sendirian, bisa mengalahkan kapitalisasi pasar seluruh produsen mobil Jepang. Luar biasa.

Mobil listrik atau electric vehicle (EV) bikinan Tesla menjadi impian baru. EV sesuai dengan arah green energy dunia, energi baru terbarukan (EBT) berkat power yang bersumber dari listrik (disimpan dalam baterai mobil).

Partai Demokrat Amerika Serikat sangat mendukung energi hijau. Maka bisa dipastikan, di masa Presiden Joe Biden sekarang ini, EV akan semakin laku.

Baterai mobil yang berbahan baku nikel, akan menjadi nilai tawar bagi Indonesia. Sebab, 24% cadangan nikel dunia berada di Indonesia.

Hingga tahun 2025 mendatang, porsi baterai dan komponen listrik dalam EV sekitar 35-40% (baterai saja tak kurang dari 25%). Kemudian sekitar 25% di motor listrik. Maka jika kerja sama memproduksi baterai dengan LG Energy Solution (Korea Selatan) berjalan lancar, Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) EV di Indonesia akan besar.

Untuk memastikan TKDN itulah, perjanjian dengan LG, Indonesia diwakili pemerintah sendiri. Ini agar pemerintah benar-benar memegang kendali TKDN. Toh, penghasil utama nikel, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau ANTM adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Selain ANTM yang menjadi penghasil utama, perusahaan yang juga mempunyai cadangan nikel lumayan besar adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO), di mana pemerintah (Kementerian BUMN) melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Mining Industry Indonesia (MIND ID) menguasai 20% saham INCO.

Selain nikel, bahan baku yang sangat berperan dalam mobil listrik, adalah timah dan tembaga. Indonesia beruntung, karena penghasil Timah yakni PT Timah (Persero) Tbk dengan kode saham TINS, adalah BUMN. Cadangan tembaga terbesar di dunia, ada di Papua, diusahakan PT Freeport Indonesia, di mana MIND ID menguasai 51,23% saham.

Harga saham ANTM, INCO dan TINS yang belakangan ini melesat di Bursa Efek Indonesia (BEI), tak lepas dari rencana hilirisasi nikel. Apalagi jika dalam Februari 2021 tim Tesla Motors datang ke Jakarta membicarakan rencana kerja sama produksi baterai, dunia akan semakin tahu betapa Indonesia berperan dalam pengadaan nikel dan timah dunia.

Elon Musk sempat menjadi orang terkaya sejagat, karena saham Tesla Motors selama 2020 naik 743%. Meskipun saham Elon Musk tinggal 20% di Tesla, sudah cukup mengantarkannya menjadi terkaya sedunia.

Persisnya, 8 Januari 2021 pukul 10.16 waktu New York, ketika harga saham Tesla US$ 872,36 per lembar. Kapitalisasi pasar saham Tesla sendirian, bisa mengalahkan kapitalisasi pasar seluruh produsen mobil Jepang. Luar biasa.

Mobil listrik atau electric vehicle (EV) bikinan Tesla menjadi impian baru. EV sesuai dengan arah green energy dunia, energi baru terbarukan (EBT) berkat power yang bersumber dari listrik (disimpan dalam baterai mobil).

Partai Demokrat Amerika Serikat sangat mendukung energi hijau. Maka bisa dipastikan, di masa Presiden Joe Biden sekarang ini, EV akan semakin laku.

Baterai mobil yang berbahan baku nikel, akan menjadi nilai tawar bagi Indonesia. Sebab, 24% cadangan nikel dunia berada di Indonesia.

Hingga tahun 2025 mendatang, porsi baterai dan komponen listrik dalam EV sekitar 35-40% (baterai saja tak kurang dari 25%). Kemudian sekitar 25% di motor listrik. Maka jika kerja sama memproduksi baterai dengan LG Energy Solution (Korea Selatan) berjalan lancar, Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) EV di Indonesia akan besar.

Untuk memastikan TKDN itulah, perjanjian dengan LG, Indonesia diwakili pemerintah sendiri. Ini agar pemerintah benar-benar memegang kendali TKDN. Toh, penghasil utama nikel, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau ANTM adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Selain ANTM yang menjadi penghasil utama, perusahaan yang juga mempunyai cadangan nikel lumayan besar adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO), di mana pemerintah (Kementerian BUMN) melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Mining Industry Indonesia (MIND ID) menguasai 20% saham INCO.

Selain nikel, bahan baku yang sangat berperan dalam mobil listrik, adalah timah dan tembaga. Indonesia beruntung, karena penghasil Timah yakni PT Timah (Persero) Tbk dengan kode saham TINS, adalah BUMN. Cadangan tembaga terbesar di dunia, ada di Papua, diusahakan PT Freeport Indonesia, di mana MIND ID menguasai 51,23% saham.

Harga saham ANTM, INCO dan TINS yang belakangan ini melesat di Bursa Efek Indonesia (BEI), tak lepas dari rencana hilirisasi nikel. Apalagi jika dalam Februari 2021 tim Tesla Motors datang ke Jakarta membicarakan rencana kerja sama produksi baterai, dunia akan semakin tahu betapa Indonesia berperan dalam pengadaan nikel dan timah dunia.

Jokowi Hentikan Ekspor
Jika semua kerja sama produksi baterai harus “selesai” di Indonesia, nilai tawar Indonesia akan semakin besar lagi. Bukan hanya investasi asing yang akan semakin deras, dengan TKDN yang tinggi, harga mobil listrik di negeri kita (kelak) akan semakin bersaing dengan mobil yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

Oleh karenanya, kebijakan Presiden Jokowi yang menghentikan ekspor nikel sejak 1 Januari 2020, merupakan kebijakan yang jitu. Keran ekspor baru dibuka bagi nikel hasil olahan smelter dalam negeri, dengan kadar yang tinggi. Hingga smelter selesai, tidak boleh ekspor.

Puluhan tahun Indonesia hanya mengekspor bahan baku (nikel kadar rendah), nilai tambah tidak kita nikmati. Sekarang wajib diolah smelter dalam negeri. Jangan sampai cadangan habis, Indonesia tak kebagian nilai tambah.

Kebijakan Jokowi menghentikan ekspor, membuat Uni Eropa meradang. Mereka mengadukan Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Mereka ingin tetap memperoleh bahan baku yang murah, mereka yang olah, nilai tambah untuk mereka.

Sekarang, bagi yang membutuhkan tak ada pilihan lain, kecuali datang dan memproduksi baterai di Indonesia. Setelah LG dengan investasi US$ 9,8 miliar, akan menyusul Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) asal Tiongkok, dengan investasi US$ 5,2 miliar. Bukan hanya Tesla, BASF (Jerman) juga sangat berminat.

Kebutuhan Nikel
Kebutuhan nikel dunia terus berkembang. Tahun 2017, sekitar 71% nikel dunia diserap oleh industri stainless steel. Baru 3% saja untuk baterai mobil. Namun, tahun 2030, sebanyak 37% nikel dunia akan diserap oleh industri baterai. Kebutuhan untuk stainless steel akan tinggal 46%.

Dalam pembuatan stainless steel, nikel yang dibutuhkan adalah nikel kelas dua. Sedangkan untuk baterai mobil, yang diperlukan adalah nikel ke satu. Nikel Indonesia adalah nikel kelas satu.

Konsumsi nikel dunia yang tahun 2019 sebanyak 2,4 juta ton, tahun 2040 akan menjadi 4 juta ton. Jika jumlah produksi masih tetap seperti sekarang, tahun 2023 akan terjadi defisit. Mau tak mau, produksi harus ditambah. Lagi-lagi, di sinilah peranan Indonesia semakin penting sebagai pemilik cadangan terbesar di dunia.

Di London Metal Exchange (LME), yang merupakan bursa khusus logam terbesar di dunia, pada akhir 2020 harga kontrak 3 bulan baru US$ 16.540. Tanggal 19 Januari 2021 harga naik tinggi menjadi US$ 18.075, atau naik 9,3%. Harga didorong kebutuhan yang meningkat sementara jumlah produksi tetap, malah berkurang, karena Indonesia menghentikan ekspor.

Saat ini, 10 besar negara produsen nikel, adalah Amerika Serikat, produksi 14.000 ton per tahun, Kuba 51.000 ton, Brasil 67.000 ton, Tiongkok 110.000 ton, Kanada 180.000 ton, Australia 180.000 ton, Kaledonia Baru 220.000 ton, Rusia 270.000 ton, Filipina 420.000 ton, dan Indonesia 800.000 ton. Indonesia mempunyai cadangan nikel sedikitnya 21 juta ton.

Sebagai produsen nikel terbesar dan pemilik cadangan nikel terbesar dunia, nikel Indonesia harus menjadi game changer (pengubah permainan) kebutuhan nikel dunia untuk mobil listrik (EV). Sekarang ini saja, ketika Indonesia ingin mengolah sendiri melalui kewajiban membangun smelter, Uni Eropa sudah meradang.

Jika kelak smelter sudah selesai dan keran ekspor sudah dibuka, pemerintah harus tetap ketat mengontrol kualitas nikel yang keluar, supaya kita yang menikmati nilai tambah. Juga agar kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan terkait nikel-tembaga-timah (ANTM-INCO-TINS) juga semakin tinggi, seiring dengan keuntungan mengolah nikel-tembaga-timah hasil kerja sama dengan produsen mobil listrik dunia.

*) Sihol Manullang adalah Wartawan Suara Pembaruan 1987-2000

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *