2030, 20% Nikel Dunia Diserap untuk Baterai Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Pada 2030 mendatang sebanyak 20% dari total konsumsi nikel global diperkirakan akan digunakan untuk baterai mobil listrik maupun baterai sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ ESS) . Persentasenya bahkan masih akan terus berkembang sampai dengan 2040 mendatang menjadi sebesar 37%.

Adapun pada 2030 konsumsi nikel untuk baterai kendaraan listrik maupun ESS ini diperkirakan mencapai 800 ribu ton dari 2020 masih di bawah 200 ribu ton.

Hal tersebut berdasarkan laporan Wood Mackenzie, lembaga analisis energi global, yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey dalam diskusi ‘Battery Electric Vehicles Outlook’, Kamis (06/05/2021).

Meidy mengatakan, berdasarkan laporan Wood Mackenzie ini, konsumsi nikel di China pada 2020 tercatat mencapai sebesar 106 ribu ton, relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya dikarenakan adanya perubahan subsidi dan pandemi Covid-19.

“Tapi ini akan menjadi lebih dari dua kali lipat pada 2025,” paparnya mengutip laporan tersebut.

Dia mengatakan, ekspansi terbesar setelah tahun 2025 diperkirakan akan terjadi di China dan sisanya Asia, meski belum diketahui spesifik negaranya.

“Peran Eropa sebagai pembuat bahan aktif prekursor dan katoda akan berkembang dalam beberapa tahun ke depan,” paparnya mengutip laporan tersebut.

Transisi penggunaan kendaraan dari berbasis bahan bakar minyak (BBM) ke listrik akan meningkatkan permintaan pada bahan baku baterai seperti nikel sulfat.

“Dominasi Asia dan khususnya China di segmen ini akan terus berlanjut,” ujarnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto memperkirakan dalam waktu dekat akan terjadi tren super siklus komoditas tambang.

Beberapa jenis komoditas tambang diperkirakan bakal menjadi primadona di masa depan, terutama seiring dengan tren dunia berganti menuju energi bersih dari energi fosil.

Khusus di sektor transportasi, masyarakat ke depan diperkirakan bakal beralih dari mobil berbasis bahan bakar fosil ke mobil listrik. Mobil listrik membutuhkan baterai di mana bahan bakunya merupakan produk tambang.

Dia menjelaskan super siklus komoditas tambang ini adalah suatu periode yang cukup panjang dimana permintaan pada satu komoditas atas beberapa komoditas lainnya jauh lebih tinggi dari rata-rata permintaan tahunan secara historis. Dengan demikian, suplai tidak bisa memenuhi semua permintaan.

“Akibatnya, harga komoditas tersebut akan naik signifikan,” ujarnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Rabu (03/03/2021).

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Megaproyek Baterai Kendaraan Listrik RI Segera Dimulai

NIKEL.CO.ID –  PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) menandatangani Heads of Agreement (HoA) investasi pabrik baterai kendaraan listrik dengan Konsorsium Baterai LG dari Korea Selatan. Penandatanganan HoA menunjukkan proyek pembangunan baterai kendaraan listrik akan segera dimulai.

Adapun konsorsium itu terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, LG International, POSCO dan Huayou Holding.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia yang menyaksikan penandatanganan tersebut mengatakan, tahap selanjutnya dari proyek ini adalah melakukan feasibility study (FS). Setelah itu, proyek bisa segera dikerjakan.

“Kami akan terus mendorong, mengawal, dan akan membantu sepenuhnya, selama kerangkanya ada dalam aturan yang ada di Indonesia dan bisnis yang saling menguntungkan. Sekarang setelah HoA ditandatangani, kita bikin FS supaya bisa langsung kerja. Sekarang waktunya kita bekerja. Kita punya komitmen untuk cepat realisasi investasi,” ujar Bahlil dalam keterangan tertulis BKPM yang dikutip detikcom, Kamis (6/5/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Menteri BUMN Erick Thohir yang juga turut menyaksikan penandatanganan tersebut mengatakan, pengerjaan proyek pabrik baterai harus dipercepat. Pasalnya, sejumlah pemerintah daerah (Pemda) menginginkan angkutan umum bertenaga listrik bisa dioperasikan di masing-masing daerahnya tahun ini.

“Proyek baterai ini harus berjalan tepat waktu, bila mungkin malah dipercepat. Indonesia sangat serius, terbukti dari beberapa daerah, banyak gubernurnya di Indonesia membuat keputusan bahwa mobil listrik, terutama seperti bus dan kendaraan umum harus dipakai tahun ini,” tutur Erick.

Selain itu, pabrik baterai kendaraan listrik ini juga harus segera dibangun seiringan dengan proyek pembangunan ibukota baru di Kalimantan Timur (Kaltim).

“Bahkan Indonesia akan membangun ibukota baru di Kalimantan yang semuanya juga menggunakan mobil listrik,” jelas Erick.

Sebagai informasi, HoA atau perjanjian pra-kontrak merupakan komitmen para pihak yang dituangkan dalam bentuk tulisan dan tidak dimaksudkan untuk mengikat. HoA yang lazim digunakan dalam proses pendirian bisnis, baik nasional maupun internasional, selama tahap negosiasi berlangsung.

Penandatanganan HoA proyek pabrik baterai kendaraan listrik tersebut merupakan hasil tindak lanjut pertemuan Presiden Moon Jae In dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Busan, Korea Selatan pada tanggal 25 November 2019 lalu.

Begitu juga dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara BKPM dengan LG Group yang ditandatangani oleh Bahlil dan CEO LG Energy Solution tanggal 18 Desember 2020 di Seoul, Korea Selatan. Kerja sama proyek investasi raksasa dan strategis di bidang industri sel baterai kendaraan listrik ini terintegrasi dengan pertambangan, peleburan (smelter), pemurnian (refining) serta industri precursor dan katoda.

Nilai rencana investasinya mencapai US$ 9,8 miliar. HoA adalah titik awal kerja sama yang akan diikuti dengan Joint Study, perjanjian pemegang saham, dan perjanjian pendirian perusahaan.

Sumber: detik.com

Read More

Proyek Konsorsium Baterai LG dan BUMN Segera Terealisasi

Menteri Investasi Bahlil Laadalia menyampaikan, acara penandatanganan tersebut merupakan momentum bersejarah bagi ketiga negara, Indonesia, Korea Selatan, dan China. Hal ini juga merupakan bukti pemerintah dan BUMN serius untuk segera merealisasikan proyek baterai ini dengan cepat.

NIKEL.CO.ID –  PT Industri Baterai Indonesia telah menandangani Head of Agreementt bersama dengan konsorsium Baterai LG dari Korea Selatan pada Kamis, 29 April 2021 lalu di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Acara penandatanganan dihadiri oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Menteri BUMN Erick Thohir, Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia Toto Nugroho, serta pimpinan Konsorsium LG yang terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, LG International, POSCO dan Huayou Holding.

Di samping itu, turut disaksikan juga secara daring oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea Umar Hadi dan Duta Besar Republik Korea untuk Republik Indonesia Park Taesung.

Bahlil menyampaikan, acara penandatanganan tersebut merupakan momentum bersejarah bagi ketiga negara, Indonesia, Korea Selatan, dan China. Hal ini juga merupakan bukti pemerintah dan BUMN serius untuk segera merealisasikan proyek ini dengan cepat.

“Kami akan terus mendorong, mengawal, dan akan membantu sepenuhnya, selama kerangkanya ada dalam aturan yang ada di Indonesia dan bisnis yang saling menguntungkan. Sekarang setelah HoA ditandatangani, kita bikin FS [Feasibility Study] supaya bisa langsung kerja. Sekarang waktunya kita bekerja” katanya dalam siaran pers, Kamis (6/5/2021).

Pada kesempatan yang sama, Menteri BUMN Erick Thohir juga menyampaikan bahwa proyek ini sangat penting bagi seluruh pihak.

“Proyek baterai ini harus berjalan tepat waktu, bila mungkin malah dipercepat. Indonesia sangat serius, terbukti dari beberapa daerah, banyak gubernurnya di Indonesia membuat keputusan bahwa mobil listrik, terutama seperti bis dan kendaraan umum harus dipakai tahun ini.  Bahkan Indonesia akan membangun ibukota baru di Kalimantan yang semuanya juga menggunakan mobil listrik,” ujarnya.

Di samping itu, Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia Toto Nugroho menyampaikan apresiasinya atas keseriusan pemerintah dalam mendorong keberhasilan proyek industri baterai. Pihaknya akan langsung berkonsolidasi dengan konsorsium Korea untuk menentukan target-target penyelesaian proyek.

“Hari ini, masih awal dari perjalanan IBC dalam mewujudkan ekosistem electric vehicle di Indonesia. Kami ingin Indonesia menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik. Untuk itu, kami perlu dukungan dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat,” katanya.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Resmi! Proyek Konsorsium Baterai LG dan BUMN Segera Terealisasi“.

Read More

Menteri Investasi Bakal Dorong Hilirisasi Untuk Dongkrak Ekonomi

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi maka investasi berkualitas perlu digenjot. Salah satu caranya yakni dengan mendorong industri hilirisasi.

Oleh karena itu, kata Bahlil, empat sektor usaha akan menjadi fokus pemerintah untuk meningkatkan hilirisasi. Pertama, sektor kesehatan yakni dengan membangun pabrikan bahan baku obat-obatan guna menekan impor.

Kedua, infrastruktur melalui pemanfaatan sumber daya asli dalam negeri untuk bahan baku. Ketiga, otomotif mengingat komponen mobil mayoritas merupakan barang impor. Keempat, sektor pertambangan.

“Hilirisasi tambang dan mobil, kami mengatakan bahwa proses rencana desain dari ore nikel on the track, investor tidak boleh lagi ekspor ore-nya. Makanya, sebentar lagi Indonesia akan  pusat industri baterai dunia,” ujar Bahlil saat Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat 2021, Kamis (29/4/2021).

Bahlil mencatat, setidaknya ada dua perusahaan asing yang akan mendukung ekonsistem baterai listrik di Indonesia. Pertama, Contemporary Amperex Technology Co. Limited atau CATL yang berencana membangun industri baterai terintegrasi dengan nilai foreign direct investment (FDI) mencapai US$ 5,2 miliar.

Kedua, LG Energy Solution Ltd dengan nilai investasi sebesar US$ 9,8 miliar untuk membangun industri baterai terintegrasi. “Untuk LG ini Juni-Juli sudah mulai,” ujar Bahlil.

Kata Bahlil, untuk memudahkan para investor menjalankan usahanya maka perizinan perlu dipermudah. Makanya melalui Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, akan memberikan percepatan perizinan, efisiensi dana, kepastian, dan transparansi.

“Ini sangat panting karena menahan izin sama dengan menahan lapangan pekerjaaan dan pendapatan negara, dan pertumbuhan ekonomi,” kata Bahlil.

Bahlil menambahkan, untuk mendorong ekonomi investasi dalam hal hilirisasi akan didorong lebih merata tidak hanya di pulau Jawa, namun juga luar Jawa. Menurutnya, dengan sebaran investasi yang merata maka akan berdampak terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Adapun di akhir tahun ini, Kementerian Investasi menargetkan, nilai dana investor yang terkumpul sebanyak Rp 900 triliun. Perkembangannya, hingga kuartal I-2021realisasi investasi sebesar Rp 219,7 triliun, tumbuh 4,3% year on year (yoy).

Sumber: KONTAN

Read More

Adopsi Baterai Kendaraan Listrik Beri Manfaat Ekonomi Rp 9.603 Triliun

NIKEL.CO.ID – Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan adopsi baterai kendaraan listrik untuk kendaraan rendah emisi karbon bisa mendatangkan manfaat ekonomi senilai Rp9.603 triliun pada tahun 2030.

“Itu memposisikan Indonesia lepas dari ketergantungan impor kendaraan. Kalau pun tidak lepas, maka setidaknya kita bisa naik kelas menjadi produsen kendaraan bermotor,” katanya dalam diskusi daring Peluang Ekonomi Pasc-Leaders Summit on Climate yang dipantau di Jakarta, Selasa.

Dia merinci-kan bahwa angka itu berasal dari penurunan dampak kesehatan akibat pencemaran lingkungan sebesar Rp3.468 triliun, penghematan biaya produksi senilai Rp545 triliun, dan penghematan energi mencapai Rp5.590 triliun.

“Manfaat ekonomi yang kita rasakan sangat besar kalau serius menerapkan kebijakan ini,” ucap Safrudin.

Dia menambahkan bahwa kebijakan kendaraan listrik tidak harus melarang kendaraan bermesin pembakaran dalam (ICE), tetapi hanya menetapkan standar ekonomi bahan bakar yang berlaku universal.

Berbagai teknologi boleh diproduksi dengan catatan emisi karbon tidak lebih dari 118 gram per kilometer pada 2020 dan tidak lebih dari 85 gram per kilometer pada 2025.

Sejak tahun 1970, lanjut Safrudin, Indonesia masih dijanjikan transfer of technology tetapi tidak kunjung terjadi, maka Indonesia sudah selayaknya merebut momentum kendaraan rendah emisi karbon.

Apalagi Indonesia memiliki ketersediaan nikel, kobal, dan logam tanah jarang yang bisa dijadikan raw material untuk membuat baterai kendaraan listrik.

Adopsi kendaraan listrik dapat menurunkan potensi karbondioksida transportasi mencapai 59 persen pada 2030, sehingga nol karbon bersih atau net zero emission berpotensi diterapkan pada 2045 atau selambatnya 2050.

“Semoga ini bisa memberikan gambaran kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang galau karena cenderung menuruti apa yang diinginkan oleh oligarki,” tukas Safrudin.

Ekonom senior Faisal Basri mengatakan negara-negara yang paling siap dengan produk rendah karbon akan mendominasi perdagangan internasional di masa depan.

Adapun negara-negara yang masih menghasilkan produk tinggi karbon, seperti Indonesia akan mendapatkan pelarangan ekspor yang bisa berdampak buruk terhadap perekonomian.

“Orang lain sudah hijrah total, sehingga nanti produk Indonesia akan di-ban. Nanti kita marah lagi, kita dijajah dunia, kita didikte tidak berdaulat…yang ada ini kedaulatan global,” ujar Faisal.

Sumber: inilahkoran.com

Read More

Menimbang Potensi Besar Nikel Indonesia

Konsekuensi apakah yang penting dicermati Indonesia sebagai negara produsen nikel bijih nikel terbesar dunia?

NIKEL.CO.IDSebagai negara dengan kekayaan bahan tambang nikel terbesar di dunia, Indonesia memegang kunci penting bagi kelangsungan produksi kendaraan listrik di masa depan.

Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2019, produksi bijih nikel Indonesia sekitar 800.000 ton. Nominal ini menduduki peringkat satu dunia yang terpaut hampir 400.000 ton dari produsen kedua dunia yang diduduki oleh Filipina.

Jika dibandingkan dengan produsen ketiga dunia yang diduduki Rusia lebih jauh lagi selisihnya. Negara beruang merah itu hanya mampu memproduksi sekitar 270.000 ton setahun.

Dari segi cadangan nikelnya, Indonesia diperkirakan memiliki deposit 72 juta ton. Berdasarkan data United State Geological Survey (USGS) dan Badan Geologi Kementerian Ekonomi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan ini menempati posisi pertama di dunia.

Proporsi cadangan nikel Indonesia mencapai 52 persen dari total cadangan dunia saat ini yang sebesar 139 juta ton. Posisi selanjutnya ditempati Australia dengan porporsi cadangan nikel lebih kurang 15 persen dan Rusia sekitar 5 persen dari total cadangan nikel global.

Cadangan sekitar 72 juta ton di Indonesia itu berada di wilayah tambang yang sudah memiliki izin usaha produksi operasi pertambangan (IUP OP) dan smelter. Padahal, masih ada potensi cadangan lainnya di luar wilayah IUP atau kontrak karya (KK) yang jumlahnya sangat besar.

Berdasarkan laporan Kementerian ESDM tahun 2020, daerah yang memiliki potensi cadangan nikel di luar wilayah operasi pertambangan di Indonesia itu jumlahnya 4,5 miliar ton. Jumlah ini sangatlah besar karena lebih dari 30 kali lipatnya cadangan nikel dunia saat ini.

Berumur panjang

Dengan cadangan sebesar itu, Indonesia memiliki usia produksi nikel hingga beberapa dekade mendatang. Seberapa panjangkah usia produksi nikel Indonesia?

Hal tersebut bergantung pada pemilihan proses ekstraksi bijih nikel. Apabila bijih nikel dipisahkan dengan proses pyrometallurgy atau pemisahan logam dari bijihnya dengan cara pemanasan pada temperatur tinggi, diperkirakan umur cadangannya mampu diproduksi hingga sekitar 27 tahun ke depan.

Namun, jika ekstraksi bijih nikel menggunakan proses hydrometallurgy atau menggunakan reagen pelarut yang dilakukan pada temperatur relatif rendah, diperkirakan cadangan nikel Indonesia mampu berproduksi hingga 73 tahun ke depan hingga kisaran tahun 2093.

Perbedaan proses ekstaksi bijih nikel pada endapan laterit tersebut menghasilkan output produksi yang berbeda. Pada rencana industri hilir nikel di Indonesia, proses pyrometallurgy akan menghasilkan anekan produk stainless steel.

Proses hydrometallurgy akan menghasilkan sejumlah produk, seperti campuran logam berbasis nikel, pelapisan logam, dan baterai. Dari rencana industri hilir ini dapat diindikasi bahwa proses ekstraksi hydrometallurgy adalah yang memiliki daya saing yang tinggi di kancah internasional.

Dengan proses hydrometallurgy, Indonesia berpeluang besar untuk menghasilkan bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan. Artinya, Indonesia berpeluang menjadi produsen terbesar baterai kendaraan listrik di dunia di masa mendatang. Peluang itu terutama ada pada baterai Lithium tipe Nickel Cobalt Aluminum Oxide (NCA) dan Nickel Manganese Cobalt Oxide (NMC) yang mengutamakan penggunaan material nikel.

Kebijakan akseleratif

Melihat besarnya potensi sumber daya nikel tersebut mendorong pemerintah membangun kebijakan yang revolusioner. Pada Agustus 2019, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Dengan terbitnya kebijakan ini, pemerintah berupaya akseleratif secepat mungkin agar mampu memproduksi baterai kendaraan listrik dan juga merakit unit kendaraan berbasis baterai listrik (KBL) di Indonesia. Pemerintah pun segera membentuk konsorsium BUMN untuk menangani proyek hilirisasi nikel menjadi baterai.

Konsorsium ini terdiri dari PT Aneka Tambang yang merupakan anak perusahaan MIND ID berkolaborasi dengan PT Pertamina dan PT PLN. Ketiga perusahaan ini selanjutnya membentuk perusahaan holding  PT Indonesia Battery agar lebih leluasa dalam mengembangkan usaha dan juga menggandeng mitra-mitra investornya.

Untuk sementara, ada dua investor yang berkomitmen untuk membangun industri baterai di Indonesia, mulai dari hulu hingga hilir. Perusahaan tersebut adalah LG Energy Solution dari Korea Selatan dan China’s Contemporary Amperex Technology (CATL) dari Tiongkok. Investasi yang digelontorkan kedua perusahaan itu mencapai Rp 174 triliun.

Meskipun investasi dari kedua perusahaan asing itu besar, pemerintah tetap berkomitmen untuk optimalisasi produksi di dalam negeri. Pemerintah memastikan jika perusahaan tersebut diwajibkan mengolah 60 persen nikel yang akan digunakan untuk memproduksi baterai listrik, harus diproses di Indonesia.

Daya saing

Hanya saja, keunggulan komoditas nikel tersebut harus mampu meningkatkan daya saing Indonesia secara luas. Artinya, jangan sampai potensi besar nikel itu hanya menjadi komoditas yang memberikan keuntungan besar bagi pemodal asing yang memiliki kemampuan teknologi pengolahan mutakhir. Produsen dalam negeri juga harus dilibatkan dan diberikan stimulan agar mampu bersinergi dengan para investor asing dan konsorsium baterai Indonesia.

Program percepatan program KBL berbasis baterai untuk transportasi yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 55/2019 tersebut bisa sangat menguntungkan investor besar. Dalam perpes itu disebutkan ada lima program KBL berbasis baterai untuk transportasi.

Program itu mencakup percepatan pengembangan industri KBL berbasis baterai dalam negeri, pemberian insentif, dan penyediaan infrastruktur pengisian listrik dan pengaturan tarif tenaga listrik untuk KBL berbasis baterai. Selain itu, ada juga program pemenuhan terhadap ketentuan teknis KBL berbasis baterai dan perlindungan terhadap lingkungan hidup.

Melalui program tersebut ada harapan besar bagi Indonesia untuk tumbuh menjadi produsen baterai listrik ataupun industri perakitan kendaraan listrik. Hanya saja, jika dicermati dari langkah-langkah kebijakannya, ternyata sangat besar peluangnya bagi industri luar negeri untuk dapat terlibat dalam kegiatan hulu hingga hilirnya.

Dalam program percepatan pengembangan industri KBL berbasis listrik ada sejumlah butir yang berpotensi menguntungkan investor besar. Salah satunya adalah tentang ”Industri kendaraan dan industri komponen kendaraan bermotor yang telah memiliki izin usaha industri dan fasilitas manufaktur dan perakitan dapat mengikuti program percepatan KBL berbasis baterai untuk transportasi jalan”.

Aturan ini berpeluang sangat menguntungkan investor besar manufakturing kendaraan di Indonesia yang notabene milik prinsipal asing. Perusahaan-perusahan ini hampir bisa dipastikan dapat mengikuti progam KBL berbasis baterai ini tanpa memiliki kendala yang berarti.

Berbeda halnya dengan industri di dalam negeri yang relatif sangat jauh tertinggal dari sisi teknologi ataupun permodalan. Jadi, perlu peranan pemerintah agar industri di dalam negeri dapat terlibat dalam percepatan pengembangan industri KBL berbasis baterai tersebut.

Dalam konteks tersebut, bagian lain dari isi Perpres No 55/2019 yang menekankan penguatan industri domestik menjadi kunci. Dalam perpres itu disebutkan bahwa ”perusahaan industri komponen kendaraan bermotor dan/atau perusahaan industri komponen KBL berbasis baterai dalam negeri wajib mendukung dan melakukan kerja sama dengan industri KBL berbasis baterai dalam negeri”.

Artinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan industri kendaraan ataupun komponen kendaraan listrik berbasis baterai harus melibatkan industri domestik dalam proses rantai supply chain-nya. Hal ini harus menjadi pemicu bagi semua pemangku kepentingan di dalam negeri untuk bersama-sama menangkap kesempatan besar ini. (LITBANG KOMPAS)

Sumber: KOMPAS.ID

Read More

Induk Usaha Baterai Jamin Pasokan Nikel

  • Cadangan nikel Antam cukup untuk kebutuhan proyek baterai mobil listrik selama 20 tahun.
  • Holding harus mengantisipasi perubahan teknologi baterai.
  • Indonesia Battery Corporation mengantongi komitmen kerja sama dengan perusahaan asal Cina.

NIKEL.CO.ID – Indonesia Battery Corporation (IBC) memastikan ketersediaan pasokan nikel dan material penyusun baterai lainnya cukup untuk mendukung industri baterai kendaraan listrik. Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik, Agus Tjahajana Wirakusumah, menyatakan Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia saat ini.

Menurut Agus, Indonesia memiliki cadangan nikel sebanyak 21 juta ton. Berdasarkan hitungan sementara, kebutuhan nikel untuk mendukung program baterai kendaraan listrik ini akan mencapai 15-16 juta ton hingga 2030. “Menurut penghitungan tim, cadangan yang dimiliki PT Aneka Tambang Tbk saat ini masih mencukupi kebutuhan proyek baterai selama 20 tahun,” katanya, kemarin.

PT Aneka Tambang (Persero) Tbk merupakan salah satu anggota holding baterai. Dari laporan tahunan perusahaan pada 2020, total cadangan bijih nikel perusahaan mencapai 375,52 juta wet metric ton (wmt), yang terdiri atas 328,41 juta wmt bijih nikel saprolit dan 47,11 juta wmt bijih nikel limonit. Jumlahnya sedikit naik dibanding pada tahun sebelumnya yang sebesar 353,74 juta wmt, dengan saprolit sebanyak 254,12 juta wmt dan limonit 99,62 juta wmt.

Terlepas dari masalah cadangan yang aman, Agus menilai tantangannya justru terletak pada perubahan jenis baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik. Perusahaan harus mengantisipasi perkembangan teknologi yang akan menggantikan nickel manganese cobalt(NMC) seperti lithium ferrous phospate (LFP).

“Walau masa keemasan teknologi Li-ion battery berbasis nikel NMC masih akan ada dalam 15-20 tahun,” ujar dia.

Tantangan lain yang dihadapi holding adalah ketergantungan teknologi baterai pada pemain global dan produsen peralatan asli (original equipment manufacturer/OEM) sebagai pengguna baterai. Indonesia masih belum memiliki pengalaman memadai di bidang ini. Untuk itu, perusahaan holding tengah menyeleksi calon mitra yang memiliki jaringan dengan OEM.

Agus menuturkan timnya telah menyortir 11 calon mitra yang merupakan pemain di industri baterai dan kendaraan listrik global. Para kandidat didekati sejak tahun lalu. Mereka diseleksi dengan tiga kategori utama, yaitu jejak global dan rencana ekspansi, kekuatan finansial dan investasi, reputasi merek, serta hubungan dengan OEM.

Dari hasil seleksi itu, terjaring tiga kandidat utama. Salah satunya Contemporary Amperex Technology Co, Ltd (CATL). Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menyatakan telah mengantongi komitmen kerja sama antara perusahaan asal Cina itu dan IBC. Total investasi yang akan dikucurkan mencapai US$ 5 miliar.

Dalam kunjungan kerjanya ke Cina pada 2 April lalu, Erick kembali memastikan komitmen tersebut. “Bila ada kesulitan di lapangan, kami bekerja sama dengan BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal),” katanya.

Dengan bantuan mitra tersebut, IBC menargetkan mampu menjadi produsen baterai kendaraan listrik di level global pada 2030. Kapasitas produksi sel baterai perusahaan pada 2030 nanti diproyeksikan mencapai 140 gigawatt per jam. Pengeluaran modal untuk mencapai tujuan itu diestimasi sebesar US$ 13,4-17,4 miliar.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Otomotif Indonesia, Kukuh Kumara, menuturkan keberhasilan IBC memproduksi baterai akan sangat membantu industri mobil listrik. Sebab, sekitar sepertiga dari total harga kendaraan jenis ini berasal dari baterai. Tingginya harga baterai membuat produk ini sulit dijangkau konsumen.

“Kalau komponen baterainya ada dengan harga yang lebih murah dari saat ini, kendaraan baru bisa berkembang,” katanya.

Tentu saja dengan catatan bahwa infrastruktur penunjang lainnya juga tersedia, dari stasiun pengisian listrik hingga fasilitas bengkel mobil listrik.

Sumber: Koran Tempo

Read More

Miliki Cadangan Nikel Terbesar, Kadin Optimistis RI Kuasai Pasar Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Indonesia dinilai akan menjadi produsen baterai lithium dan mobil listrik terbesar di dunia, seiring besarnya pasokan nikel untuk pembuatan baterai lithium yang menjadi bahan utama pengembangan mobil listrik.

“Indonesia punya kandungan nikel yang luar biasa banyak. Seharusnya Indonesia bisa menguasai salah satu rantai pasok baterai lithium dan pengembangan mobil listrik dunia,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional, Arsjad Rasjid dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Arsjad yang juga calon ketua umum Kadin Indonesia periode 2021-2026, menyatakan bahwa pengembangan mobil listrik akan menimbulkan efek domino dan meningkatkan peran pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) pada industri otomotif dalam negeri.

“Apa yang telah dicanangkan Presiden Jokowi untuk mengembangkan industri baterai lithium dan mobil listrik adalah ide yang luar biasa. Kita harus siap kalau ingin berkembang dan berkompetisi. Kita bisa leading,” ujar Arsjad.

Namun, ia mengingatkan bahwa ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain terdepan dalam industri mobil listrik dunia.

Selain memiliki sumber daya alam melimpah berupa nikel, Indonesia juga harus memperlengkapi diri dengan sumber daya manusia (SDM) berdaya saing tinggi, memanfaatkan komponen tingkat komponen dalam negeri (TKDN), dan membeli teknologi dari luar negeri untuk dikembangkan di Indonesia.

“Kita beli teknologi dari luar negeri untuk dikembangkan di Indonesia. Yang penting, di akhirnya adalah intellectual property milik Indonesia. TKDN, komponennya banyak di Indonesia dan cost baterai buatan Indonesia akan lebih kompetitif. Kita berkolaborasi untuk menciptakan sesuatu yang kokoh,” ujar Arsjad.

Presiden Joko Widodo, telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Selain itu, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada tahun 2017, Indonesia mampu menghasilkan 2,12 juta ton nikel pig iron (NPI) dan 482.400 ton feronikel (FeNi) pada tahun 2017.

Data Badan Geologi menyebutkan bahwa per tahun 2012, Indonesia memiliki 1,02 miliar ton dari total cadangan nikel, terutama berlokasi di Sulawesi dan Maluku.

Sumber: ANTARA

Read More

Setelah Sukses Luncurkan Motor Listrik Gesits, WIKA Akan Rambah Industri Smelter Nikel & Perakitan Baterai EV

WIKA menargetkan investasi smelter nikel yang merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik terealisasi pada 2022.

NIKEL.CO.ID – PT Wijaya Karya (WIKA) punya rencana untuk terjun dalam industri baterai listrik. Salah satu target paling dekat akan direalisasikan melalui rencana investasi di bidang smelter nikel yang merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) pada 2022.

“Kami ada rencana leading pembangunan smelter nikel. WIKA punya motor listrik dan komponen paling besar baterai. Baterai masih impor,” ucap Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito dalam Webinar “Mengukur Infrastruktur”, Rabu (14/4/2021).

Smelter yang dicanangkan WIKA ini nantinya memiliki kemampuan memproses High Pressure Acid Leach (HPAL) dan Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF). Hasilnya nantinya dapat menjadi bahan baku yang dapat digunakan untuk diproses lebih lanjut sebelum digunakan dalam industri baterai.

“Kami punya cita-cita tidak hanya mengerjakan smelter, tapi juga ingin berkontribusi berinvestasi di RKEF dan HPAL bahan dasar baterai,” ucap Agung.

Agung bilang dirinya mengetahui kalau sejumlah BUMN sudah lebih dulu terjun dalam industri baterai listrik untuk kendaraan elektrik. Sebut saja PT Indonesia Battery Corporation yang merupakan konsorsium PT Pertamina, PT PLN, PT Inalum, dan PT Antam.

Namun WIKA katanya tetap tertarik berpatisipasi. Salah satunya melalui pembangunan smelter untuk mengolah nikel.

Tidak hanya mengolah nikel, WIKA kata Agung juga berencana untuk terjun lebih jauh dalam rantai pasok baterai. Salah satunya WIKA berminat terlibat pada proses perakitannya atau assembly baterai kendaraan listrik.

“2024 kami bertranformasi dari WRK menjadi WIKA Energi, WIKA Bitumen yang memproduksi aspal nasional, kami harapkan sudah bisa IPO, lalu kami mulai assembly baterai,” ucap Agung.

Baca selengkapnya di artikel tirto.id dengan judul “WIKA akan Rambah Industri Smelter Nikel & Perakitan Baterai EV“.

Read More

Prospek Kongsi Baterai Mobil Listrik

Oleh: Ahmad Yani *)

Indonesia Battery Corp seyogyanya memiliki produk yang unggul dengan kontrak penjualan yang menguntungkan serta memiliki pendanaan kuat.

NIKEL.CO.ID – Ditandatanganinya shareholder agreement oleh empat BUMN energi dan tambang pada 16 Maret 2021 menandai terbentuknya Indonesia Battery Corporation (IBC). Keempat BUMN tersebut adalah PT Pertamina, PT PLN, PT MIND ID, dan PT ANTAM.

Korporasi ini akan mengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor yang terintegrasi dari hulu hingga hilir guna memperkuat ketahanan energi nasional. Kepemilikannya sama rata, masing-masing 25%.

Dengan semakin menuanya bumi, keberadaan IBC ini sangat mendesak dan menjadi solusi bagi isu pemanasan global dan efek rumah kaca. Bahan bakar fosil kelak akan habis. Lahirnya mobil listrik menjadi tumpuan harapan jutaan umat manusia dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan.

Baterai electric vehicle (EV) akan menjadi penentu kualitas kehidupan manusia ke depan. Kabar baiknya, Indonesia adalah negara terbesar penghasil bahan bakunya, yaitu nikel. Porsi cadangan nikel Indonesia mencapai 24% dari total cadangan nikel dunia.

Indonesia juga unggul dari sisi demand. Potensi kendaraan roda dua mencapai 8,8 juta unit dan 2 juta unit untuk roda empat pada 2025. Competitive advantage dari supply chain yang ada, setidaknya 35% komponen EV dapat bersumber dari dalam negeri.

Tumpah ruahnya nikel sebagai potensi bisnis dunia tidak luput dari pantauan big fish company di bidang EV. Siapa yang tidak mengenal Tesla. Pemerintah dan Tesla berencana bekerjasama dalam produksi baterai EV.

Perusahaan baterai EV lainnya juga tidak mau kalah agresif mengambil kesempatan ini. Ada LG dari Korea Selatan dan Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) dari China. Tawaran menggiurkan membanjiri pasar EV Indonesia. Indonesia bebas mau kerja sama seperti apa.

Keberadaan IBC selaras dengan aturan main yang sebenarnya sudah ada. Industri ini merupakan bagian percepatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk transportasi jalan berdasarkan Perpres No. 55 Tahun 2019. Perpres ini juga mengamanatkan bahwa pabrik harus dibangun di Indonesia.

Cadangan nikel sebagai penggerak utama bisnis juga melimpah sejak bijih nikel dilarang untuk diekspor oleh Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2017 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian.

Sebagai perusahaan yang mengemban amanah dan tugas yang strategis, IBC perlu mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki. Dukungan empat BUMN besar dan warisan sumber daya yang melimpah perlu dilaksanakan secara efektif.

Penulis menawarkan lima faktor yang perlu diperhatikan, yakni operating company, demand-based product, kontrak penjualan, kerja sama teknologi, dan gap funding.

Pertama, operating company. Industri ini akan diorkestrasi dan dimobilisasi oleh IBC dari hulu sampai hilir. Mulai dari pengolahan nikel, material precursor dan katoda, hingga battery cell, pack, energy storage system (ESS), dan recycling.

Ada baiknya IBC menjalin kerja sama dengan perusahaan penguasa pangsa pasar di setiap lini bisnis. Misalnya perusahaan pengolahan nikel, scope ini dikuasai salah satu swasta dengan market share terbesar. Ini selaras dengan Pasal 6 Ayat (3) Perpres 55/2019 yang mengamanatkan gotong royong pemerintah dan swasta.

Kedua, produk harus sesuai demand. IBC perlu memilih baterai apa yang akan dibuat sekarang dan nanti. Saat ini produk yang paling laku hybrid electric vehicle (HEV). Maklum, harganya yang murah sesuai kocek masyarakat Indonesia.

Kalau mau dijual keluar, baterai full listrik atau battery electric vehicle (BEV) dapat menjadi pilihan. Secara global, Tesla adalah market leader mobil listrik yang menjadikan produk ini laku di pasar dunia.

Ketiga, kontrak penjualan. IBC perlu mengadakan kontrak dimaksud dengan pemilik market share mobil listrik terbesar di dunia. Misalnya Tesla Model 3 yang mencetak sales terbesar 2019. Kepastian penjualan ini mendukung keberlangsungan bisnis.

Keempat, kerja sama teknologi. Hal ini krusial karena membuat baterai EV tidak mudah. Produk ini menghadapi permasalahan seperti degradasi baterai dan perlu standarisasi kualitas.

Kebetulan, dua perusahaan baterai EV top dunia (LG dan CATL) sudah menjajaki kerja sama dengan Indonesia. Momen ini dapat digunakan IBC untuk menggandeng keduanya dalam peningkatan teknologi.

Kelima, gap funding. Investasi baterai EV membutuhkan dana yang tidak ‘kaleng-kaleng’. Bayangkan saja, membuat baterai di lumbung nikel terbesar di dunia. Momennya pas sekali. Indonesia baru saja melahirkan Sovereign Wealth Fund bernama Lembaga Pengelola Investasi (LPI).

Investment vehicle bermahzab equity financing ini sangat jauh dari isu utang. Nantinya investor besutan LPI akan patungan dengan IBC dan mitra lain di anak perusahaan yang butuh suntikan.

Sebagai operating company yang futuristik dengan mitra teknologi yang mumpuni, IBC seyogyanya memiliki produk yang unggul dengan kontrak penjualan yang menguntungkan serta memiliki pendanaan kuat. Korporasi ini diharapkan dapat mewujudkan baterai EV yang kompetitif dan berkualitas.

*) Ahmad Yani adalah Tenaga Pengkaji Restrukturisasi, Privatisasi, dan Efektivitas Kekayaan Negara Dipisahkan, Kementerian Keuangan

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Prospek Kongsi Baterai Mobil Listrik“.

Read More