Cadangan Nikel Berlimpah, Indonesia Bisa Jadi Produsen Utama Baterai Kendaraan Listrik

NIKEL.CO.ID – Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menegaskan pemerintah terus serius untuk melakukan hilirisasi industri, termasuk sektor otomotif. Hal tersebut, didukung dengan dimulainya pembangunan pabrik sel baterai pertama di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, milik Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution Ltd.

Fasilitas yang berlokasi di Karawang New Industry City, Jawa Barat ini menghabiskan nilai investasi sebesar US$1,1 miliar.

“Era kejayaan komoditas bahan mentah sudah berakhir. Dan kita harus berani mengubah struktur ekonomi yg selama ini berbasis komoditas untuk masuk ke hilirisasi, masuk ke industrialisasi menjadi negara industri yang kuat dengan berbasis pada pengembangan inovasi teknologi,” ujar Jokowi, dalam pidatonya, saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan pabrik sel baterai Hyundai dan LG, secara virtual, Rabu (15/9/2021).

Lanjut orang nomor satu di negara ini juga mengatakan, strategi bisnis besar negara, adalah dengan keluar secepatnya dari jebakan negara pengekspor bahan metal.

Selain itu, melepaskan ketergantungan dari produk impor dengan mempercepat revitalisasi industri pengolahan sehingga bisa memberikan peningkatan nilai tambah ekonomi yang semakin tinggi.

“Negara kita Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Dengan potensi yang luar biasa itu saya yakin dalam tiga sampai empat tahun ke depan, melalui manajemen yang baik, manajemen pengelolaan yang baik, Indonesia akan bisa menjadi produsen utama produk-produk barang jadi berbasis nikel, seperti baterai lithium, baterai listrik, dan baterai kendaraan listrik,” tambahnya.

Nilai Tambah

Sementara itu, hilirisasi industri nikel juga akan meningkatkan nilai tambah secara signifikan. Jika diolah menjadi sel baterai, nilainya bisa meningkat enam sampai tujuh kali. Dan jika menjadi mobil listrik akan meningkat lebih besar lagi nilai tambahnya yaitu 11 kali lipat.

“Selain itu pengembangan industri baterai akan meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi dari industri turunan yang menggunakan baterai seperti investasi motor listrik, bus listrik, dan industri mobil listrik,” pungkas pria yang akrab disapa Jokowi tersebut.

Sumber: liputan6.com

Read More

Harga Melesat, Begini Dampaknya Terhadap Industri Nikel di Dalam Negeri

NIKEL.CO.ID – Harga sejumlah komoditas mineral di tahun ini terus meningkat. Salah satunya, harga nikel yang kini menunjukkan tren penguatan dan akhirnya berdampak pada perusahaan nikel di dalam negeri.

Mengutip Bloomberg, harga nikel berjangka di London Metal Exchanges (LME) berada di level US$ 20.392 per metrik ton pada penutupan perdagangan Jumat (10/9/2021). Alhasil, secara year to date (ytd) harga nikel sudah menguat 22,74%.

Tren harga positif nikel juga tercermin pada harga patokan mineral yang dirilis oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Berdasarkan data tersebut, harga nikel pada September 2021 mencapai US$ 19.239,26 per ton. Artinya, sepanjang tahun ini, nikel sudah melesat 17%.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengatakan, penguatan harga nikel didorong oleh dua faktor, yaitu ketersediaan bijih nikel di China sudah menipis dan cadangan nikel di Gudang LME turun.

Selain itu, permintaan nikel juga terus meningkat sejalan dengan permintaan kendaraan listrik atau electric vehicle yang juga melonjak di tahun ini.

“Pada tahun 2030 penggunaan kendaraan listrik diperkirakan mencapai 22 juta unit, kondisi ini makin didorong juga oleh persyaratan beberapa negara untuk mengurangi emisi karbon,” kata dia kepada Kontan.co.id, Senin (13/9/2021).

Tren harga serta permintaan nikel yang positif turut berdampak pada aktivitas akuisisi dalam industri pertambangan nikel. Dalam catatan APNI, aktivitas akuisisi perusahaan tambang nikel oleh perusahaan non penambangan nikel di tengah tren penguatan harga kerap terjadi sejak tahun lalu.

Terlebih, prospek permintaan bijih nikel masih positif seiring pembangunan smelter dan pabrik high pressure acid leaching (HPAL) yang masih terus berlanjut.

Dalam catatan APNI, pabrik HPAL akan bertambah menjadi 98 pabrik di tahun 2025 mendatang. Dengan jumlah tersebut, permintaan bijih nikel diperkirakan bisa naik hingga 250 juta ton per tahun.

“Tren permintaan nikel yang cukup positif membuat banyak pelaku usaha dari berbagai industri untuk ikut menikmati dan menjalankan proses produksi tambang nikel, tren ini sudah terjadi sejak 2020, di mana banyak perusahaan baru mengakuisisi perusahaan tambang nikel,” tutur Meidy.

Selain mendorong akuisisi, tren harga serta permintaan nikel yang positif juga diperkirakan bakal mengerek rencana produksi bijih nikel dalam permohonan Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) perusahaan-perusahaan tambang nikel di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara pada tahun 2022.

Menurut estimasi Meidy, rencana produksi bijih nikel perusahaan–perusahaan tambang nikel di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara berpotensi naik hingga 40%-60% pada tahun 2022 dibanding rencana produksi bijih nikel dalam RKAB 2021.

Sebagai pembanding, berdasarkan catatan APNI, total rencana produksi bijih nikel di ketiga provinsi tersebut berjumlah 120 juta ton di tahun 2021.

Potensi Uptrend dan Rekomendasi Pilihan Saham

Analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu memperkirakan, adanya potensi uptrend pada harga nikel di sisa tahun berjalan maupun tahun depan. Dalam proyeksi Samuel Sekuritas, harga rata-rata nikel berpotensi berada di level US$ 18.200 per ton – US$ 18.800 per ton pada sepanjang tahun 2021 dan 2022.

Faktor pendorongnya yakni kenaikan permintaan seiring perbaikan ekonomi, serta pasokan dari negara-negara produsen yang masih terdisrupsi (supply disruption) akibat penurunan produktivitas negara-negara produsen di tahun 2020.

Dengan potensi yang demikian, Samuel Sekuritas Indonesia menjadikan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebagai pilihan utama alias top picks di sektor tambang nikel.

 

Dessy juga mengatakan, target harga saham untuk ANTM di Rp 3.230 dan Rp 6.700 per saham untuk INCO. Hal ini mempertimbangkan dampak signifikan perubahan harga nikel terhadap kedua saham tersebut.

“INCO produknya nikel saja, sementara ANTM, eksposur nikel-nya sekarang cukup meningkat terhadap topline,” pungkas Dessy.

Sumber: KONTAN

Read More

Di Tahun 2030, Permintaan Nikel Dunia untuk Baterai EV Akan Naik 4 Kali

NIKEL.CO.ID – Kebutuhan nikel dunia akan terus mengalami peningkatan seiring dengan banyaknya masyarakat yang beralih dari kendaraan berbasis Bahan Bakar Minyak (BBM) ke kendaraan listrik.

Berdasarkan data yang dipaparkan Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM Agus Tjahajana dalam Webinar ‘Mineral for Energy’, Jumat malam (10/09/2021), kebutuhan nikel untuk baterai kendaraan listrik akan naik 4 kali lipat pada 2030 mendatang.

Tahun 2020 kebutuhan nikel untuk baterai kendaraan listrik (EV) dan “power bank” raksasa alias Energy Storage System (ESS) mencapai 154 ribu ton. Kemudian, naik pada 2025 menjadi 372 ribu ton. Dan pada 2030 diperkirakan akan melonjak menjadi 795 ribu ton.

“Jadi inilah merupakan peluang yang harus kita segera manfaatkan, kita usahakan bisa diproses dengan baik,” ungkapnya.

Menurutnya, pemanfaatan nilai tambah pada nikel harus segera dilakukan. Hal ini dikarenakan teknologi bisa berubah, dan jika nikel sudah tidak dibutuhkan lagi untuk baterai, maka nikel hanya dimanfaatkan untuk stainless steel.

“Sebab teknologi bisa berubah. Kalau nikel tidak dipakai baterai lagi, maka dipakai untuk stainless steel,” lanjutnya.

Indonesia patut bersyukur karena dilimpahi sejumlah sumber daya energi dan tambang, termasuk nikel. Bahkan, “harta karun” nikel Indonesia merupakan terbesar dibandingkan negara lainnya. Indonesia memiliki cadangan logam nikel sebesar 72 juta ton Ni (nikel).

Jumlah cadangan tersebut merupakan 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai 139.419.000 ton Ni.

Data tersebut berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2020 dalam booklet bertajuk “Peluang Investasi Nikel Indonesia” yang merupakan hasil olahan data dari USGS Januari 2020 dan Badan Geologi 2019.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Mengintip Tren Penguatan Harga Nikel dan Efeknya di Dalam Negeri

NIKEL.CO.ID – Harga nikel masih menunjukkan tren penguatan di sepanjang tahun ini. Hal ini pun berdampak pada perusahaan nikel di dalam negeri.

Mengutip Bloomberg, harga nikel berjangka di London Metal Exchanges (LME) berada di level US$ 20.392 per metrik ton pada penutupan perdagangan Jumat (10/9). Alhasil, secara year to date (ytd) harga nikel sudah menguat 22,74%.

Tren harga positif nikel juga tercermin pada harga patokan mineral yang dirilis oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Berdasarkan data tersebut, harga nikel pada September 2021 mencapai US$ 19.239,26 per ton. Artinya, sepanjang tahun ini, nikel sudah melesat 17%.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengatakan, penguatan harga nikel didorong oleh dua faktor, yaitu ketersediaan bijih nikel di China sudah menipis dan cadangan nikel di Gudang LME turun.

Selain itu, permintaan nikel juga terus meningkat sejalan dengan permintaan kendaraan listrik atau electric vehicle yang juga melonjak di tahun ini.

“Pada tahun 2030 penggunaan kendaraan listrik diperkirakan mencapai 22 juta unit, kondisi ini makin didorong juga oleh persyaratan beberapa negara untuk mengurangi emisi karbon,” kata dia kepada Kontan.co.id, Senin (13/9/2021).

Tren harga serta permintaan nikel yang positif turut berdampak pada aktivitas akuisisi dalam industri pertambangan nikel. Dalam catatan APNI, aktivitas akuisisi perusahaan tambang nikel oleh perusahaan non penambangan nikel di tengah tren penguatan harga kerap terjadi sejak tahun lalu.

Terlebih, prospek permintaan bijih nikel masih positif seiring pembangunan smelter dan pabrik high pressure acid leaching (HPAL) yang masih terus berlanjut.

Dalam catatan APNI, pabrik HPAL akan bertambah menjadi 98 pabrik di tahun 2025 mendatang.  Dengan jumlah tersebut, permintaan bijih nikel diperkirakan bisa naik hingga 250 juta ton per tahun.

“Tren permintaan nikel yang cukup positif membuat banyak pelaku usaha dari berbagai industri untuk ikut menikmati dan menjalankan proses produksi tambang nikel, tren ini sudah terjadi sejak 2020, di mana banyak perusahaan baru mengakuisisi perusahaan tambang nikel,” tutur Meidy.

Selain mendorong akuisisi, tren harga serta permintaan nikel yang positif juga diperkirakan bakal mengerek rencana produksi bijih nikel dalam permohonan Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) perusahaan-perusahaan tambang nikel di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara pada tahun 2022.

Menurut estimasi Meidy, rencana  produksi bijih nikel perusahaan–perusahaan tambang nikel di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara berpotensi naik hingga 40%-60%  pada tahun 2022 dibanding rencana produksi bijih nikel dalam RKAB 2021.

Sebagai pembanding, berdasarkan catatan APNI, total rencana produksi bijih nikel di ketiga provinsi tersebut berjumlah 120 juta ton di tahun 2021.

Analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu memperkirakan, adanya potensi uptrend pada harga nikel di sisa tahun berjalan maupun tahun depan. Dalam proyeksi Samuel Sekuritas, harga rata-rata nikel berpotensi berada di level US$ 18.200 per ton – US$ 18.800 per ton pada sepanjang tahun 2021 dan 2022.

Faktor pendorongnya yakni kenaikan permintaan seiring perbaikan ekonomi, serta pasokan dari negara-negara produsen yang masih terdisrupsi (supply disruption) akibat penurunan produktivitas negara-negara produsen di tahun 2020.

Dengan potensi yang demikian, Samuel Sekuritas Indonesia menjadikan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebagai pilihan utama alias top picks di sektor tambang nikel.

Dessy juga mengatakan, target harga saham untuk ANTM di Rp 3.230 dan Rp 6.700 per saham untuk INCO. Hal ini mempertimbangkan dampak signifikan perubahan harga nikel terhadap kedua saham tersebut.

“INCO produknya nikel saja, sementara ANTM, eksposur nikel-nya sekarang cukup meningkat terhadap topline,” pungkas Dessy.

Sumber: KONTAN

Read More

Bos Antam Bicara Prospek Permintaan Nikel Dunia

NIKEL.CO.ID – Dunia sedang berbondong-bondong melakukan transisi energi dari pemakaian energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT). Kondisi ini turut mendongkrak permintaan salah satu komoditas tambang RI, yaitu nikel.

Pasalnya, nikel dibutuhkan sebagai komponen baterai hingga kendaraan listrik, serta komponen pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

PT Aneka Tambang Tbk (Antam/ ANTM) sebagai salah satu produsen nikel pun angkat suara terkait prospek permintaan dunia terhadap komoditas nikel ini.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Anton Herdianto mengatakan, hal ini merupakan peluang bagi perusahaan. Apalagi, lanjutnya, perusahaan memiliki cadangan nikel cukup besar dan perusahaan juga tengah membangun beberapa proyek smelter feronikel, seperti di Pomalaa, Sulawesi Tenggara dan Halmahera Timur, Maluku Utara.

“Memang ini menjadi peluang Antam. Antam punya cadangan nikel cukup banyak. Ini yang jadi tantangan hilirisasi,” ungkapnya dalam Public Expose Live 2021, Kamis (09/09/2021).

Menurutnya, permintaan bijih nikel di dalam negeri sudah cukup banyak. Sejumlah proyek smelter di Indonesia pun menurutnya terkait dengan masa depan produk nikel untuk komponen kendaraan listrik.

“Di Indonesia tentunya terkait pengembangan ke depan nikel, salah satu fokus sudah disinggung electric vehicles (EV),” tuturnya.

Antam pun menurutnya sudah bergerak ke arah sana bersama dengan tiga BUMN lainnya yaitu MIND ID, Pertamina, dan PLN. Keempat BUMN ini mendapatkan penugasan dari Kementerian BUMN melalui pembentukan Holding Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk membangun industri baterai terintegrasi dari hulu hingga ke hilir.

Dalam IBC ini, peran Antam adalah sebagai pengelola sumber daya nikel sebagai bahan baku dalam membuat baterai. Menurutnya, ini menjadi peluang bagi Antam ke depannya.

“Peran Antam (di IBC) sebagai pihak yang punya source nikel jadi bahan baterai,” imbuhnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Demam Mobil Listrik Belum Mati, Harga Nikel Rekor Tertinggi

NIKEL.CO.ID – Harga nikel dunia melesat pada perdagangan siang hari ini, menembus harga tertingginya sejak 2014. Laju harga nikel didorong oleh meningkatnya permintaan.

Pada perdagangan Kamis (9/9/2021) pukul 11:00 WIB, harga nikel tercatat U$ 19.957.50/ton. Naik 1.38% dibanding penutupan perdagangan kemarin.

nikel
Sumber: investing.com

Permintaan nikel datang dari penjualan mobil listrik dunia yang terus bertumbuh dengan pesat. Penjualan mobil listrik dunia pada semester-I 2021 meroket 160% year-on-year (yoy). Fastmarkets memperkirakan penjualan mobil listrik ini akan terus meningkat seiring dengan wacana pengurangan emisi karbon dunia dalam menghadapi perubahan iklim global.

“Penetrasi EV akan mencapai 15% pada 2025, dan kami memperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 35% pada tahun 2030. Ditambah dengan pertumbuhan permintaan dari aplikasi seperti sistem penyimpanan energi (ESS), perangkat 5G, dan Internet of Things (IoT)) infrastruktur,” kata Fastmarkets dalam laporan baru-baru ini.

Penjualan mobil listrik yang meroket ini menular ke permintaan baterai mobil listrik di mana nikel adalah salah satu kompenen utamanya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Harga Nikel Naik, Produsen Ketiban Cuan

NIKEL.CO.ID – PT. PAM Mineral Tbk (NICL) mencatatkan peningkatan kinerja operasional. Selama semester I tahun ini, penjualan bijih nikel perseroan mengalami peningkatan yang signifikan dengan ditunjang oleh peningkatan harga komoditas nikel sepanjang semester I 2021.

Berdasarkan laporan keuangan in house Juni 2021, Perseroan berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 148 miliar, sedangkan pendapatan Perseroan pada sepanjang tahun 2020 sebesar Rp 188 miliar.

“Jika dibandingkan dengan kinerja tahun 2020, pada semester I tahun ini, Perseroan telah mencapai 79% dari penjualan tahun lalu. Kami sangat optimis penjualan tahun 2021 ini akan jauh diatas penjualan yang telah dicapai Perseroan tahun lalu” kata Corporate Secretary NICL Suhartono, Rabu (25/8/2021).

Dari sisi laba, Perseroan berhasil mencatatkan laba sebesar Rp.26,3 miliar atau naik signifikan jika dibandingkan dengan laba bersih di semester I 2020 yang masih mencatatkan kerugian sebesar Rp1,8 miliar. Kenaikan ini ditunjang oleh kenaikan volume penjualan dan kenaikan harga nikel.

Di sisi lain posisi keuangan NICL masih sangat solid, dimana pada sisi ekuitas, Perseroan mengalami kenaikan yang signifikan, dari sebelumnya sebesar Rp 106,7 miliar naik menjadi Rp 133,1 miliar atau naik sebesar 25% (ytd), hal ini disebabkan adanya lonjakan laba yang signifikan di semester I 2021.

Total aset Perseroan sebesar Rp 177 miliar per Juni 2021 relatif lebih rendah dari total aset pada Desember 2020 yaitu sebesar Rp 189,7 miliar atau mengalami penurunan sebesar 7% (ytd).

Namun di sisi lain penurunan aset tersebut dibarengi dengan penurunan hutang Perseroan dari Rp 82,9 miliar pada Desember 2020 menjadi sebesar Rp 43,9 miliar per Juni 2021 atau turun sebesar 47% (ytd). “Dari sisi neraca, struktur permodalan Perseroan sangat solid dan didukung oleh pertumbuhan laba yang tinggi, Perseroan yakin dapat terus bertumbuh di masa yang akan datang” imbuh Suhartono.

Propek industri nikel dalam beberapa tahun ke depan masih sangat menarik karena kebutuhan bijih nikel dunia akan terus mengalami peningkatan seiring dengan tumbuhnya industri baterai untuk memenuhi kebutuhan mobil listrik di seluruh dunia.

Di sisi lain, Indonesia sebagai salah satu produsen bijih nikel tentunya sangat diuntungkan dalam bisnis ini. Oleh karena itu, Manajemen NICL juga sangat optimis untuk mencapai target pertumbuhan penjualan di 2021.

Sumber: detik.com

Read More

Menggiurkan! Luhut Ungkap Cuan RI dari Nikel Naik 10 Kali Lipat

NIKEL.CO.ID – Industri nikel di Indonesia memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Padahal, menurut Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sejak tahun 2014 nikel dipandang sebelah mata.

Namun dia mengatakan kini nikel mampu memberikan keuntungan bagi negara bila diekspor. Syaratnya, nikel tidak boleh diekspor mentah harus ada hilirisasi.

Di tahun 2014 saat nikel belum dihilirisasi ekspornya cuma US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 15,8 triliun. Namun, saat negara melarang ekspor mentah nikel dan melakukan hilirisasi jumlah ekspornya mencapai US$ 10 miliar lebih atau sekitar Rp 144 triliun.

“Saya masuk ke industri nikel, mungkin dari tahun 2014 tidak dipandang mata ini karena ekspornya cuma US$ 1,1 miliar. Pada saat jadi downstream ekspornya tahun lalu mencapai US$ 10,9 miliar,” papar Luhut dalam peringatan HUT BPPT secara virtual, Senin (23/8/2021).

Sampai kemarin Juli sudah US$ 10,4 miliar, ini akan bisa US$ 19 miliar,” tambahnya.

Jumlah itu menurut Luhut dapat membantu Indonesia menyeimbangkan neraca dagang. “Itu jelas akan bisa tolong ekonomi kita, ini membantu current account deficit kita,” ungkapnya.

Tidak sampai di situ, di 2024 keuntungan hilirisasi nikel diprediksi makin jadi. Hal itu terjadi karena Indonesia diharapkan sudah bisa memproduksi baterai lithium yang berbahan dasar nikel ore. Potensinya mencapai US$ 35-45 miliar atau sekitar Rp 504-648 triliun.

“Dari 2024, dari nikel ore dan sampai ke lithium baterai membuat kita mudah untuk ekspor US$ 35-45 miliar,” jelas Luhut.

Kini sebagai langkah untuk memaksimalkan komoditas nikel, Luhut mengatakan Indonesia tengah menyiapkan sumber daya manusia (SDM). Sebanyak 21 orang dari Indonesia belajar pengolahan nikel ke China.

“Berkali-kali saya sampaikan kita kirim anak-anak kita dari sini, ada 21 orang pergi ke China untuk melihat teknologinya ini. Sudah satu tahun, sehingga riset lithium battery dia akan terlibat di sini,” kata Luhut.

Sumber: detik.com

Read More

Ketergantungan Dunia pada Nikel Indonesia itu Nyata!

NIKEL.CO.ID – Indonesia patut bersyukur karena dilimpahi sejumlah sumber daya energi dan tambang, termasuk nikel. Bahkan, “harta karun” nikel Indonesia merupakan terbesar dibandingkan negara lainnya. Indonesia memiliki cadangan nikel sebesar 72 juta ton Ni (nikel).

Jumlah cadangan tersebut merupakan 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai 139.419.000 ton Ni.

Data tersebut berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2020 dalam booklet bertajuk “Peluang Investasi Nikel Indonesia” yang merupakan hasil olahan data dari USGS Januari 2020 dan Badan Geologi 2019.

Besarnya cadangan nikel di Tanah Air ini menjadi salah satu pemicu banyak pihak luar melirik nikel Indonesia, termasuk untuk berinvestasi di Indonesia.

Begitu pun dari sisi harga, harga nikel ke depannya dinilai akan sangat bergantung pada Indonesia. Pasalnya, fluktuasi harga akan bergantung pada suplai dan permintaan. Meskipun harga nikel dalam sepekan ini mengalami penurunan, namun rata-rata masih berada di sekitar US$ 19.000 per ton.

Steven Brown, konsultan independen di industri pertambangan, mengatakan permintaan nikel dunia ke depannya diperkirakan meningkat karena adanya transisi ke energi baru terbarukan (EBT) seperti peningkatan permintaan kendaraan listrik dan pembangkit listrik energi baru terbarukan yang membutuhkan bahan baku nikel.

Sementara dari sisi pasokan, peningkatan produksi nikel dunia hanya terjadi di Indonesia. Sedangkan pasokan dari luar Indonesia mengalami tren penurunan.

Oleh karena itu, tak ayal bila pasokan nikel dunia mengandalkan pasokan dari Indonesia.

“Ada banyak forecast terkait harga, saya rasa nggak akan naik terlalu jauh dari saat ini karena masih bergantung supply dan demand. Yang jelas demand pasti akan meningkat jauh karena ada mobil listrik dan sebagainya, tapi tampaknya suplai juga seimbang kalau dilihat terutama dari perkembangan di Indonesia. Suplai bisa keep up dengan demand. Tapi itu semua tergantung dari Indonesia,” jelasnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (19/08/2021).

“Jadi di luar Indonesia sama sekali gak keep up dengan demand. Jadi ini semua sangat bergantung pada satu negara (Indonesia),” ujarnya.

Dia menjelaskan, dunia kini bergantung pada pasokan nikel Indonesia karena sejumlah proyek smelter nikel yang tengah dibangun, terutama menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang telah diumumkan, terdapat di Indonesia.

Adapun produk dari smelter HPAL ini bisa berupa Mix Sulphide Precipitate (MSP) maupun Mix Hydroxide Precipitate (MHP) yang kemudian bisa diolah menjadi nickel suplhate yang bisa menjadi komponen baterai lithium.

Dia mengatakan, pada semester I 2021, pasokan nikel hanya bertumbuh di Indonesia, yakni meningkat 320 ribu ton atau naik 140% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama 2020. Jumlah tersebut belum termasuk dari produksi nikel PT Vale Indonesia.

Sementara di luar Indonesia secara global, pasokan nikel justru menurun 265 ribu ton atau turun 26% dibandingkan periode semester I 2020.

Ini menunjukkan pasokan nikel dunia hanya meningkat dari Indonesia, sehingga tak ayal bila pasokan nikel dunia bergantung pada Indonesia.

“Luar biasa memang. Total produksi nikel meningkat hanya karena Indonesia,” ujarnya.

Dia mengatakan, peningkatan pasokan nikel ini terutama dari smelter di sejumlah kawasan industri nikel seperti di Morowali, Sulawesi Tengah ada PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), lalu Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara ada PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara ada Harita Group, serta di Konawe, Sulawesi Tenggara terdapat PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).

Kualitas dan Ongkos Produksi Nikel Indonesia Lebih Murah

Steven mengatakan, banyak pihak luar berminat untuk memperoleh maupun berinvestasi untuk proyek nikel di Indonesia karena selain besarnya cadangan bijih nikel di Indonesia, kualitas dan ongkos produksi nikel di Tanah Air jauh lebih murah dibandingkan di luar negeri.

Sementara di luar negeri, produksi bijih nikel kini lebih sulit karena perlu menggali lebih dalam, jumlahnya tak sebanyak di Indonesia, dan ongkosnya lebih mahal.

“Karena ore lebih accessible dan lebih bagus dan lebih baik daripada negara lain, sementara di negara yang gak ada bijih sulfida, itu sudah sulit untuk dicari, jadi semakin dalam, makin deep galinya, karena dia underground kalau sulfida, jadi makin mahal untuk mengembangkan bijih sulfida,” paparnya.

“Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar dan keekonomian membangun di Indonesia jauh lebih bagus, lebih murah, dan lebih cepat membangunnya,” ujarnya.

Dia menyebut, tren investasi di industri nikel Indonesia terus meningkat sejak 2014 lalu ketika ada kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel. Dengan kondisi saat ini, menurutnya investasi di sektor industri nikel di Tanah Air akan tetap maju, atau setidaknya tidak akan melambat.

“Ya trennya tidak akan melambat lah. Jadi sejak 2014 investasi jalan terus dan tampaknya masih akan terus seperti itu,” imbuhnya.

Harga Nikel Masuk Super Siklus?

Menurutnya, apakah nikel kini mendekati masuk ke era super siklus masih diperdebatkan banyak pihak, karena ada yang menganggap ini akan masuk era super siklus, tapi ada juga yang mengatakan masih jauh dari super siklus.

Pasalnya, harga nikel dunia tertinggi sempat menyentuh US$ 50 ribu per ton, sementara kini baru hampir mendekati US$ 20 ribu per ton.

Super siklus nikel sebelumnya dipicu karena perkembangan industri di China, namun kini lebih didorong pada transisi energi ke energi baru terbarukan, seperti peningkatan penggunaan kendaraan listrik, pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan. Transisi energi ini akan memakan banyak nikel, sehingga permintaan nikel ke depan pasti akan terus meningkat.

“So far suplai nikel masih bisa seimbang dengan permintaan walaupun ke depannya ada dua kelompok, ada yang merasa demand melebihi suplai di masa mendatang, ada yang lain yang merasa supply dan demand tetap seimbang, jadi masih debatable apakah sudah mau supercycle atau tidak,” tuturnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Dunia Memang Mengincar Nikel Indonesia

NIKEL.CO.ID – Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Pada 2020, cadangan nikel Indonesia disebut mencapai 72 ton Ni (nikel). Jumlah ini merupakan 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai 139.419.000 ton Ni.

Data tersebut berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2020 dalam booklet bertajuk “Peluang Investasi Nikel Indonesia” yang merupakan hasil olahan data dari USGS Januari 2020 dan Badan Geologi 2019.

Besarnya cadangan nikel di Tanah Air ini menjadi salah satu pemicu banyak pihak luar melirik nikel Indonesia. Namun bukan karena besarnya cadangan, ada faktor lain yang juga membuat perusahaan asing mengincar nikel Indonesia, baik mengincar dalam arti membeli atau bahkan berinvestasi di Indonesia.

Steven Brown, konsultan independen di industri pertambangan, mengatakan banyak pihak di luar negeri mengincar nikel di Indonesia karena selain besarnya cadangan bijih nikel di Indonesia, kualitas dan ongkos produksi nikel di Tanah Air jauh lebih murah dibandingkan di luar negeri.

Sementara di luar negeri, produksi bijih nikel kini lebih sulit karena perlu menggali lebih dalam, jumlahnya tak sebanyak di Indonesia, sehingga ongkosnya lebih mahal.

“..Suplai juga seimbang kalau dilihat terutama dari perkembangan di Indonesia. Suplai bisa keep up dengan demand. Tapi itu semua tergantung dari Indonesia. Jadi di luar Indonesia sama sekali gak keep up dengan demand. Jadi ini semua sangat bergantung pada satu negara (Indonesia),” tuturnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (19/08/2021).

Apalagi, lanjutnya, sejauh ini beberapa proyek smelter nikel yang diumumkan, termasuk smelter nikel dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), tengah dibangun di Indonesia dan keekonomiannya jauh lebih baik dibandingkan di luar negeri.

Adapun produk dari smelter HPAL ini bisa berupa Mix Sulphide Precipitate (MSP) maupun Mix Hydroxide Precipitate (MHP) yang kemudian bisa diolah menjadi nickel sulphate yang bisa menjadi komponen baterai lithium.

 

“Karena ore lebih accessible dan lebih bagus dan lebih baik daripada negara lain, sementara di negara yang gak ada bijih sulfida, itu sudah sulit untuk dicari, jadi semakin dalam, makin deep galinya, karena dia underground kalau sulfida, jadi makin mahal untuk mengembangkan bijih sulfida,” paparnya.

“Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar dan keekonomian membangun di Indonesia jauh lebih bagus, lebih murah, dan lebih cepat membangunnya,” ujarnya.

Dia mengatakan, pada semester I 2021, pasokan nikel hanya bertumbuh di Indonesia, yakni meningkat 320 ribu ton atau naik 140% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama 2020. Jumlah tersebut belum termasuk dari produksi nikel PT Vale Indonesia.

Sementara di luar Indonesia secara global, pasokan nikel justru menurun 265 ribu ton atau turun 26% dibandingkan periode semester I 2020.

“Luar biasa memang. Total produksi meningkat hanya karena Indonesia,” ujarnya.

Dia menyebut, tren investasi di industri nikel Indonesia terus meningkat sejak 2014 lalu ketika ada kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel. Dengan kondisi saat ini, menurutnya investasi di sektor industri nikel di Tanah Air akan tetap maju, atau setidaknya tidak akan melambat.

“Ya trennya tidak akan melambat lah. Jadi sejak 2014 investasi jalan terus dan tampaknya masih akan terus seperti itu,” imbuhnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More