Presiden: Hannover Messe 2021 Momentum Kalahkan Pandemi

NIKEL.CO.ID – PRESIDEN Joko Widodo mengajak seluruh masyarakat dunia untuk menjadikan ajang Hannover Messe 2021 sebagai momentum mengalahkan pandemi covid-19 sekaligus melakukan lompatan besar ke era yang lebih baik.

“Kita harus melompat jauh keluar dari krisis. Kita harus pulih dan tumbuh lebih kuat. saya yakin Indonesia dan Jerman dapat bermitra untuk keluar dari pandemi ini sebagai pemenang,” ujar Jokowi dalam pembukaan Hannover Messe 2021 secara virtual dari Istana Negara, Jakarta, Senin (12/4/2021).

Indonesia sendiri, lanjut kepala negara, sudah melakukan banyak inovasi. Inovasi tersebut tidak hanya di bidang kesehatan tetapi juga di sektor-sektor lain yang tidak kalah penting untuk kemajuan dunia.

Pembangunan biodiesel dari kelapa sawit, pemasangan pembangkit listrik tenaga surya atap di sektor rumah tangga menjadi beberapa contoh konkret yang sudah berjalan. Di luar itu, sebagai produsen nikel terbesar di dunia, Indonesia tengah mengembangkan produksi baterai lithium yang akan menjadi kunci bagi sektor telekomunikasi dan transportasi di masa mendatang.

Adapun, khusus di sektor teknologi digital, saat ini, Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi digital dan industri 4.0 tercepat di Asia Tenggara.

Indonesia kini memiliki satu decacorn dan lima unicorn yang diyakini akan terus berkembang.

“Ke depan, industri ini akan berkontribusi pada PDB Indonesia sekitar US$133 miliar di 2025. Didukung 185 juta penduduk yang memiliki akses internet, terbesar keempat di dunia, kemajuan industri 4.0 akan menjadikan Indonesia top 10 economy global di tahun 2030,” jelas Jokowi.

Berbekal seluruh poin positif tersebut, kepala negara dengan percaya diri mengajak Kanselir Jerman Angela Merkel untuk bekerja sama di bidang teknologi untuk mencapai kemajuan yang lebih besar bagi kedua belah pihak.

“Saya ingin mengajak Jerman untuk bermitra mewujudkan transformasi digital di Indonesia. Indonesia sendiri telah menyiapkan roadmap implementasi making Indonesia 4.0,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, tahun ini, Indonesia dipilih sebagai partner country oleh Jerman dalam perhelatan pameran dagang terbesar untuk sektor teknologi digital Hannover Messe 2021. Dengan menjadi partner country, Indonesia sudah selangkah lebih maju dibandingkan negara-negara kompetitor di kawasan.

Sumber: Media Indonesia

Read More

Pemerintah Tidak Gentar Hadapi Gugatan Uni Eropa Soal Larangan Ekspor Bijih Nikel

NIKEL.CO.ID – Uni Eropa melayangkan tuntutan kepada pemerintah Indonesia dalam kasus sengketa nikel ke World Trade Organization (WTO). Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi pun menanggapi adanya tuntutan tersebut, dan mengaku siap untuk melanjutkan kasus itu ke persidangan internasional.

Ini merupakan lanjutan dari proses gugatan pihak Uni Eropa atas kebijakan larangan ekspor nikel oleh pemerintah Indonesia. Pada tanggal 14 Januari kemarin, pihak Uni Eropa menginformasikan bahwa kasus tersebut akan mereka lanjutkan. Nantinya, pembahasan kasus tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 25 Januari 2021. Dengan senang hati, pemerintah Indonesia akan meladeni tuntutan tersebut.

Awal mula tuntutan pihak Uni Eropa itu dimulai saat pemerintah Indonesia mengumumkan kebijakan baru yang akan melarang ekspor nikel dalam bentuk mentah. Kebijakan itu pun telah tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2019, yang telah disahkan pada 28 Agustus 2019 oleh Menteri Ignasius Jonan yang menjabat saat itu. Pemberlakuan dari kebijakan itu akan dimulai pada tanggal 1 Januari 2020.

Sejumlah asosiasi penambang pun telah mendapatkan penjelasan soal kebijakan itu, dan mereka menyatakan kesepakatan atas kebijakan larangan ekspor biji mentah nikel tersebut. Selanjutnya, mereka akan mulai mengekspor barang jadi. Alasan lain para penambang sepakat adalah demi mendukung program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah.

Sebagai tindak lanjut, para penambang pun nantinya harus menjual biji mentah nikel itu ke pabrik smelter yang ada di dalam negeri, untuk kemudian diolah menjadi barang jadi dan boleh untuk diekspor. Selanjutnya, tanggal 12 November 2019, sejumlah asosiasi penambang menyepakati harga jual biji mentah nikel yang dijual ke smelter seharga USD30 per metrik ton. Meski harga tersebut terbilang rendah dari harga yang diusulkan, namun semua pihak akhirnya menemui kesepakatan.

Tanggapan keras justru muncul dari salah satu konsumen nikel yang selama ini membeli biji mentah nikel dari penambang Indonesia. Konsumen tersebut diketahui berasal dari negara-negara Uni Eropa yang kemudian pada tanggal 22 Desember melayangkan gugatan ke Dubes Indonesia yang ada di Jenewa.

Mereka menilai, kebijakan pelarangan ekspor biji mentah nikel itu telah melanggar aturan yang ada di World Trade Organization (WTO). Sejumlah produsen baja yang ada di Eropa yang tergabung dalam asosiasi EUROFER juga mendukung adanya gugatan tersebut. Pasalnya, selama ini sebanyak 55 persen bahan baku usaha mereka, dipasok oleh bijih nikel dari Indonesia.

Presiden Jokowi yang mendapatkan kabar gugatan itu pun mengaku tidak akan gentar dengan apa yang dilakukan pihak Uni Eropa. Dia mengatakan bahwa sudah puluhan tahun negara ini hanya bergantung pada ekspor barang mentah, padahal sebenarnya Indonesia cukup mampu untuk mengolahnya dan menghasilkan produk jadi yang lebih bernilai tinggi.

Kebijakan itu pun rupanya tidak berjalan mulus, khususnya pada kondisi di dalam negeri sendiri. Sebab hingga akhir Februari 2020, belum ditemukan kesesuaian harga antar penambang dengan perusahaan smelter. Meski sebelumnya sudah disepakati harganya. Sayangnya, masalah itu terus terjadi berlarut-larut hingga akhir tahun 2020. Dan di saat yang sama, gugatan dari Uni Eropa masih terus berlanjut.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

Nikel Indonesia, Game Changer Mobil Listrik Dunia

Opini oleh: Sihol Manullang *)

NIKEL.CO.ID –  Elon Musk sempat menjadi orang terkaya sejagat, karena saham Tesla Motors selama 2020 naik 743%. Meskipun saham Elon Musk tinggal 20% di Tesla, sudah cukup mengantarkannya menjadi terkaya sedunia.

Persisnya, 8 Januari 2021 pukul 10.16 waktu New York, ketika harga saham Tesla US$ 872,36 per lembar. Kapitalisasi pasar saham Tesla sendirian, bisa mengalahkan kapitalisasi pasar seluruh produsen mobil Jepang. Luar biasa.

Mobil listrik atau electric vehicle (EV) bikinan Tesla menjadi impian baru. EV sesuai dengan arah green energy dunia, energi baru terbarukan (EBT) berkat power yang bersumber dari listrik (disimpan dalam baterai mobil).

Partai Demokrat Amerika Serikat sangat mendukung energi hijau. Maka bisa dipastikan, di masa Presiden Joe Biden sekarang ini, EV akan semakin laku.

Baterai mobil yang berbahan baku nikel, akan menjadi nilai tawar bagi Indonesia. Sebab, 24% cadangan nikel dunia berada di Indonesia.

Hingga tahun 2025 mendatang, porsi baterai dan komponen listrik dalam EV sekitar 35-40% (baterai saja tak kurang dari 25%). Kemudian sekitar 25% di motor listrik. Maka jika kerja sama memproduksi baterai dengan LG Energy Solution (Korea Selatan) berjalan lancar, Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) EV di Indonesia akan besar.

Untuk memastikan TKDN itulah, perjanjian dengan LG, Indonesia diwakili pemerintah sendiri. Ini agar pemerintah benar-benar memegang kendali TKDN. Toh, penghasil utama nikel, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau ANTM adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Selain ANTM yang menjadi penghasil utama, perusahaan yang juga mempunyai cadangan nikel lumayan besar adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO), di mana pemerintah (Kementerian BUMN) melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Mining Industry Indonesia (MIND ID) menguasai 20% saham INCO.

Selain nikel, bahan baku yang sangat berperan dalam mobil listrik, adalah timah dan tembaga. Indonesia beruntung, karena penghasil Timah yakni PT Timah (Persero) Tbk dengan kode saham TINS, adalah BUMN. Cadangan tembaga terbesar di dunia, ada di Papua, diusahakan PT Freeport Indonesia, di mana MIND ID menguasai 51,23% saham.

Harga saham ANTM, INCO dan TINS yang belakangan ini melesat di Bursa Efek Indonesia (BEI), tak lepas dari rencana hilirisasi nikel. Apalagi jika dalam Februari 2021 tim Tesla Motors datang ke Jakarta membicarakan rencana kerja sama produksi baterai, dunia akan semakin tahu betapa Indonesia berperan dalam pengadaan nikel dan timah dunia.

Elon Musk sempat menjadi orang terkaya sejagat, karena saham Tesla Motors selama 2020 naik 743%. Meskipun saham Elon Musk tinggal 20% di Tesla, sudah cukup mengantarkannya menjadi terkaya sedunia.

Persisnya, 8 Januari 2021 pukul 10.16 waktu New York, ketika harga saham Tesla US$ 872,36 per lembar. Kapitalisasi pasar saham Tesla sendirian, bisa mengalahkan kapitalisasi pasar seluruh produsen mobil Jepang. Luar biasa.

Mobil listrik atau electric vehicle (EV) bikinan Tesla menjadi impian baru. EV sesuai dengan arah green energy dunia, energi baru terbarukan (EBT) berkat power yang bersumber dari listrik (disimpan dalam baterai mobil).

Partai Demokrat Amerika Serikat sangat mendukung energi hijau. Maka bisa dipastikan, di masa Presiden Joe Biden sekarang ini, EV akan semakin laku.

Baterai mobil yang berbahan baku nikel, akan menjadi nilai tawar bagi Indonesia. Sebab, 24% cadangan nikel dunia berada di Indonesia.

Hingga tahun 2025 mendatang, porsi baterai dan komponen listrik dalam EV sekitar 35-40% (baterai saja tak kurang dari 25%). Kemudian sekitar 25% di motor listrik. Maka jika kerja sama memproduksi baterai dengan LG Energy Solution (Korea Selatan) berjalan lancar, Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) EV di Indonesia akan besar.

Untuk memastikan TKDN itulah, perjanjian dengan LG, Indonesia diwakili pemerintah sendiri. Ini agar pemerintah benar-benar memegang kendali TKDN. Toh, penghasil utama nikel, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau ANTM adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Selain ANTM yang menjadi penghasil utama, perusahaan yang juga mempunyai cadangan nikel lumayan besar adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO), di mana pemerintah (Kementerian BUMN) melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Mining Industry Indonesia (MIND ID) menguasai 20% saham INCO.

Selain nikel, bahan baku yang sangat berperan dalam mobil listrik, adalah timah dan tembaga. Indonesia beruntung, karena penghasil Timah yakni PT Timah (Persero) Tbk dengan kode saham TINS, adalah BUMN. Cadangan tembaga terbesar di dunia, ada di Papua, diusahakan PT Freeport Indonesia, di mana MIND ID menguasai 51,23% saham.

Harga saham ANTM, INCO dan TINS yang belakangan ini melesat di Bursa Efek Indonesia (BEI), tak lepas dari rencana hilirisasi nikel. Apalagi jika dalam Februari 2021 tim Tesla Motors datang ke Jakarta membicarakan rencana kerja sama produksi baterai, dunia akan semakin tahu betapa Indonesia berperan dalam pengadaan nikel dan timah dunia.

Jokowi Hentikan Ekspor
Jika semua kerja sama produksi baterai harus “selesai” di Indonesia, nilai tawar Indonesia akan semakin besar lagi. Bukan hanya investasi asing yang akan semakin deras, dengan TKDN yang tinggi, harga mobil listrik di negeri kita (kelak) akan semakin bersaing dengan mobil yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

Oleh karenanya, kebijakan Presiden Jokowi yang menghentikan ekspor nikel sejak 1 Januari 2020, merupakan kebijakan yang jitu. Keran ekspor baru dibuka bagi nikel hasil olahan smelter dalam negeri, dengan kadar yang tinggi. Hingga smelter selesai, tidak boleh ekspor.

Puluhan tahun Indonesia hanya mengekspor bahan baku (nikel kadar rendah), nilai tambah tidak kita nikmati. Sekarang wajib diolah smelter dalam negeri. Jangan sampai cadangan habis, Indonesia tak kebagian nilai tambah.

Kebijakan Jokowi menghentikan ekspor, membuat Uni Eropa meradang. Mereka mengadukan Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Mereka ingin tetap memperoleh bahan baku yang murah, mereka yang olah, nilai tambah untuk mereka.

Sekarang, bagi yang membutuhkan tak ada pilihan lain, kecuali datang dan memproduksi baterai di Indonesia. Setelah LG dengan investasi US$ 9,8 miliar, akan menyusul Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) asal Tiongkok, dengan investasi US$ 5,2 miliar. Bukan hanya Tesla, BASF (Jerman) juga sangat berminat.

Kebutuhan Nikel
Kebutuhan nikel dunia terus berkembang. Tahun 2017, sekitar 71% nikel dunia diserap oleh industri stainless steel. Baru 3% saja untuk baterai mobil. Namun, tahun 2030, sebanyak 37% nikel dunia akan diserap oleh industri baterai. Kebutuhan untuk stainless steel akan tinggal 46%.

Dalam pembuatan stainless steel, nikel yang dibutuhkan adalah nikel kelas dua. Sedangkan untuk baterai mobil, yang diperlukan adalah nikel ke satu. Nikel Indonesia adalah nikel kelas satu.

Konsumsi nikel dunia yang tahun 2019 sebanyak 2,4 juta ton, tahun 2040 akan menjadi 4 juta ton. Jika jumlah produksi masih tetap seperti sekarang, tahun 2023 akan terjadi defisit. Mau tak mau, produksi harus ditambah. Lagi-lagi, di sinilah peranan Indonesia semakin penting sebagai pemilik cadangan terbesar di dunia.

Di London Metal Exchange (LME), yang merupakan bursa khusus logam terbesar di dunia, pada akhir 2020 harga kontrak 3 bulan baru US$ 16.540. Tanggal 19 Januari 2021 harga naik tinggi menjadi US$ 18.075, atau naik 9,3%. Harga didorong kebutuhan yang meningkat sementara jumlah produksi tetap, malah berkurang, karena Indonesia menghentikan ekspor.

Saat ini, 10 besar negara produsen nikel, adalah Amerika Serikat, produksi 14.000 ton per tahun, Kuba 51.000 ton, Brasil 67.000 ton, Tiongkok 110.000 ton, Kanada 180.000 ton, Australia 180.000 ton, Kaledonia Baru 220.000 ton, Rusia 270.000 ton, Filipina 420.000 ton, dan Indonesia 800.000 ton. Indonesia mempunyai cadangan nikel sedikitnya 21 juta ton.

Sebagai produsen nikel terbesar dan pemilik cadangan nikel terbesar dunia, nikel Indonesia harus menjadi game changer (pengubah permainan) kebutuhan nikel dunia untuk mobil listrik (EV). Sekarang ini saja, ketika Indonesia ingin mengolah sendiri melalui kewajiban membangun smelter, Uni Eropa sudah meradang.

Jika kelak smelter sudah selesai dan keran ekspor sudah dibuka, pemerintah harus tetap ketat mengontrol kualitas nikel yang keluar, supaya kita yang menikmati nilai tambah. Juga agar kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan terkait nikel-tembaga-timah (ANTM-INCO-TINS) juga semakin tinggi, seiring dengan keuntungan mengolah nikel-tembaga-timah hasil kerja sama dengan produsen mobil listrik dunia.

*) Sihol Manullang adalah Wartawan Suara Pembaruan 1987-2000

Read More

Presiden Jokowi: Pemerintah Ingin Fokus Bangun Industri Hilir Nikel

NIKEL.CO.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan dalam lima tahun ke depan pemerintah ingin fokus ke industri hilir dari komoditas bijih nikel, mengingat Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia.

“Indonesia punya cadangan nikel terbesar di dunia, 25 persen cadangan nikel di dunia ada di Indonesia, yang jumlahnya kurang lebih 21 juta ton. Indonesia mengontrol hampir 30 persen produksi nikel di dunia,” kata Presiden Jokowi dalam peringatan HUT ke-48 PDI Perjuangan secara virtual, Minggu (10/01/2021).

Presiden Jokowi mengatakan Indonesia telah memiliki industri bijih nikel yang terintegrasi dari sektor hulu ke hilir dengan produksi seperti feronikel ataupun baja tahan karat.

Ke depan, kata Presiden Jokowi, Indonesia juga perlu mengolah bijih nikel menjadi baterai litium yang dapat digunakan untuk ponsel dan mobil listrik.

Penciptaan sektor-sektor ekonomi baru dari rantai hulu ke hilir industri bijih nikel itu diyakini Presiden Jokowi akan menimbulkan banyak lapangan kerja.

Jika berhasil menjadi produsen baterai litium, kata dia, maka Indonesia akan menjadi pemain penting dalam rantai industri mobil listrik dunia.

“Ke depan kita ingin kerja sama BUMN dengan swasta, BUMN dan perusahaan multinasional. Kita ingin masuki fase berikutnya untuk memasuki produksi baterai litium sebagai komponen utama kendaraan listrik yang ke depan sebuah kesempatan besar bagi kita masuk ke otomotif industri electric vehichle, yang ke depan semuanya akan pindah ke sana,” jelas Presiden Jokowi.

Sumber: ANTARA

Read More

Di Balik Ambisi Mobil Listrik Jokowi

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir beberapa waktu lalu menegaskan Indonesia harus mampu menjadi pemain utama di industri mobil listrik. Sekitar akhir tahun lalu juga, Presiden Joko Widodo (Jokowi) diketahui juga sempat merayu CEO Tesla, Elon Musk untuk berinvestasi di Indonesia terutama di sektor pengembangan mobil listrik. Mengapa pemerintahan Jokowi begitu gencar mempromosikan prospek tersebut?

SETELAH menyadari akan keterbatasan jumlah pasokan bahan bakar fosil, berbagai negara di dunia sepertinya mulai melirik teknologi kendaraan bertenaga listrik. Kendaraan tersebut memang bisa dianggap sebagai solusi untuk melepaskan ketergantungan manusia terhadap bahan bakar fosil.

Tak hanya di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Tiongkok, pemerintah Indonesia pun agaknya telah melirik potensi pasar mobil listrik. Sejak Agustus 2019 lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan sudah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.

Di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia, pemerintah nyatanya tak begitu saja melupakan program mobil listrik. Baru-baru ini, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memamerkan kegiatannya saat mengecek kesiapan stasiun pengisian kendaraan listrik (charging station) di Bali.

Lewat cuitannya di akun media sosial Twitter, Erick mengatakan mobil listrik memiliki banyak manfaat ekonomi. Ia bahkan menyebut dengan mobil listrik, biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan dari Jakarta-Bali hanya berkisar Rp 200.000. Ini berbanding Rp 1,1 juta jika menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak.

Kendati secara umum disambut positif oleh berbagai kalangan, pengamat otomotif Bebin Djuana menilai persiapan menuju era kendaraan listrik membutuhkan waktu yang sangat panjang. Salah satu tantangan utamanya saat ini adalah harga kendaraan yang relatif jauh lebih mahal.

Selain itu, meski telah menerbitkan Perpres terkait percepatan implementasi kendaraan listrik, pemerintah Indonesia sendiri hingga kini belum memiliki rencana untuk  pelarangan penjualan mobil konvensional di tahun-tahun mendatang layaknya yang sudah dilakukan negara-negara maju seperti Inggris dan Jepang

Jika memang jalan bagi Indonesia untuk menuju era mobil listrik masih panjang, lantas mengapa pemerintahan Jokowi rajin menggembar-gemborkan prospek ini? Adakah dimensi lain di balik ambisi pengembangan mobil listrik Jokowi?

Mobil Listrik untuk Siapa? 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kiranya perlu dipetakan dulu apa sebenarnya yang memotivasi pemerintah begitu bersemangat mempromosikan kendaraan listrik.

Bradley W. Lane dan kawan-kawan dalam tulisan mereka yang berjudul Government Promotion of the Electric Car: Risk Management or Industrial Policy? menjabarkan dua kemungkinan mengapa suatu pemerintahan gencar mempromosikan mobil listrik. Pertama sebagai tindakan risk management yang berkaitan dengan lingkungan, sementara yang kedua sebagai tindakan kebijakan industri jangka panjang.

Meski Erick Thohir sendiri sempat menyinggung soal manfaat lingkungan terkait implementasi mobil listrik, namun faktor tersebut agaknya bukan lah tujuan utama pemerintah. Sebab bisa dibilang mobil listrik tidak akan serta merta dapat menyelesaikan persoalan polusi dan lingkungan lantaran Indonesia sendiri belum sepenuhnya mengimplementasikan pemanfaatan energi baru terbarukan.

Nah, dengan mempertimbangkan faktor tersebut, maka dapat dikatakan pengembangan mobil listrik di Indonesia memang bukan lah sebuah upaya risk management untuk memperbaiki lingkungan, melainkan lebih mengarah pada kebijakan industri jangka panjang.

Terkait hal itu, Bradley W. Lane menyebut bahwa promosi terhadap mobil listrik bisa dipandang sebagai intervensi pemerintah untuk menguntungkan klaster ekonomi atau industri tertentu, seperti perusahaan dan organisasi.

Lalu siapa kira-kira yang hendak diuntungkan pemerintah dari prospek pengembangan mobil listrik ini?

Jokowi Rayu AS?

Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi dikabarkan berkomunikasi langsung dengan CEO Tesla, Elon Musk untuk mengajaknya berinvestasi di Indonesia khususnya di sektor mobil listrik dan baterai kendaraan listrik. Tesla memang merupakan salah satu produsen mobil listrik paling terkemuka di dunia. Maka dari itu menjadi wajar jika Presiden mengincar Tesla untuk berinvestasi di Indonesia.

Kendati demikian, jika ditarik ke dimensi politik, rayuan Jokowi kepada Tesla ini bisa juga dianggap sebagai upaya untuk mengamankan dukungan dari AS. Sebab jika proyek pengembangan mobil listrik Jokowi ini berjalan mulus, keterlibatan Tesla tentu akan sangat menguntungkan posisi Washington DC di pasar penjualan mobil Indonesia yang telah lama didominasi oleh Jepang.

Selain memiliki pangsa pasar otomotif yang potensial, Indonesia juga memiliki keunggulan lain yang kiranya dapat membuat banyak negara tergiur, yakni cadangan nikel.

Berdasarkan data US Geological Survey, cadangan nikel Indonesia mencapai 21 juta metrik ton. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai pemain utama nikel dunia. Jika sudah mampu mengolah nikel menjadi baterai, bukan tidak mungkin Indonesia bakal menjadi juragan baterai kendaraan listrik di dunia.

Kendati komoditas nikel Indonesia disebut-sebut dikuasai oleh investor-investor asal Tiongkok, namun hal tersebut tampaknya tak akan jadi persoalan serius, sebab, terlepas dari Perang Dagang antara AS-Tiongkok, Tesla sendiri memiliki hubungan yang cukup baik dengan Beijing. Ini setidaknya bisa dibaca dari pernyataan-pernyataan Elon Musk yang kerap memuji-muji negeri Tirai Bambu tersebut.

Selain itu, laporan James Kygne untuk Nikei Asia juga menyoroti sikap Tiongkok yang rela membiarkan Tesla membuka pabriknya di Shanghai kendati langkah itu diprediksi dapat membunuh produsen mobil listrik lokal. Meski begitu, Kygne dalam kesimpulannya menilai bahwa keputusan itu diambil Tiongkok untuk kepentingan memajukan industri mobil listriknya sendiri.

Jika mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, maka bukan tak mungkin dalam konteks politik, ambisi Jokowi melibatkan Tesla dalam prospek pengembangan mobil listrik adalah bertujuan untuk merangkul dukungan AS. Lantas pertanyaannya, untuk apa kira-kira dukungan tersebut?

Ikuti Jejak Soeharto?

Eve Warburton dalam tulisannya yang berjudul Jokowi and the New Developmentalism mengatakan bahwa gaya pembangunan Jokowi mengingatkan dirinya pada gaya pembangunan era Orde Baru di bawah kepemimpinan  Soeharto yang bersifat pragmatis dengan retorikanya untuk memodernisasi Indonesia.

Selama era Orde Baru, Eve menyebut misi negara adalah demi mencapai ‘modernisasi’ yang kerap didefinisikan untuk menstabilkan harga, memperbaiki infrastruktur fisik, membuat pertanian lebih produktif, dan mendorong industri.

Dalam pidato kenegaraannya pada tahun 1990, misalnya, Soeharto menjelaskan bahwa agar Indonesia dapat memperoleh distribusi kekayaan yang lebih merata, pemerintah harus fokus pada ‘deregulasi dan debirokratisasi’. Sangat identik dengan narasi-narasi reformasi birokrasi yang kerap digelorakan Jokowi.

Lalu jika melihat dari konteks kemiripan visi pembangunan ini, maka menjadi sangat wajar jika Jokowi kini mengincar dukungan AS, mengingat hal tersebut adalah salah satu faktor yang membuat Soeharto mampu berkuasa selama 32 tahun lamanya.

Singkatnya, bisa dikatakan jika semua rencana ini berhasil, bukan tidak mungkin pengaruh Jokowi masih akan membayangi pemerintahan yang terbentuk setelah masa kepemimpinannya berakhir pada 2024 nanti. Program mobil listrik, yang tentu merupakan proyek jangka panjang, akan menjadi pintu masuk bagi Jokowi untuk memasukkan pengaruhnya tersebut.

Dugaan Jokowi tengah mempersiapkan oligarki baru setelah kepemimpinannya juga dapat dilihat dari kedekatan mantan Wali Kota Solo tersebut dengan Partai Golkar.

Kemesraan Jokowi dengan tokoh-tokoh senior Partai Beringin seperti Luhut Binsar Pandjaitan hingga isu yang menyebut ada pengaruh Istana dalam terpilihnya Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Golkar periode 2019-2024 sepertinya bisa menjawab kendaraan politik mana yang nantinya akan digunakan Jokowi di 2024.

Made Supriatma dari ISEAS dalam tulisannya yang berjudul Indonesia’s new Cabinet and the political transformation of Joko Widodo juga melihat indikasi bahwa Jokowi tengah berusaha melanggengkan pengaruhnya. Ini setidaknya tergambar dari reshuffle kabinet yang dilakukannya akhir tahun lalu, di mana Ia menghimpun banyak tokoh-tokoh potensial yang akan maju di Pilpres 2024 mendatang.

Dari enam menteri baru Jokowi, Made menaruh perhatian khusus pada sosok Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno. Bagaimana tidak? Presiden sendiri sempat secara terang-terangan menyebut Sandi sebagai sosok yang cocok menggantikan dirinya.

Bersama dua sahabatnya, yakni Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, dan juga dikoordinatori oleh Airlangga sebagai Menko Perekonomian, keempat tokoh tersebut dinilai dapat membantu Jokowi menertibkan dunia usaha dan membantunya mewujudkan visi pembangunannya.

Berangkat dari sini, bukan tidak mungkin sosok-sosok itu lah yang memang tengah dipersiapkan Presiden Jokowi untuk meneruskan estafet kepemimpinannya setelah turun tahta di 2024 mendatang.

Kendati demikian, segala ulasan ini bersifat interpretatif yang tentunya terbuka untuk diperdebatkan. Kiranya hanyalah waktu yang bisa menjawab apakah asumsi itu akan benar-benar terwujud atau tidak. Yang jelas, manuver apapun yang dilakukan aktor-aktor politik saat ini pastinya akan memiliki konsekuensi terhadap perubahan peta politik ke depannya, termasuk agenda politik elektoral di 2024. Menarik untuk disimak kelanjutannya.

Sumber: pinterpolitik.com

Read More

Diundang Jokowi, Tesla Kirim Tim ke Indonesia Bulan Depan

NIKEL.CO.ID – Pemerintah Indonesia gencar mendekati Tesla untuk menanamkan investasi dalam bidang kendaraan listrik.

Pada Jumat, 11 Desember 2020, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) didampingi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan melakukan pembicaraan melalui telepon bersama CEO Tesla Elon Musk. Pembicaraan ini membahas mengenai peluang investasi perusahaan mobil listrik Tesla di Indonesia.

“Kedua belah pihak bertukar pandangan mengenai industri mobil listrik dan komponen utama baterai listrik. Presiden RI Joko Widodo juga mengajak Tesla untuk melihat Indonesia sebagai launching pad Space X,” mengutip keterangan resmi Kemenko Marves.

Kementerian mengklaim CEO Tesla Elon Musk menanggapi undangan Presiden Jokowi dengan rencana mengirimkan timnya ke Indonesia pada bulan Januari 2021 untuk menjajaki semua peluang kerja sama tersebut.

Musk pernah menyinggung soal cadangan nikel di Indonesia terkait dengan industri baterai mobil listrik.

Tepatnya, pada 27 Juli 2020 lalu, Elon pernah memuji soal pasokan nikel dari Tanah Air saat menyebut bahwa nikel menjadi tantangan terbesar untuk produksi baterai dengan daya tahan tinggi dan produksi massal.

Awalnya, Elon Musk menanggapi akun @cleantechnica yang membahas soal potensi lithium. Kemudian, akun Twitter @spotted_model beralih mempertanyakan soal cadangan nikel dari Australia, yang kemudian ditanggapi oleh Musk.

Musk lalu merespons sembari mengaitkan artikel dari Investingnews soal 10 negara produsen nikel terbesar di dunia, sambil menyebut nama Indonesia.

“Nikel adalah tantangan terbesar untuk [produksi] baterai dengan daya tahan tinggi dan produksi massal. Australia & Kanada dengan cukup baik. Produksi nikel AS secara obyektif sangat timpang. Indonesia hebat!” ungkap Elon di Twitter, 27 Juli 2020.

Sumber: tempo.co

Read More

Presiden Jokowi Berkomitmen Membangun Ekonomi Indonesia Lebih Hijau dan Berkelanjutan

Geliat pemulihan ekonomi tidak boleh lagi mengabaikan perlindungan terhadap lingkungan.

“Pengesahan omnibus UU Cipta Kerja adalah langkah besar kami untuk mempermudah izin usaha dan memberikan kepastian hukum, serta memberikan insentif untuk menarik investasi, terutama untuk industri padat karya dan ekonomi digital,” lanjutnya.

Presiden menyebut, Indonesia terus berkomitmen untuk menuju ekonomi lebih hijau dan berkelanjutan. Menurutnya, geliat pemulihan ekonomi tidak boleh lagi mengabaikan perlindungan terhadap lingkungan.

“Perlindungan bagi hutan tropis tetap menjadi prioritas kami sebagai benteng pertahanan terhadap perubahan iklim,” tambahnya.

Indonesia sendiri telah melakukan beberapa terobosan, antara lain memanfaatkan biodiesel B-30, mengembangkan green diesel D100 dari bahan kelapa sawit yang menyerap 1 juta ton sawit produksi petani, memasang ratusan ribu Pembangkit Listrik Tenaga Surya di atap rumah tangga, serta mengolah biji nikel menjadi baterai litium yang dapat digunakan di ponsel dan mobil listrik.

“Semua upaya tersebut akan menciptakan puluhan ribu lapangan kerja baru yang sekaligus berkontribusi pada pengembangan energi masa depan,” ujarnya.

Tahun 2021 akan menjadi tahun yang penuh peluang bagi Indonesia untuk berpartisipasi dalam kebangkitan perekonomian dunia. Indonesia mendukung dunia dengan membangun ekosistem investasi yang jauh lebih baik dengan melakukan perbaikan ekosistem regulasi dan birokrasi secara besar-besaran, memberikan insentif bagi investasi yang sesuai dengan prioritas yang telah ditetapkan, serta menjamin kondisi sosial dan politik yang stabil.

“Saya mengundang masyarakat dunia untuk bergabung dan menanamkan investasi di Indonesia, untuk membangun ekonomi dunia yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan resilient,” tandasnya.

Sumber: PRESIDEN.GO.ID

Read More

Presiden Jokowi Tetapkan Hilirisasi Nikel Sebagai Salah Satu Proyek Strategis Nasional

NIKEL.CO.ID – Hilirisasi nikel masuk sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) era Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenkomarves) di bawah Menko Luhut Binsar Pandjaitan terus mengakselerasi percepatan PSN tersebut, salah satunya melalui pembangunan smelter nikel di Sulawesi.

Asisten Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenkomarves Tubagus Nugraha mengungkapkan, pemerintah memberikan berbagai fasilitas perizinan, baik yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah yang memiliki kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Langkah ini sebagai wujud komitmen pemerintah untuk memperkuat daya saing industri nasional di tingkat dunia dan meningkatkan nilai tambah komoditi nikel. Pihaknya juga telah meninjau langsung kesiapan sejumlah smelter di Sulawesi yang masuk dalam usulan PSN, diantaranya Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Morowali, Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe dan PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

“Sebagai Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), Indonesia harus bangga dengan langkah PT CNI yang sangat strategis ini. Kami akan mendukung agar PSN ini berhasil,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip CNBC Indonesia, Senin (23/11/20).

Menurutnya, Sulawesi kini menjadi episentrum nikel di Indonesia. Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada Juli 2020, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel sebesar 11.887 juta ton (tereka 5.094 juta ton, terunjuk 5.094 juta ton, terukur 2.626 ton, hipotetik 228 juta ton) dan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton (terbukti 3.360 juta ton dan terikira 986 juta ton). Sedangkan untuk total sumber daya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam.

Area Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara punya potensi yang terbesar di Indonesia sampai dengan saat ini. Tubagus menjelaskan, usulan PSN ini sebagai upaya untuk penyediaan lapangan kerja dan menurunkan impor dan defisit neraca perdagangan Indonesia.

Menurut Tubagus, Kabupaten Kolaka menjadi salah satu lumbung Nikel Indonesia. Oleh karena itu, dengan menjadikan smelter PT CNI sebagai PSN, hilirisasi nikel akan menghasilkan nilai tambah dan mendorong percepatan ekonomi daerah dan nasional.

“Dan yang paling penting menciptakan lapangan kerja. Kami perkirakan, jika smelter PT CNI beroperasi, akan melebihi 4.000 tenaga kerja yang terserap,” imbuhnya.

“Hal utama yang harus dipercepat adalah izin Hak Guna Bangunan (HGB), dukungan energi listrik dan rencana pembangunan smelter,” imbuhnya.

Sementara itu, Deputi Direktur PT CNI Djen Rizal menjelaskan bahwa sebagai PMDN, PT CNI berkomitmen penuh dalam program hilirisasi nikel dan cobalt untuk mendukung industri mobil listrik.

Menurut Djen Rizal, saat ini PT CNI sedang membangun pabrik pengolahan bijih Nikel Saprolit dengan teknologi RKEF yang terdiri dari total 4 line masing-masing 72 MVA, Rectangular Furnace melalui 3 fase pembangunan (setara 8 line 36 MVA Circular Furnace). Phase 1 1 line 72 MVA, Phase 2 1 line72 MVA, dan Phase 3: 2 line 72 MVA.

Total umpan pabrik 5.600.000 ton per tahun dengan 1.59% Ni. Pembangunan dilakukan oleh konsorsium BUMN China ENFI dan BUMN Indonesia PT Pembangunan Perumahan (PP) di mana masing-masing merupakan BUMN yang terkemuka dalam bidangnya.

Untuk produksi, rencana 252.000 ton per tahun Feronikel (FeNi) dengan kandungan logam 22% Ni. Total tenaga listrik diperlukan sebesar 350 MW dari PLN.

Umur pabrik dari suplai bijih tambang PTCNI diperkirakan mencukupi lebih dari 20 tahun operasi (berdasarkan estimasi sumber daya dan cadangan saat ini dari suplai bijih nikel yang di tambang sendiri di WIUP CNI.

PT CNI juga akan membangun pabrik pengolahan bijih Limonit dengan teknologi HPAL yang akan mengolah 6.800,000 ton bijih pertahun dengan rencana produksi lebih dari 103.000 ton MHP per tahun (40.050 ton Nikel dan 4.118 ton Cobalt).

“Kapasitas listrik yangdibutuhkan sebesar 350 MW dengan umur pabrik diperkirakan dapat mencapai lebih dari 20 tahun operasi,” jelasnya.

Kepala BPN Kolaka Isman Tama menegaskan, saat ini sementara berjalan proses pemeriksaan berkas kelengkapan HGB. Begitu semua kelengkapan berkas yang diserahkan pihak PT CNI terpenuhi, selanjutnya akan diserahkan kepada Kanwil, sebab hal tersubut adalah kewenangan Kementerian ATR/BPN.

“Kami mendukung penuh pembangunan smelter PT Ceria. Begitu semua kelengkapan berkas untuk penerbitan izin HGB terpenuhi semua, langsung kami serahkan ke Kanwil. Kalau bisa cepat, untuk apa diperlama,” jelasnya.

Sementara itu, ‎Husaini Direktur Pengaturan dan Penetapan Hak Tanah dan Ruang, Direktorat Jenderal Hubungan Hukum Keagrariaan Kementerian ATR/BPN, juga mendukung usulan smelter PT CNI sebagai Proyek Startegis Nasional.

Ia mengungkapkan, salah satu yang menjadi perhatian utama oleh pihaknya terkait izin HGB. Pasalnya, izin ini penting untuk memastikan investasi tidak terhambat.

“Izin HGB ini menjadi perhatian kita. Kami akan memastikan perizinan ini prosesnya lebih cepat,” imbuhnya.

Berdasarkan Lampiran Surat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian kepada Presiden Republik Indonesia nomor IPW/110/M.EKON /05/2020 tanggal 14 Mei 2020 hal Laporan Hasil Review Usulan Proyek Strategis Nasional (PSN) serta Usulan Revisi Perpres 56/2018, Proyek Smelter PT Ceria Nugraha Indotama telah masuk dalam Daftar Usulan PSN Sektor Smelter.

Status PSN tersebut akan ditetapkan melalui Revisi Peraturan Presiden Nomor 56 Tahun 2018 yang saat ini masih sedang berproses dan Draft Perpresnya sudah berada di meja Presiden.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Presiden Jokowi Utus Luhut Terbang ke Amerika Serikat Temui Tesla

NIKEL.CO.ID –  Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan makin serius menggaet pabrikan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla Inc, untuk berinvestasi di Indonesia. Hal itu diungkapkan Jokowi dalam sebuah wawancara dengan Reuters yang dipublikasikan pada Jumat (13/11/2020).

Mulanya, Jokowi mengungkapkan pemerintah akan mengirim tim khusus ke AS dan Jepang untuk mempromosikan omnibus law UU Cipta Kerja. Tim itu juga bertugas untuk mengajak AS di bawah komando presiden terpilih Joe Biden tetap memilih RI sebagai destinasi investasi.

Salah satu perusahaan yang akan disasar adalah Tesla. Menurut Jokowi, tim yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan itu akan bertemu dengan jajaran eksekutif Tesla.

“Ini sangat penting karena kita punya rencana besar untuk menjadikan Indonesia penghasil baterai lithium terbesar dan kita punya (cadangan) nikel terbesar,” kata Jokowi.

Sayangnya, Luhut menolak berkomentar secara khusus tentang rencana pertemuan dengan Tesla. Akan tetapi, Ia mengatakan ada peluang yang sangat bagus lantaran Tesla berinvestasi dalam pengolahan nikel Indonesia untuk memangkas biaya.

Salah satu poin yang bakal dibawa Luhut kabarnya soal kontrak. Tesla dikabarkan bakal mendapat kontrak raksasa untuk jangka waktu yang lama. Hal itu bukan tidak mungkin, mengingat potensi nikel di Indonesia sangat besar.

Sebelumnya Luhut mengatakan Indonesia bisa membuat rantai pasokan aki ramah lingkungan dalam tujuh hingga delapan tahun. Caranya dengan memaksimalkan smelter dengan sumber energi terbarukan, sehingga bisa menjual aki ramah lingkungan untuk mobil di pasar Eropa pada 2030.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

UU Cipta Kerja Resmi Dinomori Jadi UU Nomor 11 Tahun 2020

NIKEL.CO.ID – Presiden Joko Widodo akhirnya meneken omnibus law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja setelah disetujui untuk disahkan dalam rapat paripurna DPR sejak 5 Oktober 2020.

Beleid tersebut diberi nomor UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

UU Nomor 11 Tahun 2020 berisi 1.187 halaman. Beleid tersebut diundangkan pada Senin (2/11/2020) dan sudah diunggah di situs resmi Kementerian Sekretaris Negara (Kemensetneg) dan bisa diakses oleh publik.

Dengan demikian, seluruh ketentuan dalam UU Cipta Kerja mulai berlaku sejak 2 November 2020.

UU Cipta Kerja menghapus sejumlah ketentuan lama di UU Ketenagakerjaan, Perpajakan, dan sejumlah UU lainnya.

Draf final omnibus law UU Cipta Kerja yang diunggah di situs resmi Kemensetneg berisi 1.187 halaman. Sebelumnya diketahui jumlah halaman UU Cipta Kerja kerap berubah-ubah.

Mulanya di situs DPR (dpr.go.id), diunggah draf RUU Cipta Kerja dengan jumlah 1.028 halaman.

Kemudian, di hari pengesahan RUU Cipta Kerja pada 5 Oktober 2020, dua pimpinan Badan Legislasi DPR memberikan draf setebal 905 halaman.

Kemudian, beredar versi 1.035 halaman yang dikonfirmasi oleh Sekjen DPR Indra Iskandar pada 12 Oktober 2020.

Sehari kemudian, 13 Oktober 2020, DPR kembali mengonfirmasi mengenai versi 802 halaman, dengan isi yang disebut tidak berbeda dengan versi 1.035 halaman.

Draf setebal 1.187 halaman beredar setelah pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Muhammadiyah mengungkapkannya ke publik.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “UU Cipta Kerja Resmi Dinomori Jadi UU Nomor 11 Tahun 2020

Read More