
NIKEL.CO.ID, JAKARTA— Penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan dampak lingkungan dan sosial, tetapi juga menjadi bagian dari strategi bisnis untuk memperkuat daya saing dan keberlanjutan perusahaan pertambangan.
Head of Sustainability Nickel Industries Limited, Muchtazar menegaskan bahwa ESG perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar biaya operasional.
Hal tersebut disampaikan Muchtazar dalam agenda Program Pendidikan Generasi Muda Pertambangan Indonesia yang diselenggarakan PT Geo Mining Berkah melalui Zoom, Rabu (28/10/2026).

Dalam sesi penutup, Muchtazar menjelaskan bahwa penerapan ESG dapat membantu perusahaan meningkatkan ketahanan bisnis, memperkuat daya saing, serta membuka peluang kerja sama dengan mitra global.
Menurutnya, kinerja keberlanjutan juga semakin relevan bagi perusahaan yang ingin menyesuaikan diri dengan tuntutan bisnis di masa depan.
“ESG itu penting, teman-teman – untuk keberlanjutan perusahaan. Jadi ini sekali lagi jangan dianggap sebagai cost center, tapi sebagai upaya untuk membuat perusahaan atau organisasi memiliki daya tahan yang lebih baik di masa depan,” ujar Muchtazar.

Dia menambahkan, penerapan ESG berkaitan dengan kemampuan perusahaan menjaga ketergantungan bisnis, meningkatkan competitiveness, dan memperluas peluang usaha bersama mitra internasional.
“Jadi dengan memiliki kinerja ESG yang baik, maka diharapkan perusahaan itu juga bisa lebih future fit ya, atau cocoklah dengan zamannya di masa depan,” katanya.
Muchtazar juga mengingatkan generasi muda yang ingin berkarier di sektor pertambangan maupun bidang ESG agar memahami kaitan antara keberlanjutan dan kebutuhan bisnis.

Menurutnya, program ESG seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi perusahaan, bukan hanya sebagai kegiatan tambahan.
“Harus bisa mem-frame kegiatan ESG ini sebagai sesuatu yang business oriented, bukan sebagai sesuatu yang nice to have, apalagi yang menghambur-hamburkan biaya,” tuturnya.

Pengelolaan Tailing dan Praktik Pertambangan Berkelanjutan
Dalam sesi tanya jawab, peserta dari Universitas Asang Utin, Nahda, menanyakan peluang pemanfaatan residu atau tailings dari fasilitas pengolahan berteknologi high-pressure acid leach (HPAL).
Dia mempertanyakan apakah residu tersebut dapat diteliti lebih lanjut untuk memperoleh kembali kandungan logam yang masih bernilai, alih-alih hanya ditempatkan melalui metode dry stacking.
Menanggapi hal tersebut, Muchtazar menjelaskan bahwa limbah tailings berpotensi mengandung logam yang dapat dipulihkan.
Namun, pemanfaatannya perlu mempertimbangkan kelayakan ekonomi dan aspek keselamatan, terutama karena karakteristik serta klasifikasi limbahnya berbeda dari produk samping lain dalam industri pengolahan nikel.
“Tailing waste sendiri kan ada banyak metal yang bisa direcover. Cuman mungkin nanti pertanyaannya dia ekonomis tidak, dia safe tidak untuk direcover,” jelasnya.
Dia mengatakan, fasilitas HPAL yang dibahas dalam sesi tersebut masih berada dalam tahap commissioning dan persiapan operasi. Karena itu, penelitian komprehensif mengenai pemanfaatan residu belum dilakukan oleh perusahaan pada fasilitas tersebut.
Meski demikian, Muchtazar menyatakan mendukung kemungkinan kerja sama penelitian untuk mengkaji potensi pemanfaatan tailings HPAL pada masa mendatang.
“Saya pribadi mendukung ya. Jadi, saya pikir limbah tailing ini ke depannya juga jangan hanya menjadi material yang ditumpuk seperti yang disampaikan. Karena sayang sekali di dalamnya ada berbagai kandungan metal atau material yang bermanfaat untuk kehidupan modern. Jadi, kalau bisa digunakan, kenapa tidak,” ujarnya.

Dry Stacking Manfaatkan Lubang Bekas Tambang
Pertanyaan lain disampaikan peserta dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA) mengenai langkah perusahaan mengelola limbah tailings agar tidak menimbulkan risiko lingkungan dalam jangka panjang, termasuk melalui metode dry stacking.
Muchtazar menjelaskan, perusahaan berencana memanfaatkan lubang bekas penambangan bijih nikel di Hengjaya sebagai lokasi penempatan tailings.
Menurutnya, pendekatan tersebut dimungkinkan karena fasilitas HPAL dan area tambang berada dalam jarak relatif dekat serta dikelola dalam satu grup usaha.
“Jadi, karena kami beroperasi secara grup dan fasilitas HPAL kami berada dalam jarak yang relatif dekat dengan tambang, maka kami memanfaatkan lubang tambang yang dihasilkan dari penggalian nickel ore sebelumnya sebagai tempat untuk melakukan dry stacking,” katanya.

Dia menilai pemanfaatan lubang bekas tambang dapat menjadi salah satu upaya untuk mengelola risiko geoteknik. Namun, Muchtazar menegaskan bahwa fasilitas tersebut masih dalam tahap persiapan sehingga penerapan operasionalnya belum dapat dijelaskan secara menyeluruh.
Dari sisi perencanaan, Nickel Industries berupaya menerapkan praktik pengelolaan tailings yang mengacu pada pengalaman industri pertambangan global. Perusahaan juga telah merekrut tenaga ahli yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan dry-stack tailings di Amerika Latin.
Selain itu, perusahaan berupaya merujuk pada pedoman internasional pengelolaan tailings, termasuk Global Industry Standard on Tailings Management (GISTM), dengan tetap menjadikan peraturan perundang-undangan Indonesia sebagai acuan utama.
“Jadi, itu mungkin belum menjawab semuanya karena untuk fasilitas HPAL kami sendiri yang kami operasikan masih dalam tahap commissioning. Tapi, dari sisi perencanaan, dari sisi ekspertis, kami mencoba menyiapkan best resources yang memungkinkan nanti dry stacking ini dilakukan dengan cara-cara yang aman dan profesional,” jelasnya.
Muchtazar menyampaikan bahwa fasilitas tersebut ditargetkan dapat beroperasi penuh pada akhir 2026. Dengan demikian, pengelolaan tailings melalui dry stacking masih perlu dilihat sesuai perkembangan persiapan dan pengoperasian fasilitas. Melalui penerapan ESG, Muchtazar berharap perusahaan pertambangan dapat mengintegrasikan aspek lingkungan dan sosial ke dalam keputusan bisnis. Bagi generasi muda, pemahaman tersebut dinilai penting agar keberlanjutan tidak dipisahkan dari produktivitas, inovasi, dan daya saing industri pertambangan Indonesia. (Lili Handayani)
























