
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Tampaknya tidak ada September ceria bagi para penambang nikel Indonesia. Harga komoditas nikel dalam Indonesia Nickel Price Index (INPI) kembali bergerak turun pada pekan ketiga September 2026 ini. Koreksi tidak hanya terjadi pada bijih nikel, tetapi juga berlanjut pada produk olahan seperti nickel pig iron (NPI), high-grade nickel matte (HGNM), dan mixed hydroxide precipitate (MHP).
Berdasarkan data INPI yang dirilis Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Shanghai Metals Market (SMM) pada 21 September 2026, harga rata-rata bijih nikel kadar 1,2% CIF turun menjadi US$26,5/mt dari US$27/mt pada rilis 14 September. Demikian juga bijih nikel kadar 1,6% CIF juga mengekor turun dari US$64,1/mt menjadi US$63,4/mt.
Tetapi, kondisi tak besahabat yang terjadi di hulu bukan satu-satunya. Tekanan juga terjadi pada produk hilir, bahkan tekanannya lebih besar. Harga rata-rata NPI FOB turun menjadi US$135,07/mt, HGNM FOB menjadi US$14.977/mt, sedangkan MHP FOB merosot ke US$13.884/mt. Artinya, bak ada yang memberi komando, lima komoditas yang tercantum dalam INPI mengalami penurunan harga rata-rata dibandingkan rilis 14 September 2026.
Lima Komoditas INPI Bergerak Turun
Perubahan paling kecil terjadi pada bijih nikel kadar 1,2%. Harga rata-ratanya turun US$0,5/mt, dari US$27/mt menjadi US$26,5/mt. Rentang harga juga bergeser dari US$25–29/mt menjadi US$24–29/mt.
Bijih nikel kadar 1,6% mencatat koreksi US$0,7/mt. Harga rata-rata turun dari US$64,1/mt menjadi US$63,4/mt, dengan rentang harga pada rilis terbaru berada di US$62,4–64,4/mt.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa setelah sempat relatif stabil pada 14 September, harga bijih kembali mengalami tekanan pada pekan berikutnya.

NPI Turun Lebih dari US$4/mt
Tekanan lebih jelas terlihat pada NPI FOB. Harga rata-rata NPI pada 21 September tercatat US$135,07/mt, dibandingkan US$139,28/mt pada 14 September. Artinya, terjadi penurunan sebesar US$4,21/mt dalam satu pekan. Rentang harga NPI pada rilis terbaru tercatat US$135,07–135,07/mt.
Koreksi tersebut melanjutkan tren pelemahan yang telah terjadi pada pekan sebelumnya. Pada 14 September, NPI sendiri telah turun dari US$142,73/mt menjadi US$139,28/mt. Maka, dalam dua pekan sejak 7 September, rata-rata NPI telah turun sekitar US$7,66/mt.
HGNM Berbalik Melemah
Berbeda dengan rilis 14 September yang masih mencatat penguatan tipis, HGNM kembali masuk zona koreksi pada pekan berikutnya. Harga rata-rata produk olahan dengan kadar kandungan nikelnya melebihi 70% ini dengan FOB turun dari US$15.387/mt menjadi US$14.977/mt. Selisihnya mencapai US$410/mt.
Penurunan tersebut menghapus penguatan tipis yang sempat terjadi pada rilis 14 September, ketika HGNM naik US$22/mt dari pekan sebelumnya. Pergerakan HGNM juga menjadi salah satu indikator bahwa pelemahan produk olahan semakin meluas pada rilis INPI 21 September.

MHP Catat Koreksi Terbesar
MHP, produk berwarna hijau keabu-abuan mirip matcha yang juga merupakan produk-antara (intermediate product), dengan sistem penjualan FOB tercatat mengalami penurunan paling besar secara nominal dibandingkan komoditas lainnya. Harga rata-rata MHP turun dari US$14.597/mt menjadi US$13.884/mt, atau berkurang US$713/mt dalam sepekan.
Jika dibandingkan dengan posisi dua pekan sebelumnya yang mencapai US$14.659/mt, harga MHP pada 21 September telah turun US$775/mt.
Koreksi MHP ini juga memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung sejak awal September. Artinya, tekanan terhadap produk antara nikel tersebut masih berlanjut memasuki pekan ketiga September.
Perbandingan Harga INPI 14 September 2026 dan 21 September 2026
| PRODUK | 14 SEPTEMBER 2026 | 21 SEPTEMBER 2026 | KETERANGAN |
| Bijih Nikel 1,2% (CIF) | US$27/mt | US$26,5/mt | Turun US$0,5/mt |
| Bijih Nikel 1,6% (CIF) | US$64,1/mt | US$63,4/mt | Turun US$0,7/mt |
| NPI (FOB) | US$139,28/mt | US$135,07/mt | Turun US$4,21/mt |
| HGNM (FOB) | US$15.387/mt | US$14.977/mt | Turun US$410/mt |
| MHP (FOB) | US$14.597/mt | US$13.884/mt | Turun US$713/mt |

Tekanan Harga Terjadi Saat Acuan Nikel Juga Melemah
Pergerakan INPI tersebut berlangsung di tengah dinamika harga acuan nikel global dan domestik yang juga mengalami koreksi setelah mencapai level tinggi pada paruh pertama 2026. Dalam APNI Nikel Report September 2026, disebutkan harga London Metal Exchange (LME) rata-rata Januari–Agustus 2026 berada pada US$17.495,97/ton. Harga LME sempat mencapai puncak US$18.805/ton pada Mei, sebelum turun hingga titik terendah US$16.657,39/ton pada Juli.
Sementara itu, rata-rata Harga Mineral Acuan (HMA) pada periode Januari–Agustus 2026 tercatat US$17.299,13/ton, atau sekitar 1,1% di bawah rata-rata LME. Data tersebut memperlihatkan bahwa setelah mengalami penguatan hingga Mei, harga acuan nikel memasuki fase koreksi pada paruh berikutnya.
Perubahan Kebijakan
Dinamika harga INPI juga perlu dibaca bersamaan dengan perubahan kebijakan harga patokan bijih nikel. APNI dalam laporan industrinya mencatat bahwa Kepmen 363.K yang berlaku mulai 15 September 2026 memangkas HPM bijih nikel kadar 1,2% sebesar 45% menjadi US$24,89/wmt.
Perbedaan antara perubahan HPM dan pergerakan INPI menunjukkan bahwa indikator harga tersebut memiliki fungsi dan basis yang berbeda sehingga tidak dapat disamakan secara langsung.
Sementara itu, HPM untuk kadar 1,6% tidak mengalami perubahan karena correction factor-nya tidak diubah. Perubahan tersebut terjadi setelah sebelumnya Kepmen 144.K pada 15 April 2026 menaikkan HPM secara signifikan. Untuk bijih kadar 1,2%, HPM meningkat dari US$17,33 menjadi US$46,36/WMT, sedangkan kadar 1,6% naik dari US$30,22 menjadi US$64,85/WMT.

Laporan APNI juga menunjukkan bahwa pergerakan harga bijih nikel sepanjang 2026 mengalami perubahan cukup besar. Untuk bijih nikel kadar 1,6%, indeks INPI yang dirilis APNI dan SMM tercatat US$53,45/WMT pada Januari, kemudian naik hingga US$77,70/WMT pada Mei. Setelah itu, harga bergerak turun dan berada di US$65,33/WMT pada Agustus. Harga US$63,4/mt pada INPI 21 September berarti berada sekitar US$1,93/mt di bawah rata-rata Agustus dan jauh di bawah puncak Mei.
Pada saat yang sama, harga MHP FOB dalam laporan APNI turun dari rata-rata US$15.640,90/ton pada Januari menjadi US$15.077,67/ton pada Agustus, atau terkoreksi sekitar 3,6%. Pergerakan September menunjukkan tekanan MHP berlanjut setelah memasuki bulan berikutnya. Dari sisi fundamental global, APNI mencatat adanya penyempitan surplus pasar nikel.
Laporan tersebut memproyeksikan surplus nikel global turun dari 278 ribu ton Ni pada 2025 menjadi sekitar 21 ribu ton Ni pada 2026. Penurunan surplus tersebut berasal dari proyeksi pasokan yang berkurang 178 ribu ton atau 4,6%, sementara permintaan diperkirakan meningkat 79 ribu ton atau 2,2%.
Meski demikian, dalam delapan bulan pertama 2026 pasar masih mencatat surplus sekitar 65 ribu ton Ni. Indonesia tetap menjadi produsen utama. APNI mencatat Indonesia menyumbang sekitar 64,86% produksi tambang nikel dunia pada Semester I 2026, sementara Filipina berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 9,03%.
Data tersebut menunjukkan bahwa pasar global masih memiliki pasokan, meskipun ruang surplus diproyeksikan semakin menyempit hingga akhir tahun.
APNI juga menyoroti struktur pasar nikel melalui perbedaan harga tunai dan kontrak tiga bulan. Pada 17 Juli 2026 tercatat contango sekitar US$194 antara harga tunai dan harga tiga bulan. Dalam laporan APNI, kondisi tersebut dibaca sebagai indikasi bahwa pasar belum merasakan kelangkaan pasokan dalam jangka pendek.
Untuk sisa 2026, laporan APNI menempatkan kondisi persediaan yang masih tinggi dan surplus tahunan yang semakin kecil sebagai dua faktor yang perlu diperhatikan secara bersamaan.
Artinya, penyempitan surplus global belum serta-merta menghilangkan tekanan harga dalam jangka pendek.

Koreksi terbesar berasal dari MHP sebesar US$713/mt, disusul HGNM sebesar US$410/mt dan NPI sebesar US$4,21/mt. Sementara itu, harga bijih nikel 1,2% dan 1,6% masing-masing hanya turun US$0,5/mt dan US$0,7/mt.
Pasar Nikel Memasuki Fase Koreksi yang Lebih Luas
INPI 21 September memperlihatkan perubahan dibandingkan rilis pekan sebelumnya. Jika pada 14 September dua komoditas bijih masih bertahan dan HGNM sempat menguat, pada pekan terbaru seluruh indikator INPI mengalami penurunan.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan pada pekan ketiga September lebih kuat pada produk olahan dibandingkan bahan baku bijih.
Di sisi lain, laporan industri APNI menunjukkan konteks yang lebih luas: harga acuan LME dan HMA telah melemah setelah mencapai level tinggi pada paruh pertama tahun, sementara surplus global diproyeksikan menyusut tajam tetapi persediaan masih menjadi faktor yang membatasi tekanan kelangkaan jangka pendek.
Dengan demikian, INPI 21 September 2026 menandai kembalinya tekanan menyeluruh pada harga nikel Indonesia, setelah pada pekan sebelumnya pasar sempat menunjukkan pergerakan yang lebih beragam. Perkembangan harga berikutnya akan sangat bergantung pada kombinasi dinamika harga acuan, kondisi persediaan global, keseimbangan pasokan-permintaan, serta perubahan kebijakan harga bijih nikel di dalam negeri. (Li Han)









































