

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Impor bijih nikel dan konsentrat dari Filipina sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 11,4 juta ton dengan nilai sebesar US$696,5 juta.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Dr. Ateng Hartono, S.E., M.Si. Data tersebut merupakan impor komoditas bijih nikel dan konsentrat dengan kode Harmonized System (HS) 2604.
“Untuk nilai impor nikel atau HS-nya 26040000, itu biji nikel dan konsentrasinya. Dari Filipina pada kondisi Januari sampai dengan Juli 2026 mencapai 11,4 juta ton atau dalam nilainya US$696,5 juta,” ujar Ateng dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Kantor BPS, di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Menurut dia, data perdagangan yang dicatat BPS bersumber dari dokumen pemberitahuan impor barang (PIB) yang diperoleh dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.
Namun, data PIB yang digunakan BPS tidak memuat informasi mengenai provinsi tujuan dari barang impor tersebut. Karena itu, BPS tidak dapat menyajikan rincian mengenai provinsi mana saja yang menjadi tujuan impor bijih nikel dari Filipina. Selain itu, BPS juga tidak mempublikasikan data impor berdasarkan perusahaan secara individual.
“Dalam dokumen PIB tidak terdapat informasi provinsi tujuan impornya. Selain itu juga BPS tidak mempublikasikan data untuk individu perusahaannya. Impor menurut perusahaan kami tidak mempublikasikan karena ini amanah undang-undang,” jelas Ateng.
Dengan demikian, data yang dapat disajikan BPS terkait aktivitas impor tersebut adalah data dalam bentuk agregat, bukan berdasarkan perusahaan penerima maupun provinsi tujuan.

Ekspor Nikel Capai US$7,24 Miliar
Di sisi lain, ekspor nikel dan barang daripadanya sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat mencapai US$7,24 miliar.
Ateng menjelaskan, kelompok komoditas tersebut mencakup sejumlah produk, antara lain matte nikel dengan kode HS 7501, nikel tidak ditempa dengan kode HS 7502, serta barang lainnya dari nikel dengan kode HS 7508.
“Ekspor nikel dan barang daripadanya atau HS 75, di antaranya terdiri dari matte nikel atau HS 7501, kemudian nikel tidak ditempa, itu HS 7502, dan juga barang lainnya dari nikel, HS 7508,” katanya.
Menurut dia, pasar utama ekspor nikel dan barang daripadanya Indonesia selama periode Januari-Juli 2026 adalah Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.
Dengan nilai ekspor yang mencapai US$7,24 miliar dalam tujuh bulan pertama 2026, komoditas nikel dan produk turunannya masih menjadi salah satu bagian penting dalam perdagangan luar negeri Indonesia. (Li Han)











































