Beranda Berita Nasional Industri Baterai Nikel Dinilai Punya Prospek untuk Motor Listrik Nasional

Industri Baterai Nikel Dinilai Punya Prospek untuk Motor Listrik Nasional

69
0
Motor listrik (Foto: Dok. Maka Motors)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri baterai berbasis nikel dinilai memiliki prospek untuk mendukung pengembangan motor listrik nasional (Molinas), terutama karena teknologi tersebut menawarkan kepadatan energi (energy density) yang lebih tinggi dibandingkan baterai non-nikel.

CEO & Founder Maka Motors, Raditya Wibowo, mengatakan, baterai berbasis nikel dari sisi teknis memiliki keunggulan untuk diaplikasikan pada kendaraan roda dua karena mampu menyimpan energi lebih besar dalam dimensi baterai yang sama.

“Sebetulnya secara teknis energy density nikel lebih tinggi. Artinya, untuk dimensi yang sama dia bisa menampung energi listrik lebih banyak,” kata Raditya, Selasa (1/9/2026).

Karakteristik tersebut pun membuat baterai berbasis nikel cukup sesuai untuk sepeda motor listrik yang memiliki keterbatasan ruang untuk penempatan baterai. Tetapi, penggunaan baterai nikel masih menghadapi tantangan dari sisi harga lantaran bahan baku yang relatif mahal.

“Artinya sebetulnya lebih cocok buat motor karena motor space-nya enggak banyak buat naruh baterai. Jadi, sangat positif untuk penggunaan baterai nikel. Cuma memang tantangannya, baterai nikel sekarang adalah harganya juga lebih mahal dibanding yang baterai non-nikel. Wajar karena bahan bakunya juga lebih mahal,” jelasnya.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu alasan pemerintah perlu mendorong pengembangan baterai berbasis nikel di dalam negeri. Terlebih, Indonesia memiliki sumber daya nikel yang dapat menjadi modal utama untuk membangun ekosistem industri baterai nasional.

“Tapi, kita punya nikel kita sendiri. Jadi, menurutku sangat make sense pemerintah mendorong baterai nikel ini,” ujarnya.

Selain itu, ia menilai, industri juga siap melakukan penyesuaian teknologi apabila pemerintah telah menetapkan arah dan ketentuan yang lebih jelas mengenai program Molinas, termasuk terkait penggunaan baterai berbasis nikel.

“Kalau misalnya ada yang harus kita sesuaikan di teknologi baterai, kita pasti akan melakukannya sesuai dengan arahan dari pemerintah,” pungkasnya.

Namun, pasar sepeda listrik di Indonesia saat ini masih sangat kecil sehingga upaya menekan biaya baterai hingga mencapai tingkat yang kompetitif membutuhkan skala produksi yang besar atau economies of scale.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan Molinas beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi Alva, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Kamis, 13 Agustus 2026. Peluncuran Molinas tersebut menjadi langkah strategis untuk menghadirkan mobilitas yang makin terjangkau dan berkualitas, sekaligus memperkuat industri, teknologi, ketahanan energi, dan nilai tambah nasional. (Fi Yun)