Beranda Berita Nasional BRIN dan Minviro Dorong Penguatan LCA untuk Tingkatkan Daya Saing Industri Nikel...

BRIN dan Minviro Dorong Penguatan LCA untuk Tingkatkan Daya Saing Industri Nikel Indonesia

95
0
Senior Sustainability Scientist Minviro, Irdanto Saputra Lase (Foto: Li Han)
https://events.apni.or.id/en/event/icmfldn26

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Minviro mendorong peningkatan kapasitas industri Indonesia dalam menerapkan penilaian siklus hidup atau life cycle assessment (LCA) untuk memperkuat daya saing rantai pasok nikel, khususnya di tengah meningkatnya tuntutan regulasi keberlanjutan di pasar global.

Hal tersebut mengemuka dalam workshop capacity building yang membahas sektor mineral kritis dan transisi energi, dengan fokus pada rantai pasok nikel sebagai salah satu bahan baku utama baterai ion litium (lithium-ion). Senior Sustainability Scientist Minviro, Irdanto Saputra Lase, mengatakan, lokakarya atau workshop tersebut menjadi bagian dari kerja sama Minviro dan BRIN untuk meningkatkan pemahaman mengenai LCA serta dampak lingkungan dari produk berbasis nikel.

“Minviro bekerja sama dengan BRIN untuk menjalankan workshop capacity building terkait rantai pasok nikel yang menjadi bahan baku utama untuk baterai lithium-ion,” ujar Irdanto, di Jakarta, Rabu (27/8/2026).

Menurut dia, penerapan LCA penting untuk memahami dampak lingkungan sepanjang rantai pasok, terutama terhadap produk baterai yang akan diproduksi di Indonesia, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun pasar ekspor.

Nikel, katanya menjelaskan, tidak hanya digunakan sebagai bahan baku baterai, tetapi juga memiliki aplikasi penting dalam industri baja nirkarat (stainless steel). Minviro baru saja menyelesaikan studi mengenai rantai pasok nikel untuk industri baja nirkarat dan turut membahas hasil kajian tersebut dalam workshop.

“Rantai pasok baja nirkarat ini memiliki risiko finansial untuk ekspor terhadap Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM),” katanya menjelaskan.

Ia menilai, kedua sektor, baterai dan stainless steel, sama-sama menghadapi tuntutan keberlanjutan yang semakin kuat. Produk baterai akan berhadapan dengan regulasi baterai, sementara produk baja nirkarat yang masuk dalam cakupan perdagangan ke Eropa menghadapi tantangan finansial seperti CBAM. Karena itu, penerapan LCA dinilai tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk menjaga akses pasar dan meningkatkan daya saing industri Indonesia.

“Harapannya, di kemudian hari teman-teman di industri Indonesia bisa semakin kompetitif, meningkatkan market access, dan mendapatkan kepercayaan investor untuk mendapatkan pendanaan proyek,” tuturnya.

Sementara itu, Head of Research Center for Sustainable Industrial and Manufacturing Systems BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengatakan, kegiatan tersebut relevan dengan agenda pemerintah yang tengah mendorong industrialisasi dan hilirisasi, terutama pada sektor mineral kritis.

Menurut Nugroho, kerja sama dengan Minviro berawal dari komunikasi untuk menghadirkan sesi berbagi pengetahuan dan berpotensi dilanjutkan dengan sejumlah aktivitas bersama di masa mendatang.

Workshop ini menarik karena sekarang pemerintah juga sedang giat-giatnya melakukan aktivitas industrialisasi dan downstreaming, khususnya terkait critical minerals,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut Minviro turut membawa sejumlah studi kasus serta menyampaikan informasi mengenai benchmark jejak lingkungan (environmental footprint) industri nikel di dunia. Materi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai posisi industri Indonesia dibandingkan dengan perkembangan industri global. (Li Han)