Beranda Korporasi IMIP Serap Tenaga Kerja 100 Ribu Orang, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Sulteng

IMIP Serap Tenaga Kerja 100 Ribu Orang, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Sulteng

212
0
Para pekerja di kawasan industri IMIP (Foto: Dok. IMIM)

NIKEL.CO.ID, MOROWALI — Kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus memperlihatkan perannya sebagai salah satu pusat penciptaan lapangan kerja terbesar di Sulawesi Tengah. Seiring bertambahnya investasi, ekspansi fasilitas produksi, dan beroperasinya proyek-proyek industri baru, jumlah tenaga kerja di kawasan tersebut terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Catatan perusahaan menunjukkan, jumlah pekerja di kawasan IMIP mencapai 74.350 orang pada 2023. Angka tersebut meningkat menjadi 83.000 orang pada 2024, kemudian bertambah menjadi 89.849 orang pada akhir Januari 2026. Perkembangan itu berlanjut pada pertengahan tahun ini. Berdasarkan data Departemen Sumber Daya Manusia PT IMIP per Juli 2026, jumlah tenaga kerja aktif telah mencapai 97.427 orang.

Dari jumlah tersebut, 89.335 orang pekerja lelaki dan 8.092 orang pekerja perempuan. Selain itu, sekitar 20.000 tenaga kerja alih daya yang bekerja melalui perusahaan kontraktor maupun penyedia jasa pendukung operasional kawasan industri. Jika dibandingkan dengan kondisi lima tahun lalu, pertumbuhan tersebut tergolong sangat pesat. Enam tahun sebelumnya, pada 2020, jumlah tenaga kerja di kawasan IMIP jumlahnya baru 35.592 orang.

“Pertumbuhan industri di Morowali, khususnya di IMIP, menorehkan perkembangan ketenagakerjaan secara signifikan di Sulteng. Dari Juni 2025 ke Juli 2026, serapan tenaga kerja naik 13,53%,” ujar Direktur Komunikasi PT IMIP, Emilia Bassar, melalui pernyataan resminya yang diterima Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), Senin (20/7/2026).

Peningkatan jumlah pekerja di kawasan industri tersebut sejalan dengan tren ketenagakerjaan formal di Sulawesi Tengah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah angkatan kerja formal terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, dari 477,2 ribu orang pada Agustus 2023 menjadi 500,1 ribu orang pada 2024, kemudian bertambah menjadi 525,8 ribu orang pada Agustus 2025.

Perubahan itu menunjukkan semakin besarnya peran sektor formal dalam menopang struktur ketenagakerjaan di provinsi itu. Dan, IMIP dinilai menjadi salah satu motor utama pertumbuhan industri sekaligus pencipta lapangan kerja yang berdampak terhadap perekonomian masyarakat Sulawesi Tengah. Keberadaan kawasan industri juga turut mendorong perubahan komposisi lapangan pekerjaan di daerah yang sebelumnya didominasi sektor pertanian dan perikanan menuju sektor industri pengolahan.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

Berdasarkan paparan perusahaan, kontribusi tenaga kerja IMIP terhadap jumlah penduduk bekerja dengan status buruh atau karyawan di Sulawesi Tengah terus mengalami peningkatan. Persentasenya tercatat sekitar 1,23 persen pada 2023, meningkat menjadi 1,74 persen pada 2024, dan berada di kisaran 1,3 persen pada 2025. Dokumen Indikator Ketenagakerjaan Provinsi Sulawesi Tengah 2025 yang diterbitkan BPS juga menempatkan kawasan IMIP sebagai salah satu penyumbang utama pertumbuhan lapangan kerja formal di provinsi tersebut.

Aktivitas industri pengolahan di kawasan IMIP juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Pada triwulan I 2026, sektor industri pengolahan tercatat menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi di Sulawesi Tengah, yakni 15,09%. Pada periode yang sama, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah atas dasar harga berlaku mencapai Rp110,27 triliun, sedangkan PDRB per kapita Kabupaten Morowali pada 2024 telah menembus Rp1,3 miliar.

Dampak ekonomi juga dirasakan oleh pelaku usaha di sekitar kawasan industri. Hasil penelitian tim Survey and Research Departemen Secretariat and General Affair (SGA) PT IMIP menunjukkan, jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kecamatan Bahodopi meningkat dari 4.697 unit pada 2021 menjadi 7.643 unit pada Maret 2025. Meski jumlah UMKM sedikit menurun menjadi 7.190 unit pada April 2026, kapasitas penyerapan tenaga kerjanya justru mengalami peningkatan hingga mencapai 17.080 orang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha yang tetap bertahan mampu berkembang dan memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg

Di sisi lain, perusahaan menilai pengembangan industri harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar pertumbuhan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Penguatan kualitas SDM menjadi fokus utama perusahaan demi menjaga keberlanjutan pertumbuhan industri. Ini diwujudkan melalui berbagai program pelatihan, sertifikasi kompetensi, magang industri, hingga kerja sama dengan lembaga pendidikan vokasi dan perguruan tinggi,” kata Emilia.

Sebagai bagian dari penguatan kompetensi tenaga kerja, IMIP menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan, di antaranya Politeknik Industri Logam Morowali (PILM), Akademi Teknik Industri Makassar (ATI Makassar), Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin pada bidang metalurgi, serta Program D4 Teknologi Rekayasa Instalasi Listrik dan Teknologi Rekayasa Instalasi Mesin Universitas Tadulako.

Kemitraan tersebut mencakup penyediaan beasiswa, program magang industri, hingga pelaksanaan Praktisi Mengajar yang mempertemukan mahasiswa dengan para profesional industri. Melalui kolaborasi tersebut, IMIP berupaya mendukung pengembangan SDM sekaligus menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Sulawesi Tengah maupun Indonesia. (Li Han)