
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Investor asal China menggelontorkan investasi sekitar Rp15 triliun untuk mengembangkan industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Kawasan Industri Seafer (KIS) Kendal, Jawa Tengah. Pengembangan kawasan industri tersebut diproyeksikan mampu menyerap sekitar 10 ribu tenaga kerja.
Suntikan investasi tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara PT KIA Kendal dan PT New Generation Mobility (NGM) dan antara PT NGM dengan PT China State Construction Engineering Corporation (CSCEC). Penandatanganan kerja sama disaksikan langsung Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur, Taj Yasin Maimoen, dan Bupati Kendal, Dyah Kartika Permatasari, di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (15/6/2026).
Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, investasi tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Jawa Tengah yang tetap tumbuh di tengah kondisi geopolitik global dan tekanan fiskal. Ia berharap investasi tersebut dapat memperluas kesempatan kerja sekaligus mendorong pengembangan industri kendaraan listrik yang terintegrasi dengan energi terbarukan.

“Investasi ini sudah mengarah ke teknologi industri terbarukan. Pemprov Jateng akan memberikan insentif pajak bagi kawasan industri yang menetapkan energi terbarukan,” ujar Luthfi dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (18/6/2026).
Sementara itu, Direktur Utama PT Kawasan Industri Seafer (KIS) Kendal, Bryan W. Sudarwo, mengatakan, investasi dari PT NGM dan PT CSCEC akan mengembangkan kawasan industri yang berfokus pada ekosistem EV, mulai industri baterai, ban, hingga suku cadang EV komersial dan sepeda motor listrik.
“Semua terintegrasi. Kami akan mengembangkan ini semua dengan restu gubernur dan gupati, guna mendukung penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” ujar Bryan.
Ia menegaskan, pengembangan kawasan industri tersebut akan mengutamakan tenaga kerja lokal, sekaligus mendorong transfer teknologi dan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

“Tenaga lokal kita utamakan. Pasti itu. Nanti akan ada transfer teknologi. Kami juga dorong TKDN di atas 50%, jadi kita pakai semua sumber daya lokal,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, perwakilan PT NGM, Hadi Hartanto, menilai industri EV di Indonesia memiliki potensi besar di masa depan. Pengembangan industri tersebut harus terintegrasi dengan berbagai sektor dan mengedepankan hilirisasi pada sektor motor, elektrikal, maupun baterai agar mampu mendorong transformasi menuju EV.
“Industri EV di Indonesia memiliki potensi besar di masa depan. Maka dari itu, industri ini harus terintegrasi dengan berbagai sektor serta mengedepankan hilirisasi, baik dari segi motor, elektrikal, maupun baterai. Tiga hal tersebut harus memiliki posisi yang kuat jika ingin mendorong transformasi ke EV,” tutupnya. (Tubagus)









































