Beranda Berita International Gubernur Sherly: Masyarakat Bertanya, Bagaimana Permintaan Global dapat Ciptakan Kemakmuran Lokal?  

Gubernur Sherly: Masyarakat Bertanya, Bagaimana Permintaan Global dapat Ciptakan Kemakmuran Lokal?  

90
0
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda (Foto: MNI/Tubagus)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Keberhasilan hilirisasi nikel tidak seharusnya hanya diukur dari peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan tersebut juga harus tercermin dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, kualitas pendidikan, layanan kesehatan, serta keberlanjutan lingkungan.

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menegaskan hal tersebut saat menyampaikan pidato utama Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026, di Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat, Rabu (3/6/2026). Dalam konferensi yang membahas pengembangan mineral kritis, seperti nikel (Ni), kobalt (Co), timah (Sn), aluminium (Al), dan tembaga (Cu), serta peran sektor pertambangan dalam mendukung transisi energi global itu, ia menyoroti posisi strategis Maluku Utara sebagai salah satu pusat industri nikel dunia yang berkontribusi terhadap rantai pasok energi bersih global.

“Hari ini saya mewakili kelompok yang memasok mineral penting bagi dunia. Namun, yang lebih penting, saya mewakili 1,4 juta orang yang menyebut Maluku Utara sebagai rumah mereka,” ujarnya pada hari pertama penyelenggaraan konferensi tersebut.

Menurut Gubernur Sherly, Maluku Utara memiliki sejumlah keunggulan kompetitif, antara lain cadangan bijih nikel berkualitas tinggi, biaya produksi yang relatif efisien, serta lokasi yang lebih dekat dengan pasar utama Asia Timur, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, dibandingkan beberapa wilayah penghasil nikel lainnya di Indonesia.

Kawasan industri nikel di Maluku Utara kini telah berkembang dari sekadar lokasi ekstraksi bijih menjadi pusat pemurnian dan pengolahan bernilai tambah. Transformasi tersebut, kata dia, perlu diiringi dengan pembangunan sumber daya manusia agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.

“Semua orang membicarakan nikel, tetapi masyarakat saya mengajukan pertanyaan sederhana: bagaimana permintaan global dapat menciptakan kemakmuran lokal?” ujarnya.

Ia menjelaskan, masyarakat provinsi yang dipimpinnya itu memandang industri nikel bukan hanya sebagai sumber peningkatan produksi, melainkan juga sebagai peluang untuk memperkuat layanan pendidikan dan kesehatan, meningkatkan kesejahteraan nelayan serta petani, dan membuka kesempatan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Karena itu, ia mengajak pelaku industri, investor, dan seluruh pemangku kepentingan untuk tidak hanya berfokus pada volume produksi maupun ekspor.

“Pertanyaan terpenting bukan lagi berapa banyak nikel yang kita produksi. Pertanyaan yang lebih penting adalah nilai apa yang akan tersisa setelahnya,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya memastikan bahwa hilirisasi tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan nilai tambah industri, tetapi juga meninggalkan warisan pembangunan yang berkelanjutan bagi masyarakat di daerah penghasil. (Shiddiq)