
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Sekretaris Umum (Sekum) Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, dijadwalkan menjadi pembicara pada hari kedua sekaligus penutupan Cobalt Congress 2026, di Hyatt Regency Hesperia, Madrid, Spanyol, Rabu (13/5/2026).
Kehadiran Meidy dalam forum internasional tersebut menegaskan posisi Indonesia yang semakin diperhitungkan dalam rantai pasok mineral kritis dunia, khususnya industri nikel dan kobalt untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik.
Kongres tahunan yang diselenggarakan Cobalt Institute itu menjadi forum utama industri kobalt global yang mempertemukan pelaku pertambangan, investor internasional, perusahaan baterai, hingga pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk membahas arah pasar dan tantangan industri mineral kritis.

Pada agenda hari kedua, Sekum APNI itu akan tampil dalam sesi Panel: Kondisi Pasar Kobalt, pukul 10.20–11.30 waktu setempat. Panel tersebut sekaligus menjadi momentum peluncuran Laporan Pasar Kobalt 2025 yang membahas dinamika terbaru industri kobalt global, mulai dari kebijakan larangan ekspor, penerapan kuota, gejolak geopolitik, hingga perubahan tren permintaan dan pasokan dunia.
Dalam sesi itu, dia akan berbicara bersama sejumlah analis dan pelaku industri global, di antaranya William Talbot dari Benchmark Mineral Intelligence, Yinglu dari Project Blue, serta Kwasi Ampofo dari Bloomberg New Energy Finance (BNEF). Diskusi dipandu Marina Demidova selaku Head of Communications & External Relations Cobalt Institute.

Partisipasi APNI dinilai strategis di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap Indonesia sebagai produsen utama nikel yang memiliki peran penting dalam ekosistem baterai kendaraan listrik global.
Selain menjabat Sekum APNI, Meidy juga bertugas di Komite Investasi Kementerian Investasi/BKPM dan memiliki pengalaman panjang di sektor pertambangan dan investasi internasional. Ia pernah menjabat Country Manager Indonesia di JTA International Qatar Holding Company serta menduduki sejumlah posisi direksi dan komisaris di perusahaan pertambangan dan industri mineral.
Selain membahas kondisi pasar kobalt, kongres tersebut juga mengangkat berbagai isu strategis lain, seperti tata kelola mineral kritis di Republik Demokratik Kongo (DRC), transparansi rantai pasok dan ESG, hingga respons kebijakan global terhadap ketegangan geopolitik di sektor mineral strategis. (Shiddiq)












































