Beranda Berita International Kongo Batasi Ekspor, Indonesia Jadi Kekuatan Baru Rantai Pasok Kobalt Global

Kongo Batasi Ekspor, Indonesia Jadi Kekuatan Baru Rantai Pasok Kobalt Global

94
0
Kobalt Elektrolitik produksi Harita Nickel (Foto ilustrasi: Dok Harita Nickel)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Indonesia muncul sebagai kekuatan baru dalam rantai pasok kobalt global setelah pembatasan ekspor yang diberlakukan Republik Demokratik Kongo (Democratic Republic of Congo/DRC) mengguncang pasar dunia sepanjang 2025. Dalam situasi tersebut, Indonesia bahkan disebut menjadi pemasok efektif kobalt terbesar dunia, menyalip dominasi ekspor DRC yang selama ini menguasai pasar global.

Cobalt Market Report 2025 yang disusun Benchmark Mineral Intelligence untuk Cobalt Institute mengungkapkan, kebijakan larangan ekspor kobalt DRC sejak Februari 2025 telah mengubah peta perdagangan mineral strategis tersebut. 

DRC memang masih menjadi produsen tambang kobalt terbesar dengan pangsa 73% produksi global pada 2025. Namun, pembatasan ekspor dan penerapan sistem kuota membuat pasokan kobalt dari negara Afrika itu menyusut drastis di pasar internasional. 

Di sisi lain, produksi Indonesia justru melonjak pesat. Produksi kobalt Indonesia mencapai 42,5 ribu ton pada 2025 atau tumbuh 29% dibanding tahun sebelumnya berkat ekspansi fasilitas high pressure acid leaching (HPAL). 

Di dalam laporan tersebut dietgaskan, volume pasokan Indonesia pada 2025 bahkan melampaui ekspor efektif DRC yang terhambat kebijakan kuota. Kondisi itu menjadikan Indonesia sebagai pemasok efektif terbesar kobalt dunia pada tahun lalu. 

“Indonesia diperkirakan menjadi sumber pertumbuhan pasokan kobalt terbesar dalam lima tahun ke depan, melampaui DRC,” begitu tertulis di laporan tersebut. 

Pertumbuhan Indonesia didorong strategi hilirisasi nikel yang sejak 2020 diperkuat pemerintah melalui larangan ekspor bijih nikel mentah. Kebijakan itu memicu pembangunan fasilitas HPAL yang mengolah limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan baku penting baterai kendaraan listrik yang juga mengandung kobalt. 

Benchmark Mineral Intelligence mencatat, Indonesia telah menambah 41 ribu ton pasokan kobalt global sejak 2020 dan diproyeksikan menambah lagi 109 ribu ton hingga 2030. Angka tersebut melampaui tambahan pasokan DRC yang diperkirakan sebesar 99 ribu ton pada periode sama. 

Selain sektor tambang, Indonesia juga mulai memperkuat posisi pada rantai pasok hilir. Pada 2025, Indonesia resmi menyalip Kanada sebagai produsen kobalt olahan terbesar ketiga dunia setelah pertumbuhan produksi olahan mencapai 99% dalam setahun. 

Meski demikian, laporan tersebut juga mengingatkan adanya tantangan besar bagi industri HPAL Indonesia. Salah satunya adalah ketergantungan terhadap impor sulfur dari Timur Tengah. Sebanyak 75% kebutuhan sulfur Indonesia melewati Selat Hormuz, sehingga konflik geopolitik berpotensi mengganggu operasional dan menaikkan biaya produksi. 

Di tengah dinamika tersebut, permintaan kobalt global terus meningkat. Total permintaan dunia mencapai 276 ribu ton pada 2025 atau naik 13% dibanding tahun sebelumnya, terutama didorong pertumbuhan kendaraan listrik dan industri baterai. 

Laporan itu menegaskan bahwa kobalt kini tidak lagi sekadar komoditas industri, melainkan telah menjadi mineral strategis yang diperebutkan negara-negara besar karena perannya dalam transisi energi, pertahanan, dan teknologi maju. (Shiddiq)