
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Indonesia dan Filipina memperkuat kerja sama sektor nikel di tengah meningkatnya kebutuhan mineral kritis untuk industri baterai kendaraan listrik dan hilirisasi di kawasan ASEAN.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) dalam forum Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Jpark Island Resort, Cebu, Kamis (7/5).
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina secara bersama menguasai 73,6% produksi nikel global pada 2025. Indonesia menyumbang sekitar 2,6 juta ton atau 66,7% produksi dunia, sedangkan Filipina sekitar 270.000 ton atau 6,9%.

Menteri Koodinator (Menko) Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, mengatakan, kerja sama tersebut menjadi fondasi pembentukan Indonesia-Philippines Nickel Corridor yang menghubungkan industri hilirisasi Indonesia dengan pasokan bijih nikel dari Filipina.
“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (8/5/2026).
Kerja sama APNI dan PNIA mencakup pertukaran informasi perdagangan nikel, pengembangan teknologi hilirisasi, pemanfaatan produk sampingan industri pengolahan, hingga pengembangan sumber daya manusia. Pemerintah juga memproyeksikan investasi sektor hilirisasi nikel mencapai US$47,36 miliar dengan penyerapan tenaga kerja hingga 180.600 orang pada 2030.

Menurut dia, kebutuhan bahan baku smelter di Indonesia dapat dipenuhi melalui pasokan bijih nikel Filipina, termasuk untuk proses blending guna memperoleh rasio silikon dan magnesium yang sesuai.
“Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita. Hal ini sejalan dengan arahan KTT Ke-27 AECC untuk memperkuat rantai pasok kritis di kawasan ASEAN,” katanya.
Ia menambahkan, nikel kini menjadi salah satu mineral penting dalam transisi energi, terutama untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi. Karena itu, hilirisasi nikel dinilai tidak hanya memperkuat industri, tetapi juga mendukung pengembangan energi bersih. (Tubagus)












































