
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pelaku usaha menilai penyelenggaraan Environment, Social, and Governance (ESG) Forum 2026 yang digelar oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) memberikan manfaat nyata dalam menambah wawasan terkait masa depan industri nikel dan kebijakan pengelolaannya di Indonesia.
Direktur Operasi PT Kapal Energi Indonesia, Roy Alexander D., mengatakan, forum tersebut menghadirkan narasumber kredibel dari dalam dan luar negeri sehingga memberikan perspektif yang lebih luas bagi peserta.
“Banyak menambah wawasan. Panel-panel diskusinya juga diisi orang-orang terpercaya. Ada banyak peserta dan pembicara internasional yang datang dari China, Eropa, dan Amerika,” kata Roy dalam wawancara eksklusif dengan Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id) di sela-sela ESG Forum 2026, Hotel Sultan Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Dia menjelaskan, PT Kapal Energi Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pelayaran, khususnya pengangkutan batu bara. Perusahaan yang telah beroperasi sekitar 20 tahun itu memiliki sejumlah mitra dari sektor pertambangan sehingga mengirimkan perwakilan untuk mengikuti forum tersebut.
“Karena kami memiliki beberapa rekan dari sektor tambang, kami dikirim ke sini untuk belajar bagaimana nikel akan berdampak terhadap ekonomi Indonesia ke depan,” ujarnya.
Menurut dia, ESG Forum 2026 menjadi sarana yang efektif bagi pelaku usaha untuk memahami arah kebijakan dan tata kelola industri nikel di masa mendatang.
“Saya rasa sangat efektif. Setidaknya kita bisa menilai bagaimana nikel ini akan dikelola ke depannya oleh negara maupun swasta,” katanya.
Terkait sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk implementasi biodiesel B50, Roy menilai, langkah tersebut berpotensi menjadi solusi ketahanan energi nasional.

“Untuk B50 saya rasa bagus ke depannya karena bisa menjadi solusi sumber energi. Indonesia merupakan salah satu produsen sawit terbesar di dunia,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan, kebijakan ekspor yang lebih terpusat perlu dikaji secara matang karena berpotensi memengaruhi penjualan ke pasar luar negeri.
“Saya rasa nanti mungkin akan sedikit banyak memengaruhi penjualan kita ke luar negeri,” katanya.
Di sisi lain, Roy menilai kebijakan pembatasan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang diterapkan pemerintah mulai menunjukkan dampak positif terhadap stabilisasi harga nikel global.
“Pemerintah saya rasa sudah berhasil. Dengan pembatasan RKAB, harga nikel dunia mulai stabil dan sudah ada kenaikan. Kebijakan ini belum berjalan satu tahun, tetapi dampaknya sudah terlihat,” ujarnya.
Ke depan, ia berharap ESG Forum dapat terus diselenggarakan secara rutin sebagai wadah pertukaran informasi dan pembaruan pengetahuan bagi pelaku usaha.
“Forum ini bisa diteruskan setiap tahun, mungkin satu atau dua kali. Agar para pelaku usaha bisa me-refresh pengetahuan dan mendapatkan informasi terbaru,” katanya.
Selain itu, dia juga berharap pemerintah dapat meningkatkan koordinasi antarlembaga guna memastikan manfaat hilirisasi nikel dapat dirasakan secara lebih merata.
“Harapannya pemerintah lebih kompak ke depannya, supaya semuanya sama-sama dapat diuntungkan dari hilirisasi nikel ini,” tuturnya. (Shiddiq)









































