Beranda Nikel APNI Rilis INPI: Stabil di Nickel Ore, Produk Hilir masih Tertekan

APNI Rilis INPI: Stabil di Nickel Ore, Produk Hilir masih Tertekan

1228
0

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Mengawali Februari 2026, harga bijih nikel (nickel ore) Indonesia bergrak stabil, sedangkan produk-produk hilir nikel mengalami koreksi lanjutan seiring penyesuaian permintaan global.

Hal tersebut tercermin dari Indeks Harga Nikel Indonesia atau Indonesia Nickel Price Index (INPI) yang baru saja dirillis Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bekerja sama dengan Shanghai Metals Market (SMM), Senin, 2 Februari 2026.

Harga nickel ore berkadar 1,2% dijual dengan kesepakatan cost, insurance, and freight (CIF) berada di rentang US$21–US$22/mt, dengan harga rata-rata US$21,5/mt, tidak berubah dari periode sebelumnya. Pada saat sama bijih nikel berkadar 1,6% dengan CIF juga tercatat stabil di level US$54–US$56/mt, dengan rata-rata US$55/mt.

Sekretaris Umum (Sekum) APNI, Meidy Katrin Lengkey, menilai, stabilitas harga bijih nikel merefleksikan kondisi pasokan yang relatif terjaga serta serapan smelter yang belum mengalami perubahan signifikan.

“Harga bijih nikel masih bertahan stabil karena keseimbangan pasokan tambang dan permintaan smelter domestik masih terjaga,” kata Meidy di Kantor DPP APNI, di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Dalam pada itu, kondisi berbeda terjadi di segmen hilir. Harga nickel pig iron (NPI), dengan kesepakatan tanggung jawab penjual berakhir saat barang dimuat ke atas kapal di pelabuhan asal (free on board/FOB),  tercatat turun US$1,95 menjadi US$131,46/mt. Penurunan yang lebih dalam terjadi pada harga high-grade nickel matte (FOB) yang terkoreksi US$200 ke level US$16.632/mt dan mixed hydroxide precipitate (MHP) FOB yang melemah US$194 menjadi US$16.104/mt.

Menurutnya, koreksi harga produk olahan ini mencerminkan penyesuaian pasar terhadap kondisi permintaan global, khususnya dari sektor stainless steel dan baterai kendaraan listrik.

“Tekanan pada harga NPI, nickel matte, dan MHP menunjukkan adanya penyesuaian margin industri pengolahan di tengah fluktuasi permintaan global dan kontrak jangka pendek ekspor,” ujarnya.

Bagi pelaku industri, dia menilai kondisi ini menjadi sinyal penting untuk mencermati strategi produksi dan efisiensi biaya. Stabilnya harga bijih memberikan kepastian bagi penambang, namun volatilitas produk hilir menuntut pengelolaan margin yang lebih ketat di tingkat smelter dan downstream.

Pergerakan harga nikel ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh arah permintaan China, perkembangan industri baterai, serta dinamika perdagangan global, yang seluruhnya akan terus dipantau dan disampaikan melalui rilis INPI secara berkala. (Shiddiq)