Banjir Proyek Bahan Baku Baterai, Pengusaha Nikel Ikutan Cuan

NIKEL.CO.ID – Pemerintah terus mendorong hilirisasi di sektor mineral, salah satunya nikel untuk bahan baku pembuatan baterai. Proyek smelter nikel banyak bermunculan dari yang hanya menyerap kadar tinggi 1,7% ke atas sampai kadar rendah di bawah 1,7%.

Banyaknya smelter nikel yang bermunculan membuat penambangnya ikut kecipratan cuan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengatakan, pihaknya menyambut baik atas banyaknya smelter nikel yang bakal beroperasi pada beberapa tahun ke depan.

Pasalnya, ini juga akan berdampak pada peningkatan permintaan bijih nikel. Apalagi, lanjutnya, dengan hadirnya smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk memproduksi bahan baku baterai, smelter ini juga bisa menyerap bijih nikel kadar rendah. Dengan demikian, ke depannya tidak hanya nikel kadar tinggi atau di atas 1,7% yang diserap perusahaan smelter.

“Kalau kami dari hulu sisi pertambangan tentu menyambut baik karena otomatis demand bijih nikel akan naik, apalagi HPAL akomodir bijih nikel kadar rendah,” jelasnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (02/07/2021).

Dia meminta agar smelter nikel ini mau menyerap limonit atau nikel kadar rendah tanpa syarat lain. Karena jika diberi syarat lain, maka menurutnya ini akan berujung pada tidak terserapnya bijih nikel kadar rendah.

Dia menjelaskan, struktur mineral di Indonesia memiliki unsur magnesium. Menurutnya ada beberapa penambang yang terkena penolakan karena ada syarat kadar magnesium silika di bawah 2,5%, sementara banyak tambang yang memiliki kadar magnesium di atas 2,5%, sehingga kena penalti.

“Ada unsur magnesium dari struktur mineral Indonesia. Untuk saprolite (nikel kadar tinggi) untuk pirometalurgi masih ambil kadar tinggi 1,8 up, tapi banyak area kena reject karena syaratkan silika magnesium di bawah 2,5%,” jelasnya.

Lebih lanjut dia kembali menegaskan agar smelter nikel HPAL bisa mengakomodasi nikel tanpa spesifikasi kadar magnesium tertentu.

“Kami minta juga pabrik HPAL untuk akomodir bijih nikel yang spesifikasi magnesium, sudah apa adanya, jangan banyak mempersyaratkan, sehingga kena penalti atau reject lagi,” pintanya.

Meidy memproyeksikan ke depan kebutuhan nikel akan meningkat signifikan. Salah satu pabrik yang kini telah berproduksi menurutnya akan menyerap 8 juta ton bijih nikel per tahun. Belum ditambah dengan pabrik lainnya, sehingga akan akomodir 20-30 juta ton bijih nikel kadar rendah per tahunnya.

“Akan signifikan (peningkatan) karena kapasitas HPAL salah satu pabrik yang commissioning 8 juta ton setahun, belum termasuk tiga pabrik lain, akan akomodir 20-30 juta ton bijih nikel kadar rendah,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, adapun smelter HPAL yang membutuhkan bijih nikel sekitar 8 juta ton per tahun yaitu proyek smelter yang dikelola PT Halmahera Persada Lygend, anak usaha Harita Group. Berlokasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, proyek ini baru saja diresmikan operasionalnya oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada pekan lalu, tepatnya Rabu (23/06/2021).

Adapun target produksi yaitu sekitar 246 ribu ton per tahun NiSO4 dan sekitar 32 ribu ton per tahun CoSO4 dengan perkiraan kebutuhan bijih nikel sekitar 8,3 juta ton per tahun.

Sumber: CNBC Indonesia