Asing Ramai Profit Taking di 4 Saham Nikel Ini

NIKEL.CO.IDSebanyak empat dari tujuh saham emiten nikel di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat cenderung dilepas oleh investor asing selama satu bulan terakhir alias net foreign sell seiring dengan profit taking atas saham-saham tersebut

Keempat saham tersebut, yakni PT Timah Tbk (TINS), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) dan PT Central Omega Resources Tbk (DKFT).

Sementara itu, tiga saham yang banyak dikoleksi asing, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE).

Top Foreign Sell (Reguler) 1 Bulan (22/2)

  1. Timah (TINS), net sell Rp -69,22 M
  2. Harum Energy (HRUM), net sell Rp -68,84 M
  3. Pelat Timah Nusantara (NIKL), net sell Rp -2,23 M
  4. Central Omega Resources (DKFT), net sell Rp -1,79 M
  5. Aneka Tambang (ANTM), net buy Rp 962,89 M
  6. Trinitan Metals and Minerals (PURE), net buy Rp 735,04 M
  7. Vale Indonesia (INCO), net buy Rp 19,45 M

Terjadinya net foreign sell pada keempat saham di atas mengindikasikan adanya aksi ambil untung (profit taking) oleh asing.

Aksi profit taking yang dilakukan asing ini nampaknya wajar, apabila melihat harga saham keempat emiten di atas yang terus positif secara year to date (YTD).

TINS menjadi emiten yang sahamnya paling banyak dijual asing selama sebulan, yakni Rp 69,22 miliar. Secara YTD, harga saham TINS sudah melesat 207,79%.

Di tempat kedua ada HRUM, yang harga sahamnya tercatat telah melonjak tinggi sebesar 448,15% secara YTD.

HRUM sedang melakukan ekspansi tahun ini. Harum memang bergerak di bisnis batu bara, tapi saat ini sudah masuk ke bisnis nikel dengan mengakuisisi perusahaan tambang nikel di awal tahun ini.

Perusahaan milik taipan Kiki Barki ini memperkuat ekspansi ke tambang nikel dengan membeli 51% saham PT Position milik Aquila Nickel Pte Ltd atau setara dengan 24.287 saham perusahaan. Aquila tercatat berbasis di Singapura.

Harga jual beli yang dilakukan oleh anak usahanya PT Tanito Harum Nickel itu diteken sebesar US$ 80.325.000 atau setara dengan Rp 1,12 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Pada Juni 2020, HRUM juga sudah melakukan transaksi pembelian saham perusahaan tambang nikel asal Australia, Nickel Mines Limited, sebesar AUD 34,26 juta atau setara Rp 369 miliar dengan kurs Rp 10.781 per AUD

Kabar terbaru, pada tanggal 19 Februari 2021, PT Tanito Harum Nickel, anak usaha HRUM, telah membeli 24,5% kepemilikan saham pada PT Infei Metal Industry (PT IMI) dengan harga beli US$ 68.600.000atau setara dengan Rp 960,4 miliar (kurs Rp 14.000/US$).

PT IMI adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pemurnian nikel (smelter).

Mengacu pada keterbukaan informasi BEI, Senin (22/2/2021), tujuan anak usaha HRUM membeli saham PT IMI adalah untuk mengembangkan kegiatan usaha hilir pertambangan nikel milik perseroan ke tahap pengolahan guna meningkatkan nilai tambah produk nikel.

Dua saham terakhir yang mencatatkan net sell, NIKL dan DKFT juga membukukan lonjakan harga saham secara YTD. Saham NIKL sudah terbang 108,89% secara YTD, sementara DKFT naik 50,00% secara YTD.

Bagaimana dengan ANTM, PURE dan INCO?

Saham ANTM mencatatkan beli bersih asing tertinggi di antara emiten lainnya, sebesar Rp 962,89 miliar. Secara YTD, harga saham ANTM sudah meroket 275,80%.

Investor asing nampaknya optimistis dengan prospek harga saham ANTM ke depan sehingga tercatat masih melakukan aksi beli hingga saat ini.

Tahun ini, emiten emas pelat merah tersebut menargetkan produksi emas sebesar 1,37 ton, sementara penjualan emas ditargetkan mencapai 18 ton emas.

SVP Corporate Secretary Antam Kunto Hendrapawoko mengatakan target produksi ini berasal dari tambang emas Pongkor di Jawa Barat (Bogor) dan Tambang emas Cibaliung (Banten).

“Tingkat penjualan emas mencapai 18 ton emas,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa, (16/02/2021).

Sebagai perbandingan, tahun lalu secara akumulatif, capaian kinerja unaudited produksi dan penjualan emas Antam sepanjang 2020 masing-masing sebesar 1.672 kg atau 1,67 ton (53.756 t oz) dan 21.797 kg atau 21,79 ton (700.789 t oz).

Artinya target tahun ini target produksi turun 17,9% dan target penjualan turun 17,39% Sama dengan tahun 2020, menurut dia tahun ini ANTM akan fokus pada pengembangan basis pelanggan logam mulia di pasar dalam negeri. Kunto menyebut dewasa ini masyarakat mulai sadar untuk berinvestasi pada emas.

Selanjutnya, beralih ke saham PURE. Meskipun secara year to date (YTD) telah terkoreksi 25,45%, Saham PURE masih dikoleksi asing. Tercatat selama sebulan terakhir asing masuk dengan membeli saham PURE senilai Rp 735,4 miliar.

PURE merupakan perusahaan pengolah logam dan bahan mineral (smelter). Perusahaan ini baru berdiri pada 2009 berlokasi di Parung Tanjung, Bogor, Jawa Barat.

Situs resminya mencatat, kegiatan usaha utama PURE adalah memproduksi timbal (bahan baku baterai industri dan kendaraan bermotor, bahan pelapis kawat dan solder untuk elektronik), dan perak (bahan baku produk elektronik seperti kamera dan CPU, juga dapat digunakan untuk koin, perhiasan hingga aksesoris).

Selain itu perusahaan juga memproduksi antimoni (bahan tahan api, cat, keramik, elektronik dan karet, campuran antigores, polystyrene, PVC, plastik dan karet).

PURE mencatatkan saham di BEI pada 9 Oktober 2019, atau 10 tahun setelah berdiri. Menurut data BEI, PT Trinitan Resourcetama Indonesia milik keluarga Tandiono menguasai 49,89% atau 665.226.913 sama milik PURE.

Saham terakhir, INCO, juga masih diminati oleh asing, ynag mencatatkan aksi beli bersih Rp 19,45 miliar. Secara YTD, INCO mencatatkan kenaikan harga saham yang moncer sebesar 94,11% di tengah rencana perbaikan tungku smelter nikel pada tahun ini.

Sebelumnya, INCO berencana melakukan perbaikan tungku (furnace) smelter nikel mulai Mei 2021 selama sekitar enam bulan, sehingga diperkirakan bakal berdampak pada penurunan produksi nickel matte perusahaan pada 2021 ini.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Keuangan Vale Bernardus Irmanto kepada CNBC Indonesia. Dia mengatakan, perbaikan fasilitas ini diperkirakan bakal tuntas pada November 2021 mendatang.

“Rencananya (maintenance) dimulai bulan Mei dan diselesaikan di November,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Senin (08/02/2021).

Namun sayangnya, dia enggan menyebutkan berapa besar turunnya produksi nickel matte perusahaan pada tahun ini karena masih dalam finalisasi.

“Angkanya sedang difinalisasi, akan kami sampaikan kalau sudah ada angka final dari operation,” ujarnya.

Sepanjang 2020, Vale mencatatkan peningkatan produksi nikel dalam matte menjadi 72.237 ton, naik 2% dibandingkan 2019 yang sebesar 71.025 ton.

“Kami bangga sekaligus berterima kasih atas pencapaian ini. Ini jelas merupakan hasil kerja keras semua karyawan di perusahaan,” kata Nico Kanter, CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia.

Royalti Nikel 0%?

Satu sentimen yang dinantikan oleh sektor nikel ialah permintaan royalti 0%. Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum (MIND ID) Orias Petrus Moedak pun mengusulkan agar nikel kadar rendah juga mendapatkan perlakuan yang sama dengan batu bara.

Permintaan tersebut terlontar seiring upaya pemerintah mendorong hilirisasi di sektor batu bara. Upaya tersebut dilakukan dengan pengenaan royalti 0% bagi penambang yang melakukan hilirisasi, seperti proyek gasifikasi batu bara. Insentif royalti 0% bagi penambang batu bara yang melakukan kegiatan hilirisasi ini dicantumkan dalam Undang-Undang tentang Cipta Kerja.

Orias mengatakan, saat ini pemerintah tengah mendorong hilirisasi nikel, salah satunya berupa pemanfaatan nikel kadar rendah untuk diolah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Artinya, pemanfaatan nikel kadar rendah akan semakin masif ke depannya.

Satu sentimen yang dinantikan oleh sektor nikel ialah permintaan royalti 0%. Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum (MIND ID) Orias Petrus Moedak pun mengusulkan agar nikel kadar rendah juga mendapatkan perlakuan yang sama dengan batu bara.

Permintaan tersebut terlontar seiring upaya pemerintah mendorong hilirisasi di sektor batu bara. Upaya tersebut dilakukan dengan pengenaan royalti 0% bagi penambang yang melakukan hilirisasi, seperti proyek gasifikasi batu bara. Insentif royalti 0% bagi penambang batu bara yang melakukan kegiatan hilirisasi ini dicantumkan dalam Undang-Undang tentang Cipta Kerja.

Orias mengatakan, saat ini pemerintah tengah mendorong hilirisasi nikel, salah satunya berupa pemanfaatan nikel kadar rendah untuk diolah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Artinya, pemanfaatan nikel kadar rendah akan semakin masif ke depannya.

Dengan adanya hilirisasi nikel untuk pengolahan bahan baku kendaraan listrik ini bisa menjadi katalis positif bagi emiten nikel tanah air.

“Kalau untuk batu bara kita sudah ada pajak iuran (royalti) 0%, karena sudah ada apakah ini akan berlaku pada nikel kadar rendah?” kata Orias dalam Webinar Sosialisasi Kebijakan Mineral dan Batubara Indonesia, Kamis (11/02/2021).

Secara teknis pertambangan nikel kadar rendah ini mulanya dianggap ikutan, namun karena ada produk baterai yang bisa dihasilkan dari nikel kadar rendah dan kini juga tengah didorong pemerintah, maka komoditas ini menurutnya menjadi istimewa.

“Sekarang kita manfaatkan nikel kadar rendah. Ini ada iuran produksi dan lain-lain, yang terkait itu perlu disesuaikan, saya rasa kebijakan ini (royalti 0%) perlu dimasukkan ke dalam kebijakan minerba,” pintanya.

Seperti diketahui, kini empat BUMN, antara lain MIND ID, Antam,  PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero) tengah dalam proses pembentukan Indonesia Battery Holding untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Wakil Menteri I BUMN Pahala Nugraha Mansury pun sempat menuturkan pembentukan holding perusahaan baterai ini terbentuk pada Semester I 2021 ini.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan di dalam bisnis baterai kendaraan listrik ini, akan terdapat tujuh tahap atau rantai bisnis, yakni mulai dari penambangan, pemurnian atau smelter, precursor plant, pabrik katoda, pabrik sel baterai, battery pack, hingga daur ulang (recycling).

“Kita masuk di empat yang tengah seperti precursor, katoda, sel baterai, battery pack, dan juga recycling dengan PLN. Di hulu oleh Antam dan MIND ID,” paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VII DPR RI, Selasa (09/02/2021).

Sebagai catatan, mayoritas saham emiten nikel ditutup menguat pada perdagangan Senin kemarin (22/2/2021).

Menurut data BEI, enam dari tujuh saham emiten nikel yang ditutup di zona hijau, HRUM, ANTM), TINS, INCO, NIKL dan PURE. Sementara itu, DKFT berada di zona merah.

Berikut pergerakan saham emiten nikel pada perdagangan Senin (22/2).

  1. Harum Energy (HRUM), saham +3,50% ke Rp 7.400, transaksi Rp 149,15 M
  2. Aneka Tambang (ANTM), +2,43% ke Rp 2.950, transaksi Rp 2,48 T
  3. Timah (TINS), +2,16% ke Rp 2.370, transaksi Rp 684,65 M
  4. Vale Indonesia (INCO), +1,58% ke Rp 6.425, transaksi Rp 403,89 M
  5. Pelat Timah Nusantara (NIKL), +1,08% ke Rp 1.410, transaksi Rp 4,92 M
  6. Trinitan Metals and Minerals (PURE), +0,60% ke Rp 167, transaksi Rp M
  7. Central Omega Resources (DKFT), -0,50% ke Rp 198, transaksi Rp 54,73 M

Sumber: CNBC Indonesia