Bos Antam Bicara Prospek Permintaan Nikel Dunia

NIKEL.CO.ID – Dunia sedang berbondong-bondong melakukan transisi energi dari pemakaian energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT). Kondisi ini turut mendongkrak permintaan salah satu komoditas tambang RI, yaitu nikel.

Pasalnya, nikel dibutuhkan sebagai komponen baterai hingga kendaraan listrik, serta komponen pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

PT Aneka Tambang Tbk (Antam/ ANTM) sebagai salah satu produsen nikel pun angkat suara terkait prospek permintaan dunia terhadap komoditas nikel ini.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Anton Herdianto mengatakan, hal ini merupakan peluang bagi perusahaan. Apalagi, lanjutnya, perusahaan memiliki cadangan nikel cukup besar dan perusahaan juga tengah membangun beberapa proyek smelter feronikel, seperti di Pomalaa, Sulawesi Tenggara dan Halmahera Timur, Maluku Utara.

“Memang ini menjadi peluang Antam. Antam punya cadangan nikel cukup banyak. Ini yang jadi tantangan hilirisasi,” ungkapnya dalam Public Expose Live 2021, Kamis (09/09/2021).

Menurutnya, permintaan bijih nikel di dalam negeri sudah cukup banyak. Sejumlah proyek smelter di Indonesia pun menurutnya terkait dengan masa depan produk nikel untuk komponen kendaraan listrik.

“Di Indonesia tentunya terkait pengembangan ke depan nikel, salah satu fokus sudah disinggung electric vehicles (EV),” tuturnya.

Antam pun menurutnya sudah bergerak ke arah sana bersama dengan tiga BUMN lainnya yaitu MIND ID, Pertamina, dan PLN. Keempat BUMN ini mendapatkan penugasan dari Kementerian BUMN melalui pembentukan Holding Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk membangun industri baterai terintegrasi dari hulu hingga ke hilir.

Dalam IBC ini, peran Antam adalah sebagai pengelola sumber daya nikel sebagai bahan baku dalam membuat baterai. Menurutnya, ini menjadi peluang bagi Antam ke depannya.

“Peran Antam (di IBC) sebagai pihak yang punya source nikel jadi bahan baterai,” imbuhnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

IUP Non Aktif, DPRD Konut Hentikan Aktivitas PT. Antam di Blok Tapunopaka

NIKEL.CO.ID – Konawe Utara, – PT. Antam yang bergerak di bidang pertambangan nikel mendapat teguran keras dari pihak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)  Kabupaten Konawe Utara (Konut) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Teguran itu berupa pemberhentian sementara kegiatan pertambangan di Blok Tapunopaka.

Pemberhentian sementara itu disampaikan DPRD saat PT. Antam dan masyarakat Desa Tapunopaka Kecamatan Lasolo Kepulauan mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) di kantor DPRD Konawe Utara (Konut) Senin,12/08/2021 yang dipimpin Ketua DPRD yakni Ikbar, SH didampingi wakil ketua I, ketua II serta para ketua komisi.

Dalam rapat tersebut disoal kegiatan produksi pertambangan PT. Antam yang diduga ilegal atau menggunakan IUP tidak aktif sejak 2011 silam.

Selain itu, PT tersebut diduga kuat telah melakukan penambangan nikel di kawasan lahan masyarakat Desa Tapunopaka Kecamatan lasolo Kepulauan (Laskep) seluas ratusan HA sejak 2005 dan diketahui belum membebaskan lahan tersebut.

Tidak hanya itu, PT. Antam pernah petun di pengadilan dan dimenangkan oleh masyarakat pemilik lahan. Namun faktanya hingga saat ini PT. Antam masih melakukan penambangan di kawasan tersebut.

Dari persoalan itulah kegiatan PT. Antam diberhentikan untuk sementara.

Salah satu tokoh pemerhati lingkungan yang sekaligus juru bicara masyarakat Tapunopaka, Ashari meminta agar persoalan itu disikapi serius oleh pemerintah daerah dalam hal ini Bupati dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Konawe Utara (Konut).

“Saya bersama masyarakat kelompok Samaturu dengan ini meminta agar pemerintah Konawe Utara untuk turun melakukan pemeriksaan administrasi PT. Antam serta menutup kegiatan pertambangan untuk sementara sampai semua persoalan yang ada bisa di tuntaskan oleh PT.Antam,” tegas Ashari.

Sementara itu, beberapa pertanyaan penting yang ditanyakan oleh ketua dan anggota DPRD terkait persoalan yang ada, pihak Management PT. Antam tidak bisa memberikan penjelasan yang sesuai dengan keinginan para legislator itu, bahkan dari PT. Antam sendiri mengakui bahwa semua yang dipersoalkan memang benar adanya.

Beberapa pertanyaan itu berupa status keberadaan IUP, diakui bahwa IUP tersebut telah habis masa belaku (non aktif), pembebasan lahan belum dilakukan secara menyeluruh meski sebelumnya PT. Antam sendiri pernah mengakuinya untuk membebaskan.

Singkat dari kesimpulan RDP tersebut. Ketua dan Anggota DPRD Konawe Utara memutuskan dan merekomendasikan tiga poin penting sebagai rujukan pemerintah daerah dan PT. Antam.

1. Merekomendasikan Bupati Konawe Utara untuk meninjau kembali keputusan Mahkama Agung (MA) atas kepemilikan lahan warga Tapunopaka dengan melampirkan pendukung atau bukti-bukti baru seperti SK Bupati tahun 2015 tentang pemberhentian IUP PT. Antam selanjutnya lampiran SKT yang menerangkan bahwa objek tersebut merupakan tanah budaya atau hak adat. Termaksud berita-berita acara rentetan pertemuan oleh pihak PT.Antam.

2. Akan adanya peninjauan hukum kembali oleh pemilik lahan dan pemerintah daerah dan belum adanya eksekusi maka seluruh aktifitas PT.Antam di blok Tapunopaka untuk sementara diberhentikan.

3. Selama dalam proses ini, DPRD juga mendorong sekaligus mendukung upaya penyelesaian secara persuasif atau negosiasi antara pemilik lahan dan PT.Antam
tentang mekanisme atau skema ganti rugi yang akan ditempu yang berupa royalti, penyertaan barang atau dengan cara lain yang dimilik oleh Pemda Konawe Utara.

Sumber : sultrademo.co

Read More

Sebanyak 13 IUP di Konsesi PT Antam Konut Diduga Menambang Ilegal

NIKEL.CO.ID – Ada 13 perusahaan tambang dalam konsesi PT Antam di Konawe Utara (Konut) provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Perusahaan ini terus beraktifitas mesti ada Izin Usaha Pertambangan (IUP) telah berakhir atau sudah tidak aktif lagi, serta adanya perusahaan tidak mengantongi Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH).

Ke 13 perusahaan tersebut, pertama, PT Karya Murni Sejati (KMS) 27, PT James dan Armando Pundimas, dan PT Hafar Indotech, CV Ana Konawe, CV Malibu, CV Yulan Pratama, PT Andhikara Cipta Mulia, PT Avry Raya, PT Mughni Energi Bumi, PT Rizqi Cahaya Makmur, PT Sangia Perkasa Raya, PT Sriwijaya Raya, serta PT Wanagon Anoa Indonesia.

Pada Rabu (4/8/2021) Gedung DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) didatangi dua lembaga aspirator menyampaikan aspirasi dugaan pertambangan ilegal atau ilegal mining yang diduga dilakukan salah satu perusahaan PT Karya Murni Sejati (KMS) 27.

Masa mendesak DPRD Sultra membentuk tim panitia khusus (Pansus) untuk menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) melibatkan instansi terkait.

Aspirator datang dari lembaga Corong Aspirasi Rakyat Sulawesi Tenggara (Corok Sultra). Mereka membeberkan dugaan pertambangan ilegal PT KMS 27 di atas lahan PT Antam di Blok Mandiodo, Kabupaten Konut.

Dalam pernyataan sikapnya, Corok Sultra mengungkapkan bahwa PT KMS 27 diduga masih melakukan kegiatan pertambangan. Padahal pasca putusan Mahkamah Agung tanggal 17 Juli 2014 mencabut 13 Izin Usaha Pertambangan (IUP), salah satunya PT KMS 27.

“Tetapi sekarang perusahaan tersebut masih terus melakukan aktivitas pertambangan tanpa mengantongi izin usaha pertambangan,” ungkap jenderal lapangan Corok Sultra Fausan Dermawan.

Aspirasi meminta DPRD Sultra membentuk tim pansus dan melakukan investigasi di lokasi PT KMS 27 serta memanggil direktur utamanya dan dinas terkait untuk melakukan rapat dengar pendapat (RDP).

Dua anggota Komisi III DPRD Sultra yakni, Abdul Salam Sahadia dan Sudirman yang menerima aspirator Corok Sultra, mengakomodir tuntutan mereka dengan mengagendakan RDP dan mengundang pihak-pihak terkait, diantaranya Dinas ESDM, Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, Ditkrimsus Polda Sultra, Kejati Sultra serta kedua lembaga tersebut, salah sattunya, PT KMS 27.

“Dalam rangka memperjelas permasalahan ini, kita simpulkan ditindaklanjuti dalam rapat dengar pendapat dengan mengundang pihak terkait,” kata Abdul Salam Sahadia.

Informasi yang dihimpun tim tegas.co, PT KMS 27 di Blok Mandiodo, Molawe Kabupaten Konut memiliki IUP operasi produksi hingga tanggal berakhir 12 Desember 2032. Demikian pula, data Kementerian Kehutanan, perusahaan ini mengantongi IPPKH dengan nomor surat SK. 1304/Menlhk-Pktl/Ren/Pla.0/3/2018.

Sementara itu, Supporting Manager PT Antam Konawe Utara, H. Umar yang dikonfimasi belum memberikan klarifikasi

Sumber: tegas.co

Read More

APNI Protes Smelter Putus Kontrak Pasokan Bijih Nikel Dari Penambang Lokal

NIKEL.CO.ID – Sekertaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey merasa keberatan atas kondisi pasar nikel domestik, dimana pihak Smelter memutus kontrak pasokan bijih nikel dari para penambang lokal dan memilih melakukan kontrak dengan perusahaan besar. Hal ini dinilai seperti halnya pasar dimonopoli oleh PT Antam.

Jika ini berlanjut, dikhawatirkan bakal mengancam keberlangsungan penambang skala kecil.

Menurut Meidy, salah satu smelter domestik terbesar yang beroperasi di Sulawesi Tenggara, PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) misalnya, baru saja memutus kontrak pasokan ore dari penambang lokal. Kemudian, kontrak tersebut diganti diambil alih oleh Antam.

“Kondisi ini memang business to business, sah-sah saja smelter beli dari manapun. Demikian juga Antam, sah-sah saja jual ke mana saja. Tapi bagaimana kondisi kami penambang lokal tidak bisa jualan yang ditutup kontraknya oleh pabrik besar, kita mau jualan ke mana,” ungkap Meidy saat menghadiri rapat dengan Bank Indonesia, Selasa (4/8).

Ia menyayangkan kondisi tersebut, mengingat posisi Antam yang dinilai memiliki cadangan nikel besar. Menurutnya, Antam akan lebih tepat jika memanfaatkan aset bijih nikel miliknya dengan meningkatkan kapasitas smelter yang ada, atau membangun smelter baru.

“Ada yang tanya, kenapa Antam menjual ore. Antam punya cadangan besar, seharusnya membangun pabrik sendiri bahkan mengakomodir penambang lain untuk pasok ore,” ujar Meidy.

Pemutusan kontrak dari VDNI itu, dinilai menambah beban penambang lokal yang berada di Sulawesi Tenggara. Sebab, opsi untuk memasok ke pabrik lain akan membutuhkan tambahan biaya pengiriman, sehingga harga jual ore jadi kurang kompetitif.

“Pabrik yang lain kebutuhannya kecil, kalau kita kirim yang jauh kita tambah biaya tongkangnya,” jelas Meidy.

Berdasarkan laporan kinerja semester pertama tahun 2021, Antam mencatatkan produksi bijih nikel sebesar 5,34 juta ton, meningkat 287 persen ddibandingkan periode sebelumnya.

Hingga akhir tahun ini, Antam menargetkan total produksi bijih nikel sebesar 8,44 juta ton, meningkat 77 persen dibandingkan capaian produksi bijih nikel tahun 2020 sebesar 4,76 juta ton.

Menurut SVP Corporate Secretary Antam, Yulan Kustiyan, kenaikan produksi tersebut ditopang oleh pertumbuhan industri pengolahan nikel di dalam negeri. Perusahaan pelat merah ini, mampu menyediakan kualitas produk bijih nikel yang sesuai dengan permintaan pasar.

Selain itu, Antam juga mampu menurunkan biaya tunai atau cash cost sehingga meningkatkan daya saing biaya.

“Perusahaan memiliki komitmen menjaga biaya produksi tetap rendah sehingga daya saing usaha produk Antam tetap positif, dan kualitas produk bijih nikel Antam sesuai dengan kebutuhan pasar domestik,” papar Yulan.

Sumber: tambang.co.id

Read More

Tongkang Antri Panjang di Morosi, PT. OSS Stop Sementara Penerimaan Nickel Ore, PT. Antam Jualan ke Pabrik Jadi Sorotan

NIKEL.CO.ID – Pabrik pemurnian nikel yang beroperasi di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), PT. Obsidian Stainless Stell (OSS) hentikan sementara penerimaan suplai Nickel Ore dari supplier.

Informasi itu diketahui melalui Surat Pemberitahuan PT. OSS Nomor 009/EM-NP/OSS/VII/2021 tertanggal 19 Juli 2021 tentang penambahan waktu penghentian sementara penerimaan Nickel Ore diperpanjang sampai tanggal 31 Juli 2021. Disusul pemebritahuan selanjutnya bahwa penerimaan Nickel Ore belum bisa dilakukan di Bulan Agustus ini.

Ketgam: Surat pemberitahuan PT.OSS.

Alasannya, masih banyaknya antrian tongkang di pelabuhan PT. OSS (kondisi terakhir sekitar 35 tongkang per 19 Juli 2021). Selain itu, dikarenakan kapasitas stockpile yang hampir penuh, serta kondisi cuaca yang menyebabkan menurunnya produktivitas pembongkaran.

Kelebihan suplai yang diterima smelter milik PT. OSS kemudian menyeret nama salah satu perusahaan tambang Nickel terbesar di Sultra, yakni PT. Aneka Tambang Tbk (Antam) yang disinyalir ikut menjual hasil produksinya ke PT. OSS melalui tiga perusahaan trader.

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Himpunan Pemuda Pertambangan Indonesia (HIPPI) melaui siaran persnya menyebutkan, tiga perusahaan yang menjadi trader PT Antam yaitu PT. Mineral Putra Prima (MPP) menjual ore nikel PT. Antam ke PT. OSS, VDNI dan SMI dengan kontrak 3 tahun untuk 1.880.000 MT.

Kemudian PT. Ekasa menjual ore nikel PT. Antam ke OSS, dan SMI dengan kontak 3 tahun sebesar 1.880.000 MT, serta PT. Satya Karya Mandiri) dengan kontrak 3 tahun untuk 4.000.000 MT.

“Kenapa direksi PT Aneka Tambang harus menjual biji nikel ke SMI, OSS dan Virtue Dragon lewat trader MPP, Ekasa dan SKM? Padahal bisa menjual langsung Bukankah jika lewat trader membuat keuntungan perusahaan menjadi jauh berkurang?” ucap Irvan Nadira Nasution, Ketua Advokasi, Hukum dan HAM DPP HIPPI melali siaran persnya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selain itu, DPP HIPPI juga menyoroti terkait terus tertundanya pembangunan Pabrik Feronikel
Halmahera Timur (P3FH) PT. Antam yang tak kunjung selesai.

“Padahal, konstruksi pabrik itu sudah mencapai 97 persen sejak 2019 lalu. Namun pengoperasian
smelter milik Antam ini ternyata masih terus terganjal pasokan listrik. Apakah ini disengaja?,” sambungnya.

Senada, Sekretaris Jendral Asosiasi Penambang Nickel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey juga angkat bicara terkait PT. Antam yang juga menjual bijih nikel ke pabrik. Menurutnya, PT. Antam yang memiliki cadangan bijih nikel yang banyak harusnya mampu membangun pabrik sendiri.

“Ada yang tanya, kenapa Antam menjual ore? Antam punya cadangan yang besar, seharusnya Antam membangun pabrik sendiri seperti Harita yang punya tambang besar tapi tidak menjual ore, bangun pabrik sendiri, bahkan mengakomodir penambang lain untuk suplai ore ke Harita,” kata Meidy kepada media ini, Rabu 4 Agustus 2021.

Sumber : sultrago.id

Read More

Ini 5 Produsen Nikel Terbesar RI, Siapa Jawaranya?

NIKEL.CO.ID – Indonesia dikaruniai ‘harta karun’ nikel yang sangat melimpah, bahkan cadangannya sampai miliaran ton dan merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar dunia.

Besarnya ‘harta karun’ tambang RI ini, tak ayal bila RI bercita-cita menjadi pemain baterai kelas dunia. Pemerintah pun memulainya dengan menghentikan ekspor bijih nikel, dan mendorong investasi hilirisasi nikel.

Bahkan, sejumlah proyek pabrik (smelter) bahan baku baterai dengan nilai investasi mencapai US$ 6,25 miliar atau sekitar Rp 91 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) pun tengah dikembangkan di Tanah Air.

Untuk menggarap proyek pabrik bahan baku baterai tersebut, setidaknya 32 juta ton bijih nikel per tahun dibutuhkan. Ini tentunya menjadi ajang penambang bijih nikel untuk berlomba-lomba meningkatkan produksi bijihnya.

Lantas, siapa saja yang akan diuntungkan dari proyek hilirisasi nikel ini? Siapa saja penambang bijih nikel terbesar di negara ini?

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), berikut daftar lima perusahaan dengan produksi bijih nikel terbesar di Indonesia saat ini:

1. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

PT Vale Indonesia Tbk memiliki sejumlah wilayah tambang nikel di Indonesia, antara lain:

– Blok Soroako, Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dengan status operasi produksi.

– Blok Suasua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.

– Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka dan Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.

– Blok Bahodopi, Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dan Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan), dengan status operasi produksi.

2. PT Bintang Delapan Mineral

Memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Desa Bahomoahi, Bahomotefe, Lalampu, Lele, Dampala, Siumbatu, Bahodopi, Keurea, dan Fatufia, Kecamatan Bungku Tengah dan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dengan status operasi produksi dan luas wilayah 21.695 Ha.

3. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Memiliki sejumlah wilayah tambang, antara lain:

– Pulau Maniang, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Asera dan Molawe, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Maba dan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.

4. PT Makmur Lestari Primatama

Memiliki wilayah tambang di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, dengan luas wilayah tambang 407 Ha.

5. PT Citra Silika Mallawa

Memiliki wilayah tambang di Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara dengan luas wilayah 475 Ha.

Berdasarkan data dari Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM yang dikutip CNBC Indonesia, hari ini, Rabu (07/07/2021), produksi Nickel Pig Iron (NPI) per hari ini mencapai 389.245,40 ton atau 43,20% dari target produksi tahun ini 901.080,00 ton.

Secara rinci, produksi Januari sebesar 68.928,02 ton, lalu naik di bulan Februari menjadi 74.801,70 ton, kembali naik di bulan Maret menjadi 77.923,55 ton. Lalu untuk bulan April turun menjari 73.371,16 ton, Mei naik jadi 80.958,03 ton, dan Juni data terakhir 12.790,99 ton.

Kemudian, produksi feronikel sebesar 760.819,92 ton atau 36,11% dari target produksi tahun ini 2.107.071,00 ton. Secara rinci, produksi bulan Januari sebesar 138.167,76 ton, kemudian naik di Februari menjadi 124.247,79 ton, dan kembali naik di Maret menjadi 141.260,31 ton. Selanjutnya di bulan April turun menjadi sebesar 135.595,81 ton, bulan Mei kembali turun menjadi 128.967,75 ton, dan bulan Juni data terakhir 91.187,25 ton.

Sementara itu, produksi nickel matte sampai saat ini mencapai 38.008,86 ton atau 48,73% dari target 78.000 ton. Secara rinci, produksi pada bulan Januari 6.088,82 ton, kemudian turun di bulan Februari menjadi 5.304,95 ton. Pada bulan Maret naik menjadi 7.703,24 ton, turun di bulan April menjadi 6.826,61 ton, Mei naik lagi jadi 7.657,30 ton, dan Juni data terakhir mencapai 4.427,95 ton.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Terkait Wacana Pembatasan Pembangunan Smelter, Begini Respon ANTAM

NIKEL.CO.ID – Pemerintah dikabarkan bakal mengusulkan pembatasan pembangunan smelter nikel baru kelas dua, yakni untuk feronikel (FeNi) dan Nickel Pig Iron (NPI). Pembatasan pembangunan smelter nikel untuk FeNi dan NPI akan dilakukan setelah 30 smelter, yang sudah masuk dalam hitungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terbangun.

Wacana pembatasan smelter ini ditujukan karena beberapa alasan, antara lain nilai tambah, mengamankan bahan baku untuk pabrik sel baterai, dan menjaga ketahanan cadangan bijih nikel.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), sebagai salah satu produsen feronikel angkat bicara terkait wacana ini. Senior Vice President Corporate Secretary Aneka Tambang, Yulan Kustiyan, menyebut, pada prinsipnya ANTM akan mengikuti sesuai dengan ketentuan yang akan berlaku. Emiten pelat merah ini akan senantiasa memaksimalkan kegiatan operasional dan berupaya memberikan kontribusi secara positif bagi negara.

Yulan menyebut, ANTM senantiasa memperkuat portofolio bisnis melalui pengoptimalan potensi dan sumber daya yang dimiliki. Saat ini, ANTM sedang menjajaki beberapa peluang bisnis dari hulu ke hilir di komoditas nikel, emas, dan bauksit.

Di hulu, saat ini ANTM aktif melakukan kegiatan eksplorasi di wilayah izin usaha pertambangan (IUP) serta tinjauan di beberapa daerah prospek. Dia melanjutkan, dengan komposisi anggota MIND ID saat ini juga membuka kesempatan bagi ANTM untuk bersinergi dalam pengelolaan aset pertambangan nasional untuk mendukung pengembangan hilirisasi bisnis mineral yang terintegrasi.

Untuk diketahui, ANTM saat ini tengah melakukan konstruksi pabrik feronikel di Halmahera Timur (Haltim) line-1 yang memiliki kapasitas 13.500 ton nikel dalam feronikel (TNi). Yulan menyebut, smelter ini telah mencapai progres sebesar 98,18% hingga Mei 2021.

Nantinya, jika pembangunan telah selesai, pabrik FeNi Haltim akan menambah portfolio kapasitas produksi total tahunan ANTM menjadi 40.500 TNi. “Sampai dengan saat ini, dengan ketersediaan listrik yang ada, Perusahaan telah menyelesaikan uji coba tanpa beban (no load test),” terang Yulan

Sebagai gambaran, ANTM mencatatkan produksi feronikel sebesar 6.300 ton nikel dalam feronikel (TNi), relatif sama dengan produksi kuartal I-2020 yakni 6.315 TNi. Tingkat penjualan feronikel ANTM sebesar 5.264 TNi, menurun 17,4% dari penjualan di periode yang sama tahun sebelumnya (6.379 TNi).

Konstituen Indeks Kompas100 ini masih memasang mode optimistis terhadap komoditas nikel. Sebab, nikel menjadi salah satu mineral strategis saat ini. Dengan didukung aplikasinya yang semakin beragam digunakan di dunia industri, nikel tidak lagi sebatas pada material paduan baja tahan karat. Nikel saat ini berkembang dalam aplikasi yang lebih luas lagi sebagai material paduan baterai listrik.

Tingkat permintaan nikel dan pergerakan harga komoditas turut mengikuti tren kebutuhan industri secara global.“Kami optimis, kinerja komoditas nikel Perusashaan di tahun ini akan tetap optimal,” tutup dia.

Sumber: koranbumn.com

Read More

Tahun 2021 Ini, Ada Penambahan Tiga Smelter Nikel

NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan tahun ini akan ada penambahan empat fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) yang mulai beroperasi, terdiri dari tiga smelter nikel dan satu smelter timah.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan, saat ini telah terdapat 23 smelter yang telah beroperasi.

Adapun empat smelter baru yang ditargetkan mulai beroperasi tahun ini antara lain:

1. Smelter Feronikel PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di Halmahera Timur, Maluku Utara

Dia mengatakan, progresnya saat ini sudah mencapai 97,7%. Proyek smelter ini menurutnya terkendala pasokan listrik, sehingga belum bisa beroperasi. Saat ini pihak Antam dikabarkan telah melelang pengadaan listrik.

Diharapkan, imbuhnya, dalam waktu dekat pada Juli 2021, instalasi listrik di smelter tersebut akan rampung.

“Dan mudah-mudahan dalam waktu dekat, Juli, akan selesai instalasi listrik di lokasi tersebut,” ucapnya.

2. Smelter Nikel PT Smelter Nikel Indonesia

Dia mengatakan, saat ini sudah terbangun 100% dan sudah berhasil melakukan uji coba produksi. Namun, kegiatan ini terhenti sementara karena menunggu tambahan dana untuk operasional.

3. Smelter Nikel PT Cahaya Modern Metal Industri di Banten

Dia mengatakan, proyek ini sudah terbangun sebesar 100%, dan sudah mulai produksi.

“Sudah terbangun 100% dan mulai kegiatan produksi dan sudah dikunjungi Komisi VII,” ujarnya.

4. Smelter Prima Citra di Kalimantan Tengah

Dia mengatakan, proyek smelter ini telah terbangun 99,87%. Tapi saat ini masih menunggu tenaga ahli dari China.

“Saat ini tunggu tenaga ahli dari Tiongkok untuk memulai proses smelter, akan datang Juni 2021 ini,” lanjutnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif memaparkan smelter baru yang beroperasi pada 2020 hanya sebanyak dua smelter yakni smelter nikel. Dengan demikian, total smelter nikel yang beroperasi hingga 2020 mencapai 13 smelter.

Sementara smelter untuk komoditas lainnya yakni tembaga tetap tidak berubah dari tahun sebelumnya hanya dua smelter, bauksit dua smelter, besi satu smelter, dan mangan satu smelter. Dengan demikian, pada 2020 terdapat 19 smelter yang telah beroperasi.

Sementara pada 2021, ditargetkan tambahan empat smelter baru sehingga total smelter yang beroperasi akan mencapai 23 smelter. Dari total target 23 smelter beroperasi, di antaranya 16 smelter nikel, dua smelter tembaga, dua smelter bauksit, satu smelter besi, satu smelter mangan, dan satu smelter timbal dan seng.

Sampai dengan 2024 mendatang, pemerintah menargetkan sebanyak 53 smelter beroperasi. Artinya, dibutuhkan 34 smelter baru selama empat tahun mendatang.

Sementara kebutuhan investasi untuk membangun 53 smelter sampai dengan 2024 tersebut yakni mencapai US$ 21,59 miliar. Dengan rincian investasi untuk smelter nikel sebesar US$ 8 miliar, bauksit sebesar US$ 8,64 miliar, besi sebesar US$ 193,9 juta, tembaga US$ 4,69 miliar, mangan sebesar US$ 23,9 juta, serta timbal dan seng sebesar US$ 28,8 juta.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Gandeng 2 Perusahaan Swasta, Antam Tangkap Peluang Genjot Bisnis Nikel

NIKEL.CO.IDPT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau disebut Antam menyatakan perjanjian pendahuluan dengan Alchemist Metal Industry Pte Ltd dan PT Gunbuster Nickel Industry pada 6 Mei 2021 menjadi peluang bisnis baru.

Hal itu terutama mengembangkan bisnis komoditas nikel mulai dari pengembangan proyek penambangan bijih nikel hingga proyek smelter yang menghasilkan feronikel atau nickel pig iron.

PT Aneka Tambang Tbk akan terus fokus ekspansi pengolahan mineral ke hilir, perluasan basis cadangan dan sumber daya, menjalin kemitraan untuk mengembangkan produksi mineral olahan baru dari cadangan yang ada, meningkatkan daya saing biaya, serta peningkatan kinerja bisnis inti untuk meningkatkan pendapatan perusahaan.

“Kerja sama dengan mitra strategis ini akan dilakukan baik di bisnis hulu (bisnis penambangan) dan di bisnis hilir (smelter) melalui proyek pengembangan dan pengoperasian smelter terdiri dari tiga lines dengan masing-masing 45 MVA smelter nikel dan kapasitas pembangkit listrik 135 MV,” ujar SPV Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk, Yulan Kustiyan, saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Minggu (23/5/2021).

Ia menambahkan, perseroan dan mitra sedang diskusi lebih lanjut untuk rencana kerja sama tersebut. Perseroan berharap kerja sama dapat terealisasi sehingga memperkuat portofolio komoditas yang dimiliki.

Selain itu, PT Aneka Tambang Tbk juga menyatatakan terbuka peluang yang mendukung penguatan bisnis komoditas utama perusahaan dari hulu ke hilir yang diharapkan memperkuat pertumbuhan kinerja positif perusahaan dan kontribusi kepada masyarakat.

Saat ditanya mengenai utang jatuh tempo pada sisa tahun 2021, Yulan menuturkan, obligasi seri B Rp 2,1 triliun yang memiliki tenor 10 tahun akan berakhir pada Desember 2021. Perseroan berencana membayar kewajiban obligasi ANTAM Seri B tersebut.

“Perseroan sedang mengkaji mendalam terhadap opsi-opsi yang tersedia yang memberikan tingkat keekonomian yang kompetitif, sejalan dengan upaya Antam untuk menurunkan tingkat beban keuangan perusahaan,” ujar dia.

Strategi 2021

Sebelumnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan kinerja positif sepanjang kuartal I 2021. Hal ini terlihat dari pertumbuhan pendapatan dan kenaikan laba bersih selama tiga bulan pertama 2021.

Melihat hal ini, SVP Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk Yulan Kustiyan menyebut, pihaknya telah menyiapkan strategi khusus sepanjang 2021.

“Pada tahun 2021, Antam berfokus dalam pengembangan basis pelanggan logam mulia di pasar dalam negeri. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berinvestasi emas serta pertumbuhan permintaan emas di pasar domestik,” ujar dia kepada Liputan6.com, Sabtu, 8 Mei 2021.

Yulan menambahkan, kinerja penjualan emas Antam pada kuartal I 2021 mencapai 7.411 kg (238.269 troy oz), meningkat 45 persen dari capaian periode yang sama pada 2020. Sementara itu pada kuartal I 2021, PT Aneka Tambang Tbk mencatatkan total volume produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung sebesar 289 kg (9.292 troy oz).

“Antam terus melakukan inovasi penjualan produk emas logam mulia dengan mengedepankan mekanisme transaksi penjualan dan buyback emas secara online,” ujarnya.

Tak hanya itu, perseroan juga akan memanfaatkan jaringan Butik Emas logam mulia yang tersebar di 11 kota di Indonesia dan kegiatan pameran di beberapa lokasi.

“Antam selalu menjalankan kegiatan operasi dan penjualan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini tentu untuk mencegah penularan virus Covid-19,” tuturnya.

Sumber: liputan6.com

Read More

Antam Olah Slag Nikel Jadi Material Konstruksi

NIKEL.CO.ID – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melakukan pendekatan Reduce-Reuse-Recycle (3R) dalam pengelolaan limbah. Salah satunya, melalui inovasi pemanfaatan kembali (recycle) limbah slag untuk pembuatan material konstruksi di Unit Bisnis Pertambangan Nikel Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

“Kami yakin inovasi ini akan memberikan nilai tambah dan juga membantu pengelolaan lingkungan di sekitar perusaahaan,” ujar Senior Vice President Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk Yulan Kustiyan, Selasa (19/5/2021).

Slag adalah material sisa hasil proses pyrometallurgy pemisahan logam dari bijihnya dalam proses pengolahan feronikel di UBP Nikel Sulawesi Tenggara. Produk hasil pemanfaatan limbah slag di UBP Nikel Sulawesi Tenggara adalah Pomalaa Beton (POTON).

Yulan menerangkan, limbah slag dari Pabrik Feronikel Pomalaa ini difungsikan sebagai road base, yard base, dan bahan-bahan konstruksi beton di lokasi internal UBP Nikel Sulawesi Tenggara seperti fasilitas olahraga karyawan, taman, dan pedestrian.

Pada 2020, produk POTON berupa beton pracetak dimanfaatkan dalam dua bentuk, yakni batako sejumlah 108.385 buah dan paving block sejumlah 585.329 buah, POTON juga digunakan sebagai pengganti agregat (pasir dan kerikil).

“POTON telah mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup Nomor SK 127/MenLHK/Setjen/PLB.3/2/2019 tanggal 11 Februari 2019 tentang Perubahan Atas Keputusan MenLHK Nomor SK.610/MenLHK/Setjen/PLB.3/8/2016 tentang Izin Pengelolaan Limbah B3 Untuk Kegiatan Pemanfaatan B3,” terangnya.

Yulan menambahkan, Antam telah memaksimalkan pemanfaatan limbah sebagai material konstruksi dengan menggunakan kombinasi dari slag dan fly ash bottom ash (FABA). Pada 2020, Pabrik Feronikel Pomalaa menghasilkan slag sebesar 1.138.867,34 ton dan telah dimanfaatkan untuk yard base sebanyak 1.138.753 ton slag (99,99%), serta pemanfaatan untuk POTON sebanyak 114 ton slag (0,01 %).

Selain limbah slag di UBP Nikel Sulawesi Tenggara, lanjut Yulan, Antam juga melakukan inovasi pengelolaan limbah tailing di UBP Emas yang dikembangkan menjadi material pendukung konstruksi ramah lingkungan dengan nama GFA (Green Fine Agregate).

Pemanfaatan material tailing mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup Badan Koordinasi Penanaman Modal berdasarkan SK BKPM No. SK. 424/1/KLJK/2020 tanggal 27 November 2020 dan memiliki sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dirilis oleh Badan Standardisasi Nasional.

Pemanfaatan limbah tailing di lokasi internal perusahaan antara lain untuk kebutuhan konstruksi lantai kerja tambang bawah tanah, dan sebagai campuran bahan konstruksi seperti paving block, batako, bata ringan, conblock, genteng, juga tembok beton. Pada 2020, Antam melakukan pemanfaatan kembali limbah tailing sebanyak 193.873 dmt (dry metric ton) dari 314.017 dmt atau sebesar 61,74% dari totalnya.

Dia menegaskan, Antam berkomitmen untuk mengolah limbah sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar tidak menimbulkan dampak negatif pada lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

“Berbagai bentuk inovasi pengolahan limbah dilakukan untuk dapat memanfaatkan kembali limbah guna menunjang kegiatan operasional perusahaan dan kegunaan lain sehingga mengurangi beban limbah yang dikirimkan ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir),” pungkas Yulan.

Sumber: SindoNews.com

Read More