Tahun 2021 Ini, Ada Penambahan Tiga Smelter Nikel

NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan tahun ini akan ada penambahan empat fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) yang mulai beroperasi, terdiri dari tiga smelter nikel dan satu smelter timah.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan, saat ini telah terdapat 23 smelter yang telah beroperasi.

Adapun empat smelter baru yang ditargetkan mulai beroperasi tahun ini antara lain:

1. Smelter Feronikel PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di Halmahera Timur, Maluku Utara

Dia mengatakan, progresnya saat ini sudah mencapai 97,7%. Proyek smelter ini menurutnya terkendala pasokan listrik, sehingga belum bisa beroperasi. Saat ini pihak Antam dikabarkan telah melelang pengadaan listrik.

Diharapkan, imbuhnya, dalam waktu dekat pada Juli 2021, instalasi listrik di smelter tersebut akan rampung.

“Dan mudah-mudahan dalam waktu dekat, Juli, akan selesai instalasi listrik di lokasi tersebut,” ucapnya.

2. Smelter Nikel PT Smelter Nikel Indonesia

Dia mengatakan, saat ini sudah terbangun 100% dan sudah berhasil melakukan uji coba produksi. Namun, kegiatan ini terhenti sementara karena menunggu tambahan dana untuk operasional.

3. Smelter Nikel PT Cahaya Modern Metal Industri di Banten

Dia mengatakan, proyek ini sudah terbangun sebesar 100%, dan sudah mulai produksi.

“Sudah terbangun 100% dan mulai kegiatan produksi dan sudah dikunjungi Komisi VII,” ujarnya.

4. Smelter Prima Citra di Kalimantan Tengah

Dia mengatakan, proyek smelter ini telah terbangun 99,87%. Tapi saat ini masih menunggu tenaga ahli dari China.

“Saat ini tunggu tenaga ahli dari Tiongkok untuk memulai proses smelter, akan datang Juni 2021 ini,” lanjutnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif memaparkan smelter baru yang beroperasi pada 2020 hanya sebanyak dua smelter yakni smelter nikel. Dengan demikian, total smelter nikel yang beroperasi hingga 2020 mencapai 13 smelter.

Sementara smelter untuk komoditas lainnya yakni tembaga tetap tidak berubah dari tahun sebelumnya hanya dua smelter, bauksit dua smelter, besi satu smelter, dan mangan satu smelter. Dengan demikian, pada 2020 terdapat 19 smelter yang telah beroperasi.

Sementara pada 2021, ditargetkan tambahan empat smelter baru sehingga total smelter yang beroperasi akan mencapai 23 smelter. Dari total target 23 smelter beroperasi, di antaranya 16 smelter nikel, dua smelter tembaga, dua smelter bauksit, satu smelter besi, satu smelter mangan, dan satu smelter timbal dan seng.

Sampai dengan 2024 mendatang, pemerintah menargetkan sebanyak 53 smelter beroperasi. Artinya, dibutuhkan 34 smelter baru selama empat tahun mendatang.

Sementara kebutuhan investasi untuk membangun 53 smelter sampai dengan 2024 tersebut yakni mencapai US$ 21,59 miliar. Dengan rincian investasi untuk smelter nikel sebesar US$ 8 miliar, bauksit sebesar US$ 8,64 miliar, besi sebesar US$ 193,9 juta, tembaga US$ 4,69 miliar, mangan sebesar US$ 23,9 juta, serta timbal dan seng sebesar US$ 28,8 juta.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Gandeng 2 Perusahaan Swasta, Antam Tangkap Peluang Genjot Bisnis Nikel

NIKEL.CO.IDPT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau disebut Antam menyatakan perjanjian pendahuluan dengan Alchemist Metal Industry Pte Ltd dan PT Gunbuster Nickel Industry pada 6 Mei 2021 menjadi peluang bisnis baru.

Hal itu terutama mengembangkan bisnis komoditas nikel mulai dari pengembangan proyek penambangan bijih nikel hingga proyek smelter yang menghasilkan feronikel atau nickel pig iron.

PT Aneka Tambang Tbk akan terus fokus ekspansi pengolahan mineral ke hilir, perluasan basis cadangan dan sumber daya, menjalin kemitraan untuk mengembangkan produksi mineral olahan baru dari cadangan yang ada, meningkatkan daya saing biaya, serta peningkatan kinerja bisnis inti untuk meningkatkan pendapatan perusahaan.

“Kerja sama dengan mitra strategis ini akan dilakukan baik di bisnis hulu (bisnis penambangan) dan di bisnis hilir (smelter) melalui proyek pengembangan dan pengoperasian smelter terdiri dari tiga lines dengan masing-masing 45 MVA smelter nikel dan kapasitas pembangkit listrik 135 MV,” ujar SPV Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk, Yulan Kustiyan, saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Minggu (23/5/2021).

Ia menambahkan, perseroan dan mitra sedang diskusi lebih lanjut untuk rencana kerja sama tersebut. Perseroan berharap kerja sama dapat terealisasi sehingga memperkuat portofolio komoditas yang dimiliki.

Selain itu, PT Aneka Tambang Tbk juga menyatatakan terbuka peluang yang mendukung penguatan bisnis komoditas utama perusahaan dari hulu ke hilir yang diharapkan memperkuat pertumbuhan kinerja positif perusahaan dan kontribusi kepada masyarakat.

Saat ditanya mengenai utang jatuh tempo pada sisa tahun 2021, Yulan menuturkan, obligasi seri B Rp 2,1 triliun yang memiliki tenor 10 tahun akan berakhir pada Desember 2021. Perseroan berencana membayar kewajiban obligasi ANTAM Seri B tersebut.

“Perseroan sedang mengkaji mendalam terhadap opsi-opsi yang tersedia yang memberikan tingkat keekonomian yang kompetitif, sejalan dengan upaya Antam untuk menurunkan tingkat beban keuangan perusahaan,” ujar dia.

Strategi 2021

Sebelumnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan kinerja positif sepanjang kuartal I 2021. Hal ini terlihat dari pertumbuhan pendapatan dan kenaikan laba bersih selama tiga bulan pertama 2021.

Melihat hal ini, SVP Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk Yulan Kustiyan menyebut, pihaknya telah menyiapkan strategi khusus sepanjang 2021.

“Pada tahun 2021, Antam berfokus dalam pengembangan basis pelanggan logam mulia di pasar dalam negeri. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berinvestasi emas serta pertumbuhan permintaan emas di pasar domestik,” ujar dia kepada Liputan6.com, Sabtu, 8 Mei 2021.

Yulan menambahkan, kinerja penjualan emas Antam pada kuartal I 2021 mencapai 7.411 kg (238.269 troy oz), meningkat 45 persen dari capaian periode yang sama pada 2020. Sementara itu pada kuartal I 2021, PT Aneka Tambang Tbk mencatatkan total volume produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung sebesar 289 kg (9.292 troy oz).

“Antam terus melakukan inovasi penjualan produk emas logam mulia dengan mengedepankan mekanisme transaksi penjualan dan buyback emas secara online,” ujarnya.

Tak hanya itu, perseroan juga akan memanfaatkan jaringan Butik Emas logam mulia yang tersebar di 11 kota di Indonesia dan kegiatan pameran di beberapa lokasi.

“Antam selalu menjalankan kegiatan operasi dan penjualan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini tentu untuk mencegah penularan virus Covid-19,” tuturnya.

Sumber: liputan6.com

Read More

Antam Olah Slag Nikel Jadi Material Konstruksi

NIKEL.CO.ID – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melakukan pendekatan Reduce-Reuse-Recycle (3R) dalam pengelolaan limbah. Salah satunya, melalui inovasi pemanfaatan kembali (recycle) limbah slag untuk pembuatan material konstruksi di Unit Bisnis Pertambangan Nikel Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

“Kami yakin inovasi ini akan memberikan nilai tambah dan juga membantu pengelolaan lingkungan di sekitar perusaahaan,” ujar Senior Vice President Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk Yulan Kustiyan, Selasa (19/5/2021).

Slag adalah material sisa hasil proses pyrometallurgy pemisahan logam dari bijihnya dalam proses pengolahan feronikel di UBP Nikel Sulawesi Tenggara. Produk hasil pemanfaatan limbah slag di UBP Nikel Sulawesi Tenggara adalah Pomalaa Beton (POTON).

Yulan menerangkan, limbah slag dari Pabrik Feronikel Pomalaa ini difungsikan sebagai road base, yard base, dan bahan-bahan konstruksi beton di lokasi internal UBP Nikel Sulawesi Tenggara seperti fasilitas olahraga karyawan, taman, dan pedestrian.

Pada 2020, produk POTON berupa beton pracetak dimanfaatkan dalam dua bentuk, yakni batako sejumlah 108.385 buah dan paving block sejumlah 585.329 buah, POTON juga digunakan sebagai pengganti agregat (pasir dan kerikil).

“POTON telah mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup Nomor SK 127/MenLHK/Setjen/PLB.3/2/2019 tanggal 11 Februari 2019 tentang Perubahan Atas Keputusan MenLHK Nomor SK.610/MenLHK/Setjen/PLB.3/8/2016 tentang Izin Pengelolaan Limbah B3 Untuk Kegiatan Pemanfaatan B3,” terangnya.

Yulan menambahkan, Antam telah memaksimalkan pemanfaatan limbah sebagai material konstruksi dengan menggunakan kombinasi dari slag dan fly ash bottom ash (FABA). Pada 2020, Pabrik Feronikel Pomalaa menghasilkan slag sebesar 1.138.867,34 ton dan telah dimanfaatkan untuk yard base sebanyak 1.138.753 ton slag (99,99%), serta pemanfaatan untuk POTON sebanyak 114 ton slag (0,01 %).

Selain limbah slag di UBP Nikel Sulawesi Tenggara, lanjut Yulan, Antam juga melakukan inovasi pengelolaan limbah tailing di UBP Emas yang dikembangkan menjadi material pendukung konstruksi ramah lingkungan dengan nama GFA (Green Fine Agregate).

Pemanfaatan material tailing mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup Badan Koordinasi Penanaman Modal berdasarkan SK BKPM No. SK. 424/1/KLJK/2020 tanggal 27 November 2020 dan memiliki sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dirilis oleh Badan Standardisasi Nasional.

Pemanfaatan limbah tailing di lokasi internal perusahaan antara lain untuk kebutuhan konstruksi lantai kerja tambang bawah tanah, dan sebagai campuran bahan konstruksi seperti paving block, batako, bata ringan, conblock, genteng, juga tembok beton. Pada 2020, Antam melakukan pemanfaatan kembali limbah tailing sebanyak 193.873 dmt (dry metric ton) dari 314.017 dmt atau sebesar 61,74% dari totalnya.

Dia menegaskan, Antam berkomitmen untuk mengolah limbah sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar tidak menimbulkan dampak negatif pada lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

“Berbagai bentuk inovasi pengolahan limbah dilakukan untuk dapat memanfaatkan kembali limbah guna menunjang kegiatan operasional perusahaan dan kegunaan lain sehingga mengurangi beban limbah yang dikirimkan ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir),” pungkas Yulan.

Sumber: SindoNews.com

Read More

Corporate Credit Rating S&P Global Antam Naik Menjadi B+/outlook stabil

NIKEL.CO.ID – PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) mengumumkan  kenaikan Corporate Credit Rating S&P Global tahun 2021 dari rating “B/outlook stabil” menjadi rating “B+/outlook stabil” seiring dengan pertumbuhan kinerja produksi dan penjualan komoditas utama serta keberlanjutan dalam pengembangan hilirisasi Perusahaan, yang tercermin dari pertumbuhan kinerja keuangan Perusahaan yang solid.

Dikutip dari informasi yang diperoleh industry.co.id, Selasa (18/5/2021) menyebutkan, pertumbuhan rating Perusahaan turut didukung oleh outlook pertumbuhan kinerja produksi dan penjualan bijih nikel di pasar domestik serta kemampuan ANTAM dalam mengelola likuiditas perusahaan.

ANTAM menargetkan pertumbuhan kinerja operasi dan keuangan yang semakin positif pada tahun 2021. Sepanjang Triwulan Pertama tahun 2021 (1Q21), ANTAM mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid, tercermin dari capaian Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) pada 1Q21 sebesar Rp1,24 triliun, meningkat signifikan dibandingkan capaian EBITDA pada Triwulan Pertama Tahun 2020 (1Q20) sebesar Rp34,13 miliar.

Pertumbuhan profitabilitas ANTAM pada 1Q21 tercermin pada capaian laba kotor sebesar Rp1,63 triliun, tumbuh 189% dari capaian laba kotor pada 1Q20 sebesar Rp561,82 miliar.

Sementara itu capaian laba usaha Perusahaan pada 1Q21 tercatat sebesar Rp793,89 miliar, melonjak 477% dibandingkan 1Q20 sebesar Rp137,54 miliar. Pertumbuhan positif laba kotor dan laba usaha mendukung capaian laba tahun berjalan 1Q21 ANTAM sebesar Rp630,38 miliar, naik dari rugi 1Q20 sebesar Rp281,84 miliar.

Capaian kinerja positif tersebut merupakan hasil dari penerapan protokol kesehatan yang tepat dan konsisten di tengah pandemi Covid-19. Selain itu, peningkatan nilai tambah produk, optimalisasi tingkat produksi & penjualan, serta implementasi pengelolaan biaya yang tepat dan efisien memberikan kontribusi yang mendukung pertumbuhan kinerja positif Perusahaan.

Pada tahun 2021, ANTAM menargetkan pertumbuhan produksi dan penjualan komoditas utama Perusahaan yakni feronikel, emas, bijih nikel, bijih bauksit dan alumina sejalan dengan strategi ANTAM untuk meningkatkan utilisasi operasi tambang dan pabrik pengolahan serta ekspektasi peningkatan jangkauan pemasaran komoditas.

ANTAM senantiasa mengevaluasi seluruh kesempatan yang ada saat ini maupun peluang yang ada di masa depan sejalan dengan upaya ANTAM untuk terus bertumbuh dan memberikan imbal hasil yang positif kepada para pemegang saham dan pemangku kepentingan.

Sumber: industry.co.id

Read More

Antam Siap Kembangkan Bisnis Pemurnian Nikel

NIKEL.CO.ID –  PT Aneka Tambang Tbk (Antam), anggota Anggota BUMN Holding Pertambangan MIND ID, menandatangani Perjanjian Pendahuluan (Heads of Agreement) Pengembangan Bisnis Pemurnian Nikel bersama Alchemist Metal Industry Pte, Ltd. & PT Gunbuster Nickel Industry pada 6 Mei 2021.

Penandatanganan perjanjian disaksikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir dan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, dan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Ridwan Jamaluddin.

Perjanjian ini menandai inisiasi ekosistem bisnis pemurnian nikel baru bagi perusahaan di Konawe Utara dan Morowali Utara, Sulawesi Tenggara.

Selain itu, hal ini juga menjadi tonggak sejarah baru Grup MIND ID dalam memaksimalkan nilai tambah sumber daya nikel.

“Dalam mewujudkan transformasi ekonomi Indonesia, orientasi hilirisasi menjadi aspek yang penting karena mampu mendatangkan investasi. Kerjasama ini merupakan hal positif bagi Antam sebagai perusahaan yang berpengalaman di bidang pertambangan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas nikel” ujar Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dalam keterangan resmi.

Senada, Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury mengungkapkan langkah ini sejalan dengan arahan pemerintah agar perusahaan terus melakukan hilirisasi untuk mewujudkan transformasi ekonomi Indonesia ke depan.

“Kerja sama antara Antam dan mitra merupakan kolaborasi win-win, sehingga penanaman modal yang masuk ke Indonesia menjadi kontributor pendorong transformasi ekonomi. Dalam empat tahun mendatang, BUMN industri tambang diharapkan menjadi salah satu anchor untuk mendatangkan investasi ke Indonesia,” ujar Pahala.

Grup CEO MIND ID Orias Petrus Moedak mengugkapkan Antam memiliki portofolio nikel yang solid dan berpengalaman lebih dari lima dekade dalam mengelola mineral nikel dari hulu ke hilir. Sementara, mitra yang bekerjasama dalam perjanjian ini memiliki teknologi pemrosesan dan pemurnian yang diperlukan sekaligus menyerap produk olahan nikel yang dihasilkan.

“Ekosistem ini merupakan peluang bisnis baru bagi Antam mulai dari pengembangan proyek penambangan bijih nikel hingga proyek smelter yang menghasilkan feronikel atau nickel pig iron” jelasnya.

Kerja sama dengan mitra strategis ini memungkinkan Antam untuk mendapatkan manfaat yang optimal karena para pihak akan berperan sesuai porsi kepemilikan saham baik di bisnis hulu (penambangan) dan di bisnis hilir (smelter).

Di hulu, perusahaan akan bekerjasama dengan mitra untuk melakukan operasi penambangan. Hasil produksi bijih nikel akan di jual ke smelter sesuai dengan harga patokan mineral. Di hilir, Antam akan memiliki saham pada proyek smelter ketika pabrik beroperasi secara komersial.

Sebagai informasi, proyek pengembangan dan pengoperasian smelter terdiri dari tiga lines dengan masing-masing 45 MVA smelter nikel dan kapasitas pembangkit listrik 135 MW.

Ke depan, holding pertambangan pelat merah akan terus berfokus pada ekspansi pengolahan mineral ke hilir, perluasan basis cadangan dan sumber daya, dan menjalin kemitraan untuk mengembangkan produksi mineral olahan baru dari cadangan yang ada.

Sumber: CNN Indonesia

Read More

Penjualan Tembus Rp9,21 Triliun, Antam Peroleh Laba Bersih Rp630,37 Miliar Pada Q1 2021

NIKEL.CO.ID – PT Aneka Tambang Tbk (JK:ANTM) mencatatkan kinerja yang cemerlang pada kuartal pertama tahun ini. Berdasarkan laporan keuangan perseroan di laman Bursa Efek Indonesia, Antam berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp9,21 triliun. Capaian tersebut meroket dibandingkan dengan kinerja di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,20 triliun.

Penjualan produk emas di kuartal I tercatat sebesar Rp6,58 triliun atau 72% dari total penjualan, naik dari Rp3,97 triliun pada Q1 2020. Kemudian, penjualan feronikel juga tumbuh dari Rp965,95 miliar menjadi Rp1,22 triliun pada akhir Maret 2021. Di kuartal ini, Antam juga mencatatkan penjualan bijih nikel yang mencapai Rp950 miliar.

Seiring dengan naiknya penjualan, maka beban pokok penjualan Antam juga naik secara tahunan. Pada Q1 2020, beban pokok penjualan tercatat Rp4,64 triliun dan naik menjadi Rp7,58 triliun pada akhir kuartal I tahun ini. Kenaikan terbesar terjadi di pos biaya produksi yakni pembelian logam mulia yang tercatat sebesar Rp5,69 triliun.

“Pandemi COVID-19 telah menyebabkan ketidakpastian yang signifikan. Dampak menengah maupun jangka panjang dari pandemi ini terhadap operasi dan kinerja keuangan Grup sulit diperkirakan saat ini,” jelas manajemen Antam dalam laporan keuangannya.

Pada Q1 2020, Antam mencatatkan rugi bersih sebesar Rp281,83 miliar. Namun, di tengah pandemi COVID-19, kinerja Antam tumbuh di tahun ini. Pada akhir kuartal I 2021, Antam berhasil meningkatkan pendapatan dan menekan beberapa pos biaya sehingga dapat mencatatkan laba bersih sebesar Rp630,37 miliar.

Sebagai informasi, selama periode Januari-Maret 2021, harga saham Antam bergerak di kisaran Rp2.170 – Rp3.190 per saham dan kapitalisasi pasar pada akhir Maret mencapai Rp54,07 triliun.

Sumber: investing,com

Read More

Optimisme Antam & Vale di Tengah Pelemahan Harga Nikel

NIKEL.CO.ID – Harga komoditas nikel dibayangi sejumlah sentimen negatif yang terus memacu koreksi yang signifikan.  Harga nikel, terekam mengalami koreksi tajam yang dimulai pada akhir bulan Maret. Sejumlah pengamat memperkirakan, kondisi tersebut dipicu oleh sentimen dari China.

Seperti diketahui, Perdana Menteri China Li Keqiang sempat menekankan pentingnya perbaikan regulasi di pasar bahan mentah, termasuk nikel.

Adapun, saat ini, harga nikel telah berada di level terendahnya lebih dari dua pekan menyusul sikap investor yang mempertimbangkan potensi penambahan pasokan dari Filipina.

Filipina merupakan salah satu negara eksportir bijih nikel utama untuk China. Hal ini terjadi di tengah terbatasnya pasokan akibat terhentinya kegiatan pada sejumlah tambang nikel karena pembatasan terkait dampak lingkungan.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (20/4/2021) harga nikel di bursa Shanghai, China sempat terkoreksi hingga 2,2 persen ke US$16.010 per metrik ton.

Capaian tersebut merupakan posisi terendah nikel sejak 1 April lalu. Sementara itu, harga nikel pada London Metal Exchange (LME) terpantau turun tipis 0,01 persen ke level US$16.363 per metrik ton. Secara year to date (ytd), harga komoditas ini telah terkoreksi sebesar 1,50 persen.

Sebagai buntutnya, emiten-emiten Tanah Air yang berkaitan dengan bisnis nikel tidak menutup kemungkinan terdampak. Sebut sajai PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Harum Energy Tbk. (HRUM), dan PT Trinitan Metals and Minings Tbk. (PURE).

Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan level harga nikel pada US$16.000 masih di atas proyeksi perseroan tahun lalu.

“Jadi semua aktivitas dan kegiatan operasional kami sudah mengantipasi harga nikel yang lebih rendah dari harga aktual saat ini,” kata Bernardus kepada Bisnis, Selasa (20/4/2021).

Justru, menurutnya yang lebih berpengaruh adalah naiknya harga komoditas utama seperti minyak dan batu bara. Dia mengatakan, kenaikan tersebut dapat memberikan beban tambahan ke biaya operasional perseroan.

“Jadi kami harus memastikan konsumsi komoditas energi per unit efektif dari waktu ke waktu,” katanya.

Selain itu, lanjut Bernardus, INCO juga mengupayakan peningkatan produktivitas & efisiensi, serta perbaikan berkelanjutan, agar kualitas tetap terjaga.

Dalam keterangan resminya, emiten pertambangan tersebut telah mengumumkan penurunan produksi nikel dalam matte pada kuartal I/2021 sejumlah 15.198 ton.

CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia Nico Kanter menyampaikan perseroan memproduksi nikel dalam matte sejumlah 15.198 ton pada kuartal I/2021. INCO mampu memertahankan kinerja operasionalnya.

“Pada kuartal I/2021, Vale Indonesia berhasil memertahankan keandalan operasionalnya, setelah upaya menangani pandemi Covid-19 yang semakin terarah,” paparnya.

Produksi nikel dalam matte pada 3 bulan pertama 2021 itu turun 8 persen dan 14 persen dibandingkan kuartal IV/2020 dan kuartal I/2020. Pada kuartal IV/2020, INCO memproduksi 16.445 ton, sedangkan kuartal I/2020 sejumlah 17,614 ton.

Nico menjelaskan penurunan produksi pada awal 2021 disebabkan karena adanya aktivitas pemeliharaan. Target produksi INCO pada 2021 sejumlah 64.000 ton, di mana perseroan merencanakan membangun kembali salah satu tanur listrik.

Optimisme Antam

Sementara itu, SVP Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) Kunto Hendrapawoko mengatakan saat ini bisnis nikel perusahaan masih on track. Perusahaan memiliki komitmen menjaga biaya produksi tetap rendah sehingga daya saing usaha produk tetap terjaga positif ditengah volatilitas harga komoditas internasional.

Dia optimistis kinerja komoditas bisnis nikel Antam akan tetap optimal pada tahun ini. Hal itu diperoleh melalui strategi yang selektif dan cermat dengan mengedepankan skala prioritas dalam penyusunan rencana belanja modal.

“Guna memacu kinerja komoditas nikel, Antam akan senantiasa melakukan evaluasi dan juga melihat perkembangan bisnis, dalam hal ini bisnis nikel global,” tambahnya.

Seperti diketahui, ANTM memiliki kontribusi pendapatan dari penjualan bijih nikel pada 2020 tercatat sebesar Rp1,87 triliun atau 7 persen dari total penjualan bersih perusahaan. Penerimaan pasar domestik atas produk nikel Antam tercatat positif pada 2020.

Adapun, nilai penjualan produk segmen nikel Antam di pasar dalam negeri tahun lalu mencapai Rp1,87 triliun, tumbuh 93 persen dibandingkan penjualan domestik segmen nikel tahun 2019 sebesar Rp968,16 miliar.

Performa positif kinerja segmen nikel Antam pada 2020 tecermin dari perolehan laba usaha segmen sebesar Rp2,22 triliun dan laba tahun berjalan segmen nikel sebesar Rp1,92 triliun.

Head Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetyo mengatakan, harga nikel masih memiliki ruang untuk bergerak naik sepanjang tahun ini.

Untuk dalam negeri, pemerintah terus berupaya dalam pengembangan dan mendukung penerapan teknologi mobil bertenaga listrik. Salah satunya dalam pembentukan holding perusahaan pabrik listrik milik BUMN.

“Juga kualitas nikel Indonesia dirasa jauh lebih baik dan terintergrasi. Walaupun ada juga kekhatiran jika harga nikel bakal terkoreksi lagi akibat kemungkinan bertambahnya pasokan nikel dari Filipina. Namun produsen nikel Indonsia jauh hari telah bersiap untuk menyonsong era mobil listrik,” jelasnya.

Dia mengatakan untuk emiten penghasilan nikel Indonesia seperti INCO dan ANTM, perlemahan harga nikel memang mungkin bakal menggerus kinerja pada laporan kuartal mendatang.

Frankie menilai, dengan terintegrasinya rantai industri nikel dan juga dorongan pemerintah untuk melakukan penambahan nilai tambah pada nikel mentah, maka pendapatan emiten nikel nantinya dapat terjaga. Kondisi itu menurutnya akan tetap terjadi walaupun harga komoditas nikel sedang turun.

Dari sisi saham, harga saham INCO dan ANTM masih cukup menarik meskipun saat ini keduanya telah mengalami koreksi akibat penurunan harga nikel global. Selain itu, sentimen nikel juga sudah mulai meredup setelah memuncak akibat wacana Tesla yang dulu sempat digadang-gadang akan masuk Indonesia.

Namun, menurutnya keseriusan pemerintah dalam mendukung dan mengembangkan baterai untuk mobil listrik, bakal menopang harga saham emiten-emiten tersebut untuk ke dapannya. Apalagi China saat ini telah mulai memproduksi mobil listriknya sendiri. Kondisi itu diperkirakannya membuat kebutuhan nikel bakal naik ke depannya. 

“Harga saham INCO secara teknikal memiliki support di level Rp4.000 dengan target harga di kisaran Rp6.000. Sedangkan untuk ANTM memiliki support kuat di level Rp2.100 dengan target Rp2.500-Rp3.000,” jelasnya.

Analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu menambahkan pelemahan harga komoditas nikel diperkirakan merupakan efek dari kenaikan suplai nikel di China yang menekan harga.

“Meski demikian, secara jangka panjang kami menilai komoditas nikel masih cukup prospektif seiring demand yang masih kuat serta penggunaannya untuk berbagai industri seperti baja dan mobil listrik,” jelasnya.

Untuk itu, Dessy masih merekomendasikan buy saham ANTM menjadi top picks di sektor pertambangan dengan target harga Rp3.230.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Optimisme Antam (ANTM) & Vale (INCO) di Tengah Pelemahan Harga“.

Read More

Antam Bagi Dividen Rp 402,27 M & Rombak Nomenklatur Dua Direksi

NIKEL.CO.ID – Emiten pertambangan BUMN, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memutuskan membagikan dividen tunai sebesar 35% dari laba bersih perseroan untuk tahun buku 2020 atau sebesar Rp 402,27 miliar. Sementara sisa sebesar 65% atau Rp 747,08 miliar sebagai saldo laba.

Hal ini disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan hari ini. Jumlah dividen tunai tersebut meningkat dari tahun buku 2019 senilai Rp 67,84 miliar atau dengan rasio 35% dari perolehan laba bersih perseroan.

“Kebijakan dividen telah disetujui, Antam akan membagikan dividen sebesar 35 persen dari laba bersih 2020,” kata Sekretaris Perusahaan Antam, Kunto Purwoko, dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (7/4/2021).

Seperti diketahui, berdasarkan kebijakan pembagian dividen ini mengacu pada penawaran umum perdana saham perseroan tahun 1997 lalu yang menetapkan pembagian dividen minimal sebesar 30% dari laba bersih.

Sepanjang tahun 2020, perseroan membukukan perolehan laba bersih Rp 1,14 triliun, naik 492,90% dari perolehan laba bersih di periode yang sama tahun sebelumnya Rp 193,85 miliar. Nilai laba bersih per saham ikut naik tajam ke angka Rp 47,83/saham dari sebelumnya di akhir 2019 yang senilai Rp 8,07/saham.

Padahal kinerja pendapatan mengalami penurunan 16,33% YoY menjadi senilai Rp 27,37 triliun dari posisi 31 Desember 2019 yang senilai Rp 32,71 triliun. Kendati pendapatan turun, namun perusahaan berhasil menurunkan angka beban pokok penjualan menjadi Rp 22,89 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 28,27 triliun.

Selain membagikan dividen, rapat juga menyetujui perombakan pengurus. Pemegang saham memberhentikan Aprilandi Hidayat Setia dari jabatannya sebagai Direktur Niaga dan Hartono sebagai Direktur Operasi dan Produksi efektif sejak tanggal RUPS Tahunan hari ini.

Tak hanya itu, dalam keputusan RUPS, pemegang saham juga mengubah nomenklatur jabatan anggota direksi. Pertama, untuk Direktur Keuangan diubah menjadi Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko. Kedua, perubahan nomenklatur dari Direktur Operasi dan Produksi menjadi Direktur Operasi dan Transformasi Bisnis.

Berikut ini susunan Direksi Antam yang baru:

  • Direktur Utama: Dana Amin
  • Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko: Anton Herdianto
  • Direktur SDM: Luki Setiawan Suardi
  • Direktur Operasi Operasi dan Transformasi Bisnis: Risono.

Sumber: CNBC Indonesia

 

Read More

Menakar Potensi Ekspor Mineral Pasca Relaksasi Diberikan

NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan relaksasi ekspor mineral selama masa pandemi covid-19 akan diberikan kepada perusahaan yang mengajukan permohonan relaksasi dan dianggap memenuhi ketentuan.

“Tergantung yang mengajukan untuk kuotanya dan maksimum sesuai batasan di peraturan perundang-undangan,” kata Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian ESDM Sugeng Mujianto kepada Kontan.co.id, Rabu (24/3/2021).

Sejauh ini, tercatat PT Freeport Indonesia (PTFI) telah memperoleh rekomendasi kuota ekspor konsentrat tembaga untuk satu tahun ke depan.

Vice President Corporate Communication PT Freeport Indonesia (PTFI) Riza Pratama mengungkapkan pihaknya menyambut baik langkah pemerintah mengeluarkan izin ekspor untuk satu tahun ke depan.

“Kuota ekspor 2 juta ton konsentrat, PTFI berkomitmen untuk terus memberikan nilai tambah bagi Indonesia dalam berbagai cara,” ungkap Riza, Selasa (23/3).

Dalam catatan Kontan.co.id, rekomendasi ini meningkat dari tahun lalu yang mencapai 1.069.000 wet ton konsentrat tembaga yang diberikan pada 16 Maret 2020 untuk satu tahun. Adapun sebelumnya pada tahun 2019 PTFI hanya mengantongi kuota ekspor sebanyak 746.953 wet ton konsentrat tembaga.

Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memastikan saat ini pengerjaan proyek Pabrik Feronikel Haltim yang telah mencapai kemajuan konstruksi sebesar 98%.

VP Corporate Secretary Aneka Tambang Kunto Hendrapawoko mengungkapkan, saat ini Antam juga berfokus pada pembangunan pabrik Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat. Kedua proyek smelter tersebut telah memenuhi target yang telah ditetapkan ESDM.

“Dalam hal pengembangan komoditas bauksit, saat ini ANTAM terus berfokus pada pembangunan pabrik Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat bekerjasama dengan PT INALUM (Persero) yang memiliki kapasitas pengolahan sebesar 1 juta ton SGA per tahun (Tahap 1),” ujar Kunto kepada Kontan.co.id, Selasa malam (23/3/2021).

Dengan capaian tersebut, Kontan.co.id mencatat ANTM mendapatkan persetujuan ekspor mineral logam untuk penjualan ekspor bijih bauksit tercuci dengan kadar Al2O3 =42% sebesar 1,89 juta wet metric ton (wmt) untuk periode 2021-2022.

ANTM, anggota indeks Kompas100 ini memperoleh izin ekspor atas pelaksanaan proyek hilirisasi pabrik Smelter Grad Alumina Refinery (SGAR).

Kunto menyebut, izin ekspor mineral ini melengkapi izin ekspor bijih bauksit yang telah dimiliki ANTM sebelumnya, yakni sebesar 840.000 wmt atas kepemilikan pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) di Tayan.

Dia menambahkan, dengan adanya persetujuan ekspor mineral logam untuk penjualan ekspor  bijih bauksit ini, akan memperkuat daya saing Aneka Tambang di pasar bauksit.

“Hingga saat ini, Tiongkok merupakan negara yang menjadi tujuan ekspor bauksit ANTM,” ujar Kunto beberapa waktu lalu.

Sumber: KONTAN

Read More

Laba Bersih Antam Melonjak 492% Menjadi Rp 1,14 Triliun

NIKEL.CO.ID – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan lonjakan laba besih pada akhir tahun 2020 sebesar 492% menjadi Rp 1,14 triliun, dibandingkan perolehan pada akhir tahun 2019 Rp 193,85 miliar.

Dalam paparan kinerja keuangannya, Senin (15/3), penjualan perseroan justru turun 16,33% menjadi Rp 27,37 triliun hingga akhir 2020, dibandingkan periode sama tahun 2019 senilai Rp 32,71 triliun.

Peningkatan laba bersih tersebut didukung penurunan beban pokok penjualan juga menjadi Rp 22,89 triliun atau turun 19,01% dari sebelumnya Rp 28,27 triliun. Alhasil laba kotor perseroan sebesar Rp 4,47 triliun atau naik 0,64% dari semula Rp 4,44 triliun.

Jumlah beban usaha perseroan sepanjang tahun 2020 juga turun 30,01% menjadi Rp 2,44 triliun, dibandingkan periode 31 Desember 2019 yang mencatatkan sejumlah Rp 3,49 triliun. Raihan ini diperoleh dari beban umum dan administrasi sebesar Rp 1,91 triliun serta beban penjualan dan pemasar sejumlah Rp 533,06 miliar pada akhir tahun 2020.

Lebih lanjut, laba usaha perseroan sebesar Rp 2,03 triliun atau naik 112% dari akhir tahun 2019 yang mencatatkan sejumlah Rp 955,61 miliar. Sementara laba sebelum pajak penghasilan dicatatkan sebesar Rp 1,64 triliun atau naik 138% dari sebelumnya Rp 687,03 miliar Sedangkan total aset perseroan hingga 31 Desember 2020 mencapai Rp 31,72 triliun, naik 5,08% dari 31 Desember 2019 yakni Rp 30,19 triliun.

Sedangkan liabilitas sebesar Rp 12,69 triliun, naik 5,21% dari semula Rp 12,06 triliun dan total ekuitas naik 4,99% menjadi Rp 19,03 triliun dari sebelumnya Rp 18,13 triliun.

Di sisi lain, perseroan memproyeksikan kinerja produksi maupun komoditas tumbuh positif pada 2021. Untuk jenis produk feronikel, pihaknya menargetkan volume produksi dan penjualan mencapai 26,000 ton nikel (TNi). Jumlah ini relatif stabil apabila dibandingkan dengan capaian produksi dan penjualan pada tahun 2020 lalu yakni masing-masing sebesar 25,970 TNi dan 26,163 TNi.

“Target produksi tersebut sejalan dengan optimalisasi yang perseroan lakukan pada produksi Feronikel Pomalaa di pabrik yang berlokasi di Sulawesi Tenggara,” jelas Sekretaris perusahaan Aneka Tambang Kunto Hendrapawoko dalam keterangan resmi.

Untuk komoditas bijih nikel, Aneka Tambang menargetkan total produksi mencapai 8,44 juta wet metric ton (WMT). Peningkatan ini nantinya akan digunakan oleh perseroan sebagai bahan baku pabrik feronikel dan juga mendukung penjualan kepada pelanggan domestik.

Adapun, pihaknya menargetkan komoditas bijih nikel pada tahun ini dapat terjual sebanyak 6,71 wmt, atau naik 104% dibandingkan penjualan di tahun 2020 yaitu 3,30 juta wmt (unaudited). Membaiknya outlook pertumbuhan industri pengolahan nikel dalam negeri menjadi sebab perseroan meningkatkan target penjualannya.

Kemudian, pada komoditas ketiga yakni emas, Aneka Tambang memproyeksikan produksi mencapai 1,37 ton emas yang akan dikontribusi dari tambang emas Pongkor dan Cibaliung yaitu 18 ton. Untuk memuluskan rencana itu, perseroan berfokus pada pengembangan basis pelanggan logam mulia di pasar dalam negeri.

“Target tersebut meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat dalam berinvestasi pada emas dan pertumbuhan permintaan emas di pasar domestik yang terus naik.” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul “Laba Bersih Antam Melonjak 492% Menjadi Rp 1,14 Triliun

Read More