Saham-saham Nikel Masih Kuat Nanjak, Ada Apa Gerangan?

NIKEL CO.ID – Setelah mayoritas menguat pada perdagangan Jumat (16/7) pekan lalu, saham emiten tambang nikel bergerak beragam dengan kecenderungan menguat pada perdagangan pagi ini, Senin (19/7/2021).

Pergerakan saham nickel ini terjadi di tengah kenaikan harga komoditas nikel dalam sepekan lalu.

Berikut pergerakan saham nikel, pukul 10.27 WIB:

  • Harum Energy (HRUM), saham +3,08%, ke Rp 5.850, transaksi Rp 29 M
  • Pelat Timah Nusantara (NIKL), +1,39%, ke Rp 1.095, transaksi Rp 152 juta
  • Aneka Tambang (ANTM), +1,15%, ke Rp 2.650, transaksi Rp 74 M
  • Timah (TINS), +0,88%, ke Rp 1.710, transaksi Rp 23 M
  • Central Omega Resources (DKFT), +0,69%, ke Rp 146, transaksi Rp 160 juta
  • Trinitan Metals and Minerals (PURE), 0,00%, ke Rp 96, transaksi Rp 174 juta
  • Vale Indonesia (INCO), -0,47%, ke Rp 5.325, transaksi Rp 29 M
  • PAM Mineral (NICL), -6,76%, ke Rp 276, transaksi Rp 30 M.

Menurut data di atas, dari 8 saham yang diamati, 5 saham menguat, 1 saham stagnan, dan 2 saham anjlok.

Saham emiten milik taipan Kiki Barki, HRUM, memimpin penguatan dengan naik 3,08% ke Rp 5.850/saham, melanjutkan kenaikan pada Jumat pekan lalu yang sebesar 6,57%. Kenaikan saham HRUM diiringi dengan masuknya investor asing dengan catatan beli bersih Rp 3,27 miliar.

Dalam sepekan, saham ini melesat 12,14%, sementara dalam sebulan melejit 14,85%.

Di posisi kedua ada saham NIKL yang naik 1,39%, setelah pada Jumat lalu menguat 4,35%. Kendati naik, dalam sepekan saham NIKL masih minus 1,79%.

Saham emiten pelat merah ANTM berada di posisi ketiga dengan terapresiasi 1,15% ke Rp 2.650/saham. Dengan ini, saham ANTM sudah mencatatkan reli kenaikan selama 4 hari beruntun. Dalam sepekan saham ANTM naik 4,31%, sementara dalam sebulan melonjak 20,91%.

Asing juga tercatat masuk ke saham ANTM dengan nilai net buy Rp 6,36 miliar.

Berbeda, saham INCO malah turun 0,93% setelah Jumat lalu naik 2,39%. Kendati demikian, dalam seminggu saham INCO masih tumbuh 1,92% dan selama sebulan melejit 22,97%.

Di tengah pelemahan saham INCO, asing berbondong-bondong masuk dengan catatan beli bersih Rp 11,84 miliar.

Setali tiga uang, saham ‘anak baru’ NICL kembali menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 6,76%, setelah pada Jumat minggu lalu juga ARB 6,92%. Dua kali ARB yang dialami saham NICL ini mengakhiri reli kenaikan selama 5 hari atau sejak melantai pada 9 Juli lalu. Dalam sepekan saham ini masih melesat 51,65%.

Informasi saja, harga komoditas nikel dengan kontrak pembelian 3 bulan di London Metal Exchange (LME) cenderung naik dalam sepekan lalu. Secara harian, per Jumat (16/7), kenaikan harga nikel sebesar 1,13% ke harga kontrak 3 bulan US$ 18.907/ton. Sementara, dalam sepekan nikel naik 1,19% dan dalam sebulan nikel melesat sebesar 7,92%.

Sentimen terbaru untuk saham-saham emiten nikel adalah terkait PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) yang mulai menyampaikan rencana investasi pembuatan pabrik baterai kendaraan listrik

Diwartakan sebelumnya, Direktur Utama IBC Toto Nugroho, menyampaikan bahwa RI punya cita-cita menjadi pemain baterai kelas dunia dan optimistis bisa dicapai pada 2025 mendatang.

Dia mengatakan, ada dua alasan kenapa RI harus menjadi pemain baterai kelas dunia. Pertama, karena Indonesia dianugerahi cadangan nikel dan menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Tak hanya nikel, Indonesia juga memiliki cadangan komoditas mineral lainnya yang bisa dijadikan bahan baku baterai hingga kendaraan listrik.

Alasan kedua adalah Indonesia memiliki pasar yang besar. Namun potensi pasar baterai tidak hanya di Indonesia, potensi pasar besar juga ada di Asia Tenggara.

“Kita harus jadi perusahaan baterai kendaraan listrik kelas dunia. Cadangan nikel yang besar dan menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Pasar besar di Indonesia dan ASEAN region,” jelasnya dalam Investor Daily Summit 2021, Rabu (14/07/2021).

Kebutuhan baterai untuk kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) di Indonesia pada 2030 diperkirakan bakal mencapai sekitar 11-12 Giga Watt hours (GWh) atau ekuivalen dengan 140.000 unit kendaraan roda empat.

“Pasar di Indonesia sendiri hampir 30 GW dan kami sampaikan baterai ini gak hanya four wheel (roda empat), tapi energy solution di mana kita harus menyimpan sumber listrik renewable,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, diperlukan investasi yang sangat besar dan pembangunan beberapa fasilitas perlu waktu yang panjang. Menurutnya, saat ini IBC sudah tahap rinci untuk uji kelayakan atau feasibility study (FS) dan mencari sumber pendanaan proyek dengan menggaet dua calon mitra utama.

“Dua calon mitra utama dan kemarin sempat disampaikan Kementerian Investasi, sudah diumumkan 2022 ada satu factory 10 GW break through baterai, di 2024 komponen besar-besar RKEF [Rotary Kiln Electric Furnace], HPAL [High Pressure Acid Leaching] beroperasi, sehingga di 2025 dapatkan baterai skala besar benar-benar produksi di Indonesia,” jelasnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Industri Nikel Masih Penuh Sentimen, Simak Rekomendasi Sahamnya

NIKEL.CO.ID – Harga komoditas nikel diproyeksikan masih akan cukup solid di sisa tahun ini. Isnaputra Iskandar, Head of Research Maybank Kim Eng Sekuritas masih menggunakan asumsi harga nikel sebesar US$ 15.500 per ton untuk tahun  ini.

Isnaputra merinci, terdapat sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi harga nikel, antara lain pemulihan ekonomi global, perkembangan teknologi baterai listrik, serta kebijakan pemerintah dari Negara-negara utama di industri nikel seperti Indonesia, China, dan Filipina.

Isnaputra menyebut, permintaan mobil listrik yang meningkat akan menjadi katalis utama untuk harga nikel. Saat ini, permintaan nikel dari sektor baterai kurang dari 5% dari total permintaan nikel. “Diperkirakan dalam 5 tahun ke depan, angka ini dapat meningkat menjadi 15-20% dari total permintaan,” terang Isnaputra kepada Kontan.co.id, Sabtu (27/6/2021).

Dalam risetnya yang dipublikasikan Senin (21/6), Analis CLSA Sekuritas Norman Choong dan Chelene Indriani menyebut, rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru dan komentar The Fed tentang pengurangan pembelian obligasi (tapering) mendorong penguatan nilai dolar AS. Hal ini terjadi lebih awal dari yang diperkirakan konsensus, dan secara umum menjadi sentimen yang kurang baik bagi komoditas.

Meski demikian, Norman  dan Chelene tetap memasang mode optimis terhadap prospek jangka menengah komoditas logam ini. Mereka juga menegaskan,  ketatnya pasar nikel kelas pertama akan terus menentukan tren harga nikel di London Metal Exchange (LME). Hal ini juga didasarkan dengan asumsi penawaran dan permintaan nikel kelas kedua tidak akan mengalami lonjakan.

“Kami memangkas perkiraan harga nikel 2021-2022 masing-masing sebesar US$ 500, dari semula US$ 18.500 -US$ 19.000 menjadi US$ 18.000 -US$ 18.500 per ton karena menguatnya nilai dolar AS,” tulis Norman dan Chelene.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi pilihan di sektor ini.

CLSA melihat adanya potensi pertumbuhan yang kuat dalam volume penjualan bijih nikel ANTM sepanjang 2021-2023, pada masa transisi output nickel pig iron (NPI) Indonesia menggantikan produk NPI China. Volume penjualan ANTM juga diperkirakan naik, yang berasal dari penjualan ke pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL)  tahun depan.

Sementara itu, saham INCO dinilai atraktif seiring dengan efisiensi biaya yang dilakukan serta adanya potensi pertumbuhan kapasitas yang signifikan pada tahun 2023, sehingga menjadikan eksposur jangka panjang INCO cukup baik.

CLSA Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ANTM dan INCO namun dengan target harga yang lebih rendah. Target harga INCO berada di level Rp 7.500 (dari sebelumnya Rp8.600) sementara target harga ANTM sebesar Rp3.800 (dari sebelumnya Rp 4.000).

Sementara itu, Isnaputra merekomendasikan beli saham INCO dengan target harga Rp 7.000.

Sumber: KONTAN

Read More

Harga Nikel Meroket, Harga ANTM Dkk ‘Ngamuk’ di Bursa RI

NIKEL.CO.ID – Saham-saham emiten nikel kompak menguat di zona hijau pada awal perdagangan sesi I hari ini, Senin (3/5/2021). Kenaikan mayoritas harga saham nikel seiring terkereknya harga nikel dalam sepekan belakangan.

Menurut data London Metal Exchange (LME), harga nikel kontrak 3 bulan terus naik hingga 8,12% selama sepekan terakhir. Adapun pada Jumat (30/4), harga nikel kontrak bulan terkerek 0,31% ke US$ 17.512/ton dari penutupan hari sebelumnya.

Berikut harga saham nikel, mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.34 WIB.

  1. Trinitan Metals and Minerals (PURE), saham +1,68%, ke Rp 121, transaksi Rp 300 juta
  2. Pelat Timah Nusantara (NIKL), +1,45%, ke Rp 1.050, transaksi Rp 969 juta
  3. Aneka Tambang (ANTM), +1,20%, ke Rp 2.520, transaksi Rp 255 M
  4. Vale Indonesia (INCO) +0,43%, ke Rp 4.630, transaksi Rp 42 M
  5. Timah (TINS), +0,29%, ke Rp 1.735, transaksi Rp 56 M
  6. Central Omega Resources (DKFT), 0,00%, ke Rp 170, transaksi Rp 676,38 juta

Menurut daftar di atas, saham emiten pengolahan nikel, PURE, menjadi yang paling terapresiasi, yakni sebesar 1,68% ke Rp 121/saham. Nilai transaksi saham ini sebesar Rp 300 juta.

Dengan ini, saham PURE melanjutkan reli penguatan sejak dua hari lalu, setelah empat hari sebelumnya terjerumus ke zona merah.

Di posisi kedua, ada saham NIKL yang naik 1,45% ke Rp 1.050/saham dengan nilai transaksi Rp 969 juta. NIKL berhasil mengalami rebound pagi ini, pascaambles 2,82% ke Rp 1.035/saham pada Jumat (30/4/2021) pekan lalu.

Sementara, saham emiten pelat merah, ANTM terangkat 1,20% ke Rp 2.520/saham. Saham ANTM menjadi saham yang paling banyak ditransaksikan di bursa dengan jumlah Rp 263,7 miliar.

Pagi ini, saham ANTM berhasil memantul kembali ke atas setelah pada Jumat terkoreksi 0,80% di Rp 2.490/saham.

Keempat, ada saham INCO yang menguat 0,43% ke Rp 4.630/saham. Nilai transaksi INCO sebesar Rp 42 miliar. Sama seperti saham ANTM, saham INCO juga berhasil menguat kembali, setelah Jumat pekan lalu turun 0,86% di Rp 4.610/saham.

Namun, sepanjang 26-29 April saham ini melaju di zona hijau selama 4 hari beruntun.

Kabar teranyar, Vale Indonesia membagikan dividen untuk tahun buku yang berakhir tahun 2020. Perseroan tercatat terakhir kali membagikan dividen pada 2014.

Pemegang saham Vale menyetujui pembagian dividen sebesar 40% dari perolehan laba bersih tahun 2020 sebesar US$ 82,82 juta.

“Terakhir, Vale membayar dividen tahun buku 2014. Rapat menyetujui pembagian 40% dari laba bersih tahun 2020 atau sebesar US$ 33 juta sebagai dividen,” kata Chief Financial Officer Vale Indonesia, Berdardus Irmanto, dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (29/4/2021).

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Ekspor Mineral Mentah Dibuka, Ini Emiten Yang Bakal Diuntungkan

NIKEL.CO.ID – Dibukanya keran ekspor mineral mentah turut memberi sentimen positif bagi prospek emiten tambang mineral ke depan. Hanya saja, meski menguntungkan dampaknya dirasa belum akan signifikan, kecuali untuk emiten yang berkaitan dengan komoditas tembaga.

Sebagai informasi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif membuka kembali keran ekspor mineral mentah untuk konsentrat tembaga, konsentrat besi, konsentrat timbal, konsentrat seng, dan konsentrat seng, dan bauksit. Adapun khusus untuk bijih nikel yang dibuka keran ekspornya adalah bijih nikel yang belum memenuhi batas minimum pemurnian tidak boleh diekspor.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony menilai dari sisi dampak kenaikan ekspor mineral mentah tidak terlalu signifikan. Itu lantaran, volume untuk mineral mentah yang dibuka keran ekspornya tidak terlalu besar, kecuali untuk tembaga.

“Tembaga sendiri, tentu akan berdampak cukup signifikan pada perusahaan-perusahaan tambang emas. Mengingat, kadar tembaga di tambang emas cukup besar,” kata Chris, Senin (22/3/2021).

Chris juga mengungkapkan, kehadiran aturan ekspor mineral mentah tersebut turut membantu perusahaan-perusahaan mineral mentah untuk menjual konsentrat mineralnya yang memiliki kadar di bawah batas minimum pemurnian. Sehingga, harapannya emiten mineral ke depan bisa memperoleh pendapatan tambahan dari hasil ekspor konsentrat.

Di sisi lain, dia juga memandang prospek emiten sektor komoditas masih cukup baik ke depannya. Apalagi, tren meningkatnya bunga obligasi Amerika Serikat (US Treassury) 10 tahun yang sempat menekan harga-harga komoditas global cenderung tertahan di level 1,75 sehingga harga komoditas cenderung masih stabil di area saat ini.

Adapun Chris menilai emiten yang diyakini bakal terkena dampak positif dari kebijakan ekspor mineral mentah ke depan yakni MDKA, ANTM dan PSAB.

“Bisa buy MDKA dengan target harga 2.600 dan ANTM dengan target harga 2.400. Untuk PSAB bisa wait and see,” tandasnya.

Sumber: KONTAN

Read More

Harga Nikel Naik, Saham Antam Cs Ikut Terbang

NIKEL.CO.ID – Harga nikel pada perdagangan hari kamis (11/3/2021) kemarin mengalami kenaikan 2,41% setelah sempat mengalami pelemahan dua pekan terakhir, tren pelemahan tersebut terjadi sejak akhir Februari hingga awal Maret.

Harga nikel kontrak 3 bulan di London Metal Exchange (LME) ditutup dengan harga US$ 16.467/ton pada perdagangan kamis, naik 2,41% dari harga US$ 16.080/ton pada perdagangan hari Rabu (10/03/2021).

Senada dengan penguatan harga logam lainnya, pengutan harga nikel dunia adalah respon positif pasar atas disahkannya RUU stimulus jumbo untuk bantuan dan pemulihan ekonomi akibat pandemi covid-19 oleh parlemen Amerika serikat.

Harga nikel 2 hari terakhir naik dari harga terendah nikel selama tahun 2021 di bursa LME yang tercatat di harga US$ 15.951/ton pada selasa (9/3).
Kenaikan juga terjadi untuk nikel pembelian langsung, yang naik dari US$ 16.040/ton menjadi US$ 16.434/ton.

Pada awal tahun lalu harga nikel sempat turun tajam, merosot hingga US$ 11.142/ton pada perdangan bulan Maret 2020. Akan tetapi memasuki bulan selanjutnya harga nikel perlahan naik terus hingga mencapai puncaknya di angka US$ 19.722/ton pada perdagangan tanggal 22 Februari lalu, tertinggi sejak 2014, yang sempat dihargai US$ 21.150/ton pada bulan Mei tahun tersebut.

 

Harga Nikel
Foto: Ferry Sandria/CNBC Indonesia
Harga Nikel

Data Harga NIkel Kontrak 3 Bulan Sepanjang Tahun 2021 (sumber: LME)

Akan tetapi, harga nikel malah mengalami penurunan 0,45% di bursa Shanghai (kode: SNIcv1) dari US$ 18.768/ton pada selasa turun menjadi US$ 18.684/ton pada Rabu (10/3/2021), berdasarkan data refinitiv.

Dikutip dari Reuters, produksi nikel murni hasil olahan China bulan Februari naik 5,33% atau mengalami penambahan sebesar 692 mt dari produksi bulan Januari.

Dilansir dari The Sydney Morning Herald yang dikutip oleh Reuters. Credit Suisse, bank dan penyedia jasa keuangan asal Swiss memperkirakan akan terjadi kelebihan pasokan nikel setelah Tsingshan mengumumkan untuk meningkatkan produksi sebesar 700 kilo ton (kt) menjadi 1,1 juta ton per tahun (Mtpa) per 2023. Ini akan mengakibatkan surplus produksi hingga 2025.

Menurut analis Credit Suisse, Matthew Hope. “Walaupun sebagian (nikel) akan dipasok ke pasar baterai melalui jalur nikel matte, feronikel untuk baja tahan karat masih tetap dominan sampai pasar baterai menjadi konsumen yang signifikan pada paruh kedua dekade ini,” tulisnya dalam catatan kepada klien.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Asing Ramai Profit Taking di 4 Saham Nikel Ini

NIKEL.CO.IDSebanyak empat dari tujuh saham emiten nikel di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat cenderung dilepas oleh investor asing selama satu bulan terakhir alias net foreign sell seiring dengan profit taking atas saham-saham tersebut

Keempat saham tersebut, yakni PT Timah Tbk (TINS), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) dan PT Central Omega Resources Tbk (DKFT).

Sementara itu, tiga saham yang banyak dikoleksi asing, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE).

Top Foreign Sell (Reguler) 1 Bulan (22/2)

  1. Timah (TINS), net sell Rp -69,22 M
  2. Harum Energy (HRUM), net sell Rp -68,84 M
  3. Pelat Timah Nusantara (NIKL), net sell Rp -2,23 M
  4. Central Omega Resources (DKFT), net sell Rp -1,79 M
  5. Aneka Tambang (ANTM), net buy Rp 962,89 M
  6. Trinitan Metals and Minerals (PURE), net buy Rp 735,04 M
  7. Vale Indonesia (INCO), net buy Rp 19,45 M

Terjadinya net foreign sell pada keempat saham di atas mengindikasikan adanya aksi ambil untung (profit taking) oleh asing.

Aksi profit taking yang dilakukan asing ini nampaknya wajar, apabila melihat harga saham keempat emiten di atas yang terus positif secara year to date (YTD).

TINS menjadi emiten yang sahamnya paling banyak dijual asing selama sebulan, yakni Rp 69,22 miliar. Secara YTD, harga saham TINS sudah melesat 207,79%.

Di tempat kedua ada HRUM, yang harga sahamnya tercatat telah melonjak tinggi sebesar 448,15% secara YTD.

HRUM sedang melakukan ekspansi tahun ini. Harum memang bergerak di bisnis batu bara, tapi saat ini sudah masuk ke bisnis nikel dengan mengakuisisi perusahaan tambang nikel di awal tahun ini.

Perusahaan milik taipan Kiki Barki ini memperkuat ekspansi ke tambang nikel dengan membeli 51% saham PT Position milik Aquila Nickel Pte Ltd atau setara dengan 24.287 saham perusahaan. Aquila tercatat berbasis di Singapura.

Harga jual beli yang dilakukan oleh anak usahanya PT Tanito Harum Nickel itu diteken sebesar US$ 80.325.000 atau setara dengan Rp 1,12 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Pada Juni 2020, HRUM juga sudah melakukan transaksi pembelian saham perusahaan tambang nikel asal Australia, Nickel Mines Limited, sebesar AUD 34,26 juta atau setara Rp 369 miliar dengan kurs Rp 10.781 per AUD

Kabar terbaru, pada tanggal 19 Februari 2021, PT Tanito Harum Nickel, anak usaha HRUM, telah membeli 24,5% kepemilikan saham pada PT Infei Metal Industry (PT IMI) dengan harga beli US$ 68.600.000atau setara dengan Rp 960,4 miliar (kurs Rp 14.000/US$).

PT IMI adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pemurnian nikel (smelter).

Mengacu pada keterbukaan informasi BEI, Senin (22/2/2021), tujuan anak usaha HRUM membeli saham PT IMI adalah untuk mengembangkan kegiatan usaha hilir pertambangan nikel milik perseroan ke tahap pengolahan guna meningkatkan nilai tambah produk nikel.

Dua saham terakhir yang mencatatkan net sell, NIKL dan DKFT juga membukukan lonjakan harga saham secara YTD. Saham NIKL sudah terbang 108,89% secara YTD, sementara DKFT naik 50,00% secara YTD.

Bagaimana dengan ANTM, PURE dan INCO?

Saham ANTM mencatatkan beli bersih asing tertinggi di antara emiten lainnya, sebesar Rp 962,89 miliar. Secara YTD, harga saham ANTM sudah meroket 275,80%.

Investor asing nampaknya optimistis dengan prospek harga saham ANTM ke depan sehingga tercatat masih melakukan aksi beli hingga saat ini.

Tahun ini, emiten emas pelat merah tersebut menargetkan produksi emas sebesar 1,37 ton, sementara penjualan emas ditargetkan mencapai 18 ton emas.

SVP Corporate Secretary Antam Kunto Hendrapawoko mengatakan target produksi ini berasal dari tambang emas Pongkor di Jawa Barat (Bogor) dan Tambang emas Cibaliung (Banten).

“Tingkat penjualan emas mencapai 18 ton emas,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa, (16/02/2021).

Sebagai perbandingan, tahun lalu secara akumulatif, capaian kinerja unaudited produksi dan penjualan emas Antam sepanjang 2020 masing-masing sebesar 1.672 kg atau 1,67 ton (53.756 t oz) dan 21.797 kg atau 21,79 ton (700.789 t oz).

Artinya target tahun ini target produksi turun 17,9% dan target penjualan turun 17,39% Sama dengan tahun 2020, menurut dia tahun ini ANTM akan fokus pada pengembangan basis pelanggan logam mulia di pasar dalam negeri. Kunto menyebut dewasa ini masyarakat mulai sadar untuk berinvestasi pada emas.

Selanjutnya, beralih ke saham PURE. Meskipun secara year to date (YTD) telah terkoreksi 25,45%, Saham PURE masih dikoleksi asing. Tercatat selama sebulan terakhir asing masuk dengan membeli saham PURE senilai Rp 735,4 miliar.

PURE merupakan perusahaan pengolah logam dan bahan mineral (smelter). Perusahaan ini baru berdiri pada 2009 berlokasi di Parung Tanjung, Bogor, Jawa Barat.

Situs resminya mencatat, kegiatan usaha utama PURE adalah memproduksi timbal (bahan baku baterai industri dan kendaraan bermotor, bahan pelapis kawat dan solder untuk elektronik), dan perak (bahan baku produk elektronik seperti kamera dan CPU, juga dapat digunakan untuk koin, perhiasan hingga aksesoris).

Selain itu perusahaan juga memproduksi antimoni (bahan tahan api, cat, keramik, elektronik dan karet, campuran antigores, polystyrene, PVC, plastik dan karet).

PURE mencatatkan saham di BEI pada 9 Oktober 2019, atau 10 tahun setelah berdiri. Menurut data BEI, PT Trinitan Resourcetama Indonesia milik keluarga Tandiono menguasai 49,89% atau 665.226.913 sama milik PURE.

Saham terakhir, INCO, juga masih diminati oleh asing, ynag mencatatkan aksi beli bersih Rp 19,45 miliar. Secara YTD, INCO mencatatkan kenaikan harga saham yang moncer sebesar 94,11% di tengah rencana perbaikan tungku smelter nikel pada tahun ini.

Sebelumnya, INCO berencana melakukan perbaikan tungku (furnace) smelter nikel mulai Mei 2021 selama sekitar enam bulan, sehingga diperkirakan bakal berdampak pada penurunan produksi nickel matte perusahaan pada 2021 ini.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Keuangan Vale Bernardus Irmanto kepada CNBC Indonesia. Dia mengatakan, perbaikan fasilitas ini diperkirakan bakal tuntas pada November 2021 mendatang.

“Rencananya (maintenance) dimulai bulan Mei dan diselesaikan di November,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Senin (08/02/2021).

Namun sayangnya, dia enggan menyebutkan berapa besar turunnya produksi nickel matte perusahaan pada tahun ini karena masih dalam finalisasi.

“Angkanya sedang difinalisasi, akan kami sampaikan kalau sudah ada angka final dari operation,” ujarnya.

Sepanjang 2020, Vale mencatatkan peningkatan produksi nikel dalam matte menjadi 72.237 ton, naik 2% dibandingkan 2019 yang sebesar 71.025 ton.

“Kami bangga sekaligus berterima kasih atas pencapaian ini. Ini jelas merupakan hasil kerja keras semua karyawan di perusahaan,” kata Nico Kanter, CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia.

Royalti Nikel 0%?

Satu sentimen yang dinantikan oleh sektor nikel ialah permintaan royalti 0%. Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum (MIND ID) Orias Petrus Moedak pun mengusulkan agar nikel kadar rendah juga mendapatkan perlakuan yang sama dengan batu bara.

Permintaan tersebut terlontar seiring upaya pemerintah mendorong hilirisasi di sektor batu bara. Upaya tersebut dilakukan dengan pengenaan royalti 0% bagi penambang yang melakukan hilirisasi, seperti proyek gasifikasi batu bara. Insentif royalti 0% bagi penambang batu bara yang melakukan kegiatan hilirisasi ini dicantumkan dalam Undang-Undang tentang Cipta Kerja.

Orias mengatakan, saat ini pemerintah tengah mendorong hilirisasi nikel, salah satunya berupa pemanfaatan nikel kadar rendah untuk diolah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Artinya, pemanfaatan nikel kadar rendah akan semakin masif ke depannya.

Satu sentimen yang dinantikan oleh sektor nikel ialah permintaan royalti 0%. Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum (MIND ID) Orias Petrus Moedak pun mengusulkan agar nikel kadar rendah juga mendapatkan perlakuan yang sama dengan batu bara.

Permintaan tersebut terlontar seiring upaya pemerintah mendorong hilirisasi di sektor batu bara. Upaya tersebut dilakukan dengan pengenaan royalti 0% bagi penambang yang melakukan hilirisasi, seperti proyek gasifikasi batu bara. Insentif royalti 0% bagi penambang batu bara yang melakukan kegiatan hilirisasi ini dicantumkan dalam Undang-Undang tentang Cipta Kerja.

Orias mengatakan, saat ini pemerintah tengah mendorong hilirisasi nikel, salah satunya berupa pemanfaatan nikel kadar rendah untuk diolah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Artinya, pemanfaatan nikel kadar rendah akan semakin masif ke depannya.

Dengan adanya hilirisasi nikel untuk pengolahan bahan baku kendaraan listrik ini bisa menjadi katalis positif bagi emiten nikel tanah air.

“Kalau untuk batu bara kita sudah ada pajak iuran (royalti) 0%, karena sudah ada apakah ini akan berlaku pada nikel kadar rendah?” kata Orias dalam Webinar Sosialisasi Kebijakan Mineral dan Batubara Indonesia, Kamis (11/02/2021).

Secara teknis pertambangan nikel kadar rendah ini mulanya dianggap ikutan, namun karena ada produk baterai yang bisa dihasilkan dari nikel kadar rendah dan kini juga tengah didorong pemerintah, maka komoditas ini menurutnya menjadi istimewa.

“Sekarang kita manfaatkan nikel kadar rendah. Ini ada iuran produksi dan lain-lain, yang terkait itu perlu disesuaikan, saya rasa kebijakan ini (royalti 0%) perlu dimasukkan ke dalam kebijakan minerba,” pintanya.

Seperti diketahui, kini empat BUMN, antara lain MIND ID, Antam,  PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero) tengah dalam proses pembentukan Indonesia Battery Holding untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Wakil Menteri I BUMN Pahala Nugraha Mansury pun sempat menuturkan pembentukan holding perusahaan baterai ini terbentuk pada Semester I 2021 ini.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan di dalam bisnis baterai kendaraan listrik ini, akan terdapat tujuh tahap atau rantai bisnis, yakni mulai dari penambangan, pemurnian atau smelter, precursor plant, pabrik katoda, pabrik sel baterai, battery pack, hingga daur ulang (recycling).

“Kita masuk di empat yang tengah seperti precursor, katoda, sel baterai, battery pack, dan juga recycling dengan PLN. Di hulu oleh Antam dan MIND ID,” paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VII DPR RI, Selasa (09/02/2021).

Sebagai catatan, mayoritas saham emiten nikel ditutup menguat pada perdagangan Senin kemarin (22/2/2021).

Menurut data BEI, enam dari tujuh saham emiten nikel yang ditutup di zona hijau, HRUM, ANTM), TINS, INCO, NIKL dan PURE. Sementara itu, DKFT berada di zona merah.

Berikut pergerakan saham emiten nikel pada perdagangan Senin (22/2).

  1. Harum Energy (HRUM), saham +3,50% ke Rp 7.400, transaksi Rp 149,15 M
  2. Aneka Tambang (ANTM), +2,43% ke Rp 2.950, transaksi Rp 2,48 T
  3. Timah (TINS), +2,16% ke Rp 2.370, transaksi Rp 684,65 M
  4. Vale Indonesia (INCO), +1,58% ke Rp 6.425, transaksi Rp 403,89 M
  5. Pelat Timah Nusantara (NIKL), +1,08% ke Rp 1.410, transaksi Rp 4,92 M
  6. Trinitan Metals and Minerals (PURE), +0,60% ke Rp 167, transaksi Rp M
  7. Central Omega Resources (DKFT), -0,50% ke Rp 198, transaksi Rp 54,73 M

Sumber: CNBC Indonesia

Read More