Ini 5 Produsen Nikel Terbesar RI, Siapa Jawaranya?

NIKEL.CO.ID – Indonesia dikaruniai ‘harta karun’ nikel yang sangat melimpah, bahkan cadangannya sampai miliaran ton dan merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar dunia.

Besarnya ‘harta karun’ tambang RI ini, tak ayal bila RI bercita-cita menjadi pemain baterai kelas dunia. Pemerintah pun memulainya dengan menghentikan ekspor bijih nikel, dan mendorong investasi hilirisasi nikel.

Bahkan, sejumlah proyek pabrik (smelter) bahan baku baterai dengan nilai investasi mencapai US$ 6,25 miliar atau sekitar Rp 91 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) pun tengah dikembangkan di Tanah Air.

Untuk menggarap proyek pabrik bahan baku baterai tersebut, setidaknya 32 juta ton bijih nikel per tahun dibutuhkan. Ini tentunya menjadi ajang penambang bijih nikel untuk berlomba-lomba meningkatkan produksi bijihnya.

Lantas, siapa saja yang akan diuntungkan dari proyek hilirisasi nikel ini? Siapa saja penambang bijih nikel terbesar di negara ini?

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), berikut daftar lima perusahaan dengan produksi bijih nikel terbesar di Indonesia saat ini:

1. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

PT Vale Indonesia Tbk memiliki sejumlah wilayah tambang nikel di Indonesia, antara lain:

– Blok Soroako, Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dengan status operasi produksi.

– Blok Suasua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.

– Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka dan Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.

– Blok Bahodopi, Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dan Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan), dengan status operasi produksi.

2. PT Bintang Delapan Mineral

Memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Desa Bahomoahi, Bahomotefe, Lalampu, Lele, Dampala, Siumbatu, Bahodopi, Keurea, dan Fatufia, Kecamatan Bungku Tengah dan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dengan status operasi produksi dan luas wilayah 21.695 Ha.

3. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Memiliki sejumlah wilayah tambang, antara lain:

– Pulau Maniang, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Asera dan Molawe, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Maba dan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.

4. PT Makmur Lestari Primatama

Memiliki wilayah tambang di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, dengan luas wilayah tambang 407 Ha.

5. PT Citra Silika Mallawa

Memiliki wilayah tambang di Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara dengan luas wilayah 475 Ha.

Berdasarkan data dari Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM yang dikutip CNBC Indonesia, hari ini, Rabu (07/07/2021), produksi Nickel Pig Iron (NPI) per hari ini mencapai 389.245,40 ton atau 43,20% dari target produksi tahun ini 901.080,00 ton.

Secara rinci, produksi Januari sebesar 68.928,02 ton, lalu naik di bulan Februari menjadi 74.801,70 ton, kembali naik di bulan Maret menjadi 77.923,55 ton. Lalu untuk bulan April turun menjari 73.371,16 ton, Mei naik jadi 80.958,03 ton, dan Juni data terakhir 12.790,99 ton.

Kemudian, produksi feronikel sebesar 760.819,92 ton atau 36,11% dari target produksi tahun ini 2.107.071,00 ton. Secara rinci, produksi bulan Januari sebesar 138.167,76 ton, kemudian naik di Februari menjadi 124.247,79 ton, dan kembali naik di Maret menjadi 141.260,31 ton. Selanjutnya di bulan April turun menjadi sebesar 135.595,81 ton, bulan Mei kembali turun menjadi 128.967,75 ton, dan bulan Juni data terakhir 91.187,25 ton.

Sementara itu, produksi nickel matte sampai saat ini mencapai 38.008,86 ton atau 48,73% dari target 78.000 ton. Secara rinci, produksi pada bulan Januari 6.088,82 ton, kemudian turun di bulan Februari menjadi 5.304,95 ton. Pada bulan Maret naik menjadi 7.703,24 ton, turun di bulan April menjadi 6.826,61 ton, Mei naik lagi jadi 7.657,30 ton, dan Juni data terakhir mencapai 4.427,95 ton.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Optimisme Antam & Vale di Tengah Pelemahan Harga Nikel

NIKEL.CO.ID – Harga komoditas nikel dibayangi sejumlah sentimen negatif yang terus memacu koreksi yang signifikan.  Harga nikel, terekam mengalami koreksi tajam yang dimulai pada akhir bulan Maret. Sejumlah pengamat memperkirakan, kondisi tersebut dipicu oleh sentimen dari China.

Seperti diketahui, Perdana Menteri China Li Keqiang sempat menekankan pentingnya perbaikan regulasi di pasar bahan mentah, termasuk nikel.

Adapun, saat ini, harga nikel telah berada di level terendahnya lebih dari dua pekan menyusul sikap investor yang mempertimbangkan potensi penambahan pasokan dari Filipina.

Filipina merupakan salah satu negara eksportir bijih nikel utama untuk China. Hal ini terjadi di tengah terbatasnya pasokan akibat terhentinya kegiatan pada sejumlah tambang nikel karena pembatasan terkait dampak lingkungan.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (20/4/2021) harga nikel di bursa Shanghai, China sempat terkoreksi hingga 2,2 persen ke US$16.010 per metrik ton.

Capaian tersebut merupakan posisi terendah nikel sejak 1 April lalu. Sementara itu, harga nikel pada London Metal Exchange (LME) terpantau turun tipis 0,01 persen ke level US$16.363 per metrik ton. Secara year to date (ytd), harga komoditas ini telah terkoreksi sebesar 1,50 persen.

Sebagai buntutnya, emiten-emiten Tanah Air yang berkaitan dengan bisnis nikel tidak menutup kemungkinan terdampak. Sebut sajai PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Harum Energy Tbk. (HRUM), dan PT Trinitan Metals and Minings Tbk. (PURE).

Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan level harga nikel pada US$16.000 masih di atas proyeksi perseroan tahun lalu.

“Jadi semua aktivitas dan kegiatan operasional kami sudah mengantipasi harga nikel yang lebih rendah dari harga aktual saat ini,” kata Bernardus kepada Bisnis, Selasa (20/4/2021).

Justru, menurutnya yang lebih berpengaruh adalah naiknya harga komoditas utama seperti minyak dan batu bara. Dia mengatakan, kenaikan tersebut dapat memberikan beban tambahan ke biaya operasional perseroan.

“Jadi kami harus memastikan konsumsi komoditas energi per unit efektif dari waktu ke waktu,” katanya.

Selain itu, lanjut Bernardus, INCO juga mengupayakan peningkatan produktivitas & efisiensi, serta perbaikan berkelanjutan, agar kualitas tetap terjaga.

Dalam keterangan resminya, emiten pertambangan tersebut telah mengumumkan penurunan produksi nikel dalam matte pada kuartal I/2021 sejumlah 15.198 ton.

CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia Nico Kanter menyampaikan perseroan memproduksi nikel dalam matte sejumlah 15.198 ton pada kuartal I/2021. INCO mampu memertahankan kinerja operasionalnya.

“Pada kuartal I/2021, Vale Indonesia berhasil memertahankan keandalan operasionalnya, setelah upaya menangani pandemi Covid-19 yang semakin terarah,” paparnya.

Produksi nikel dalam matte pada 3 bulan pertama 2021 itu turun 8 persen dan 14 persen dibandingkan kuartal IV/2020 dan kuartal I/2020. Pada kuartal IV/2020, INCO memproduksi 16.445 ton, sedangkan kuartal I/2020 sejumlah 17,614 ton.

Nico menjelaskan penurunan produksi pada awal 2021 disebabkan karena adanya aktivitas pemeliharaan. Target produksi INCO pada 2021 sejumlah 64.000 ton, di mana perseroan merencanakan membangun kembali salah satu tanur listrik.

Optimisme Antam

Sementara itu, SVP Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) Kunto Hendrapawoko mengatakan saat ini bisnis nikel perusahaan masih on track. Perusahaan memiliki komitmen menjaga biaya produksi tetap rendah sehingga daya saing usaha produk tetap terjaga positif ditengah volatilitas harga komoditas internasional.

Dia optimistis kinerja komoditas bisnis nikel Antam akan tetap optimal pada tahun ini. Hal itu diperoleh melalui strategi yang selektif dan cermat dengan mengedepankan skala prioritas dalam penyusunan rencana belanja modal.

“Guna memacu kinerja komoditas nikel, Antam akan senantiasa melakukan evaluasi dan juga melihat perkembangan bisnis, dalam hal ini bisnis nikel global,” tambahnya.

Seperti diketahui, ANTM memiliki kontribusi pendapatan dari penjualan bijih nikel pada 2020 tercatat sebesar Rp1,87 triliun atau 7 persen dari total penjualan bersih perusahaan. Penerimaan pasar domestik atas produk nikel Antam tercatat positif pada 2020.

Adapun, nilai penjualan produk segmen nikel Antam di pasar dalam negeri tahun lalu mencapai Rp1,87 triliun, tumbuh 93 persen dibandingkan penjualan domestik segmen nikel tahun 2019 sebesar Rp968,16 miliar.

Performa positif kinerja segmen nikel Antam pada 2020 tecermin dari perolehan laba usaha segmen sebesar Rp2,22 triliun dan laba tahun berjalan segmen nikel sebesar Rp1,92 triliun.

Head Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetyo mengatakan, harga nikel masih memiliki ruang untuk bergerak naik sepanjang tahun ini.

Untuk dalam negeri, pemerintah terus berupaya dalam pengembangan dan mendukung penerapan teknologi mobil bertenaga listrik. Salah satunya dalam pembentukan holding perusahaan pabrik listrik milik BUMN.

“Juga kualitas nikel Indonesia dirasa jauh lebih baik dan terintergrasi. Walaupun ada juga kekhatiran jika harga nikel bakal terkoreksi lagi akibat kemungkinan bertambahnya pasokan nikel dari Filipina. Namun produsen nikel Indonsia jauh hari telah bersiap untuk menyonsong era mobil listrik,” jelasnya.

Dia mengatakan untuk emiten penghasilan nikel Indonesia seperti INCO dan ANTM, perlemahan harga nikel memang mungkin bakal menggerus kinerja pada laporan kuartal mendatang.

Frankie menilai, dengan terintegrasinya rantai industri nikel dan juga dorongan pemerintah untuk melakukan penambahan nilai tambah pada nikel mentah, maka pendapatan emiten nikel nantinya dapat terjaga. Kondisi itu menurutnya akan tetap terjadi walaupun harga komoditas nikel sedang turun.

Dari sisi saham, harga saham INCO dan ANTM masih cukup menarik meskipun saat ini keduanya telah mengalami koreksi akibat penurunan harga nikel global. Selain itu, sentimen nikel juga sudah mulai meredup setelah memuncak akibat wacana Tesla yang dulu sempat digadang-gadang akan masuk Indonesia.

Namun, menurutnya keseriusan pemerintah dalam mendukung dan mengembangkan baterai untuk mobil listrik, bakal menopang harga saham emiten-emiten tersebut untuk ke dapannya. Apalagi China saat ini telah mulai memproduksi mobil listriknya sendiri. Kondisi itu diperkirakannya membuat kebutuhan nikel bakal naik ke depannya. 

“Harga saham INCO secara teknikal memiliki support di level Rp4.000 dengan target harga di kisaran Rp6.000. Sedangkan untuk ANTM memiliki support kuat di level Rp2.100 dengan target Rp2.500-Rp3.000,” jelasnya.

Analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu menambahkan pelemahan harga komoditas nikel diperkirakan merupakan efek dari kenaikan suplai nikel di China yang menekan harga.

“Meski demikian, secara jangka panjang kami menilai komoditas nikel masih cukup prospektif seiring demand yang masih kuat serta penggunaannya untuk berbagai industri seperti baja dan mobil listrik,” jelasnya.

Untuk itu, Dessy masih merekomendasikan buy saham ANTM menjadi top picks di sektor pertambangan dengan target harga Rp3.230.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Optimisme Antam (ANTM) & Vale (INCO) di Tengah Pelemahan Harga“.

Read More

Menakar Potensi Ekspor Mineral Pasca Relaksasi Diberikan

NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan relaksasi ekspor mineral selama masa pandemi covid-19 akan diberikan kepada perusahaan yang mengajukan permohonan relaksasi dan dianggap memenuhi ketentuan.

“Tergantung yang mengajukan untuk kuotanya dan maksimum sesuai batasan di peraturan perundang-undangan,” kata Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian ESDM Sugeng Mujianto kepada Kontan.co.id, Rabu (24/3/2021).

Sejauh ini, tercatat PT Freeport Indonesia (PTFI) telah memperoleh rekomendasi kuota ekspor konsentrat tembaga untuk satu tahun ke depan.

Vice President Corporate Communication PT Freeport Indonesia (PTFI) Riza Pratama mengungkapkan pihaknya menyambut baik langkah pemerintah mengeluarkan izin ekspor untuk satu tahun ke depan.

“Kuota ekspor 2 juta ton konsentrat, PTFI berkomitmen untuk terus memberikan nilai tambah bagi Indonesia dalam berbagai cara,” ungkap Riza, Selasa (23/3).

Dalam catatan Kontan.co.id, rekomendasi ini meningkat dari tahun lalu yang mencapai 1.069.000 wet ton konsentrat tembaga yang diberikan pada 16 Maret 2020 untuk satu tahun. Adapun sebelumnya pada tahun 2019 PTFI hanya mengantongi kuota ekspor sebanyak 746.953 wet ton konsentrat tembaga.

Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memastikan saat ini pengerjaan proyek Pabrik Feronikel Haltim yang telah mencapai kemajuan konstruksi sebesar 98%.

VP Corporate Secretary Aneka Tambang Kunto Hendrapawoko mengungkapkan, saat ini Antam juga berfokus pada pembangunan pabrik Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat. Kedua proyek smelter tersebut telah memenuhi target yang telah ditetapkan ESDM.

“Dalam hal pengembangan komoditas bauksit, saat ini ANTAM terus berfokus pada pembangunan pabrik Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat bekerjasama dengan PT INALUM (Persero) yang memiliki kapasitas pengolahan sebesar 1 juta ton SGA per tahun (Tahap 1),” ujar Kunto kepada Kontan.co.id, Selasa malam (23/3/2021).

Dengan capaian tersebut, Kontan.co.id mencatat ANTM mendapatkan persetujuan ekspor mineral logam untuk penjualan ekspor bijih bauksit tercuci dengan kadar Al2O3 =42% sebesar 1,89 juta wet metric ton (wmt) untuk periode 2021-2022.

ANTM, anggota indeks Kompas100 ini memperoleh izin ekspor atas pelaksanaan proyek hilirisasi pabrik Smelter Grad Alumina Refinery (SGAR).

Kunto menyebut, izin ekspor mineral ini melengkapi izin ekspor bijih bauksit yang telah dimiliki ANTM sebelumnya, yakni sebesar 840.000 wmt atas kepemilikan pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) di Tayan.

Dia menambahkan, dengan adanya persetujuan ekspor mineral logam untuk penjualan ekspor  bijih bauksit ini, akan memperkuat daya saing Aneka Tambang di pasar bauksit.

“Hingga saat ini, Tiongkok merupakan negara yang menjadi tujuan ekspor bauksit ANTM,” ujar Kunto beberapa waktu lalu.

Sumber: KONTAN

Read More

Siasat Antam Mengantisipasi Fluktuasi Harga Nikel

NIKEL.CO.ID – Harga komoditas tidak terlepas dari fluktuasi harga. Kecenderungan ini dapat dilihat misalnya pada pergerakan komoditas nikel.

Mengutip Bloomberg, harga nikel di bursa London Metal Exchange (LME) untuk kontrak pengiriman tiga bulanan sempat mencapai angka tertingginya sejak awal tahun di posisi US$ 19.709 per metrik ton pada 24 Februari 2021 lalu, naik 18,63% dibanding posisi harga 31 Desember 2020 yang sebesar US$ 16.613 per metrik ton.

Meski begitu, tren pergerakan harga tersebut cenderung terus menunjukkan penurunan hingga mencapai posisi US$ 16.013 per metrik ton pada perdagangan Jumat (12/3) lalu. Dibandingkan posisi 31 Desember 2020, harga nikel pada Jumat (12/3) juga turun 3,61%.

Di tengah fluktuasi harga yang ada, strategi pengendalian biaya menjadi pegangan sejumlah emiten nikel dalam menjaga kinerja. SVP Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), Kunto Hendrapawoko mengatakan, ANTM akan terus menjaga biaya produksi tetap rendah sembari terus melakukan evaluasi secara selektif dan cermat terhadap setiap perkembangan yang ada.

Dengan cara itu, ANTM berharap daya saing usaha produk perusahaan bisa tetap terjaga positif di tengah volatilitas harga komoditas internasional. “Pada prinsipnya Antam akan senantiasa melakukan evaluasi dan juga melihat perkembangan bisnis, dalam hal ini bisnis nikel global,” ujar Kunto kepada Kontan.co.id, Kamis (11/3).

Kunto berujar, ANTM melihat bahwa prospek bisnis nikel tahun ini masih tetap akan tetap baik seiring dengan outlook pertumbuhan industri pengolahan nikel di dalam negeri. Makanya, sambil menekan biaya produksi, ANTM juga masih mengejar pertumbuhan produksi.

ANTM menargetkan bisa memproduksi bijih nikel sebanyak 8,44 juta wet metric ton (wmt), meningkat 77% dibandingkan capaian produksi bijih nikel (unaudited) tahun 2020 yang sebesar 4,76 juta wmt.

Peningkatan produksi bijih nikel tersebut nantinya akan digunakan sebagai bahan baku pabrik feronikel ANTAM dan mendukung penjualan kepada pelanggan domestik. Segendang sepenarian, total penjualan bijih nikel ANTAM tahun 2021 juga ditargetkan mencapai 6,71 juta wmt, meningkat 104% dibandingkan capaian penjualan bijih nikel (unaudited) tahun 2020 yang sebesar 3,30 juta wmt. “Peningkatan target penjualan bijih nikel tersebut seiring dengan outlook pertumbuhan industri pengolahan nikel di dalam negeri,” tambah Kunto.

Sementara itu untuk komoditas feronikel, Antam menargetkan volume produksi dan penjualan di tahun 2021 sebesar 26.000 ton nikel dalam feronikel (TNi). Angka tersebut naik tipis dibanding capaian produksi dan penjualan (unaudited) tahun 2020 masing-masing sebesar 25.970 TNi dan 26.163 TNi. Target produksi tersebut sejalan dengan optimalisasi  produksi pabrik Feronikel Pomalaa di Sulawesi Tenggara.

Senada, Chief Financial Officer (CFO) INCO Bernardus Irmanto mengatakan bahwa INCO menjadikan strategi pengendalian biaya dan peningkatan produktivitas sebagai kunci dalam menyiasati fluktuasi harga. Salah satu contohnya seperti dengan cara mengefisienkan penggunaan energi setiap output produksi.

“Jadi fokus saja ke dua hal tersebut sambil memaksimalkan operasi produksi dengan tetap mengedepankan kesehatan dan keselamatan kerja,” tutur Bernardus saat dihubungi Kontan.co.id (10/3/2021).

Diakui Bernadus, harga jual nikel INCO juga tidak terlepas dari pengaruh fluktuasi harga. Bernadus, INCO menggunakan rata-rata harga jual nikel bursa LME bulan sebelumnya dalam melakukan jual beli. Dus, semisal penurunan terjadi di bulan Maret, maka efeknya dirasakan di bulan April pada penjualan INCO.

Sedikit informasi, mengutip laman resmi perusahaan, INCO menjual nikel dalam bentuk matte, yaitu produk antara yang digunakan dalam pembuatan nikel rafinasi dengan kandungan rata-rata 78% nikel, 1% kobalt, serta 20% sulfur dan logam lainnya.

Tahun ini, INCO mengincar target produksi sekitar 64.000 ton. Angka tersebut lebih rendah dibanding target produksi INCO tahun sebelumnya. Dalam catatan Kontan.co.id, realisasi produksi nikel INCO di tahun 2020 mencapai 72.237 ton, sedangkan volume penjualannya mencapai sebanyak 72.846 ton.

Sumber: Kontan

Read More

Asing Ramai Profit Taking di 4 Saham Nikel Ini

NIKEL.CO.IDSebanyak empat dari tujuh saham emiten nikel di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat cenderung dilepas oleh investor asing selama satu bulan terakhir alias net foreign sell seiring dengan profit taking atas saham-saham tersebut

Keempat saham tersebut, yakni PT Timah Tbk (TINS), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) dan PT Central Omega Resources Tbk (DKFT).

Sementara itu, tiga saham yang banyak dikoleksi asing, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE).

Top Foreign Sell (Reguler) 1 Bulan (22/2)

  1. Timah (TINS), net sell Rp -69,22 M
  2. Harum Energy (HRUM), net sell Rp -68,84 M
  3. Pelat Timah Nusantara (NIKL), net sell Rp -2,23 M
  4. Central Omega Resources (DKFT), net sell Rp -1,79 M
  5. Aneka Tambang (ANTM), net buy Rp 962,89 M
  6. Trinitan Metals and Minerals (PURE), net buy Rp 735,04 M
  7. Vale Indonesia (INCO), net buy Rp 19,45 M

Terjadinya net foreign sell pada keempat saham di atas mengindikasikan adanya aksi ambil untung (profit taking) oleh asing.

Aksi profit taking yang dilakukan asing ini nampaknya wajar, apabila melihat harga saham keempat emiten di atas yang terus positif secara year to date (YTD).

TINS menjadi emiten yang sahamnya paling banyak dijual asing selama sebulan, yakni Rp 69,22 miliar. Secara YTD, harga saham TINS sudah melesat 207,79%.

Di tempat kedua ada HRUM, yang harga sahamnya tercatat telah melonjak tinggi sebesar 448,15% secara YTD.

HRUM sedang melakukan ekspansi tahun ini. Harum memang bergerak di bisnis batu bara, tapi saat ini sudah masuk ke bisnis nikel dengan mengakuisisi perusahaan tambang nikel di awal tahun ini.

Perusahaan milik taipan Kiki Barki ini memperkuat ekspansi ke tambang nikel dengan membeli 51% saham PT Position milik Aquila Nickel Pte Ltd atau setara dengan 24.287 saham perusahaan. Aquila tercatat berbasis di Singapura.

Harga jual beli yang dilakukan oleh anak usahanya PT Tanito Harum Nickel itu diteken sebesar US$ 80.325.000 atau setara dengan Rp 1,12 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Pada Juni 2020, HRUM juga sudah melakukan transaksi pembelian saham perusahaan tambang nikel asal Australia, Nickel Mines Limited, sebesar AUD 34,26 juta atau setara Rp 369 miliar dengan kurs Rp 10.781 per AUD

Kabar terbaru, pada tanggal 19 Februari 2021, PT Tanito Harum Nickel, anak usaha HRUM, telah membeli 24,5% kepemilikan saham pada PT Infei Metal Industry (PT IMI) dengan harga beli US$ 68.600.000atau setara dengan Rp 960,4 miliar (kurs Rp 14.000/US$).

PT IMI adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pemurnian nikel (smelter).

Mengacu pada keterbukaan informasi BEI, Senin (22/2/2021), tujuan anak usaha HRUM membeli saham PT IMI adalah untuk mengembangkan kegiatan usaha hilir pertambangan nikel milik perseroan ke tahap pengolahan guna meningkatkan nilai tambah produk nikel.

Dua saham terakhir yang mencatatkan net sell, NIKL dan DKFT juga membukukan lonjakan harga saham secara YTD. Saham NIKL sudah terbang 108,89% secara YTD, sementara DKFT naik 50,00% secara YTD.

Bagaimana dengan ANTM, PURE dan INCO?

Saham ANTM mencatatkan beli bersih asing tertinggi di antara emiten lainnya, sebesar Rp 962,89 miliar. Secara YTD, harga saham ANTM sudah meroket 275,80%.

Investor asing nampaknya optimistis dengan prospek harga saham ANTM ke depan sehingga tercatat masih melakukan aksi beli hingga saat ini.

Tahun ini, emiten emas pelat merah tersebut menargetkan produksi emas sebesar 1,37 ton, sementara penjualan emas ditargetkan mencapai 18 ton emas.

SVP Corporate Secretary Antam Kunto Hendrapawoko mengatakan target produksi ini berasal dari tambang emas Pongkor di Jawa Barat (Bogor) dan Tambang emas Cibaliung (Banten).

“Tingkat penjualan emas mencapai 18 ton emas,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa, (16/02/2021).

Sebagai perbandingan, tahun lalu secara akumulatif, capaian kinerja unaudited produksi dan penjualan emas Antam sepanjang 2020 masing-masing sebesar 1.672 kg atau 1,67 ton (53.756 t oz) dan 21.797 kg atau 21,79 ton (700.789 t oz).

Artinya target tahun ini target produksi turun 17,9% dan target penjualan turun 17,39% Sama dengan tahun 2020, menurut dia tahun ini ANTM akan fokus pada pengembangan basis pelanggan logam mulia di pasar dalam negeri. Kunto menyebut dewasa ini masyarakat mulai sadar untuk berinvestasi pada emas.

Selanjutnya, beralih ke saham PURE. Meskipun secara year to date (YTD) telah terkoreksi 25,45%, Saham PURE masih dikoleksi asing. Tercatat selama sebulan terakhir asing masuk dengan membeli saham PURE senilai Rp 735,4 miliar.

PURE merupakan perusahaan pengolah logam dan bahan mineral (smelter). Perusahaan ini baru berdiri pada 2009 berlokasi di Parung Tanjung, Bogor, Jawa Barat.

Situs resminya mencatat, kegiatan usaha utama PURE adalah memproduksi timbal (bahan baku baterai industri dan kendaraan bermotor, bahan pelapis kawat dan solder untuk elektronik), dan perak (bahan baku produk elektronik seperti kamera dan CPU, juga dapat digunakan untuk koin, perhiasan hingga aksesoris).

Selain itu perusahaan juga memproduksi antimoni (bahan tahan api, cat, keramik, elektronik dan karet, campuran antigores, polystyrene, PVC, plastik dan karet).

PURE mencatatkan saham di BEI pada 9 Oktober 2019, atau 10 tahun setelah berdiri. Menurut data BEI, PT Trinitan Resourcetama Indonesia milik keluarga Tandiono menguasai 49,89% atau 665.226.913 sama milik PURE.

Saham terakhir, INCO, juga masih diminati oleh asing, ynag mencatatkan aksi beli bersih Rp 19,45 miliar. Secara YTD, INCO mencatatkan kenaikan harga saham yang moncer sebesar 94,11% di tengah rencana perbaikan tungku smelter nikel pada tahun ini.

Sebelumnya, INCO berencana melakukan perbaikan tungku (furnace) smelter nikel mulai Mei 2021 selama sekitar enam bulan, sehingga diperkirakan bakal berdampak pada penurunan produksi nickel matte perusahaan pada 2021 ini.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Keuangan Vale Bernardus Irmanto kepada CNBC Indonesia. Dia mengatakan, perbaikan fasilitas ini diperkirakan bakal tuntas pada November 2021 mendatang.

“Rencananya (maintenance) dimulai bulan Mei dan diselesaikan di November,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Senin (08/02/2021).

Namun sayangnya, dia enggan menyebutkan berapa besar turunnya produksi nickel matte perusahaan pada tahun ini karena masih dalam finalisasi.

“Angkanya sedang difinalisasi, akan kami sampaikan kalau sudah ada angka final dari operation,” ujarnya.

Sepanjang 2020, Vale mencatatkan peningkatan produksi nikel dalam matte menjadi 72.237 ton, naik 2% dibandingkan 2019 yang sebesar 71.025 ton.

“Kami bangga sekaligus berterima kasih atas pencapaian ini. Ini jelas merupakan hasil kerja keras semua karyawan di perusahaan,” kata Nico Kanter, CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia.

Royalti Nikel 0%?

Satu sentimen yang dinantikan oleh sektor nikel ialah permintaan royalti 0%. Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum (MIND ID) Orias Petrus Moedak pun mengusulkan agar nikel kadar rendah juga mendapatkan perlakuan yang sama dengan batu bara.

Permintaan tersebut terlontar seiring upaya pemerintah mendorong hilirisasi di sektor batu bara. Upaya tersebut dilakukan dengan pengenaan royalti 0% bagi penambang yang melakukan hilirisasi, seperti proyek gasifikasi batu bara. Insentif royalti 0% bagi penambang batu bara yang melakukan kegiatan hilirisasi ini dicantumkan dalam Undang-Undang tentang Cipta Kerja.

Orias mengatakan, saat ini pemerintah tengah mendorong hilirisasi nikel, salah satunya berupa pemanfaatan nikel kadar rendah untuk diolah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Artinya, pemanfaatan nikel kadar rendah akan semakin masif ke depannya.

Satu sentimen yang dinantikan oleh sektor nikel ialah permintaan royalti 0%. Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum (MIND ID) Orias Petrus Moedak pun mengusulkan agar nikel kadar rendah juga mendapatkan perlakuan yang sama dengan batu bara.

Permintaan tersebut terlontar seiring upaya pemerintah mendorong hilirisasi di sektor batu bara. Upaya tersebut dilakukan dengan pengenaan royalti 0% bagi penambang yang melakukan hilirisasi, seperti proyek gasifikasi batu bara. Insentif royalti 0% bagi penambang batu bara yang melakukan kegiatan hilirisasi ini dicantumkan dalam Undang-Undang tentang Cipta Kerja.

Orias mengatakan, saat ini pemerintah tengah mendorong hilirisasi nikel, salah satunya berupa pemanfaatan nikel kadar rendah untuk diolah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Artinya, pemanfaatan nikel kadar rendah akan semakin masif ke depannya.

Dengan adanya hilirisasi nikel untuk pengolahan bahan baku kendaraan listrik ini bisa menjadi katalis positif bagi emiten nikel tanah air.

“Kalau untuk batu bara kita sudah ada pajak iuran (royalti) 0%, karena sudah ada apakah ini akan berlaku pada nikel kadar rendah?” kata Orias dalam Webinar Sosialisasi Kebijakan Mineral dan Batubara Indonesia, Kamis (11/02/2021).

Secara teknis pertambangan nikel kadar rendah ini mulanya dianggap ikutan, namun karena ada produk baterai yang bisa dihasilkan dari nikel kadar rendah dan kini juga tengah didorong pemerintah, maka komoditas ini menurutnya menjadi istimewa.

“Sekarang kita manfaatkan nikel kadar rendah. Ini ada iuran produksi dan lain-lain, yang terkait itu perlu disesuaikan, saya rasa kebijakan ini (royalti 0%) perlu dimasukkan ke dalam kebijakan minerba,” pintanya.

Seperti diketahui, kini empat BUMN, antara lain MIND ID, Antam,  PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero) tengah dalam proses pembentukan Indonesia Battery Holding untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Wakil Menteri I BUMN Pahala Nugraha Mansury pun sempat menuturkan pembentukan holding perusahaan baterai ini terbentuk pada Semester I 2021 ini.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan di dalam bisnis baterai kendaraan listrik ini, akan terdapat tujuh tahap atau rantai bisnis, yakni mulai dari penambangan, pemurnian atau smelter, precursor plant, pabrik katoda, pabrik sel baterai, battery pack, hingga daur ulang (recycling).

“Kita masuk di empat yang tengah seperti precursor, katoda, sel baterai, battery pack, dan juga recycling dengan PLN. Di hulu oleh Antam dan MIND ID,” paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VII DPR RI, Selasa (09/02/2021).

Sebagai catatan, mayoritas saham emiten nikel ditutup menguat pada perdagangan Senin kemarin (22/2/2021).

Menurut data BEI, enam dari tujuh saham emiten nikel yang ditutup di zona hijau, HRUM, ANTM), TINS, INCO, NIKL dan PURE. Sementara itu, DKFT berada di zona merah.

Berikut pergerakan saham emiten nikel pada perdagangan Senin (22/2).

  1. Harum Energy (HRUM), saham +3,50% ke Rp 7.400, transaksi Rp 149,15 M
  2. Aneka Tambang (ANTM), +2,43% ke Rp 2.950, transaksi Rp 2,48 T
  3. Timah (TINS), +2,16% ke Rp 2.370, transaksi Rp 684,65 M
  4. Vale Indonesia (INCO), +1,58% ke Rp 6.425, transaksi Rp 403,89 M
  5. Pelat Timah Nusantara (NIKL), +1,08% ke Rp 1.410, transaksi Rp 4,92 M
  6. Trinitan Metals and Minerals (PURE), +0,60% ke Rp 167, transaksi Rp M
  7. Central Omega Resources (DKFT), -0,50% ke Rp 198, transaksi Rp 54,73 M

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Tinggal Tunggu IUPK, Wilayah Tambang Eks Vale Di Bahodopi Masuk Ke Antam

NIKEL.CO.ID – Setelah digantung lebih dari dua tahun, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tampaknya bakal segera menguasai Blok Bahodopi Utara dan Blok Matarape, dua wilayah tambang nikel  hasil penciutan dari PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Senior Vice President Corporate Secretary Aneka Tambang Kunto Hendrapawoko mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang menunggu terbitnya Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) untuk kedua wilayah tambang nikel tersebut. Menurutnya, penerbitan IUPK sedang berposes di Kementerian ESDM.

“Terkait dengan wilayah Bahodopi Utara dan Matarape, dapat disampaikan bahwa saat ini proses penerbitan IUPK sedang berproses di Kementerian ESDM,” ujar Kunto, Rabu (10/2/2021).

Sebagai informasi, Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK) Bahodopi Utara dan Matarape didapatkan Antam itu sejak Agustus 2018 lalu dalam penawaran prioritas yang digelar oleh Kementerian ESDM.

Tepatnya, pada tanggal 1 Agustus 2018 untuk Blok Bahodopi Utara, dan untuk Blok Matarape pada 21 Agustus 2018. Sebelumnya, Antam mengklaim telah membayar Kompensasi Data Informasi (KDI) sesuai dengan aturan yang berlaku.

Adapun, berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 1805.K/30/MEM/2018, Blok Matarape di Sulawesi Tenggara memiliki luas 1.681 hektare (ha) dengan harga KDI sebesar Rp. 184,05 miliar. Sementara Blok Bahodopi Utara di Sulawesi tengah memiliki luas 1.896 ha dengan nilai KDI Rp. 184,8 miliar.

Penerbitan izin eksplorasi dari Kementerian ESDM terganjal, lantaran Ombudsman Republik Indonesia sempat menetapkan dugaan maladministrasi pada penawaran prioritas atau lelang blok tambang yang dilakukan Kementerian ESDM pada 2018.

Saat dikonfirmasi mengenai progres penerbitan IUPK untuk Blok Bahodopi Utara dan Matarape kepada Antam, hingga berita ini ditulis, Pelaksana Tugas Direktur Bina Program Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Heri Nurzaman belum memberikan tanggapan.

Memperluas Cadangan Mineral

Di sisi lain, Kunto menegaskan bahwa Antam bakal memperkuat portofolio bisnis melalui pengoptimalan potensi dan sumber daya yang dimiliki. Emiten mineral plat merah berkode ANTM di Bursa Efek Indonesia itu juga sedang menjajaki beberapa peluang bisnis dari hulu ke hilir di komoditas nikel, emas, dan bauksit.

Di hulu, saat ini Antam aktif melakukan kegiatan eksplorasi di wilayah IUP yang dimilikinya serta tinjauan di beberapa daerah prospek. Dengan komposisi anggota MIND ID, sambung Kunto, hal itu membuka kesempatan bagi Antam untuk bersinergi dalam pengelolaan aset pertambangan nasional untuk mendukung pengembangan hilirisasi bisnis mineral yang terintegrasi.

“Antam memiliki strategi untuk memperluas cadangan dan memastikan umur pertambangan hingga lebih dari 25 tahun,” jelas Kunto.

Dari sisi investasi eksplorasi, realisasi biaya unaudited yang dikeluarkan Antam pada tahun lalu mencapai Rp 69,19 miliar. Sayangnya, Kunto belum membuka berapa anggaran eksplorasi Antam untuk tahun ini.

Yang pasti, pada 2021 kegiatan eksplorasi Antam akan semakin diintensifkan untuk mendukung rencana pengembangan hilirisasi, serta meningkatkan sumber daya dan cadangan mineral komoditas inti.

Kegiatan eksplorasi Antam akan dilakukan beberapa wilayah IUP Perusahaan seperti di Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat dan Jawa Barat. “Antam akan menitikberatkan kegiatan eksplorasi yang mampu mendukung pengembangan Perusahaan di komoditas nikel, emas dan bauksit,” pungkas Kunto.

Sumber: KONTAN

Read More

Harga Nikel Bakal Mengkilap di 2021, Perusahaan Nikel Siap Jaga Produksi

NIKEL.CO.ID – Sektor pertambangan diproyeksikan akan semakin cerah di tahun ini. Hal ini terjadi akibat tren mobil listrik yang akan menggunakan baterai berbahan baku nikel mendorong kenaikan permintaan nikel di dalam negeri.

Menyikapi hal di atas, sejumlah emiten nikel berupaya menjaga produksi di tengah prospek cerah komoditas nikel tahun ini. Salah satu perusahaan yang turut meningkatkan produksi yaitu PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Vale mempertimbangkan pelaksanaan proyek pembangunan ulang tungku (rebuild furnace) 4 yang direncanakan tahun ini.

Chief Financial Officer Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan, belanja modal tahun ini direncanakan berada pada kisaran USD 130 juta hingga USD 140 juta.

Sementara PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berupaya mempertahankan capaian kinerja produksi dan penjualan semua komoditas inti pada tahun ini.

Berdasarkan laporan resminya, volume penjualan ANTM mengalami penurunan sepanjang 2020 seperti komoditas emas, perak, hingga feronikel.

Di sisi lain, penjualan bijih nikel sepanjang 2020 sebesar 3.29 juta wmt atau turun 56,39% dari realisasi tahun 2019 yang mencapai 7.55 juta wmt.

SPV Corporate Secretary Aneka Tambang Kunto Hendrapawoko mengatakan, ANTM akan terus berfokus pada ekspansi pengolahan mineral, perluasan basis cadangan dan sumber daya, dan menjalin kemitraan untuk mengembangkan produksi mineral olahan baru.

Kenaikan harga anikel turut mendorong kenaikan harga saham pertambangan, seperti saham PT Aneka Tambang (ANTM), PT Timah (TINS) dan PT Vale Indonesia (INCO).

Analis Central Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan, meningkatnya permintaan baterai dan baja tahan karat mendorong harga logam dasar lebih tinggi. Baterai logam akan diburu meskipun di tengah pandemi covid-19. Hadinya mobil listrik pun memicu perebutan nikel dan kobalt secara global.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

Kenaikan Harga Nikel Diproyeksi Terbatas Tahun Ini

NIKEL.CO.ID – Nikel menjadi salah satu komoditas yang diyakini masih akan bersinar tahun ini. Mengutip Bloomberg, harga nikel di bursa London Metal Exchange (LME) untuk  kontrak tiga bulanan berada di level US$ 17.645 per Rabu (3/2/2021).

Meski demikian, sejumlah analis menilai kenaikan harga nikel akan mulai terbatas tahun ini, seiring dengan kenaikan harga yang cukup masif pada akhir 2020 hingga awal Januari 2021.

Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Maryoki Pajri Alhusnah berekspektasi bahwa harga nikel akan berada pada kisaran US$ 16.000-US$ 17.000 per ton untuk tahun ini.

Hanya saja, jika dilihat kondisi sekarang yang tentunya sudah di luar ekspektasi, dirinya memproyeksikan kenaikan harga nikel tidak akan signifikan seperti yang terjadi awal tahun 2021.

“Walaupun begitu, dengan melihat beberapa katalis yang ada dan yang akan menjadi katalis untuk nikel sendiri maka kami tetap memproyeksikan harga nikel akan tetap volatile di rentang US$ 16.000-US$ 17.000 per ton untuk tahun 2021,” terang Maryoki.

Salah satu katalis datang dari China, di mana Negeri Tirai Bambu tersebut berencana untuk meningkatkan konsumsi nikel untuk kendaraan listrik dan stainless steel.

Kemudian, pembatasan ekspor bijih nikel yang masih diberlakukan pemerintah Indonesia juga menjadi katalis positif untuk nikel.

Harga nikel juga terpoles oleh ekspektasi permintaan kendaraan listrik yang akan naik. Hal ini ditunjukkan dengan program stimulus yang di banyak Negara, juga termasuk dukungan kendaraan listrik untuk mengimbangi dampak ekonomi dari pandemi.

China misalnya, memperpanjang kebijakan subsidi hingga 2022. Beberapa negara Uni Eropa (UE) telah meningkatkan subsidi untuk kendaraan listrik serta target emisi yang lebih ketat.

Senada, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama memproyeksikan kenaikan harga nikel pada tahun ini akan lebih terbatas, yakni sekitar 8% dari harga rata-rata tahun lalu.

Hal ini seiring dengan naiknya harga nikel yang tentu dapat menjadi eksposur bagi produsen yang menggunakan nikel sebagai bahan baku.

Harga yang terlalu tinggi dapat memberikan tekanan pada biaya produksi.

“Sehingga, perlu ada penyesuaian harga antara produsen dan konsumen,” ujar Okie.

Membaiknya perekonomian China tentu menjadi sentimen positif bagi industri nikel. Berdasarkan data terakhir, China memegang penuh konsumsi nikel dunia saat ini yang diikuti oleh Eropa, Afrika, dan Amerika.

Alhasil, Indonesia sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia memiliki posisi yang diuntungkan saat ini. Terlebih, Pemerintah melalui BUMN juga akan fokus untuk meningkatkan industri baterai listrik dengan mendorong sejumlah insentif.

Untuk saham berbasis nikel, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan beli saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dengan target harga Rp 6.850 dan hold saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target harga Rp 2.230.

Sumber: KONTAN

Read More

Pada 2025, Dibutuhkan Sebanyak 164 Ribu Ton Nikel Untuk Baterai Kendaraan Listrik

NIKEL.CO.ID – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sedang gencar meningkatkan kapasitas produksi dan diharapkan menjadi penopang pertumbuhan kinerja keuangan perseroan dalam jangka panjang. Sedangkan tren peningkatan permintaan nikel untuk bahan baku baterai mobil listrik bakal menjadi faktor pendongkrak harga jual komoditas tersebut dalam jangka panjang.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, Vale Indonesia sedang melanjutkan ekspansi kapasitas produksi untuk menopang pertumbuhankinerja keuangan ke depan.

Sedangkan di pasar nikel, perseroan mengindikasikan bahwa permintaan nikel kelas satu untuk bahan baku baterai tetap solid ke depan. Begitu juga permintaan nikel kelas dua untuk bahan baku pembuatanbaja nirkarat diperkirakan surplus tahun ini.

“Untuk mendongkrak produksi nikel Vale Indonesia sejalan dengan peningkatan permintaan pasar, perseroan merencanakan peningkatan kapasitas produksi nikel menjadi 90 ribu ton dari perkiraan saat ini sekitar 75-80 ribu ton. Peningkatan kapasitas akan dilakukan dengan pengembangan fasilitas pemrosesan nikel baru di Sorowako, Sulawesi Selatan,” tulis Stefanus dalam risetnya.

Saat ini, dia menyebutkan, manajemen Vale Indonesia sedang melakukan studi visibilitas untuk penambahan satu jalur produksi rotary kiln electric furnace (RKEF) untuk memproduksi feronikel dengan kapasitas produksi mencapai 10 ribu ton. Perseroan menargetkan peningkatan kapasitas produksi terwujud sebelum kontrak kerja berakhir tahun 2025.

Vale Indonesia juga sedang merencanakan dua proyek jangka panjang yang hingga kini masih dalam tahap studi kelayakan dan ditargetkan sudah ada kesimpulan investasinya pada akhir 2021. Proyek pertama adalah fasilitas pemrosesan RKEF di Bahodopi,Sulawesi Tengah, yang bekerjasama dengan perusahaan asal Tiongkok untuk membangun nickel pig iron (NPI).

Sedangkan proyek kedua yang sedang memasuki studi, ungkap Stefanus, adalah fasilitas pemrosesan smelter HPAL (high pressure acid leach) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Perseroan bermitra dengan Sumitomo Metal Mining untuk menggarap smelter baru tersebut yang diperkirakan menelan investasi sekitar US$ 2,5 miliar. Smelter tersebut ditargetkan kapasitas produksi 40 ribu ton per tahun. Proyek ini bisa dilanjutkan dengan rata-rata harga pembelian nikel sebesar US$ 16-18 ribu per ton.

Jika investasi ini berjalan lanjar dibutuhkan waktu 4-5 tahun untuk pembangunan fasilitas. Terkait pasar nikel, menurut Stefanus, diperkirakan surplus tahun ini dengan asumsi beberapa produsen nikel beroperasi secara normal, khususnya produksi nikel kelas dua untuk baja nirkarat. Hal berbeda untuk pasar nikel kelas satu yang diprediksi tetap solid dalam jangka panjang.

“Kami memperkirakan permintaan nikel kelas satu untuk kebutuhan baterai mobil listrik akan tetap solid,” sebut dia.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham INCO dengan target harga Rp 5.200. Target harga tersebut menggambarkan ekspektasi harga nikel yang solid ke depan dan tren peningkatan kinerja keuangan yang didukung oleh pengembangan proyek di Pomalaa dan Bahodopi. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun 2021 sekitar 30,8 kali.

Target harga tersebut juga mencerminkan perkiraan peningkatan laba bersih Vale Indonesia menjadi US$ 92 juta tahun ini dan diharapkan melonjak menjadi US$ 115 juta pada 2021, dibandingkan realisasi tahun lalu US$ 57 juta.

Pendapatan juga diharapkan tumbuh menjadi US$ 797 juta dan menjadi US$ 899 juta pada 2021, dibandingkan perolehan tahun lalu US$ 782 juta.

Sebelumnya, analis Trimegah Sekuritas Hasbie dan Willinoy Sitorus mengungkapkan, pertumbuhan industri mobil listrik ditambah penurunan pasokan nikel global akan menjadi faktor utama pendongkrak keuntungan bersih Vale Indonesia sepanjang tahun ini.

Kedua faktor tersebut akan menaikkan harga jual komoditas tersebut yang berdampak pada peningkatan margin keuntungan perseroan.

Sejak pelarangan ekspor bijih nikel diterapkan oleh Pemerintah Indonesia, harga jual komoditas ini berangsurangsur membaik terhitung sejak Maret 2020. Bahkan, kenaikan juga didukung oleh percepatan pemulihan ekonomi Tiongkok dan rendahnya pasokan nikel global dari Indonesia. Pelarangan ekspor nikel berimbas terhadap turunnya suplai bijih nikel di Tiongkok hingga 70% yang diimpor dari Indonesia.

Sedangkan produksi baja nirkarat Tiongkok meningkat sekitar 8,5% pada semester I-2020, seiring dengan ekonomi Tiongkok yang mulai rebound.

Selain faktor pelarangan ekspor bijih nikel dan lonjakan permintaan dari Tiongkok, peningkatan permintaan bijih nikel bakal didukung oleh lonjakan industri kendaraan listrik dengan target pangsa pasar mencapai 10% pada 2025 dibandingkan realisasi tahun 2019 sebesar 2,5%.

Pangsa pasar mobil listrik diprediksi kembali bertumbuh sebesar 28% pada 2030 dan mencapai 58% pada 2040.

Target pangsa pasar mobil listrik tersebut setara dengan rata-rata pertumbuhan tahunan penjualan kendaraan listrik mencapai 26,2% dari tahun 2019 hingga 2025. Sedangkan berdasarkan data tahun 2019, sebesar 7% dari konsumsi nikel dunia terpakai untuk baterai mobil listrik.

Jika diasumsikan penjualan kendaraan listrik mencapai 8,5 juta per tahun pada 2025, maka dibutuhkan sebanyak 164 ribu ton nikel per tahun untuk mendukung kendaraan listrik tersebut. Angka tersebut setara dengan 6,9% dari total konsumsi nikel global tahun 2019.

“Peningkatan penjualan mobil listrik tentu juga harus didukung oleh penguatan infrastruktur dan harga jual yang sesuai dengan permintaan pasar.

Saat ini, harga baterai mencapai US$ 160 per kwh dan diharapkan turun di bawah US$ 100 per kwh pada 2024,” tulis Hasbie dan Willinoy dalam risetnya.

Trimegah Sekuritas memproyeksikan kenaikan laba bersih Vale Indonesia menjadi US$ 93 juta tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu mencapai US$ 57 juta.

Lonjakan laba bersih akan didukung oleh peningkatan margin keuntunganbersih (net margin) perseroan dari 7,3% menjadi 12,3%. Sedangkan pendapatan perseroan diperkirakan turun dari US$ 782 juta menjadi US$ 758 juta sepanjang 2020.

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul “Ekspansi Vale Indonesia Berlanjut

Read More

Dalam Enam Bulan Harga Nikel Naik 33,09 Persen, Vale: Hati-hati

NIKEL.CO.IDKenaikan harga nikel global dalam beberapa bulan terakhir yang tengah dinikmati emiten pertambangan nikel bisa berubah menjadi sentimen negatif pemberat kinerja jika tidak disikapi dengan kehati-hatian.

Direktur Keuangan PT Vale Indonesia Tbk. Bernardus Irmanto mengatakan bahwa posisi harga nikel global saat ini semakin mengurungkan niat produsen untuk mengerem atau menurunkan produksinya, padahal permintaan masih melaju cukup lambat seiring dengan pandemi Covid-19.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Selasa (17/11/2020) harga nikel di bursa London parkir di level US$15.926 per ton, menguat 0,29. Sepanjang enam bulan perdagangan terakhir harga nikel telah menguat 33,09 persen, sedangkan secara year to date harga naik 12 persen.

“Para pelaku industri harus memperhatikan kesimbangan permintaan dan pasokan ke depan, supaya prospek over supply bisa diminimalkan,” ujar Irmanto kepada Bisnis, Rabu (18/11/2020).

Adapun, ketika pasar mengalami over supply maka kemungkinan besar harga nikel akan kembali melemah dan berujung dapat membebani kinerja emiten nikel. Padahal, hingga kuartal III/2020 kinerja emiten pertambangan nikel berhasil moncer didukung oleh kenaikan harga itu.

Emiten berkode saham INCO itu contohnya, membukukan pertumbuhan fantastis laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar 47.800 persen menjadi US$76,64 juta hingga kuartal III/2020, dibandingkan dengan periode yang sama 2019 sebesar US$160.000.

Sementara itu, emiten pertambangan nikel lainnya, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), juga membukukan pertumbuhan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar 30,2 persen menjadi Rp835,78 miliar hingga kuartal III/2020 dibandingkan dengan periode yang sama 2019 Rp641,5 miliar.

Di sisi lain, harga nikel yang terlalu tinggi akan semakin mempersulit penetrasi kendaraan mobil listrik secara global mengingat komoditas itu merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik.

Adapun, perusahaan mobil listrik global Tesla hingga saat ini masih memiliki kendala dalam memproduksi baterai listrik dengan biaya murah. Upaya yang dilakukan Tesla untuk menekan biaya baterai listrik saat ini adalah menaikkan porsi nikel dan menurunkan porsi kobalt dalam baterai.

Namun, menurut beberapa analis harga nikel saat ini juga masih cukup tinggi untuk bisa memproduksi baterai berbiaya murah.

“Jadi kalau biaya baterai bisa ditekan serta teknologi baterai sudah makin matang, maka ‘inflection point; yang diharapkan supaya customer bisa beralih ke mobil listrik bisa terjadi,” papar Irmanto.

Dia pun menjelaskan ketika inflection point itu terjadi dapat mendorong pasar nikel dunia akan bertambah besar dan Indonesia bisa benar-benar memainkan peran strategis karena memiliki cadangan limonite yang sangat besar.

Sumber: bisnis.com

Read More