BPPT Sebut Indonesia Siap Jadi Raja Baterai Dunia

NIKEL.CO.ID – Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengungkapkan bahwa Indonesia siap menjadi raja baterai dunia. Hal itu berdasarkan hasil audit teknologi yang sudah dilakukan BPPT sebagai bentuk dukungan dalam upaya mewujudkan pabrik smelter.

“Alhamdulillah, hasil yang didapatkan sesuai dengan harapan semua pihak, bahkan ini memberikan nilai tambah pada komoditas nikel,” kata Hammam dalam keterangan resmi, Selasa (11/5/2021).

BPPT melaporkan hasil audit teknologi yang dilakukan terhadap metode Step Temperature Acid Leach (STAL) yang dikembangkan PT Trinitan Metals and Minerals (PT TMM). Untuk proses pelindian ini mampu me-recovery nikel mulai 89% hingga 91% dan kobalt sebesar 90% hingga 94%. Metode tersebut dinyatakan mampu memberikan nilai tambah komoditas nikel ketika diterapkan dalam smelter skala kecil atau modular.

Hasil audit teknologi menunjukkan metode STAL lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan teknologi atmospheric leaching (AL) yang dapat menghasilkan recovery nikel antara 50% hingga 70%, dan cenderung mendekati teknologi high pressure acid leaching (HPAL) yang dapat mencapai 94% hingga 96%.

“Hasil audit teknologi ini bisa dijadikan rekomendasi dalam pembangunan smelter modular atau skala kecil yang bisa langsung dimanfaatkan oleh pertambangan rakyat, terlebih metode ini mengusung konsep zero waste, dimana hasil buang proses pelindian bisa diproduksi lagi,” tuturnya.

Pembangunan smelter modular nikel menurutnya merupakan sebuah kesempatan yang harus segera diambil oleh Indonesia. Lantaran persaingan teknologi energi sudah mulai beralih, dari energi fosil menjadi energi terbarukan, dan baterai diprediksi menjadi komoditas yang dibutuhkan industri di masa yang tidak lama lagi.

Kebutuhan akan baterai menurutnya akan selaras dengan permintaan nikel, dan beruntungnya Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Hal ini didasari data dari McKinsey, dimana Indonesia merupakan salah satu produsen nikel (Nickel Pig Iron /NPI), Bijih, Konsentrat, Presipitat) terbesar di dunia dengan menyumbang 27% total produksi global.

“Dengan dukungan penuh pemerintah dan ekosistem yang dibangun bersama oleh industri, Indonesia siap menjadi raja baterai dunia,” pungkasnya.

Sumber: Media Indonesia

Read More

BPPT: STAL Mampu Olah Nikel dengan Kandungan Lebih Baik

Teknologi STAL pun diklaim memiliki memiliki kelebihan dari sisi peralatan dan operasional yang lebih sederhana daripada High Pressure Acid Leaching (HPAL).

NIKEL.CO.ID –  Dalam audit teknologi proses Step temperature Acid Leach (STAL) yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) disebutkan bahwa teknologi pengolahan tersebut mampu menghasilkan nikel dengan kandungan yang baik.

Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Mineral (PTPSM) BPPT Rudi Nugroho mengatakan pihaknya telah merampungkan audit teknologi proses STAL (Step Temperature Acid Leach) pada pilot plant pengolahan laterit nikel milik PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) pada Kamis (6/5/2021) di Bogor, Jawa Barat.

Hasil audit teknologi STAL menunjukkan bahwa pada tahap proses pelindian atau ekstraksi zat, teknologi ini dapat menghasilkan recovery nikel mulai 89 persen hingga 91 persen, dan kobalt sebesar 90 persen hingga 94 persen.

Sementara itu, pilot plant STAL juga telah mampu menghasilkan MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) dengan kandungan Ni hingga lebih dari 35 persen, dimana produk MHP ini dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan baterai kendaraan listrik.

Rudi Nugroho mengatakan bahwa recovery nikel dengan teknologi STAL dapat mencapai 89 persen sampai dengan 91 persen. Menurutnya hasil itu jauh lebih bagus dibandingkan dengan AL (Atmosphere Leaching) yang hanya 50 persen hingga 70 persen, dan berbeda tipis dengan HPAL (High Pressure Acid Leaching) yang sekitar 95 persen hingga 96 persen.

Namun, Rudi menilai dengan kualitas yang tipis bedanya ini, teknologi STAL memiliki kelebihan dari sisi peralatan dan operasional yang lebih sederhana daripada HPAL.

“Butuh skill khusus untuk mengoperasikan HPAL. Peralatannya lebih kompleks, seperti tangki-tangki yang digunakan harus bisa dioperasikan dengan tekanan tertentu yang sesuai dengan standar High Pressure Acid Leaching,” kata Rudi dalam keterangan, Senin (10/5/2021).

Sumber: bisnis.com

Read More

BPPT Audit Teknologi Pengolah Komponen Baterai Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID –  Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menyoroti fakta bahwa upaya Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai belum diimbangi kemampuan dalam negeri untuk memproduksi sendiri komponen baterai. Sehingga, mau tak mau hingga saat ini baterai mobil listrik masih harus impor.

Hal ini layak jadi sorotan, karena menurut Hammam, Indonesia memiliki cadangan bijih nikel yang besar yang dapat dimanfaatkan sebagai komponen utama untuk pembuatan prekursor bahan baku baterei. Oleh karenanya, BPPT bekerjasama dengan PT. Trinitan Metals and Minerals, TBK (TMM) saat ini tengah mengagas sebuah pilot plant pengolahan nikel skala kecil yang dapat digunakan untuk pengolahan bijih laterit nikel menjadi MHP (Mixed Hidroxide Precipitated) yang merupakan bahan baku baterei.

“Metode yang dilakukan adalah proses pengolahan awal laterit nikel dengan aktivasi menggunakan asam, diikuti dengan pemanasan bertingkat dan dilanjutkan dengan proses leaching (pelindian) dengan asam sulfat. Metode ini dinamakan STAL atau Step Temperatur Acid Leaching,” kata Hammam kala menyampaikan sambutan di kunjungan ke PT. TMM, Cileungsi, Kamis (6/5/2021).

Dijelaskan Hammam, pihaknya telah melaksanakan Kerjasama dengan PT.TMM, untuk mengaudit kinerja Pilot Plant STAL tersebut. Melalui STAL ini, disebutkan bahwa prosesnya mampu me-recovery nikel cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan dan diterapkan skala besar di Indonesia.

“Hal ini kemudian juga dalam rangka mendukung dan meningkatkan nilai tambah komponen dalam negeri dan mendukung percepatan program pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai,” jelas Hammam.

Hammam berharap, hasil audit dari Pilot Plant STAL ini akan bisa dijadikan sebuah landasan pengolahan nikel di dalam negeri. Selain itu, guna mengakselerasi kinerja teknologi STAL, Hammam juga menilai perlu adanya ekosistem inovasi, yang bekerjasama triple helix bahkan pentahelix dimana salah satunya adalah adanya keterlibatan pihak swasta dunia usaha.

“Oleh karena itu Saya sangat mengapresiasi atas Kerjasama yang sudah dilakukan oleh TMM dengan BPPT ini, dalam mewujudkan inovasi baru karya Indonesia. Harapan saya, kerjasama yang telah dilakukan TMM dengan BPPT tidak hanya berhenti sampai audit pilot plant saja, namun BPPT siap mendampingi TMM ke arah komersialisasinya,” pungkas Hammam.

Sumber: Gatra.com

Read More

Luhut Ungkap Teknologi Pengolahan Nikel Kadar Rendah Karya Anak Bangsa

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan adanya pengembangan teknologi pengolahan nikel kadar rendah yang mampu bersaing dan bahkan disebutkan lebih ramah lingkungan.

Teknologi nikel ini disebut Step Temperature Acid Leaching (STAL) yakni memproses bijih nikel dengan tekanan atmosfer (atmospheric pressure). Teknologi ini disebut mampu menghasilkan recovery nikel di atas 90%.

Dia mengatakan, teknologi STAL yang dikembangkan PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE) ini juga menghasilkan limbah yang lebih ramah lingkungan. Pasalnya, limbahnya bisa dikelola kembali menjadi produk yang bernilai, dibandingkan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Menurutnya, limbah STAL menghasilkan residu Fe (besi) dan Al (aluminium) yang bisa diolah menjadi bijih besi atau iron ore dan produk lainnya.

“Selain itu, STAL juga dinilai akan menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan teknologi pengolahan nikel lainnya,” kata Luhut dalam keterangan resminya, Kamis (29/04/2021).

Oleh karena itu, Luhut pun mendorong adanya penerapan dari teknologi karya anak bangsa ini.

“Ini ada pengembangan teknologi baru dari anak bangsa, kita dukunglah. Saya ingin produk-produk dalam negeri terus maju,” pintanya.

Selain itu, Luhut juga berpesan kepada semua pihak agar teknologi STAL ini dapat dikembangkan terus dan diharapkan semua pihak bisa bekerja sama dengan baik.

Terkait dengan investasi di bidang ini, Luhut berharap Indonesia dapat menarik investor yang sesuai untuk pengembangan teknologi ini.

“Kita tidak mau main-main. Jadi makanya sekarang orang bicara soal green, jadi jangan ditipu lagi dengan data-data yang tidak benar,” tegasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil.

Dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar, teknologi tersebut dapat berbentuk secara modular dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth).

Dengan teknologi modular ini, maka diperkirakan bisa dijangkau oleh industri pertambangan skala kecil yang banyak terdapat di Indonesia.

Desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton bijih nikel per tahunnya atau 600 ton bijih nikel per hari untuk setiap modular STAL.

STAL dapat mengolah bijih nikel dengan kadar rendah sampai 1.1%. Kemudian listrik yang dibutuhkan dalam menggunakan teknologi ini yakni 1,3 mega watt hour untuk menghasilkan 1.800 ton nikel.

Teknologi STAL ini akan mengembangkan aplikasi cloud monitoring dan sistem kontrol untuk semua proses manufaktur dan dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada semua pihak.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Menko Luhut Apresiasi dan Dukung Inovasi Teknologi STAL Yang Dikembangkan PT Trinitan Metals & Minerals

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Monko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengapresiasi inovasi pengembangan teknologi Step Temperature Acid Leaching (STAL) yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metal and Minerals Tbk.

Hal tersebut disampaikan Luhut saat menggelar rapat koordinasi bersama Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian ESDM, Kementerian Investasi, Kementerian Perindustrian, BPPT, Prof. Zaki Mubarok dari ITB, dan PT Trinitan Metal and Minerals, Tbk di Jakarta pada Kamis, (29/4/2021)

Pengembangan teknologi STAL pada nickel ore yang diproses dengan tekanan atmosfir (atmospheric pressure) dan mampu menghasilkan recovery nikel di atas 90 persen. Dengan Teknologi STAL , limbah yang dihasilkan juga lebih ramah lingkungan dan dapat dikelola kembali menjadi produk yang bernilai dibandingkan dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Limbah STAL menghasilkan residu Fe (besi) dan Al (aluminium) yang bisa diolah menjadi Iron Ore dan produk lainnya. Selain itu, STAL juga dinilai akan  menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan teknologi pengolahan nikel lainnya.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Menko Luhut mendorong penerapan teknologi hasil karya anak bangsa,

“Ini ada pengembangan teknologi baru dari anak bangsa, kita dukunglah. Saya ingin produk-produk dalam negeri terus maju,” ungkap Menko Luhut sebagaimana siaran pers yang diterima nikel.co.id.

Menko Luhut juga berpesan kepada semua pihak agar teknologi STAL ini dapat dikembangkan terus dan diharapkan semua pihak dapat bekerja sama dengan baik. Terkait dengan investasi di bidang ini, Luhut juga berharap Indonesia dapat menarik investor yang sesuai untuk pengembangan teknologi ini.

“Kita tidak mau main-main. Jadi makanya sekarang orang bicara soal green, jadi jangan ditipu lagi dengan data-data yang tidak benar,” tandas Luhut.

Pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini, dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar.

Teknologi tersebut dapat berbentuk secara modular dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth). Dengan teknologi modular ini, dinilai besaran (modal) yang dibutuhkan akan bisa dijangkau oleh industri pertambangan pada skala yang lebih kecil dan yang banyak terdapat di Indonesia.

Desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton bijih nikel pertahun-nya atau 600 ton perhari untuk setiap modular STAL.

STAL dapat mengolah Nickel Ore dengan kadar rendah sampai 1.1%. Kemudian listrik yang dibutuhkan dalam menggunakan teknologi ini, yakni 1,3 mega watt hour untuk menghasilkan 1800 ton nikel.

Teknologi STAL ini akan mengembangkan aplikasi cloud monitoring dan sistem kontrol untuk semua proses manufaktur dan dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada semua pihak. (Admin)

Read More

STAL, Terobosal Teknologi Pengolahan Nikel Yang Ramah Lingkungan

NIKEL.CO.ID – Konsultan ESG (Environmental, Social and Governance) dari PT Mitra Rekayasa Keberlanjutan (MRKL), Aldi Muhammad Alizar menyoroti pentingnya kehadiran teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG.

Menurut Aldi, High Pressure Acid Leach (HPAL) merupakan teknologi pengolahan nikel untuk battery grade secara hidrometalurgi, yang banyak dipilih oleh smelter di Indonesia saat ini.

Namun, mengacu kepada paparan “Kinerja Sektor Komoditas dan Energi serta Kebijakan Hilirisasi 1Q2021” yang disampaikan Kemenko Marves dalam acara Finalisasi Pengujian Teknologi STAL oleh Kementerian ESDM dan TMM, pengelolaan limbah merupakan kendala terbesar dalam memproses bijih limonite melalui teknologi HPAL.

“Cara pengelolaan limbah HPAL dengan menempatkan limbah di bawah area laut dalam (Deep Sea Tailings Placement) dianggap berpotensi tinggi mencemari biodiversitas,” ujarnya.

“Padahal, cara ini adalah cara pengelolaan limbah yang saat ini dipertimbangkan oleh perusahaan pengolah nikel, untuk pengoperasian smelter HPAL milik mereka kelak,” ungkap Aldi.

Karena itu, Aldi meyakini, Indonesia membutuhkan teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG, seperti teknologi hidrometalurgi Step Temperature Acid Leach (STAL) yang kini dikembangkan PT Trinitan Metals & Minerals Tbk (TMM).

Tujuannya, kata dia, adalah untuk mengakomodir investor asing yang ‘memelototi’ aspek ESG dan menjadikannya sebagai syarat utama dalam berinvestasi, seperti Elon Musk dan Tesla, yang mensyaratkan hal itu untuk berinvestasi di Indonesia.

Dia menilai, STAL merupakan terobosan teknologi ramah lingkungan yang dapat mendukung upaya Pembangunan Rendah Karbon yang sedang marak di Indonesia.

“Selain rendah karbon, STAL juga tidak membutuhkan pengelolaan limbah yang rumit, serta mendukung transparansi dalam bentuk digitalisasi data dan informasi sehingga meningkatkan akuntabilitas kepada shareholder dan stakeholder,” ungkap Aldi.

Aldi meyakini, teknologi STAL akan membawa dampak positif berupa kesejahteraan sosial dan ekonomi yang hijau, kepada masyarakat dan penambang nikel skala menengah.

Direktur Utama TMM Petrus Tjandra menyatakan, teknologi STAL mengaplikasikan zero waste managament dalam pengoperasiannya, dimana limbah olahan yang dihasilkan akan dapat diproses lagi menjadi by-product (produk samping), dalam bentuk iron ore untuk digunakan oleh industri baja, maupun bentuk batu bata (brick) yang dapat digunakan untuk membangun jalan maupun jembatan.

Petrus menjelaskan jika TMM melalui entitas anak perusahaannya, PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) juga telah menginisiasi Green+ Program, yang berfokus pada aspek ESG.

Program ini, kata dia, akan menjamin/mensertifikasi bahwa teknologi STAL sudah memprioritaskan lingkungan hidup dalam pengoperasiannya, untuk mencapai ekonomi rendah karbon, berdaya bahan dan sumber daya yang efisien.

“Green+ Program akan memastikan bahwa potensi pencemaran lingkungan akan dapat terdeteksi secara lebih dini, melalui kontrol digital yang dapat mengeluarkan data gas buang, maupun limbah olahan secara real time dan dapat terhubung dengan pihak yang berkepentingan,” ujar Petrus.

Petrus menambahkan jika aspek environmental, social and governance (ESG) adalah fokus utama TMM dalam setiap rencana implementasi teknologi STAL.

Hal ini, kata dia, merupakan wujud komitmen perseroan untuk menjawab pertanyaan seputar masalah lingkungan hidup dalam hilirisasi nikel, sekaligus mendorong terciptanya tata kelola nikel nasional yang ramah lingkungan.

Menyikapinya, Asisten Deputi Bidang Investasi Strategis Kemenko Marves, Bimo Wijayanto mengapresiasi komitmen TMM untuk fokus kepada aspek environmental, social and governance (ESG) dalam setiap rencana implementasi teknologinya.

Menurutnya, ini merupakan salah satu langkah maju yang dapat membantu pemerintah untuk menjawab pertanyaan tentang how green is exploitation of our mineral resources.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul “STAL Siap Jadi Terobosan Teknologi Pengolahan Nikel yang Ramah Lingkungan“.

Read More

Teknologi STAL Disebut Sebagai Solusi Atas Permintaan Tesla

NIKEL.CO.ID – KONSULTAN ESG (Environmental, Social and Governance) dari PT Mitra Rekayasa Keberlanjutan (MRKL), Aldi Muhammad Alizar menyoroti pentingnya kehadiran teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG.

Menurut Aldi, High Pressure Acid Leach (HPAL) merupakan teknologi pengolahan nikel untuk battery grade secara hidrometalurgi, yang banyak dipilih oleh smelter di Indonesia saat ini. Namun, mengacu kepada paparan “Kinerja Sektor Komoditas dan Energi serta Kebijakan Hilirisasi 1Q2021” yang disampaikan Kemenko Marves dalam acara Finalisasi Pengujian Teknologi STAL oleh Kementerian ESDM dan TMM, pengelolaan limbah merupakan kendala terbesar dalam memproses bijih limonite melalui teknologi HPAL.

“Cara pengelolaan limbah HPAL dengan menempatkan limbah di bawah area laut dalam (Deep Sea Tailings Placement) dianggap berpotensi tinggi mencemari biodiversitas. Padahal, cara ini adalah cara pengelolaan limbah yang saat ini dipertimbangkan oleh perusahaan pengolah nikel, untuk pengoperasian smelter HPAL milik mereka kelak,” ungkap Aldi dalam keterangannya, Jumat (16/4/2021).

Karena itu, Aldi meyakini jika bangsa Indonesia membutuhkan teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG, seperti teknologi hidrometalurgi Step Temperature Acid Leach (STAL) yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metals & Minerals Tbk (TMM).

Tujuannya, ungkap dia, adalah untuk mengakomodir investor asing yang ‘memelototi’ aspek ESG dan menjadikannya sebagai syarat utama dalam berinvestasi, seperti Elon Musk dan Tesla, misalnya mereka mau datang dan berinvestasi di Indonesia.

“STAL merupakan terobosan teknologi ramah lingkungan yang dapat mendukung upaya Pembangunan Rendah Karbon yang sedang marak di Indonesia. Selain rendah karbon, STAL juga tidak membutuhkan pengelolaan limbah yang rumit, serta mendukung transparansi dalam bentuk digitalisasi data dan informasi sehingga meningkatkan akuntabilitas kepada shareholder dan stakeholder,” ungkap Aldi.

Aldi meyakini jika STAL akan membawa dampak positif berupa kesejahteraan sosial dan ekonomi yang hijau, kepada masyarakat dan penambang nikel skala menengah.

Menurut Direktur Utama TMM, Petrus Tjandra, teknologi STAL mengaplikasikan zero waste managament dalam pengoperasiannya, dimana limbah olahan yang dihasilkan akan dapat diproses lagi menjadi by-product (produk samping), dalam bentuk iron ore untuk digunakan oleh industri baja, maupun bentuk batu bata (brick) yang dapat digunakan untuk membangun jalan maupun jembatan.

Lebih lanjut, Petrus mengatakan jika TMM melalui entitas anak perusahaannya, PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) juga telah menginisiasi Green+ Program, yang berfokus pada aspek ESG. Program ini, kata dia, akan menjamin/mensertifikasi bahwa teknologi STAL sudah memprioritaskan lingkungan hidup dalam pengoperasiannya, untuk mencapai ekonomi rendah karbon, berdaya bahan dan sumber daya yang efisien.

“Green+ Program akan memastikan bahwa potensi pencemaran lingkungan akan dapat terdeteksi secara lebih dini, melalui kontrol digital yang dapat mengeluarkan data gas buang, maupun limbah olahan secara real time dan dapat terhubung dengan pihak yang berkepentingan,” ujar Petrus.

Petrus menambahkan jika aspek environmental, social and governance (ESG) adalah fokus utama TMM dalam setiap rencana implementasi teknologi STAL. Hal ini, kata dia, merupakan wujud komitmen perseroan untuk menjawab pertanyaan seputar masalah lingkungan hidup dalam hilirisasi nikel, sekaligus mendorong terciptanya tata kelola nikel nasional yang ramah lingkungan.

Menyikapinya, Asisten Deputi Bidang Investasi Strategis Kemenko Marves, Bimo Wijayanto mengapresiasi komitmen TMM untuk fokus kepada aspek environmental, social and governance (ESG) dalam setiap rencana implementasi teknologinya. Menurutnya, ini merupakan salah satu langkah maju yang dapat membantu pemerintah untuk menjawab pertanyaan tentang how green is exploitation of our mineral resources.

Sumber: mediaindonesia.com

 

Read More

Dengan Teknologi STAL, RI Bisa Genjot Pengolahan Nikel di Dalam Negeri

NIKEL.CO.ID – Kementerian Kordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyambut baik hasil akhir uji validasi terhadap teknologi Step Temparature Acid Leach (STAL) yang dilakukan oleh tim PSDMBP Badan Geologi Kementerian ESDM, bersama tim ahli Prof Zaki Mubarok dari Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi ITB Bandung, dan PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (TMM).

Berdasarkan paparan hasil akhir uji validasi tersebut, teknologi STAL terbukti mampu meningkatkan recovery Nikel (Ni) dan Kobalt (Co) pada rentang 87-94% Ni dan 90-95% Co. Menyikapinya, Asisten Deputi Bidang Investasi Strategis Kemenko Marves, Bimo Wijayanto mengatakan bahwa adanya uji validasi dari Badan Geologi Kementerian ESDM dan ITB merupakan tonggak sejarah yang sangat penting.

Menurut Bimo, teknologi STAL adalah kebanggaan kekayaan intelektual bangsa, maka harus diupayakan agar dapat maju ke skala industri. Yang diharapkan, lanjutnya, adalah bagaimana bisa meningkatkan kapasitas dari skala lab ke skala industri, kemudian bagaimana cita-cita mulia dari kapasitas nasional untuk memanfaatkan smelter yang sifatnya modular, hemat biaya, dan lebih ramah lingkungan.

“Kami juga mengapresiasi, tadi sudah dipaparkan matriks dari environmental, social and governance yang akan dikomitmenkan oleh TMM dalam setiap rencana implementasi dari teknologinya. Ini merupakan salah satu langkah maju, yang dapat membantu pemerintah untuk menjawab pertanyaan tentang how green is exploitation of our mineral resources,” ujar Bimo.

Sementara itu, Asisten Deputi bidang Pertambangan Kemenko Marves, Tubagus Nugraha mengatakan bahwa ini merupakan berita gembira bagi TMM, bagi pemerintah, dan bagi Indonesia, dalam rangka mendukung kapasitas nasional terhadap kebijakan hilirisasi nikel di Indonesia.

“Dari sisi upaya riset, apa yang dilakukan oleh TMM ini merupakan lompatan yang sangat besar di Indonesia. Dari pemaparan yang disampaikan, teknologi STAL dapat dioperasikan dalam skala yang lebih kecil, dibandingkan proyek smelter yang selama ini ada di Indonesia. Bagi pemerintah, apabila ada kapasitas nasional, dimana anak bangsa bisa mengembangkan salah satu aspek penting, terutama terkait hilirisasi nikel, maka kami akan sangat mendukung,” kata Tubagus Nugraha pada Selasa (6/4/2021) lalu.

Dalam kesempatan yang sama, Aldi Muhammad Alizar selaku Konsultan ESG (Environmental, Social and Governance) dari PT. Mitra Rekayasa Keberlanjutan (MRKL) mengungkapkan bahwa penurunan emisi karbon dan tentang waste limbah buangan bisa dijawab dengan baik oleh teknologi STAL, sehingga akan lebih mudah dalam mewujudian Green+ Program.

“Kita bisa mengkomunikasikan ini dengan baik kepada stakeholders nasional maupun internasional, dan kita bisa membangun sistem yang bagus guna memperkuat teknologi STAL dan Green+ Program. Indonesia wajib mengkomunikasikan upaya-upaya untuk bisa mengelola perubahan iklim, mengelola aspek lingkungan, dan sosial,” tukas Aldi.

Sebagai informasi, Green+ Program merupakan program yang diinisiasi oleh TMM melalui entitas anak perusahaannya, PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI). Program yang berfokus pada aspek ESG (Environmental, Social and Governance) ini merupakan salah satu upaya TMM dan HMI untuk mewujudkan tata kelola nikel nasional yang ramah lingkungan.

Sumber: detik.com

Read More

Kemenko Marves Dukung Pengembangan Teknologi STAL Untuk Pengolahan dan Pemurnian Nikel

NIKEL.CO.ID – Kemenko Marves menyambut baik pengembangan teknologi Step Temperature Acid Leaching (STAL) yang dilakukan oleh PT. Trinitan Metal and Minerals Tbk. Hal ini disampaikan dalam acara Finalisasi Pengujian teknologi STAL tersebut pada hari Selasa (06/04/2021) yang dihadiri oleh wakil dari Badan Geologi Kementerian ESDM dan Guru Besar Teknik Metalurgi ITB, Prof. Zaki Mubarok. Hadir dari Kemenko Marves Asdep Investasi Strategis, Bimo Wijayanto beserta Asisten Deputi Pertambangan, Tubagus Nugraha.

Pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini, dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar. Teknologi tersebut dapat berbentuk modular, dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth). Dengan teknologi modular ini, dinilai besaran yang dibutuhkan akan bisa diangkau oleh industri pertambangan yang lebih kecil yang banyak beroperasi di Indonesia. PT. Trinitan sendiri merencanakan akan membangun serta mengkomersialkan teknologi STAL ini di KEK Palu, dengan target COD pada 2023.

Desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton nickel ore per tahunnya atau 600 ton per hari untuk setiap modular STAL dengan kadar bisa sampai 1.1%, dihitung akan dapat menghasilkan 1800 ton pure nikel per tahun.

Teknik STAL ini akan dioperasikan pada tekanan atmosphere ruang yang lebih sekitar 1 atm, dengan temperature antara 300 – 700 derajat celcius. Di tahapan ini terjadi proses sulfatisasi dari logam-logam yang terdapat di nickel ore. Residu dari proses ini diklaim lebih ramah lingkungan dibandingkan teknologi HPAL karena residu yang dihasilkan berupa oksida besi (Fe2O3) dan sedikit oksida alumunium (Al2O3) serta sedikit sedikit asam sulfat dalam bentuk metal sulfat. Residu ini dapat diolah kembali menjadi iron ore dan iron brick (bata besi).

Penelitian yang dilakukan oleh PT. Trinitan Metal and Minerals ini telah sejak tahun 2019 ini dalam prosesnya meminta verifikasi dan validasi kepada Badan Geologi Kementerian ESDM dan juga dari Teknik Metalurgi ITB. Menurut hasil vailidasi yang dipaparkan pada acara tersebut, dengan penilaiain recovery factor mencapai diatas 90%, teknologi ini dinilai sudah layak untuk dikembangkan secara komersial. Pada kesempatan itu juga, Teknik Metalurgi ITB tertarik untuk melanjutkan peneltian dalam pengembangan MHP yang dihasilkan melalui proses STAL untuk dapat dijadikan NCM Precursor melalui proses secara langsung (direct process).

Menurut Asdep Bimo pemanfaatan teknologi ini didasari oleh konsep environmental social and governance pada setiap rencana teknologinya. Hal ini dapat membantu pemerintah menjawab informasi seputar pengolahan sumber daya mineral yang berbasis ramah lingkungan.

“Artinya rekomendasi-rekomendasi tentang pemanfaatan ekonomi green, green investment ataupun financing, itu sudah bisa terjawab dengan cara-cara STAL yang efisien dengan dampak lingkungan yang minimal dan juga transparansi dari sisi governance,” ungkapnya.

Diketahui bahwa kendala terbesar dalam memproses bijih limonit atau nikel berkadar rendah melalui HPAL (High Pressure Acid Leach) adalah pengelolaan limbahnya. Pada umumnya, terdapat tiga acara pengelolaan limbah HPAL, yakni membuang limbah di bawah area laut dalam, membendung limbah dalam bentuk cairan di salah satu bendungan, dan menumpuk limbah yang sudah dikeringkan.

Melalui pemanfaatan teknologi ini, Asdep Tubagus juga berharap agar teknologi ini dapat berkembang secara komersial. Namun teknologi ini perlu memenuhi kelayakan secara teknisnya, dan diakui oleh pihak-pihak yang melakukan verifikasi dan validasi terhadap teknologi tersebut.

“Kami mendukung pengembangan teknologi STAL ini, dengan hasil validasi ini, kami akan menunggu perhitungan komersialnya. Tentunya kami akan diskusikan lanjut. Apabila dipandang sudah sangat layak komersial tentunya Pemerintah dipandang bisa memberikan dukungan lebih lanjut,” katanya.

Menurut Asdep Investasi Strategis Bimo Wijayanto, ekspor produk hilir mengalami kenaikan melampaui kenaikan ekspor biji terutama pada produk nikel. Hal ini dinilai bisa menjadi dasar konteks yang dapat memperkuat argumentasi dari pengujian teknologi STAL.

“Mulai dari timah, tembaga, alumina, kemudian nikel ini kita bisa lihat sisi ekspor dari sisi volume-nya maupun value-nya mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Cumulative average growth rate-nya cukup siginifikan dari sisi investasi,” ungkapnya.

Sumber: Siaran Pers Kemenko Marves

Read More

Sudah Teruji, ESDM Sebut Teknologi STAL Terobosan Strategis Olah Bijih Nikel

NIKEL.CO.ID – Kepala Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi Kementerian ESDM, Iman Sinulingga memaparkan finalisasi pengujian atau validasi teknologi Step Temperature Acid Leach (STAL), pada Selasa (6/4/2021) di Bogor.

Berdasarkan paparan hasil akhir uji validasi tersebut, teknologi STAL terbukti mampu meningkatkan recovery Nikel (Ni) dan Kobalt (Co) hingga mencapai 94% Ni dan 95% Co.

“Kami menyambut baik hasil pengujian validasi teknologi yang sudah dilakukan tim PSDMBP, tim ITB Prof. Zaki (Prof. Zaki Mubarok), dan tim PT TMM (PT Trinitan Metals & Minerals Tbk), dengan hasil recovery nikel dan kobalt yang bisa mencapai 94% nikel dan 95% kobalt. Merupakan hasil yang membanggakan, sehingga teknologi STAL ini dapat dikatakan sudah teruji,” ujar Iman Sinulingga.

Adapun, teknologi STAL merupakan teknologi pengolahan mineral secara hidrometalurgi, yang dikembangkan oleh TMM dan dimiliki oleh PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI). Teknologi karya anak bangsa ini disebut mampu mengkonversi bijih nikel laterit berkadar rendah menjadi Pregnant Leach Solution (PLS) dalam waktu 4 jam, serta dapat diolah ke produk lanjutannya seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Menurut Iman Sinulingga, pengembangan teknologi STAL yang mampu mengolah bijih nikel laterit berkadar rendah merupakan terobosan teknologi yang sangat strategis. Lebih lanjut, Iman juga menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung agar penerapan teknologi STAL dapat segera diwujudkan dalam skala industri, sehingga bahan baku nikel berkadar rendah dapat termanfaatkan.

“Kami juga mengetahui bahwa tim ahli TMM telah melakukan kajian komersialisasi, dimana teknologi STAL pada skala industri sudah dinilai layak secara ekonomi. Sehingga, kami berharap agar TMM dapat segera mewujudkan suatu industri baterai listrik dengan memanfaatkan Ni-Co laterit berkadar rendah,” kata Iman Sinulingga.

Pada kesempatan yang sama, ahli hidrometalurgi dari ITB, Prof. Zaki Mubarok mengatakan bahwa teknologi STAL terbukti mampu mengolah bijih nikel kadar rendah secara efektif. Secara teknis, kata dia, teknologi STAL sudah bisa mengekstraksi nikel dengan recovery yang baik, kemudian konsumsi asam juga bisa diturunkan dibandingkan dengan direct leaching.

“Untuk nikel bervariasi pada rentang 87-94%, sementara untuk kobalt pada rentang 90-95%. Tergantung pada variabel prosesnya. Menurut saya itu sudah positif ya. Jadi, teknologi STAL justru lebih cocok untuk bijih nikel laterit yang kadar rendah,” tutur Prof. Zaki.

Sementara itu, Direktur Utama TMM, Petrus Tjandra mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh Bapak Iman Sinulingga dan tim PSDMBP Badan Geologi Kementerian ESDM, maupun Prof. Zaki Mubarok dan tim Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi ITB Bandung atas dukungan dan pendampingan yang diberikan dalam melakukan pengujian terhadap teknologi hidrometalurgi STAL.

“Kami berharap agar teknologi STAL yang kami kembangkan ini dapat berkontribusi secara penuh dalam mendukung cita-cita hilirisasi nikel di Indonesia.” pungkas Petrus Tjandra.  (Admin)

Read More