Prospek Trinitan Metals and Minerals (PURE) Bisa Terangkat Pengembangan Baterai Kendaraan Listrik

NIKEL.CO.ID – PT Trinitan Metals and Minerals (PURE) melihat potensi bisnis yang besar dari pengembangan ekosistem mobil listrik di Indonesia. Saat ini PURE sedang mengembangkan teknologi pengembangan baterai Litium.

Direktur Utama Trinitan Metals and Minerals Widodo Sucipto mengatakan, pada Agustus 2020, PURE mendirikan entitas anak  bernama PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) yang berfungsi sebagai pusat penelitian dan pengembangan teknologi khususnya pengolahan logam dan mineral.

HMI bertanggung jawab atas pengembangan teknologi Step Temperature Acid Leach (STAL), yang merupakan teknologi i pengolahan bijih laterit kadar rendah yang telah dipatenkan untuk mengekstrak nikel dari berbagai laterite ore. Teknologi ini dikembangkan khusus menyesuaikan kondisi tambang nikel di Indonesia dengan kebutuhan modal dan biaya operasional yang kompetitif.

Tidak hanya itu, HMI juga mengembangkan teknologi hilirisasi nikel serta mengoptimalkan nilai dari produk sampingan yang terkandung dalam laterite Ore.

“Ke depannya HMI sebagai motor penggerak pengembangan dalam rantai nilai baterai berbasis nikel,” ujar Widodo dalam paparan publik secara virtual, Kamis (22/7/2021).

Widodo menyebutkan, kontribusi HMI terhadap penyediaan baterai kendaraan listrik akan sangat besar karena pihaknya akan menyediakan bahan baku seperti nikel, kobalt, dan lainnya yang dibutuhkan dalam pembuatan battery lithium ion.

“Adapun target perusahaan terhadap HMI ke depannya adalah bisa membantu kinerja PURE dengan mendapatkan investor-investor pembangunan yang akan menggunakan teknologi STAL. Ini merupakan salah satu upaya kami memperbaiki finansial di tahun ini,” ujarnya.

Asal tahu saja, kinerja PURE di 2020 terkontraksi karena imbas pandemi Covid-19. Tercatat pendapatan PURE turun hingga 70% yoy dari yang sebelumnya Rp 452,12 miliar menjadi Rp 136,31 miliar di 2020. Seiring penurunan penjualan, PURE mencatatkan rugi bersih senilai Rp 98,74 miliar.

Widodo mengatakan, di tahun lalu bisnis PURE terdampak pandemi Covid-19 karena adanya pembatasan dalam memperoleh bahan baku dan penjualan. “Lockdown dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sangat merugikan perusahaan,” ujarnya.

Selain itu, pandemi juga berdampak pada harga bahan baku serta kurs. Faktor modal kerja juga tergerus akibat kerugian sehingga pihaknya mencari alternatif fasilitas lain dalam  mendapatkan tambahan modal kerja.

Pada kuartal I 2021 penjualan PURE juga belum begitu membaik. Di akhir Maret 2021 PURE mencatatkan penjualan senilai Rp 7,83 miliar, perolehannya jauh lebih kecil dibandingkan penjualan pada Maret 2020 yang senilai Rp 86,4 miliar. Adapun PURE juga mencatatkan rugi bersih senilai Rp 6,34 miliar.

Sumber: KONTAN

Read More

Ini Strategi Bahlil Atasi Kendala Investasi di KEK Palu

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia telah diskusi langsung dengan para tenant di KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Palu untuk memetakan kendala yang dihadapi dan reformulasi strategi kebijakan untuk mempercepat masuknya tenant dan sejumlah investor ke KEK Palu.

Dalam diskusi, para pengusaha menyampaikan beberapa kendala yang dihadapi selama berinvestasi di KEK Palu, seperti kendala pembebasan lahan dan ketersediaan bahan baku (raw material) yang tidak mencukupi untuk proses produksi.

Menteri Investasi merumuskan berbagai formulasi strategi kebijakan yang dibutuhkan sehingga tenant di KEK Palu dapat segera merealisasikan investasinya, dengan syarat investor tersebut berkomitmen untuk berkolaborasi dengan pengusaha daerah pada proses bisnis ataupun pembangunannya.

“Rata-rata kawasan industri di daerah kurang berkembang, karena kurangnya intervensi pemerintah pusat dan apalagi dananya dari daerah. Di Sulawesi Tengah ini baru lagi selesai tsunami dan gempa. Karena pandemi Covid-19, anggaran dipotong. Tapi ini bukan salah mereka (Pemerintah Provinsi dan Daerah ataupun pengelola KEK),” kata Bahlil dalam keterangan tertulisnya, (20/5/2021)

Salah satu kendala utama pada pengembangan KEK Palu adalah pembebasan lahan. Hal ini disampaikan oleh PT Trinitan Metaland Minerals (PT TMM) pada saat pertemuan antara sembilan tenant KEK Palu dengan Menteri Investasi/Kepala BKPM dan Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola sore tadi.

Perusahaan yang memiliki nilai investasi sebesar Rp34,5 triliun ini, bergerak pada bidang usaha Industri Pengolahan Logam Dasar Bukan Besi dan telah berdiri selama 70 tahun. Saat ini lahan yang telah dibebaskan sekitar 10 hektare dari kebutuhan 200 hektare.

“Kami membutuhkan dukungan pemerintah pusat untuk dapat segera menjalankan investasi kami. Kami akan bawa teknologi ramah lingkungan untuk diterapkan pada industri smelter, sehingga dapat memberikan kontribusi pada rantai pasok global terutama untuk baterai listik dan turunannya,” kata Insmerda Lebang selaku Komisaris Utama PT TMM.

PT TMM merupakan pelopor dalam penggunaan teknologi STAL yang digunakan pada industri smelter yang ramah lingkungan. STAL atau Step Temperature Acid Leach, merupakan
teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG (Environmental, Social and Governance). Teknologi STAL ini 100% karya anak bangsa.

Dalam kesempatan yang sama, PT Asbuton Jaya Abadi yang bergerak pada bidang pengolahan aspal menyampaikan kendalanya pada proses produksi, di mana campuran aspal yang masih dicampur dengan minyak. Pasalnya sudah dipersyaratkan oleh perusahaan, tetapi masih ada kontraktor yang mengabaikan.

“Saya sampaikan di sini, di lapangan pemakaiannya (aspal Buton) masih kurang sekali, untung saja tahun lalu ada permintaan dari Gorontalo dan Manado sehingga produksi kita tahun lalu mencapai 10 ribu. Mungkin tahun depan, harapan kami melalui APBD, Walikota atau Bupati membutuhkan produk kami karena Asbuton hanya khusus untuk jalan,” ungkap Johan Agan selaku Direktur PT Asbuton Jaya Abadi.

Menanggapi keluhan dari PT Asbuton Jaya Abadi, Bahlil menyampaikan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 18/PRT/M/2018 Tahun 2018 tentang Penggunaan Aspal Buton Untuk Pembangunan dan Preservasi Jalan, yang menyatakan bahwa semua produk aspal Buton akan diserap.

Hal ini akan dikoordinasikan dengan Kementerian PUPR, agar produk aspal yang diproduksi oleh perusahaan dapat direkomendasikan untuk masuk ke dalam Rencana Kegiatan Survey (RKS) yang dibuat oleh Kementerian PUPR.

Sesuai dengan Undang-Undang Cipta Kerja (UU CK), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) memiliki peran sebagai koordinator dalam pengawasan/monitoring/evaluasi di daerah. Ke depannya jika dinas-dinas teknis akan melakukan pengawasan/monitoring/evaluasi kepada perusahaan, maka harus didampingi oleh DPMPTSP setempat.

Sumber: idxchannel.com

Read More

BPPT Sebut Indonesia Siap Jadi Raja Baterai Dunia

NIKEL.CO.ID – Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengungkapkan bahwa Indonesia siap menjadi raja baterai dunia. Hal itu berdasarkan hasil audit teknologi yang sudah dilakukan BPPT sebagai bentuk dukungan dalam upaya mewujudkan pabrik smelter.

“Alhamdulillah, hasil yang didapatkan sesuai dengan harapan semua pihak, bahkan ini memberikan nilai tambah pada komoditas nikel,” kata Hammam dalam keterangan resmi, Selasa (11/5/2021).

BPPT melaporkan hasil audit teknologi yang dilakukan terhadap metode Step Temperature Acid Leach (STAL) yang dikembangkan PT Trinitan Metals and Minerals (PT TMM). Untuk proses pelindian ini mampu me-recovery nikel mulai 89% hingga 91% dan kobalt sebesar 90% hingga 94%. Metode tersebut dinyatakan mampu memberikan nilai tambah komoditas nikel ketika diterapkan dalam smelter skala kecil atau modular.

Hasil audit teknologi menunjukkan metode STAL lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan teknologi atmospheric leaching (AL) yang dapat menghasilkan recovery nikel antara 50% hingga 70%, dan cenderung mendekati teknologi high pressure acid leaching (HPAL) yang dapat mencapai 94% hingga 96%.

“Hasil audit teknologi ini bisa dijadikan rekomendasi dalam pembangunan smelter modular atau skala kecil yang bisa langsung dimanfaatkan oleh pertambangan rakyat, terlebih metode ini mengusung konsep zero waste, dimana hasil buang proses pelindian bisa diproduksi lagi,” tuturnya.

Pembangunan smelter modular nikel menurutnya merupakan sebuah kesempatan yang harus segera diambil oleh Indonesia. Lantaran persaingan teknologi energi sudah mulai beralih, dari energi fosil menjadi energi terbarukan, dan baterai diprediksi menjadi komoditas yang dibutuhkan industri di masa yang tidak lama lagi.

Kebutuhan akan baterai menurutnya akan selaras dengan permintaan nikel, dan beruntungnya Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Hal ini didasari data dari McKinsey, dimana Indonesia merupakan salah satu produsen nikel (Nickel Pig Iron /NPI), Bijih, Konsentrat, Presipitat) terbesar di dunia dengan menyumbang 27% total produksi global.

“Dengan dukungan penuh pemerintah dan ekosistem yang dibangun bersama oleh industri, Indonesia siap menjadi raja baterai dunia,” pungkasnya.

Sumber: Media Indonesia

Read More

BPPT: STAL Mampu Olah Nikel dengan Kandungan Lebih Baik

Teknologi STAL pun diklaim memiliki memiliki kelebihan dari sisi peralatan dan operasional yang lebih sederhana daripada High Pressure Acid Leaching (HPAL).

NIKEL.CO.ID –  Dalam audit teknologi proses Step temperature Acid Leach (STAL) yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) disebutkan bahwa teknologi pengolahan tersebut mampu menghasilkan nikel dengan kandungan yang baik.

Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Mineral (PTPSM) BPPT Rudi Nugroho mengatakan pihaknya telah merampungkan audit teknologi proses STAL (Step Temperature Acid Leach) pada pilot plant pengolahan laterit nikel milik PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) pada Kamis (6/5/2021) di Bogor, Jawa Barat.

Hasil audit teknologi STAL menunjukkan bahwa pada tahap proses pelindian atau ekstraksi zat, teknologi ini dapat menghasilkan recovery nikel mulai 89 persen hingga 91 persen, dan kobalt sebesar 90 persen hingga 94 persen.

Sementara itu, pilot plant STAL juga telah mampu menghasilkan MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) dengan kandungan Ni hingga lebih dari 35 persen, dimana produk MHP ini dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan baterai kendaraan listrik.

Rudi Nugroho mengatakan bahwa recovery nikel dengan teknologi STAL dapat mencapai 89 persen sampai dengan 91 persen. Menurutnya hasil itu jauh lebih bagus dibandingkan dengan AL (Atmosphere Leaching) yang hanya 50 persen hingga 70 persen, dan berbeda tipis dengan HPAL (High Pressure Acid Leaching) yang sekitar 95 persen hingga 96 persen.

Namun, Rudi menilai dengan kualitas yang tipis bedanya ini, teknologi STAL memiliki kelebihan dari sisi peralatan dan operasional yang lebih sederhana daripada HPAL.

“Butuh skill khusus untuk mengoperasikan HPAL. Peralatannya lebih kompleks, seperti tangki-tangki yang digunakan harus bisa dioperasikan dengan tekanan tertentu yang sesuai dengan standar High Pressure Acid Leaching,” kata Rudi dalam keterangan, Senin (10/5/2021).

Sumber: bisnis.com

Read More

BPPT Audit Teknologi Pengolah Komponen Baterai Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID –  Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menyoroti fakta bahwa upaya Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai belum diimbangi kemampuan dalam negeri untuk memproduksi sendiri komponen baterai. Sehingga, mau tak mau hingga saat ini baterai mobil listrik masih harus impor.

Hal ini layak jadi sorotan, karena menurut Hammam, Indonesia memiliki cadangan bijih nikel yang besar yang dapat dimanfaatkan sebagai komponen utama untuk pembuatan prekursor bahan baku baterei. Oleh karenanya, BPPT bekerjasama dengan PT. Trinitan Metals and Minerals, TBK (TMM) saat ini tengah mengagas sebuah pilot plant pengolahan nikel skala kecil yang dapat digunakan untuk pengolahan bijih laterit nikel menjadi MHP (Mixed Hidroxide Precipitated) yang merupakan bahan baku baterei.

“Metode yang dilakukan adalah proses pengolahan awal laterit nikel dengan aktivasi menggunakan asam, diikuti dengan pemanasan bertingkat dan dilanjutkan dengan proses leaching (pelindian) dengan asam sulfat. Metode ini dinamakan STAL atau Step Temperatur Acid Leaching,” kata Hammam kala menyampaikan sambutan di kunjungan ke PT. TMM, Cileungsi, Kamis (6/5/2021).

Dijelaskan Hammam, pihaknya telah melaksanakan Kerjasama dengan PT.TMM, untuk mengaudit kinerja Pilot Plant STAL tersebut. Melalui STAL ini, disebutkan bahwa prosesnya mampu me-recovery nikel cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan dan diterapkan skala besar di Indonesia.

“Hal ini kemudian juga dalam rangka mendukung dan meningkatkan nilai tambah komponen dalam negeri dan mendukung percepatan program pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai,” jelas Hammam.

Hammam berharap, hasil audit dari Pilot Plant STAL ini akan bisa dijadikan sebuah landasan pengolahan nikel di dalam negeri. Selain itu, guna mengakselerasi kinerja teknologi STAL, Hammam juga menilai perlu adanya ekosistem inovasi, yang bekerjasama triple helix bahkan pentahelix dimana salah satunya adalah adanya keterlibatan pihak swasta dunia usaha.

“Oleh karena itu Saya sangat mengapresiasi atas Kerjasama yang sudah dilakukan oleh TMM dengan BPPT ini, dalam mewujudkan inovasi baru karya Indonesia. Harapan saya, kerjasama yang telah dilakukan TMM dengan BPPT tidak hanya berhenti sampai audit pilot plant saja, namun BPPT siap mendampingi TMM ke arah komersialisasinya,” pungkas Hammam.

Sumber: Gatra.com

Read More

Luhut Ungkap Teknologi Pengolahan Nikel Kadar Rendah Karya Anak Bangsa

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan adanya pengembangan teknologi pengolahan nikel kadar rendah yang mampu bersaing dan bahkan disebutkan lebih ramah lingkungan.

Teknologi nikel ini disebut Step Temperature Acid Leaching (STAL) yakni memproses bijih nikel dengan tekanan atmosfer (atmospheric pressure). Teknologi ini disebut mampu menghasilkan recovery nikel di atas 90%.

Dia mengatakan, teknologi STAL yang dikembangkan PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE) ini juga menghasilkan limbah yang lebih ramah lingkungan. Pasalnya, limbahnya bisa dikelola kembali menjadi produk yang bernilai, dibandingkan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Menurutnya, limbah STAL menghasilkan residu Fe (besi) dan Al (aluminium) yang bisa diolah menjadi bijih besi atau iron ore dan produk lainnya.

“Selain itu, STAL juga dinilai akan menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan teknologi pengolahan nikel lainnya,” kata Luhut dalam keterangan resminya, Kamis (29/04/2021).

Oleh karena itu, Luhut pun mendorong adanya penerapan dari teknologi karya anak bangsa ini.

“Ini ada pengembangan teknologi baru dari anak bangsa, kita dukunglah. Saya ingin produk-produk dalam negeri terus maju,” pintanya.

Selain itu, Luhut juga berpesan kepada semua pihak agar teknologi STAL ini dapat dikembangkan terus dan diharapkan semua pihak bisa bekerja sama dengan baik.

Terkait dengan investasi di bidang ini, Luhut berharap Indonesia dapat menarik investor yang sesuai untuk pengembangan teknologi ini.

“Kita tidak mau main-main. Jadi makanya sekarang orang bicara soal green, jadi jangan ditipu lagi dengan data-data yang tidak benar,” tegasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil.

Dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar, teknologi tersebut dapat berbentuk secara modular dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth).

Dengan teknologi modular ini, maka diperkirakan bisa dijangkau oleh industri pertambangan skala kecil yang banyak terdapat di Indonesia.

Desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton bijih nikel per tahunnya atau 600 ton bijih nikel per hari untuk setiap modular STAL.

STAL dapat mengolah bijih nikel dengan kadar rendah sampai 1.1%. Kemudian listrik yang dibutuhkan dalam menggunakan teknologi ini yakni 1,3 mega watt hour untuk menghasilkan 1.800 ton nikel.

Teknologi STAL ini akan mengembangkan aplikasi cloud monitoring dan sistem kontrol untuk semua proses manufaktur dan dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada semua pihak.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Menko Luhut Apresiasi dan Dukung Inovasi Teknologi STAL Yang Dikembangkan PT Trinitan Metals & Minerals

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Monko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengapresiasi inovasi pengembangan teknologi Step Temperature Acid Leaching (STAL) yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metal and Minerals Tbk.

Hal tersebut disampaikan Luhut saat menggelar rapat koordinasi bersama Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian ESDM, Kementerian Investasi, Kementerian Perindustrian, BPPT, Prof. Zaki Mubarok dari ITB, dan PT Trinitan Metal and Minerals, Tbk di Jakarta pada Kamis, (29/4/2021)

Pengembangan teknologi STAL pada nickel ore yang diproses dengan tekanan atmosfir (atmospheric pressure) dan mampu menghasilkan recovery nikel di atas 90 persen. Dengan Teknologi STAL , limbah yang dihasilkan juga lebih ramah lingkungan dan dapat dikelola kembali menjadi produk yang bernilai dibandingkan dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Limbah STAL menghasilkan residu Fe (besi) dan Al (aluminium) yang bisa diolah menjadi Iron Ore dan produk lainnya. Selain itu, STAL juga dinilai akan  menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan teknologi pengolahan nikel lainnya.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Menko Luhut mendorong penerapan teknologi hasil karya anak bangsa,

“Ini ada pengembangan teknologi baru dari anak bangsa, kita dukunglah. Saya ingin produk-produk dalam negeri terus maju,” ungkap Menko Luhut sebagaimana siaran pers yang diterima nikel.co.id.

Menko Luhut juga berpesan kepada semua pihak agar teknologi STAL ini dapat dikembangkan terus dan diharapkan semua pihak dapat bekerja sama dengan baik. Terkait dengan investasi di bidang ini, Luhut juga berharap Indonesia dapat menarik investor yang sesuai untuk pengembangan teknologi ini.

“Kita tidak mau main-main. Jadi makanya sekarang orang bicara soal green, jadi jangan ditipu lagi dengan data-data yang tidak benar,” tandas Luhut.

Pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini, dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar.

Teknologi tersebut dapat berbentuk secara modular dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth). Dengan teknologi modular ini, dinilai besaran (modal) yang dibutuhkan akan bisa dijangkau oleh industri pertambangan pada skala yang lebih kecil dan yang banyak terdapat di Indonesia.

Desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton bijih nikel pertahun-nya atau 600 ton perhari untuk setiap modular STAL.

STAL dapat mengolah Nickel Ore dengan kadar rendah sampai 1.1%. Kemudian listrik yang dibutuhkan dalam menggunakan teknologi ini, yakni 1,3 mega watt hour untuk menghasilkan 1800 ton nikel.

Teknologi STAL ini akan mengembangkan aplikasi cloud monitoring dan sistem kontrol untuk semua proses manufaktur dan dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada semua pihak. (Admin)

Read More

STAL, Terobosal Teknologi Pengolahan Nikel Yang Ramah Lingkungan

NIKEL.CO.ID – Konsultan ESG (Environmental, Social and Governance) dari PT Mitra Rekayasa Keberlanjutan (MRKL), Aldi Muhammad Alizar menyoroti pentingnya kehadiran teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG.

Menurut Aldi, High Pressure Acid Leach (HPAL) merupakan teknologi pengolahan nikel untuk battery grade secara hidrometalurgi, yang banyak dipilih oleh smelter di Indonesia saat ini.

Namun, mengacu kepada paparan “Kinerja Sektor Komoditas dan Energi serta Kebijakan Hilirisasi 1Q2021” yang disampaikan Kemenko Marves dalam acara Finalisasi Pengujian Teknologi STAL oleh Kementerian ESDM dan TMM, pengelolaan limbah merupakan kendala terbesar dalam memproses bijih limonite melalui teknologi HPAL.

“Cara pengelolaan limbah HPAL dengan menempatkan limbah di bawah area laut dalam (Deep Sea Tailings Placement) dianggap berpotensi tinggi mencemari biodiversitas,” ujarnya.

“Padahal, cara ini adalah cara pengelolaan limbah yang saat ini dipertimbangkan oleh perusahaan pengolah nikel, untuk pengoperasian smelter HPAL milik mereka kelak,” ungkap Aldi.

Karena itu, Aldi meyakini, Indonesia membutuhkan teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG, seperti teknologi hidrometalurgi Step Temperature Acid Leach (STAL) yang kini dikembangkan PT Trinitan Metals & Minerals Tbk (TMM).

Tujuannya, kata dia, adalah untuk mengakomodir investor asing yang ‘memelototi’ aspek ESG dan menjadikannya sebagai syarat utama dalam berinvestasi, seperti Elon Musk dan Tesla, yang mensyaratkan hal itu untuk berinvestasi di Indonesia.

Dia menilai, STAL merupakan terobosan teknologi ramah lingkungan yang dapat mendukung upaya Pembangunan Rendah Karbon yang sedang marak di Indonesia.

“Selain rendah karbon, STAL juga tidak membutuhkan pengelolaan limbah yang rumit, serta mendukung transparansi dalam bentuk digitalisasi data dan informasi sehingga meningkatkan akuntabilitas kepada shareholder dan stakeholder,” ungkap Aldi.

Aldi meyakini, teknologi STAL akan membawa dampak positif berupa kesejahteraan sosial dan ekonomi yang hijau, kepada masyarakat dan penambang nikel skala menengah.

Direktur Utama TMM Petrus Tjandra menyatakan, teknologi STAL mengaplikasikan zero waste managament dalam pengoperasiannya, dimana limbah olahan yang dihasilkan akan dapat diproses lagi menjadi by-product (produk samping), dalam bentuk iron ore untuk digunakan oleh industri baja, maupun bentuk batu bata (brick) yang dapat digunakan untuk membangun jalan maupun jembatan.

Petrus menjelaskan jika TMM melalui entitas anak perusahaannya, PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) juga telah menginisiasi Green+ Program, yang berfokus pada aspek ESG.

Program ini, kata dia, akan menjamin/mensertifikasi bahwa teknologi STAL sudah memprioritaskan lingkungan hidup dalam pengoperasiannya, untuk mencapai ekonomi rendah karbon, berdaya bahan dan sumber daya yang efisien.

“Green+ Program akan memastikan bahwa potensi pencemaran lingkungan akan dapat terdeteksi secara lebih dini, melalui kontrol digital yang dapat mengeluarkan data gas buang, maupun limbah olahan secara real time dan dapat terhubung dengan pihak yang berkepentingan,” ujar Petrus.

Petrus menambahkan jika aspek environmental, social and governance (ESG) adalah fokus utama TMM dalam setiap rencana implementasi teknologi STAL.

Hal ini, kata dia, merupakan wujud komitmen perseroan untuk menjawab pertanyaan seputar masalah lingkungan hidup dalam hilirisasi nikel, sekaligus mendorong terciptanya tata kelola nikel nasional yang ramah lingkungan.

Menyikapinya, Asisten Deputi Bidang Investasi Strategis Kemenko Marves, Bimo Wijayanto mengapresiasi komitmen TMM untuk fokus kepada aspek environmental, social and governance (ESG) dalam setiap rencana implementasi teknologinya.

Menurutnya, ini merupakan salah satu langkah maju yang dapat membantu pemerintah untuk menjawab pertanyaan tentang how green is exploitation of our mineral resources.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul “STAL Siap Jadi Terobosan Teknologi Pengolahan Nikel yang Ramah Lingkungan“.

Read More

Teknologi STAL Disebut Sebagai Solusi Atas Permintaan Tesla

NIKEL.CO.ID – KONSULTAN ESG (Environmental, Social and Governance) dari PT Mitra Rekayasa Keberlanjutan (MRKL), Aldi Muhammad Alizar menyoroti pentingnya kehadiran teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG.

Menurut Aldi, High Pressure Acid Leach (HPAL) merupakan teknologi pengolahan nikel untuk battery grade secara hidrometalurgi, yang banyak dipilih oleh smelter di Indonesia saat ini. Namun, mengacu kepada paparan “Kinerja Sektor Komoditas dan Energi serta Kebijakan Hilirisasi 1Q2021” yang disampaikan Kemenko Marves dalam acara Finalisasi Pengujian Teknologi STAL oleh Kementerian ESDM dan TMM, pengelolaan limbah merupakan kendala terbesar dalam memproses bijih limonite melalui teknologi HPAL.

“Cara pengelolaan limbah HPAL dengan menempatkan limbah di bawah area laut dalam (Deep Sea Tailings Placement) dianggap berpotensi tinggi mencemari biodiversitas. Padahal, cara ini adalah cara pengelolaan limbah yang saat ini dipertimbangkan oleh perusahaan pengolah nikel, untuk pengoperasian smelter HPAL milik mereka kelak,” ungkap Aldi dalam keterangannya, Jumat (16/4/2021).

Karena itu, Aldi meyakini jika bangsa Indonesia membutuhkan teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG, seperti teknologi hidrometalurgi Step Temperature Acid Leach (STAL) yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metals & Minerals Tbk (TMM).

Tujuannya, ungkap dia, adalah untuk mengakomodir investor asing yang ‘memelototi’ aspek ESG dan menjadikannya sebagai syarat utama dalam berinvestasi, seperti Elon Musk dan Tesla, misalnya mereka mau datang dan berinvestasi di Indonesia.

“STAL merupakan terobosan teknologi ramah lingkungan yang dapat mendukung upaya Pembangunan Rendah Karbon yang sedang marak di Indonesia. Selain rendah karbon, STAL juga tidak membutuhkan pengelolaan limbah yang rumit, serta mendukung transparansi dalam bentuk digitalisasi data dan informasi sehingga meningkatkan akuntabilitas kepada shareholder dan stakeholder,” ungkap Aldi.

Aldi meyakini jika STAL akan membawa dampak positif berupa kesejahteraan sosial dan ekonomi yang hijau, kepada masyarakat dan penambang nikel skala menengah.

Menurut Direktur Utama TMM, Petrus Tjandra, teknologi STAL mengaplikasikan zero waste managament dalam pengoperasiannya, dimana limbah olahan yang dihasilkan akan dapat diproses lagi menjadi by-product (produk samping), dalam bentuk iron ore untuk digunakan oleh industri baja, maupun bentuk batu bata (brick) yang dapat digunakan untuk membangun jalan maupun jembatan.

Lebih lanjut, Petrus mengatakan jika TMM melalui entitas anak perusahaannya, PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) juga telah menginisiasi Green+ Program, yang berfokus pada aspek ESG. Program ini, kata dia, akan menjamin/mensertifikasi bahwa teknologi STAL sudah memprioritaskan lingkungan hidup dalam pengoperasiannya, untuk mencapai ekonomi rendah karbon, berdaya bahan dan sumber daya yang efisien.

“Green+ Program akan memastikan bahwa potensi pencemaran lingkungan akan dapat terdeteksi secara lebih dini, melalui kontrol digital yang dapat mengeluarkan data gas buang, maupun limbah olahan secara real time dan dapat terhubung dengan pihak yang berkepentingan,” ujar Petrus.

Petrus menambahkan jika aspek environmental, social and governance (ESG) adalah fokus utama TMM dalam setiap rencana implementasi teknologi STAL. Hal ini, kata dia, merupakan wujud komitmen perseroan untuk menjawab pertanyaan seputar masalah lingkungan hidup dalam hilirisasi nikel, sekaligus mendorong terciptanya tata kelola nikel nasional yang ramah lingkungan.

Menyikapinya, Asisten Deputi Bidang Investasi Strategis Kemenko Marves, Bimo Wijayanto mengapresiasi komitmen TMM untuk fokus kepada aspek environmental, social and governance (ESG) dalam setiap rencana implementasi teknologinya. Menurutnya, ini merupakan salah satu langkah maju yang dapat membantu pemerintah untuk menjawab pertanyaan tentang how green is exploitation of our mineral resources.

Sumber: mediaindonesia.com

 

Read More

Dengan Teknologi STAL, RI Bisa Genjot Pengolahan Nikel di Dalam Negeri

NIKEL.CO.ID – Kementerian Kordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyambut baik hasil akhir uji validasi terhadap teknologi Step Temparature Acid Leach (STAL) yang dilakukan oleh tim PSDMBP Badan Geologi Kementerian ESDM, bersama tim ahli Prof Zaki Mubarok dari Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi ITB Bandung, dan PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (TMM).

Berdasarkan paparan hasil akhir uji validasi tersebut, teknologi STAL terbukti mampu meningkatkan recovery Nikel (Ni) dan Kobalt (Co) pada rentang 87-94% Ni dan 90-95% Co. Menyikapinya, Asisten Deputi Bidang Investasi Strategis Kemenko Marves, Bimo Wijayanto mengatakan bahwa adanya uji validasi dari Badan Geologi Kementerian ESDM dan ITB merupakan tonggak sejarah yang sangat penting.

Menurut Bimo, teknologi STAL adalah kebanggaan kekayaan intelektual bangsa, maka harus diupayakan agar dapat maju ke skala industri. Yang diharapkan, lanjutnya, adalah bagaimana bisa meningkatkan kapasitas dari skala lab ke skala industri, kemudian bagaimana cita-cita mulia dari kapasitas nasional untuk memanfaatkan smelter yang sifatnya modular, hemat biaya, dan lebih ramah lingkungan.

“Kami juga mengapresiasi, tadi sudah dipaparkan matriks dari environmental, social and governance yang akan dikomitmenkan oleh TMM dalam setiap rencana implementasi dari teknologinya. Ini merupakan salah satu langkah maju, yang dapat membantu pemerintah untuk menjawab pertanyaan tentang how green is exploitation of our mineral resources,” ujar Bimo.

Sementara itu, Asisten Deputi bidang Pertambangan Kemenko Marves, Tubagus Nugraha mengatakan bahwa ini merupakan berita gembira bagi TMM, bagi pemerintah, dan bagi Indonesia, dalam rangka mendukung kapasitas nasional terhadap kebijakan hilirisasi nikel di Indonesia.

“Dari sisi upaya riset, apa yang dilakukan oleh TMM ini merupakan lompatan yang sangat besar di Indonesia. Dari pemaparan yang disampaikan, teknologi STAL dapat dioperasikan dalam skala yang lebih kecil, dibandingkan proyek smelter yang selama ini ada di Indonesia. Bagi pemerintah, apabila ada kapasitas nasional, dimana anak bangsa bisa mengembangkan salah satu aspek penting, terutama terkait hilirisasi nikel, maka kami akan sangat mendukung,” kata Tubagus Nugraha pada Selasa (6/4/2021) lalu.

Dalam kesempatan yang sama, Aldi Muhammad Alizar selaku Konsultan ESG (Environmental, Social and Governance) dari PT. Mitra Rekayasa Keberlanjutan (MRKL) mengungkapkan bahwa penurunan emisi karbon dan tentang waste limbah buangan bisa dijawab dengan baik oleh teknologi STAL, sehingga akan lebih mudah dalam mewujudian Green+ Program.

“Kita bisa mengkomunikasikan ini dengan baik kepada stakeholders nasional maupun internasional, dan kita bisa membangun sistem yang bagus guna memperkuat teknologi STAL dan Green+ Program. Indonesia wajib mengkomunikasikan upaya-upaya untuk bisa mengelola perubahan iklim, mengelola aspek lingkungan, dan sosial,” tukas Aldi.

Sebagai informasi, Green+ Program merupakan program yang diinisiasi oleh TMM melalui entitas anak perusahaannya, PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI). Program yang berfokus pada aspek ESG (Environmental, Social and Governance) ini merupakan salah satu upaya TMM dan HMI untuk mewujudkan tata kelola nikel nasional yang ramah lingkungan.

Sumber: detik.com

Read More