

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi ekstraksi nikel dari bijih laterit menggunakan campuran timol dan kolin klorida dengan bantuan asam asetat. Inovasi ini dikembangkan untuk mengoptimalkan proses ekstraksi nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik sekaligus menekan potensi dampak lingkungan dari pengolahannya.
Ekstraksi nikel dari bijih laterit atau tanah merah merupakan salah satu bahan baku baterai kendaraan listrik. Namun, pengolahan nikel secara konvensional membutuhkan energi dalam jumlah besar dan menghasilkan limbah yang berpotensi mencemari tanah serta sumber air masyarakat di sekitar wilayah pengolahan.

Periset Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Fathan Bahfie, menjelaskan bahwa inovasi ekstraksi nikel tidak hanya berorientasi pada perolehan logam, tetapi juga perlu memperhatikan kelestarian lingkungan dan keamanan masyarakat.
“Inovasi ekstraksi bukan sekadar mencari cara mengambil logam terbanyak dari alam, melainkan bagaimana kita memastikan proses tersebut meninggalkan jejak minimum bagi bumi dan memberi ruang hidup yang aman bagi masyarakat,” ujar Fathan dalam keterangan resmi yang dikutip redaksi, Selasa (27/10/2026).

Dalam prosesnya, bahan aditif dicampurkan ke tanah laterit. Selanjutnya, nikel dipisahkan dari material batuan melalui proses reduksi yang lebih terkontrol. Proses tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan ekstraksi nikel sekaligus menghasilkan sisa limbah yang tidak beracun dan tidak memicu reaksi lanjutan.
Dari sisi lingkungan, teknologi ini diarahkan untuk mengurangi limbah berbahaya sehingga risiko pencemaran tanah dan air tanah dapat ditekan. Selain itu, penerapan sistem closed-loop memungkinkan bahan kimia digunakan kembali sehingga tidak terbuang ke lingkungan.

Teknologi ekstraksi ini juga diarahkan untuk menghemat energi dan mengurangi emisi karbon dari proses pengolahan. Pemanfaatan bijih nikel berkadar rendah menjadi salah satu sasaran inovasi tersebut guna mengoptimalkan penggunaan cadangan nikel nasional.
Pengembangan teknologi ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mengurangi limbah berbahaya, memungkinkan penggunaan kembali bahan kimia, menghemat energi, serta mengurangi emisi karbon dari proses pengolahan. Teknologi ini juga diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan bijih nikel berkadar rendah sehingga cadangan nikel nasional dapat dimanfaatkan secara lebih efisien.

Pengembangan teknologi ini membuka peluang pengolahan sumber daya nikel secara lebih efisien sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Upaya tersebut relevan dengan perkembangan industri baterai kendaraan listrik yang membutuhkan pasokan bahan baku mineral, dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan. Melalui riset dan pengembangan teknologi, BRIN mendorong pemanfaatan sumber daya mineral secara lebih bertanggung jawab. Dengan demikian, pengembangan industri nikel dan baterai kendaraan listrik di Indonesia diharapkan dapat menghasilkan nilai tambah tanpa mengabaikan kelestarian alam serta kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan. (Tubagus)























