Beranda Asosiasi Pertambangan Industri Tambang Hadapi Tekanan, Perhapi Dorong Solusi Konstruktif

Industri Tambang Hadapi Tekanan, Perhapi Dorong Solusi Konstruktif

97
0
Ketum Perhapi, Sudirman Widhy Hartono, Dirjen Minerba KESDM, Tri Winarno, bersama undangan khusus, pada HUT Ke-36 Perhapi, JIExpo Kemayoran Jakarta (Foto: Dok. Perhapi)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri pertambangan nasional terus berkembang dan semakin penting sebagai salah satu penopang perekonomian Indonesia. Namun, sektor ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari dinamika geopolitik global, fluktuasi harga komoditas, hingga persoalan regulasi dan aktivitas pertambangan ilegal.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Sudirman Widhy Hartono, mengatakan, dinamika global maupun domestik membuat industri pertambangan harus terus beradaptasi.

“Industri pertambangan harus menghadapi dinamika, baik dari internal maupun eksternal,” ujar Widhy, dalam sambutan pembukaan perayaan HUT Ke-36 Perhapi, di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Dinamika geopolitik internasional serta perubahan supply demand mineral dan batu bara di pasar global, menurut hematnya, turut mempengaruhi harga komoditas pertambangan yang cenderung berfluktuasi. Di dalam negeri, tantangan juga datang dari masih maraknya aktivitas pertambangan ilegal dan sejumlah kasus pelanggaran hukum. Selain itu, munculnya berbagai regulasi baru, termasuk terkait perizinan lingkungan hidup, kehutanan, tata ruang, hingga kebijakan fiskal, turut memengaruhi keberlanjutan operasional perusahaan pertambangan.

Menurut pantauannya, tekanan tersebut tercermin dari kinerja sektor pertambangan yang hingga paruh pertama 2026 masih mengalami kontraksi dengan pertumbuhan negatif. Meski demikian, terdapat perkembangan positif dari sisi penerimaan negara. Produksi sejumlah komoditas, termasuk nikel dan batu bara, hingga Agustus 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Meski angka produksi nikel dan batu bara sampai periode Agustus lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu, namun penerimaan negara dari kedua komoditi ini lebih tinggi dibanding tahun lalu,” katanya.

Tantangan lain yang tak kalah penting adalah transisi energi yang berjalan seiring dengan perkembangan elektrifikasi, teknologi, dan tuntutan efisiensi. Kondisi tersebut mendorong industri pertambangan untuk semakin cepat beradaptasi dengan perubahan global.

Di tengah berbagai tantangan itu, Perhapi terus mendorong kontribusi organisasi profesi melalui penelitian ilmiah, pengembangan teknologi, serta kemajuan ilmu pertambangan, baik di bidang eksplorasi, penambangan, metalurgi maupun bidang terkait lainnya.

Pada 2026, Perhapi memiliki lebih dari 14.000 anggota, baik aktif maupun tidak aktif, yang berasal dari berbagai kalangan, termasuk aparatur sipil negara (ASN), akademisi, dan praktisi. Mereka tersebar di instansi pemerintah, lembaga pendidikan, serta dunia usaha. Widhy menegaskan, Perhapi akan terus memberikan masukan dan dukungan untuk mencari solusi atas berbagai persoalan pertambangan dengan mempertimbangkan kepentingan seluruh pemangku kepentingan.

“Kami tentunya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang masih tetap mempercayai kami untuk terus berperan di dalam kontribusi untuk memajukan sektor industri pertambangan yang kita cintai ini,” ungkapnya.

Dalam rangkaian perayaan HUT ke-36 tersebut, Perhapi juga menggelar forum diskusi bertema “Industri Mineral dan Batu Bara, Kondisi Saat Ini dan Kontribusinya bagi Masa Depan Bangsa dan Negara.” Forum tersebut menghadirkan narasumber dari pemerintah sebagai regulator maupun kalangan industri sebagai perwakilan dunia usaha untuk memberikan gambaran mengenai kondisi terkini sektor pertambangan.

Dia berharap forum tersebut menjadi pijakan bagi Perhapi untuk menyusun program sekaligus rekomendasi bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

“Diharapkan forum ini bisa menjadi bekal awal bagi kami untuk dapat ditindaklanjuti dalam program kegiatan organisasi berikutnya dalam rangka menyusun masukan dan rekomendasi yang positif dan konstruktif kepada pemerintah maupun seluruh stakeholder di industri pertambangan minerba,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno, menyampaikan apresiasi atas kiprah Perhapi selama 36 tahun.

“Perhapi telah menjadi mitra strategis pemerintah. Sebagai organisasi profesi yang anggotanya adalah profesional pertambangan, kontribusi Perhapi masih sangat dibutuhkan untuk memajukan pertambangan ke depan,” pungkas Tri. (Shiddiq)