Beranda Berita Nasional Tekanan Opex Tambang Meningkat, Keandalan Alat Berat Jadi Kunci Efisiensi

Tekanan Opex Tambang Meningkat, Keandalan Alat Berat Jadi Kunci Efisiensi

85
0
Diskusi menghadirkan Direktur Indef Green Transition Initiative, Imaduddin Abdullah, Department Head of Long Term Research & Regulation Pertaabi, Widhi Setya, dan B2B Sales Director Castrol Indonesia, Troy Howard (Foto: MNI/Shiddiq)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Tekanan biaya operasional atau operational expenditure (Opex) mendorong industri pertambangan tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga mengoptimalkan aset yang telah dimiliki. Dalam kondisi tersebut, keandalan alat berat dan pencegahan unplanned downtime menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas sekaligus menekan biaya operasi.

Hal tersebut mengemuka dalam talkshow Kompas Professional Mining dan Castrol bertajuk “Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Opex: Menjawab Tantangan Efisiensi Energi dan Keandalan Alat Berat di Sektor Pertambangan”, yang digelar di booth Castrol di gelaran Mining Indonesia 2026, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (11/9/2026). 

Diskusi menghadirkan Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Green Transition Initiative, Imaduddin Abdullah, Department Head of Long Term Research & Regulation Perkumpulan Tenaga Ahli Alat Berat Indonesia (Pertaabi), Widhi Setya, dan B2B Sales Director Castrol Indonesia, Troy Howard.

Imaduddin menilai, peningkatan produktivitas di tengah tekanan biaya tidak selalu harus ditempuh melalui penambahan aset baru. Optimalisasi aset yang sudah tersedia justru menjadi salah satu ruang efisiensi yang dapat diperkuat perusahaan tambang.

“Di tengah tekanan biaya operasional, peningkatan produktivitas tidak selalu berarti menambah aset. Salah satu peluangnya adalah memastikan aset yang sudah dimiliki dapat digunakan secara optimal, tersedia ketika dibutuhkan, dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi bagi perusahaan,” ujarnya.

Strategi tersebut, lanjutnya, menjadi relevan ketika perusahaan harus menjaga keseimbangan antara target produksi, efisiensi biaya, dan optimalisasi investasi. Dari sisi operasional alat berat, pendekatan pemeliharaan juga dinilai perlu bergeser dari sekadar memperbaiki kerusakan menjadi tindakan pencegahan dan pemantauan kondisi secara berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Widhi Setya, mengatakan, perawatan alat berat harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi menjaga produktivitas, bukan hanya aktivitas setelah mesin mengalami kerusakan.

“Perawatan perlu dilihat bukan hanya sebagai aktivitas untuk memperbaiki alat setelah terjadi kerusakan. Preventive maintenance, pemantauan kondisi alat, dan pengelolaan perawatan yang disiplin menjadi bagian penting untuk menjaga alat berat tetap optimal dan mengurangi risiko unplanned downtime,” kata Widhi. 

Gangguan operasi pada alat berat, katanya menekankan, dapat berpengaruh langsung terhadap utilisasi aset dan kelancaran kegiatan produksi. Karena itu, semakin disiplin perusahaan menjalankan pemeliharaan preventif dan pemantauan kondisi alat, semakin besar peluang untuk mengantisipasi gangguan sebelum berkembang menjadi kerusakan yang menghentikan operasi.

Sementara itu, Troy Howard menyoroti pentingnya pengelolaan pelumasan dalam menjaga keandalan mesin yang bekerja dalam kondisi ekstrem. Alat berat pertambangan menghadapi beban tinggi, jam operasi panjang, temperatur tinggi, serta paparan debu dan kontaminan yang dapat mempercepat degradasi pelumas.

“Keandalan mesin tidak dimulai ketika terjadi masalah, tetapi dari bagaimana kita mengantisipasi dan menjaga kondisinya sejak awal. Bagi industri pertambangan, equipment yang lebih andal berarti lebih sedikit gangguan operasional dan peluang untuk mengoptimalkan utilisasi aset,” ujar Troy.

Menurutnya, dalam kondisi operasional pertambangan yang berat, pemilihan pelumas dan pengelolaan pelumasan menjadi bagian dari upaya menjaga performa mesin.

“Dalam operasional pertambangan yang berat, pemilihan pelumas dan pengelolaan pelumasan menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Di Castrol, kami tidak hanya menghadirkan produk, tetapi juga keahlian teknis untuk membantu pelanggan memahami kebutuhan mesin dan menentukan pendekatan pelumasan yang tepat,” katanya.

Castrol melalui lini Castrol CRB Mining menyebut solusi pelumasannya dirancang untuk mendukung performa dan umur mesin. Produk tersebut menggunakan cleaning agents untuk membantu mengendalikan penumpukan deposit serta antioksidan untuk membantu menghambat reaksi kimia yang dapat menyebabkan pengentalan oli.

Dalam konteks operasional pertambangan, pengelolaan pelumasan tidak hanya berkaitan dengan pelumasan komponen, tetapi juga upaya menjaga kebersihan mesin dan kondisi oli sepanjang masa pakainya. Hal ini menjadi semakin penting karena degradasi pelumas dan penumpukan deposit berpotensi memengaruhi performa mesin.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa efisiensi di sektor pertambangan tidak semata-mata berarti memangkas pengeluaran. Efisiensi juga berkaitan dengan kemampuan perusahaan memastikan aset tersedia dan dapat bekerja secara optimal ketika dibutuhkan. Dengan demikian, strategi menghadapi tekanan Opex dapat dilakukan melalui kombinasi optimalisasi aset, pemeliharaan preventif, pemantauan kondisi alat, serta pengelolaan pelumasan yang tepat.

Melalui keikutsertaannya dalam Mining Indonesia 2026, Castrol menempatkan diri sebagai technical partner bagi industri pertambangan dengan menggabungkan produk, keahlian teknis, dan wawasan industri untuk mendukung equipment reliability, optimalisasi aset, serta efisiensi operasional.

Diskusi yang berlangsung di booth C3-6922, JIExpo Kemayoran itu menjadi bagian dari upaya mempertemukan perspektif ekonomi, industri alat berat, dan solusi teknis dalam menjawab tantangan produktivitas pertambangan di tengah tekanan biaya operasi. (Shiddiq)