Beranda Berita Nasional Mind Id Dorong Penguasaan Teknologi untuk Bawa Industri Tambang ke Pasar Global

Mind Id Dorong Penguasaan Teknologi untuk Bawa Industri Tambang ke Pasar Global

108
0
Vice President Director Mind0 Id, Dany Amrul Ichdan (Foto: MNI/Fi Yun)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri pertambangan Indonesia dinilai telah memasuki tahap pengembangan ekosistem industri yang lebih terintegrasi, mulai dari kegiatan pertambangan, pengolahan, hingga hilirisasi. Namun, tantangan berikutnya adalah meningkatkan penguasaan teknologi untuk mendorong industri masuk ke tahap material maju (advanced material) dan menembus pasar global.

Vice President Director Mind Id, Dany Amrul Ichdan, mengatakan, perkembangan industri tambang nasional saat ini telah berjalan relatif normal, baik pada sektor pertambangan, pengolahan maupun industri hilir. Tantangan yang lebih besar akan muncul ketika Indonesia mulai mengembangkan produk material maju dan memperluas orientasi industrinya ke pasar global.

“Ke depan kita masuk ke tahapan advanced material sampai kepada global market. Di situlah tantangannya,” kata Dany, di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Indonesia saat ini masih menghadapi keterbatasan dalam penguasaan teknologi di sepanjang rantai industri, termasuk pada sektor downstream. Kondisi tersebut membuat industri nasional masih membutuhkan proses transfer teknologi untuk meningkatkan kemampuan produksi dan pengembangan produk.

“Dari mulai mining, processing, sampai dengan downstream, kita memang masih belum sepenuhnya menguasai teknologi. Di downstream, banyak sektor kita memang masih perlu transfer teknologi,” ujarnya.

Kebutuhan terhadap transfer teknologi, menurutnya, juga terlihat pada berbagai teknologi yang digunakan dalam pengembangan industri midstream dan downstream, termasuk teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) serta sejumlah teknologi pengolahan dan pemurnian yang lebih baru. Ketergantungan terhadap teknologi tersebut perlu dipandang bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga sebagai peluang bagi pelaku industri nasional untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing.

“Ini harus kita lihat sebagai sebuah tantangan sekaligus peluang bagi industri,” ucapnya.

Selain itu, ia menyoroti, struktur perekonomian Indonesia yang masih menghadapi persoalan middle income trap. Meskipun produk domestik bruto (PDB) Indonesia telah menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, pendapatan per kapita nasional masih relatif rendah dibandingkan negara-negara dengan perekonomian maju.

“Kalau kita melihat, memang hari ini PDB kita termasuk yang terbesar di Asia Tenggara, sekitar US$1,54 triliun. Tapi di satu sisi, PDB kita berkapital saat ini hanya sekitar US$5.362-5.365,” ungkapnya.

Kondisi tersebut pun menunjukkan perlunya perubahan struktur dan orkestrasi perekonomian nasional agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menghasilkan peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi juga mendorong kenaikan produktivitas dan pendapatan masyarakat.

Oleh karena itu, transformasi dari sektor pertambangan menuju ekosistem industri dinilai menjadi momentum penting untuk mengubah struktur perekonomian nasional. Pengembangan industri tidak lagi cukup hanya berhenti pada produksi komoditas dan produk antara, tetapi harus diarahkan menuju produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Perubahan tersebut dinilai membutuhkan orkestrasi ekonomi dan perubahan kontur struktur perekonomian nasional. Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya dipandang sebagai pembangunan fasilitas pengolahan mineral, tetapi menjadi bagian dari strategi industrialisasi yang mampu menciptakan nilai tambah, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. (Fi Yun)