


NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengundang Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dalam forum Energy Insight bertajuk “The Next Chapter of Indonesian Mining: Growth, AI, Capital, and Electrification” yang digelar di Langham Hotel, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Forum Energy Insight mempertemukan para pemimpin industri pertambangan, investor, penyedia teknologi, serta pemangku kepentingan strategis untuk membahas arah perkembangan sektor pertambangan Indonesia di tengah perubahan pasar komoditas dan percepatan transformasi teknologi. Dewan Penasihat Pertambangan APNI, Djoko Widajatno, hadir mewakili wadah para penambang nikel di Indonesia itu.

Pada kegiatan yang dibuka Vice Chairman for Energy and Mineral Resource Kadin Indonesia, Aryo Djojohadikusumo, sejumlah pembicara sharing pengetahuan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menugaskan Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara pada Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba), Asep Kurnia Permana, menyampaikan sosialisasi kebijakan-kebijakan pemerintah mengenai hal terkait.
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Mineral Industri Indonesia (Persero) (Mind Id) yang menaungi beberapa perusahaan tambang besar di Indonesia secara khusus mengutus Vice President Director Mind Id, Dany Amrul Ichdan. Lalu ada Chief Executive Officer PT Danantara Sumberdaya Indonesia, Luke Thomas Mahony. McKinsey & Company Indonesia mengirim Khon Tee Tan (senior partners and managing partner), Narendra Adoe dan Vivek Jha (associate partners), Yanto (partner), dan Andro Hutabarat (expert).

Selain itu, hadir pula sebagai pembicara Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah, Managing Director PT Dian Swastatika, Lokita Prasetya, Chief Technical Service Officer PT J. Resources Nusantara, Wawan Riswanto, Head of Permanent Committee of New, Renewable Energy, and Energy Conservation Kadin Indonesia, Antony Utomo, dan Google Cloud Indonesia mengutus Sai Prasad Kolluri (chief technology officer/CTO).
Kadin Indonesia bersama Katadata Indonesia dan McKinsey & Company menyelenggarakan forum tersebut sebagai wadah diskusi tingkat eksekutif untuk membahas berbagai tren yang akan membentuk masa depan industri pertambangan Indonesia. Sejumlah isu strategis menjadi fokus pembahasan, mulai dari prospek pertumbuhan industri pertambangan, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), optimalisasi alokasi modal dan investasi, hingga percepatan elektrifikasi dalam kegiatan operasional pertambangan.

Industri pertambangan nasional dinilai memasuki fase pertumbuhan baru yang dipengaruhi oleh perkembangan pasar komoditas global, inovasi teknologi, disiplin permodalan, serta tuntutan terhadap operasi yang lebih rendah karbon. Kondisi tersebut semakin relevan seiring dengan upaya Indonesia memperkuat posisinya sebagai salah satu pemasok mineral kritis dunia. Pelaku industri dihadapkan pada sejumlah pertanyaan strategis, termasuk terkait penentuan investasi, peningkatan daya saing, dan pemanfaatan peluang baru di sepanjang rantai nilai pertambangan.
Di sisi teknologi, AI mulai bergeser dari tahap eksperimen menuju implementasi praktis di berbagai sektor pertambangan. Teknologi tersebut berpotensi diterapkan dalam kegiatan eksplorasi, operasi pertambangan, pengolahan, pemeliharaan, hingga pengambilan keputusan. Pemanfaatan AI yang dikombinasikan dengan digitalisasi dan elektrifikasi dinilai dapat meningkatkan produktivitas serta efisiensi operasional, sekaligus mendukung keberlanjutan dan ketahanan kegiatan pertambangan.

Forum Energy Insight di dalamnya juga dibahas strategi optimalisasi modal dan penentuan prioritas investasi. Pembahasan mencakup upaya meningkatkan tingkat pengembalian investasi serta mengidentifikasi peluang investasi baru pada berbagai komoditas, rantai nilai, maupun sektor-sektor yang terkait dengan pertambangan.
Sementara itu, aspek elektrifikasi menjadi salah satu agenda penting dalam mendorong operasional pertambangan yang lebih berkelanjutan. Transisi tersebut mencakup pembahasan mengenai peluang, tantangan, kebutuhan infrastruktur, serta peran teknologi digital dalam mendukung kegiatan pertambangan yang lebih efisien dan rendah emisi.

Dalam konteks pengurangan emisi, Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% hingga 43,20% pada 2030. Target tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong industri untuk mengembangkan model operasi yang lebih rendah karbon. (Fi Yun)










































