
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Komjen Pol. (Purn.) Drs. Nanan Soekarna, secara resmi membuka 8th Training to Miners (TTM) APNI Series, di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (29/7/2026). Ia menegaskan, TTM tidak hanya untuk anggota APNI, tetapi terbuka bagi seluruh pelaku industri pertambangan.
“Kegiatan ini untuk siapapun yang memerlukan peningkatan kompetensi di sektor pertambangan,” katanya.
Selain pembekalan teknis, Nanan menekankan pentingnya pembangunan karakter dan nilai-nilai (values) sebagai fondasi tata kelola pertambangan. Keberhasilan industri tidak cukup hanya mengejar nilai tambah ekonomi (value), tetapi juga harus didasari nilai-nilai kebangsaan, integritas, dan tanggung jawab.

“Negara harus didahulukan, masyarakat harus sejahtera, baru kemudian perusahaan memperoleh kebahagiaan. Values harus berada di atas value,” tegasnya.
Wakapolri periode 2011-2013 itu mengajak seluruh pelaku industri untuk menjunjung tinggi integritas melalui komitmen “full commitment, no conspiracy”, yakni menghindari praktik kolusi maupun penyimpangan dalam hubungan antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Menurutnya, tata kelola pertambangan yang baik hanya dapat terwujud apabila seluruh pemangku kepentingan berani menjaga kebenaran dan amanah.
“Good mining governance tidak akan terwujud tanpa integritas. Kita harus berani menjaga kebenaran apa pun risikonya,” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Panitia TTM APNI Seri Ke-8, Djoko Widajatno Soewanto, mengungkapkan, pelatihan tahun ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada peserta mengenai perkembangan kebijakan dan tantangan terbaru di sektor pertambangan.

“Selama tiga hari pelaksanaan kegiatan, peserta akan mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai berbagai isu strategis di sektor pertambangan,” kata Djoko dalam sambutannya.
Materi yang dibahas, katanya menjelaskan, mencakup revisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB), perubahan studi kelayakan dan Amdal, perhitungan harga patokan mineral (HPM) dengan formulasi baru, kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam, optimalisasi cadangan, implementasi standar operasional pertambangan, konservasi mineral, jaminan reklamasi dan pascatambang, kewajiban laboratorium perusahaan, dampak penataan kawasan hutan oleh Satgas PKH, hilirisasi industri, hingga mekanisme ekspor dan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS).
Peserta pelatihan, katanya menambahkan, berasal dari berbagai latar belakang, tidak hanya perusahaan nikel, tetapi juga perusahaan non-nikel, asosiasi, akademisi, konsultan, pemerintah, hingga institusi pendukung sektor pertambangan.

“Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus memperluas komunikasi, jejaring profesional, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, akademisi, dan berbagai institusi pendukung demi mewujudkan industri pertambangan yang semakin profesional, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia berharap seluruh materi yang diberikan mampu memberikan manfaat nyata bagi perusahaan, tidak hanya dalam memahami regulasi pertambangan, tetapi juga meningkatkan kepatuhan, produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing industri nasional.
Tokoh pertambangan Indonesia ini juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, sponsor, peserta, dan panitia yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Semoga training to miners dapat terus menjadi agenda berkelanjutan APNI dalam meningkatkan kompetensi insan pertambangan Indonesia serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan industri pertambangan nasional,” katanya. (Shiddiq)











































