

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Indonesia telah mencatat kemajuan signifikan dalam pembangunan ekosistem hilirisasi nikel selama satu dekade terakhir. Berbekal kebijakan larangan ekspor bijih mineral dan pengembangan industri pengolahan, Indonesia kini menjadi produsen terbesar dunia untuk bahan baku nikel bagi industri baja maupun baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Director of External Relations CNGR Indonesia, Magdalena Veronika, mengatakan, perjalanan hilirisasi nasional tidak dapat dinilai hanya dari perkembangan dalam dua hingga lima tahun terakhir. Transformasi industri nikel merupakan proses panjang yang telah dimulai lebih dari satu dekade lalu.
“Perjalanan hilirisasi ini dimulai ketika Indonesia menyadari bahwa sumber daya alam merupakan sumber daya yang tidak terbarukan. Karena itu, pemerintah mengambil kebijakan yang sangat berani dengan melarang ekspor bahan mentah agar mineral diolah terlebih dahulu di dalam negeri,” ujar Veronika, dalam program Mining Zone CNBC Indonesia, Selasa (7/7/2026).
Ia menjelaskan, implementasi larangan ekspor mineral mendorong pembangunan puluhan fasilitas smelter sejak 2014. Pada tahap awal, fokus industri masih berada pada pengolahan bijih menjadi produk antara (intermediate products) yang memberikan nilai tambah dibandingkan ekspor bahan mentah. Memasuki periode 2019 hingga sekarang, hilirisasi berkembang semakin jauh. Investasi tidak lagi hanya tertuju pada pembangunan smelter, tetapi juga industri lanjutan yang menghasilkan material untuk baterai kendaraan listrik. Perkembangan tersebut menjadikan Indonesia sebagai pemasok terbesar bahan baku berbasis nikel pada 2025, baik untuk industri baja nirkarat (stainless steel) maupun baterai kendaraan listrik.
“Pencapaian ini tidak hanya terjadi karena investasi, tetapi juga karena adanya regulasi yang memberikan arah yang jelas. Setelah regulasi hadir, pasar dan investor ikut bergerak sehingga dalam 10 tahun seluruh ekosistem berkembang menuju hilirisasi,” katanya.

CNGR Kembangkan Enam Produk Turunan Nikel
Sebagai salah satu pelaku industri, Veronika menjelaskan, CNGR Advanced Material terus memperluas rantai nilai pengolahan nikel di Indonesia. Perusahaan yang berbasis riset dan pengembangan (research and development/R&D) tersebut telah mengembangkan berbagai produk hilir sejak beroperasi di Indonesia. Perusahaan ini memulai pengolahan dari produk intermediate, kemudian melanjutkannya ke proses refinery hingga menghasilkan nikel dengan tingkat kemurnian sangat tinggi.
Pada 2024, untuk pertama kalinya Indonesia mampu memproduksi dan memperdagangkan nikel dengan kemurnian 99,99% di pasar global. Selanjutnya, pada 2026, CNGR mulai memproduksi material prekursor NCM (nickel-cobalt-manganese precursor) sebagai bahan baku utama baterai lithium berbasis nikel. Hingga kini CNGR telah mengembangkan enam jenis produk turunan nikel yang diproduksi di Indonesia.
Di sisi lain, ekosistem baterai nasional juga berkembang melalui investasi pada baterai berbasis lithium ferrophosphate (LFP) serta komersialisasi litium karbonat yang mulai diproduksi di Indonesia.
“Indonesia berpotensi menjadi hub untuk berbagai jenis baterai, tidak hanya berbasis nikel, tetapi juga teknologi lainnya sehingga ekosistemnya semakin lengkap,” tuturnya.

SDM Masih Menjadi Tantangan Utama
Meski perkembangan industri berjalan pesat, tantangan terbesar saat ini bukan lagi investasi maupun teknologi, melainkan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi tinggi. Proses manufaktur produk hilir nikel membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan teknis yang mampu mengoperasikan sekaligus mengimplementasikan teknologi industri secara langsung.
“Yang dibutuhkan bukan hanya orang yang memahami ilmunya, tetapi yang mampu menerapkannya di lapangan. Diversifikasi produk berlangsung sangat cepat sehingga kebutuhan SDM dengan berbagai disiplin ilmu juga semakin besar,” katanya.
Ia menilai, pemanfaatan tenaga kerja lokal akan meningkatkan efisiensi biaya sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.

Hilirisasi Perlu Diperluas hingga Industri Daur Ulang
Selain penguatan SDM, pengembangan hilirisasi dinilai perlu diperluas hingga tahap yang lebih hilir. Saat ini volume industri masih didominasi sektor pengolahan hulu, sementara industri manufaktur lanjutan masih relatif terbatas. Karena itu, regulator dan investor diharapkan mampu mendorong investasi pada produk bernilai tambah tinggi agar rantai industri semakin panjang.
Di samping itu, Indonesia juga dinilai perlu mulai membangun industri daur ulang (recycling) baterai dan logam sebagai bagian dari ekonomi sirkular.
“Sumber daya alam bersifat tidak terbarukan. Karena itu ke depan Indonesia perlu mengembangkan pemanfaatan sumber daya sekunder melalui industri recycling. Hal ini tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” pungkasnya.
Dengan penguatan hilirisasi, pengembangan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pembangunan industri daur ulang, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pusat industri baterai kendaraan listrik dunia dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang. (Li Han)










































