
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Selama ini kita terfokus pada perkembangan industri baterai China dan Indonesia. Lantas, bagaimana perkembangan negara industri besar Asia, Korea Selatan, yang mobil listriknya juga wara-wiri di jalan-jalan kota besar Indonesia?
Dari Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026, yang digelar Shanghai Metals Market (SMM) dan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), di Hotel Pullman Central Park, Tanjung Duren, Jakarta Barat, 3-5 Juni 2026, kondisi di Negeri Ginsengn diungkap oleh Country Manager Korea Office SMM Korea Office, James (Ikhwan) Choi.
Choi memaparkan, industri baterai Korea Selatan diproyeksikan terus tumbuh hingga 2030 dengan rata-rata pertumbuhan tahunan mencapai 14%. Di tengah ekspansi pasar tersebut, segmen energy storage system (ESS) diperkirakan mencatat pertumbuhan paling pesat dan semakin memperbesar kontribusinya terhadap industri baterai nasional.
“Namun, yang lebih penting adalah porsi ESS yang meningkat cukup besar. Jika dibandingkan dengan 2026, kontribusi ESS mencapai 30% dan pada 2030 diperkirakan meningkat menjadi 39%,” ujarnya.
Ia mengatakan, kenaikan porsi ESS ini menunjukkan semakin besarnya kebutuhan pasar terhadap solusi penyimpanan energi, sejalan dengan pengembangan energi terbarukan dan kebutuhan stabilitas pasokan listrik.
“Tetapi, kendaraan listrik masih akan menjadi pendorong utama pertumbuhan volume pasar baterai. Artinya, volume pasar kendaraan listrik juga akan terus meningkat,” ungkapnya.

Selama ini, sambungnya, industri baterai Korea Selatan lebih banyak berfokus pada baterai berbasis mangan(MGM). Namun, perubahan kebutuhan pasar membuat produsen mulai memperluas kapasitas produksi untuk baterai ESS.
“Secara tradisional pasar Korea berfokus pada baterai MGM dan selama ini kami juga berkonsentrasi pada bisnis tersebut. Tetapi, saat ini kami juga perlu memproduksi baterai untuk ESS karena permintaannya terus berkembang,” ujarnya.
Pertumbuhan segmen ESS diperkirakan jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan industri baterai secara keseluruhan. Pertumbuhan tahunan ESS sejak 2025 hingga 2030 diperkirakan sangat cepat, bahkan bisa mencapai sekitar 45%.
“Namun, perlu dicatat bahwa secara volume, pasar ESS masih jauh lebih kecil dibandingkan pasar kendaraan listrik,” katanya.
Selain membahas prospek industri baterai, Choi juga menyoroti tren kenaikan harga minyak dunia yang masih bertahan di level tinggi sejak Maret. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi faktor yang mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik.
“Harga minyak sejak Maret mengalami kenaikan yang cukup besar dan hingga saat ini masih berada pada level yang tinggi,” ujarnya.
Dengan pertumbuhan yang tetap kuat hingga akhir dekade ini, Korea Selatan diperkirakan akan semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri baterai global, baik untuk kebutuhan kendaraan listrik maupun sistem penyimpanan energi. (Shiddiq)





































