Luhut: Hilirisasi Nikel RI Bikin Tesla Bingung

NIKEL.CO.ID – Pemerintah terus mendorong hilirisasi di sektor pertambangan mineral khususnya nikel. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pengembangan hilirisasi sudah berjalan selama tujuh tahun.

Dalam acara Pengukuhan Dewan Pengurus Apkasi Masa Bhakti 2021-2026 dan Rakernas XIII Apkasi Tahun 2021 di Bali yang disiarkan YouTube Apkasi, Sabtu (19/06/2021), Luhut bahkan mengatakan jika raksasa mobil listrik asal Amerika Serikat (AS), Tesla Inc. sampai bingung melihat hal tersebut.

“Pengembangan hilirisasi, tujuh tahun itu kerjakan, ini banyak yang sangat gak tahu, Tesla saja bingung lihat ini,” ungkapnya.

Luhut menyebut hilirisasi membutuhkan investasi yang sangat besar. Dia juga menyebut jika hilirisasi tidak hanya dikerjakan oleh pekerja dari China saja.

Misalnya, imbuh Luhut, di Morowali dari 50 ribu pekerja, pekerja yang berasal dari China hanya sekitar 4.000 saja. Dan pekerja ini nantinya akan diganti secara bertahap dengan lulusan Politeknik Morowali.

“Kita harap 2024 sudah produksi lithium baterai dan produksi nanti battery pack sampai 100 mega watt (MW) simpan energi. Mobil listrik akan lebih awal produksi hanya baterai akhir 2023 atau 2024,” kata Luhut.

Lebih lanjut, dia mengatakan sekarang di Indonesia sudah ada industri baru yang terintegrasi dari timur sampai ke barat. Menurut Luhut, tanggal 3 Juli nanti di Bintan akan ada pengapalan pertama untuk alumina.

“Investasi hampir US$ 2 miliar akan berkembang dan kita kembangkan di Kalimantan Barat. Lihat lagi di Morowali akan lihat ekspor perdana dari High Pressure Acid Leach (HPAL) bangun dari baterai lithium,” jelasnya.

Eks Kepala Kantor Staf Presiden itu menyebut semua ini terintegrasi dan sebagian besar investasinya dari China. Namun ada juga dari Prancis, Indonesia, dan Australia. Menurutnya, Indonesia saat ini kena anti dumping oleh China karena cost yang lebih murah.

“Karena cost kita lebih murah dari China, kita dikenakan pajak tambahan karena lebih murah dari barang yang diproduksi sama di China,” paparnya.

Kenapa produk Indonesia lebih murah? Luhut menjelaskan jika listrik di tanah air tergorlong murah, yakni US$ 5 sen per kilowatt-hour (kwh), ongkos transportasi US$ 1-2 per ton. Sementara China listriknya US$ antara 9-12 per kWh dan transportasi US$ 5-10 per ton.

“Kalau bisa kelola negara dengan bagus Indonesia ini akan jadi negara yang baik. Indonesia masuk ke dalam global supply chain. Hilirisasi nikel ini buat ekspor baja menguat. Tahun ini akan bisa hampir US$ 20 miliar ini buat salah satu penopang ekonomi kita,” ujarnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Beberkan Nikel RI Berlimpah, Luhut: Posisi Tawar Kuat!

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membeberkan produksi nikel Indonesia saat ini. Dengan jumlah produksi sebanyak 21 juta ton/tahun, Indonesia telah menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dunia dalam bentuk Nickel Pig Iron (NPI).

Pemerintah kini mendorong investasi pada hilirisasi produk turunan Nikel untuk memproduksi baterai listrik.

“Dengan ini (potensi Nikel) yang besar kita lihat bahwa Indonesia punya bargaining position yang kuat,” tegas Luhut saat memberikan ceramah dalam Pembekalan Kunjungan Lapangan Isu Strategis Nasional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) ke-61, di Jakarta Kamis (17/6/2021), dikutip dari keterangan tertulis Kemenko Kemaritiman & Investasi.

Oleh sebab itu, menurut Luhut, Indonesia memiliki hak untuk berkembang dan bekerja sama yang saling menguntungkan.

“Kita juga nggak boleh baik-baik amat. Kita harus mainkan peran kita,” kata Luhut.

Dalam paparan yang disampaikan secara virtual, Luhut menyampaikan pada 2025 Indonesia diproyeksikan memasok 50 persen pasokan dunia, dibandingkan dengan 28 persen pada tahun 2020. Produksi nikel Indonesia akan meningkat dengan adanya smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang akan mulai beroperasi pada 2021 yang akan menghasilkan Mix Hydroxide Precipitate (MHP).

Peningkatan produksi bahan baku baterai lithium tersebut merupakan salah satu dari materi yang disampaikannya kepada para peserta pembekalan Lemhanas. Topik lain yang juga dijelaskan Menko Luhut antara lain soal implementasi Undang-Undang Omnibus Cipta Kerja, penanganan Covid 19, dan peningkatan investasi.

Khusus tentang penanganan COVID-19 dan penguatan investasi, Luhut menegaskan pemerintah berupaya untuk menangani dengan seimbang.

“Tapi penanganan COVID dan investasi is just like two sides of the coin, artinya kedua-duanya sama-sama penting. Jadi strategi pemerintah agar ekonomi tetap berjalan adalah dengan mempercepat proses vaksinasi,” tambahnya.

Membahas soal investasi, Luhut menjelaskan pemerintah saat ini fokus pada lima hal, yakni hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA), pengembangan baterai lithium, sektor kesehatan, infrastruktur konektifitas maritim dan penurunan emisi karbon.

Luhut memaparkan beberapa kawasan industri yang mengembangkan produk turunan nikel dan bauksit. Ketujuh kawasan tersebut antara lain kawasan Galang Batang dengan nilai total investasi sebesar US$ 2,5 miliar (target operasi tahun 2021), kawasan industri Morowali Utara dengan nilai total investasi sebesar US$ 4.19 miliar (target operasi pada kuartal keempat tahun 2021), dan kawasan industri Tanah Kuning dengan nilai total investasi yang akan dikucurkan secara bertahap sebesar US$ 60 miliar (target operasi tahun 2022).

Selain kawasan-kawasan itu, Menko Luhut juga menyebutkan nilai investasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Weda Bay Industrial Park yang masing-masing sebesar US$ 10 miliar. Dengan membangun kawasan industri yang terintegrasi, menurutnya ongkos produksi menjadi semakin murah. “In the end, cost kita jadi sangat murah, otomatis harga jual nikel olahan kita jadi bersaing sehingga China menerapkan kebijakan dumping ke Indonesia,”bebernya.

Hal baru yang juga disampaikan oleh Menko Luhut kepada peserta kegiatan pembekalan Lemhanas adalah tindak lanjut dari pembicaraan via Zoom antara dirinya dengan Menteri Investasi Arab Saudi Khalid Al-Falih pada Hari Rabu (16-6-2021).

“Tanggal 24 (Juni) kami janjian akan zoom call dan fokus mendiskusikan mengenai investasi pada Sovreign Wealth Fund, pembangunan ibu kota baru, fokus penanaman 11 juta pohon di Aran Saudi, penanganan perubahan iklim dan investasi di sektor energi terbarukan,” katanya.

Terakhir, Luhut berpesan agar para peserta pembekalan yang terdiri dari 70-an orang tersebut dapat belajar dari pengalaman pemerintah.

“Dalam proses pengambilan keputusan di satuanmu jangan hanya lihat satu sisi saja, tapi harus mempertimbangkan dari berbagai angle (sudut), semua harus diselesaikan secara terintegrasi,”ingatnya.

Selain itu, sebagai pimpinan, Luhut juga mengatakan agar selalu mengecek implementasi kebijakan atau keputusan yang telah diambil dengan cara membentuk gugus tugas.

“Bikin task force (gugus tugas) untuk lihat ke bawah dengan time table yang jelas sehingga progres dapat dimonitor,”pintanya.

Kegiatan Pembekalan Studi lapangan mengenai industri Strategis Nasional Lemhanas ke-61 ini juga dihadiri oleh Wagub Lemhanas RI Wieko Syofyan, dan Deputi Bidang Pendidikan Pimpinan Tingkat Nasional Lemhanas.

Sumber: detik.com

Read More

Kasus Gugatan Uni Eropa Soal Ekspor Nikel Ditangani Langsung Oleh Menko Luhut

NIKEL.CO.ID – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyerahkan kasus gugatan atau sengketa dagang DS 592 atau (nikel) antara Indonesia dengan Uni Eropa kepada Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi.

Artinya, seluruh komunikasi berkaitan dengan sengketa tersebut akan ditangani atau diambilalih oleh Menko Luhut Binsar Pandjaitan.

“Kami sampaikan bahwa untuk sengketa dagang DS 592 (nikel) telah disepakati bahwa komunikasi dilakukan secara satu pintu yaitu melalui Menko Maritim dan Investasi,” kata Plt. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan an Indrasari Wisnu Wardhana, saat kepada merdeka.com, Selasa (18/5/2021).

Pemerintah Indonesia siap memperjuangkan dan melakukan upaya pembelaan terhadap gugatan Uni Eropa (UE) atas sengketa kebijakan terkait bahan mentah (DS 592).

Hal ini menanggapi langkah UE yang secara resmi untuk kedua kalinya meminta pembentukan panel sengketa DS 592 pada pertemuan reguler Badan Penyelesaian Sengketa (DSB) – Badan Perdagangan Dunia (WTO)

Indonesia dengan Uni Eropa ini memang sedang mempunyai dua permasalahan yang pertama, yakni DS 592 terkait masalah nikel.

Indonesia juga tengah menggugat Uni Eropa terkait diskriminasi sawit melalui aturan Renewable Energy Directive II (RED II) dengan nomor gugatan DS 593.

“Pemerintah Indonesia bersama seluruh pemangku kepentingan berkeyakinan, kebijakan dan langkah yang ditempuh Indonesia saat ini telah konsisten dengan prinsip dan aturan WTO,” jelas Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dikutip dari laman Setkab di Jakarta, Jumat (26/2/2021).

Lutfi menekankan, meskipun menyesalkan tindakan dan langkah UE, proses sengketa di WTO merupakan suatu hal biasa dan wajar jika terjadi persoalan di antara anggota WTO.

“Tindakan dan langkah yang dilakukan UE tentunya dapat menghalangi proses pembangunan dan kemajuan Indonesia di masa yang akan datang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, tindakan ini merupakan hal yang biasa dan wajar terjadi manakala terjadi persoalan di antara anggota WTO,” ujar Mendag.

Kronologi Gugatan UE

Sebelumnya, UE telah menyoroti langkah dan kebijakan Indonesia di sektor minerba dan mengajukan secara resmi permintaan konsultasi kepada Indonesia di bawah mekanisme penyelesaian sengketa pada WTO di akhir November 2019.

Selanjutnya, proses konsultasi sebagai upaya untuk menyelesaikan persoalan antara Indonesia dan UE, telah dilaksanakan pada Januari 2021 di Sekretariat WTO di Jenewa.

Dalam proses konsultasi ini, Pemerintah Indonesia telah menjelaskan atas pokok-pokok persoalan yang diangkat UE seperti pelarangan ekspor, persyaratan pemrosesan di dalam negeri, kewajiban pemenuhan pasar domestik (domestic market obligation), mekanisme dan persyaratan persetujuan ekspor dan pembebasan bea masuk bagi industri.

Indonesia telah menolak permintaan tersebut pada pertemuan DSB WTO di Januari 2021 karena yakin bahwa kebijakannya telah sesuai dengan ketentuan WTO dan amanat konstitusi.

Namun, dalam pertemuan reguler DSB – WTO pada Senin (22/02/21), UE secara resmi untuk kedua kalinya meminta pembentukan panel sengketa DS 592. Gugatan UE akhirnya berkurang dengan hanya mencakup dua isu, yakni pelarangan ekspor nikel dan persyaratan pemrosesan dalam negeri.

Sumber: liputan6.com

Read More

Kemenko Marves Dukung Pengembangan Teknologi STAL Untuk Pengolahan dan Pemurnian Nikel

NIKEL.CO.ID – Kemenko Marves menyambut baik pengembangan teknologi Step Temperature Acid Leaching (STAL) yang dilakukan oleh PT. Trinitan Metal and Minerals Tbk. Hal ini disampaikan dalam acara Finalisasi Pengujian teknologi STAL tersebut pada hari Selasa (06/04/2021) yang dihadiri oleh wakil dari Badan Geologi Kementerian ESDM dan Guru Besar Teknik Metalurgi ITB, Prof. Zaki Mubarok. Hadir dari Kemenko Marves Asdep Investasi Strategis, Bimo Wijayanto beserta Asisten Deputi Pertambangan, Tubagus Nugraha.

Pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini, dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar. Teknologi tersebut dapat berbentuk modular, dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth). Dengan teknologi modular ini, dinilai besaran yang dibutuhkan akan bisa diangkau oleh industri pertambangan yang lebih kecil yang banyak beroperasi di Indonesia. PT. Trinitan sendiri merencanakan akan membangun serta mengkomersialkan teknologi STAL ini di KEK Palu, dengan target COD pada 2023.

Desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton nickel ore per tahunnya atau 600 ton per hari untuk setiap modular STAL dengan kadar bisa sampai 1.1%, dihitung akan dapat menghasilkan 1800 ton pure nikel per tahun.

Teknik STAL ini akan dioperasikan pada tekanan atmosphere ruang yang lebih sekitar 1 atm, dengan temperature antara 300 – 700 derajat celcius. Di tahapan ini terjadi proses sulfatisasi dari logam-logam yang terdapat di nickel ore. Residu dari proses ini diklaim lebih ramah lingkungan dibandingkan teknologi HPAL karena residu yang dihasilkan berupa oksida besi (Fe2O3) dan sedikit oksida alumunium (Al2O3) serta sedikit sedikit asam sulfat dalam bentuk metal sulfat. Residu ini dapat diolah kembali menjadi iron ore dan iron brick (bata besi).

Penelitian yang dilakukan oleh PT. Trinitan Metal and Minerals ini telah sejak tahun 2019 ini dalam prosesnya meminta verifikasi dan validasi kepada Badan Geologi Kementerian ESDM dan juga dari Teknik Metalurgi ITB. Menurut hasil vailidasi yang dipaparkan pada acara tersebut, dengan penilaiain recovery factor mencapai diatas 90%, teknologi ini dinilai sudah layak untuk dikembangkan secara komersial. Pada kesempatan itu juga, Teknik Metalurgi ITB tertarik untuk melanjutkan peneltian dalam pengembangan MHP yang dihasilkan melalui proses STAL untuk dapat dijadikan NCM Precursor melalui proses secara langsung (direct process).

Menurut Asdep Bimo pemanfaatan teknologi ini didasari oleh konsep environmental social and governance pada setiap rencana teknologinya. Hal ini dapat membantu pemerintah menjawab informasi seputar pengolahan sumber daya mineral yang berbasis ramah lingkungan.

“Artinya rekomendasi-rekomendasi tentang pemanfaatan ekonomi green, green investment ataupun financing, itu sudah bisa terjawab dengan cara-cara STAL yang efisien dengan dampak lingkungan yang minimal dan juga transparansi dari sisi governance,” ungkapnya.

Diketahui bahwa kendala terbesar dalam memproses bijih limonit atau nikel berkadar rendah melalui HPAL (High Pressure Acid Leach) adalah pengelolaan limbahnya. Pada umumnya, terdapat tiga acara pengelolaan limbah HPAL, yakni membuang limbah di bawah area laut dalam, membendung limbah dalam bentuk cairan di salah satu bendungan, dan menumpuk limbah yang sudah dikeringkan.

Melalui pemanfaatan teknologi ini, Asdep Tubagus juga berharap agar teknologi ini dapat berkembang secara komersial. Namun teknologi ini perlu memenuhi kelayakan secara teknisnya, dan diakui oleh pihak-pihak yang melakukan verifikasi dan validasi terhadap teknologi tersebut.

“Kami mendukung pengembangan teknologi STAL ini, dengan hasil validasi ini, kami akan menunggu perhitungan komersialnya. Tentunya kami akan diskusikan lanjut. Apabila dipandang sudah sangat layak komersial tentunya Pemerintah dipandang bisa memberikan dukungan lebih lanjut,” katanya.

Menurut Asdep Investasi Strategis Bimo Wijayanto, ekspor produk hilir mengalami kenaikan melampaui kenaikan ekspor biji terutama pada produk nikel. Hal ini dinilai bisa menjadi dasar konteks yang dapat memperkuat argumentasi dari pengujian teknologi STAL.

“Mulai dari timah, tembaga, alumina, kemudian nikel ini kita bisa lihat sisi ekspor dari sisi volume-nya maupun value-nya mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Cumulative average growth rate-nya cukup siginifikan dari sisi investasi,” ungkapnya.

Sumber: Siaran Pers Kemenko Marves

Read More

Kemenko Marves : Penurunan Harga Nikel Tak Selalu Berdampak Negatif

NIKEL.CO.ID – Pemerintah menilai penurunan harga nikel dunia tidak seluruhnya berdampak negatif terhadap keberlangsungan industri di dalam negeri. Di sisi lain, penurunan harga tersebut justru memberi masa depan yang lebih baik terhadap masa depan logam hitam itu.

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Septian Hario Seto berpendapat bahwa kenaikan harga nikel yang sebelumnya terjadi disebabkan karena keterbatasan pasokan dari tambang untuk memenuhi kebutuhan mobil listrik.

Sementara itu, penurunan harga nikel yang disebabkan kabar dari perusahaan China Tsingshan Holding Group yang disebut mampu mengolah nickel pig iron menjadi nickel matte yang digunakan sebagai bahan baku baterai litium dalam jumlah besar.

“Kalau ini [nikel] harganya terlalu tinggi dan itu suplainya tidak bisa memenuhi itu, orang bisa berinovasi untuk menggantikan nikel dari komponen litium baterai ini. Nah, kalau itu terjadi kan itu tidak bagus untuk Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia,” katanya kepada Bisnis, Senin (23/3/2021).

Dia berpendapat bahwa nikel masih akan menjadi buruan untuk bahan baku baterai kendaraan listrik. Alasannya, dengan proyeksi pertumbuhan mobil listrik ke depannya, jumlah tambang yang ada saat ini masih belum mencukupi kebutuhan nikel untuk bahan baku baterai.

Menurut Septian, dengan harga nikel yang masih berada pada kisaran US$16.000 per ton relatif masih menguntungkan bagi industri smelter di dalam negeri. Rata-rata biaya produksi nikel di dalam negeri pada saat ini berada pada kisaran US$7.000—US$8.000 per ton.

“Saya lihat selama harganya masih di atas US$11.000 per ton, keekonomiannya, return of investment-nya masih lumayanlah,” ungkapnya.

Sumber: bisnis.com

Read More

Kata Luhut ke Tesla: Hey, You Need Us

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan kembali angkat bicara terkait kelanjutan investasi Tesla Inc di Indonesia.

Luhut menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia masih terus melakukan komunikasi dengan perusahaan yang dipimpin Elon Musk itu.

Luhut juga memastikan Tesla saat ini masih berminat untuk berinvestasi di Indonesia.

“Kita ini bukan negara jelek. Beberapa malam yang lalu, Tesla masih mengejar kita, masih diskusi, semua masih berjalan dan berlanjut,” kata Luhut dikutip Kompas.com dari Kontan, Rabu (10/3/2021).

Luhut mengeklaim, Pemerintah Indonesia tidak akan bersikap meminta-minta ke pihak Tesla agar membangun pabrik di Indonesia.

Lebih lanjut Luhut mengatakan justru pihak Tesla yang lebih membutuhkan Indonesia.

“Itulah kenapa saya pikir mereka jangan begging-begging (memohon). Hey, you need us (Hai, kalian butuh kita). Kita juga butuh mereka. Jadi harus seimbang, jangan sampai kita ditempatkan posisi untuk meminta-minta,” ucap Luhut.

Luhut juga menyatakan publik tak perlu khawatir karena selama ini pihaknya masih terus menjalin komunikasi dengan Tesla.

Meski, Luhut juga mengatakan tidak bisa menyampaikan secara mendetail bagaimana rencana investasti Tesla di Indonesia.

Hal ini terkait Indonesia yang masih memiliki non-disclosure agreement (NDA) dengan Tesla.

NDA merupakan perjanjian antar paihak untuk saling menjaga kerahasiaan informasi atau material tertentu yang tak boleh diketahui pihak lain.

Namun satu yang pasti, Luhut mengatakan perusahaan asal Amerika Serikat tersebut melihat potensi yang ada di Tanah Air.

Menurutnya, berbagai bahan baku mobil yang dibutuhkan Tesla seperti bauksit, nikel dan tembaga, semuanya dimiliki Indonesia.

Maka dari itu, pemerintah terus mendorong untuk pengembangan industri pada industri hulu dan turunan dari mobil listrik yang salah satunya adalah baterai.

Diketahui pula, Tesla ingin mengembangkan energy storage system (ESS).

Sederhananya, ESS ini seperti “power bank” dengan giga baterai skala besar yang bisa menyimpan tenaga listrik besar hingga ratusan megawatt (MW) dan bisa dijadikan sebagai stabilisator atau untuk pengganti pembangkit peaker (penopang beban puncak).

Sumber: Kompas.TV

Read More

Luhut Ungkap Alasan RI Mau Bikin Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan alasan kenapa Indonesia bersikeras mau membangun industri mobil listrik di dalam negeri. Hal ini ternyata kaitannya dengan upaya meredam negara maju seperti Uni Eropa yang ‘jail’ dengan upaya Indonesia untuk menjadi negara maju.

Ia menyatakan Indonesia siap menghadapi gugatan melawan Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait larangan ekspor bijih nikel. Saat ini, Indonesia sedang menghadapi dua gugatan melawan Uni Eropa.

Selain bijih nikel, Indonesia menggugat Uni Eropa karena larangan ekspor kelapa sawit. UE menganggap kelapa sawit tidak ramah lingkungan. Dua gugatan menghadapi lawan yang sama ini membuat Indonesia harus bersiap.

“Sekarang hilirisasi di beberapa tempat semua harus kita dorong. Kita harus lawan nanti kalau orang bicara lingkungan, kami makanya turunan seperti EV (electric vehicle) harus dibuat di sini,” sebut Luhut dalam Rakernas BPPT, Selasa (9/3/21).

Dengan adanya mobil listrik yang sedang dalam proses penggarapan, maka polusi udara bisa ditekan. Lebih dari itu, jika pengerjaan turunannya juga ada di Indonesia, maka semakin banyak nilai tambah yang diperoleh, termasuk makin besarnya lapangan kerja.

“Kalau barang harus diekspor lagi ke Eropa yang (dapat) lapangan kerja Eropa aja. Sekarang kita bawa mereka ke WTO, kita harus lawan, kita nggak mau negara berkembang ini dilecehkan,” sebutnya.

Luhut juga berpesan agar Indonesia siap menghadapi perselisihan itu. Apalagi, yang dihadapi bukan negara berkembang, melainkan deretan negara maju di benua biru.

“Saya ingin pesan ke Anda yang lebih muda, pengalaman saya, negara maju nggak ada satu pun yang ingin negara berkembang jadi negara maju. Keep ini your mind. Nggak akan. Di ecret-ecret aja kamu. Saya bilang nggak mau, kita harus bisa keluar dari keperkungkungan tadi dan kita bisa. Saya minta kita kompak karena kita kerja tim. Banyak orang pintar kita disini,” tegas Luhut.

Sebelumnya Uni Eropa secara resmi untuk kedua kalinya meminta pembentukan panel sengketa DS 592 – Measures Relating to Raw Materials pada pertemuan reguler Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement Body – WTO) pada 22 Februari 2021.

Uni Eropa telah menyoroti langkah dan kebijakan Indonesia di sektor minerba dan pada akhirnya mengajukan secara resmi permintaan konsultasi kepada Indonesia di bawah mekanisme penyelesaian sengketa pada WTO di akhir November 2019.

Selanjutnya, proses konsultasi sebagai upaya untuk menyelesaikan persoalan antara Indonesia dan Uni Eropa, telah dilaksanakan pada Januari 2021 di Sekretariat WTO di Jenewa.

Dalam proses konsultasi ini, pemerintah Indonesia telah menjelaskan atas pokok-pokok persoalan yang diangkat Uni Eropa seperti pelarangan ekspor,
persyaratan pemrosesan di dalam negeri, kewajiban pemenuhan pasar domestik (domestic market obligation), mekanisme dan persyaratan persetujuan ekspor dan pembebasan bea masuk bagi industri.

Indonesia telah menolak permintaan tersebut pada pertemuan DSB WTO di Januari 2021 karena yakin bahwa kebijakannya telah sesuai dengan ketentuan WTO dan amanat konstitusi.

Namun demikian, dalam pertemuan reguler Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement Body – WTO) pada 22 Februari 2021, UE secara resmi untuk kedua kalinya meminta pembentukan panel sengketa DS 592 – Measures Relating to Raw Materials.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Menko Luhut Tegaskan Tak Negosiasi dengan Tesla Soal Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan mengaku tak pernah secara spesifik membicarakan pabrik mobil listrik dengan produsen kendaraan listrik asal Amerika Serikat, Tesla Inc.

Luhut menjelaskan, alasan Tesla melirik Indonesia adalah karena sebagai penghasil nikel ore terbesar di dunia. Dimana nikel ini dapat digunakan dalam pengembangan mobil listrik Tesla.

“Jadi yang benar gini, ada enam di tempat mereka itu, salah satunya mobil. Ada lagi mengenai Starlink launching pad, hypersonic, ada baterai lithium pack, dan stabilizer energy. Itu yang kita bicarakan,” kata Luhut dalam Indonesia Economic Outlook Menuju Pemulihan Ekonomi Indonesia 2021, Kamis (25/2/2021).

Untuk diketahui, perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat itu dikabarkan semakin positif memilih India sebagai basis produksi keduanya di Asia. Padahal di saat yang sama Indonesia juga sedang melakukan pendekatan. Namun Luhut masih optimis dengan kelanjutan dari negosiasi dengan Tesla, menimbang sumber daya yang dimiliki Indonesia.

“Jadi, mereka (Tesla), melihat potensi kita. Dan sampai hari ini kita masih bicara,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan adanya perjanjian di mana isu negosiasi tidak boleh diungkapkan kepada publik (Non-Disclosure Agreement/ NDA). Oleh sebab itu, pihaknya tidak bisa merinci apa saja yang saat ini tengah dibicarakan.

Kepala BKPM: Negosiasi dengan Tesla Masih Jalan

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, mengatakan belum ada keputusan mengenai batalnya investasi Tesla di Indonesia. Proses negosiasi masih berjalan.

“Kalau Tesla itu masih dalam negosiasi, gagal itu kalau sudah ada keputusan. Ini kan masih negosiasi,” kata Bahlil dalam webinar PT Krakatau Bandar Samudera pada Rabu (24/3/2021).

Bahlil menekankan bahwa peluang untuk bekerja sama harus selalu terbuka.

“Pengusaha itu kalau tidak ada peluang harus menciptakan peluang. Tidak boleh pesimis, selalu harus terbuka,” ungkapnya.

Tesla dikabarkan akan memilih India untuk berinvestasi dalam pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik (EV battery). Pemerintah Indonesia saat ini tengah fokus merealisasikan rencana menjadikan Indonesia sebagai pasar besar untuk baterai kendaraan listrik, dan Tesla disebut sebagai salah satu perusahaan yang tertarik berinvestasi.

Bahlil mengatakan, di masa depan adopsi mobil listrik berbasis baterai akan semakin besar. Pada 2028 – 2030, 60 hingga 70 persen mobil di Eropa sudah harus bergeser ke mobil listrik.

“80 persen dari total bahan baku baterai mobil itu ada di Indonesia. Dengan kata lain, Indonesia ke depan akan menjadi negara penghasil baterai terbesar,” tuturnya.

Sumber: Liputan6.com

Read More

Pemerintah Tak Tertarik Jika Tesla Cuma Ambil Bahan Baku

NIKEL.CO.ID – Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Septian Hario Seto menegaskan pemerintah tak tertarik kerjasama jika Tesla hanya sebatas mengeruk sumber daya alam Indonesia untuk kepentingan bisnis baterai kendaraan listrik.

Menurut Septian rencana investasi Tesla harus menguntungkan dua belah pihak, baik Indonesia maupun perusahaan otomotif Amerika Serikat itu.

Indonesia diketahui sebagai salah satu negara penghasil material inti pembuatan baterai kendaraan listrik, nikel.

Pendiri Tesla Elon Musk bahkan sempat memuji Indonesia sebagai negara penghasil bahan baku pembuatan baterai kendaraan listrik. Hal itu diungkap melalui Twitter pada Juli lalu saat menjawab pertanyaan netizen soal unsur kimia logam tersebut.

“Yang jelas kalau cuma ngambil bahan baku kami tidak tertarik. Jadi kira-kita begitu. Tapi detail lainnya tidak hisa disclose. Ini beyond bukan hanya sekadar ngambil bahan baku,” kata Septian pekan lalu melalui acara virtual.

Tesla telah memberi sinyal baik untuk bekerjasama dengan Indonesia. Perusahaan itu bahkan telah mengirimkan proposal sebagai negosiasi tahap awal kepada pemerintah.

Dalam proposal Tesla berniat menanamkan investasi pada dua sektor.

Pertama, membangun industri baterai kendaraan listrik dan kedua akan berinvestasi pada bidang energi storage system (ESS). Septian bilang ESS laiknya power bank raksasa yang memiliki kapasitas daya hingga 100 megawatt. Power bank raksasa itu dapat dijadikan sebagai pembangkit listrik.

Lebih lanjut, kata Septian proposal Tesla menarik sebab teknologi yang akan digunakan terkait industri baterai berbeda ketimbang produsen lain seperti CATL, maupun LG yang sudah duluan melakukan penjajakan bersama Indonesia.

“Jadi saya pikir kalau kita ada investasi dari CATL, LG, yang memang mereka produsen lithium baterai yang teknologinya sangat baik, plus ditambah Tesla. Jadi saya pikir kita anak bangsa bisa banyak belajar nanti,” kata dia.

Septian menambahkan pemerintah juga tak lupa meminta kepada Tesla maupun produsen lain agar sekaligus melakukan transfer teknologi di Tanah Air.

“Karena satu hal yang kami minta dari mereka ada transfer teknologi jadi ini kesempatan yang baik dimana kita memiliki oportuniti untuk bekerjasama dengan tiga perusahaan kelas dunia yang sangat advance,” ucap Septian.

Pemerintah masih mendalami proposal Tesla dan pekan ini direncanakan bakal melakukan pertemuan kembali bersama perwakilan Tesla via daring.

Sumber: CNN Indonesia

Read More

Syarat Pabrik Baterai Mobil Listrik, 60% Nikel Harus Diolah di Indonesia

NIKEL.CO.ID – Indonesia sedang menjaring investasi asing untuk membangun pabrik baterai kendaraan listrik. Sejumlah kerjasama tengah dijajaki oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang nantinya akan tergabung dalam holding baterai Indonesia.

Kesepakatan awal sudah diteken antara PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dengan konsorsium CATL, perusahaan baterai terkemuka asal China. Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) Septian Hario Seto mengungkapkan, dalam kerjasama tersebut pihak Indonesia mengajukan syarat agar 60% dari nikel yang akan dipasok dapat diproses menjadi baterai di Indonesia.

Kata dia, pihak CATL pun merespons syarat tersebut dan berkomitmen untuk mengolah 60% nikel yang dipasok Antam di dalam negeri. Negosiasi tahap lanjut pun terus dijalankan oleh Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin bersama Antam.

Rencananya, baterai kendaraan listrik ini pun bisa diproduksi mulai tahun 2024. “60% dari nikel yang mereka peroleh harus diproses menjadi baterai di Indonesia. Ini adalah permintaan kita. Jadi kita nggak mau mereka dapat nikel kita, tapi proses baterainya di luar negeri,” ungkap Septian dalam acara Indonesia Mining Outlook, Selasa (15/12/2020).

Lebih lanjut, Septian mengungkapkan, beberapa waktu lalu di Yunan, pihaknya juga sudah melakukan pembicaraan untuk meminta pabrikan mobil listrik asal China bisa berinvestasi di Indonesia. Targetnya, ada investasi yang masuk sekitar US$ 5 miliar pada tahun 2024.

“Beberapa waktu lalu juga saya bertemu mereka di Yunan, mereka juga berkomitmen membawa pabrikan mobil listriknya. Targetnya 2024 mereka investasi kira kira US$ 5 miliar,” terang Septian.

Selain dengan konsorsium CATL, saat ini anggota holding baterai BUMN juga sedang menjajaki kerjasama dengan LG Chem Ltd dari Korea Selatan. Selain itu, pemerintah Indonesia juga sedang mendekati produsen baterai dan mobil listrik terkemuka asal Amerika Serikat, Tesla.

“CATL dan LG Chem dua perusahaan teknologi lithium baterai paling advanced di dunia, selain Tesla. Jadi kalau bisa mendapatkan tiga nama itu masuk di Indonesia, mereka bikin pabrik mobil listrik, ini langkah yang sangat baik,” ujar Septian.

Dalam pemberitaan sebelumnya, CEO MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan, Indonesia Battery Holding (IBH) akan menggarap industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. IBH nantinya terdiri dari PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), holding pertambangan BUMN Inalum (MIND ID), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Anggota holding baterai pun terbuka untuk membentuk joint venture (JV) atau menggandeng mitra  dari dalam negeri maupun asing, pada setiap rantai bisnis (value chain) industri baterai.

“Kami terbuka untuk mitra domestik maupun asing masuk ke dalam JV, yang dapat dibentuk dengan mitra pada setiap value chain yang terintegrasi sejak tambang sampai baterai,” terang Orias.

Saat ini, ada dua perusahaan electric vehicle (EV) battery global yang sedang melakukan penjajakan kerja sama yakni konsorsium CATL asal China, serta LG Chem Ltd dari Korea Selatan. Untuk CATL, pembahasan kerjasama sedang dilakukan bersama ANTM. Kesepakatan awal (MoU) pun sudah diteken.

Sedangkan untuk LG Chem, penjajakan sudah dilakukan melalui ANTM dan Badan Koordinasai Penanaman Modal (BKPM). Namun negosiasi lanjutan akan dikerjakan oleh Pertamina. “Jadi CATL akan lanjut negosiasi dengan Antam, untuk LG Chem negosiasinya dipimpin oleh Pertamina. Ini pembagian tugas, sesuai arahan Menteri BUMN supaya bisa berjalan dengan cepat rencana untuk holding baterai ini dan kerjasama dengan mitra-mitra asing,” jelas Orias.

Targetnya, skema kerja sama dengan calon mitra yakni konsorsium CATL dan LG Chem bisa rampung di awal 2021. “Diharapkan awal tahun depan bisa ada kesepakatan dengan calon mitra dan di dalam value chain baterai ini, baik tambang sampai dengan battery pack dan masuk sampai ke pada daur ulangnya, bisa sepakati. Jadi ini yang disiapkan, dan negosiasi berjalan terus dengan masing-masing pihak,” terang Orias.

Investasi baterai kendaraan listrik ini juga terkait dengan strategi hilirisasi tambang, khususnya nikel. Kata Orias, Menteri BUMN Erick Thohir pun meminta agar proses hilirisasi nikel tak lagi berhenti pada ekspor produk setengah jadi. Menurutnya, harus ada batas minimal 60%-70% pengelolaan nikel di dalam negeri untuk industri baterai.

“Berdasarkan instruksi dari Pak Menteri BUMN, bahwa nikel yang diproses harus sampai baterai, minimal 60%-70% yang diserahkan untuk diproses itu jangan setengah jalan, tapi sampai ke baterai pack ke bawahnya,” imbuh Orias.

Sumber: kontan.co.id

Read More