Beranda Berita Nasional Dirjen Minerba KESDM: Kuasai 65% Pasokan Dunia, Indonesia Harus Maksimalkan Nilai Tambah...

Dirjen Minerba KESDM: Kuasai 65% Pasokan Dunia, Indonesia Harus Maksimalkan Nilai Tambah Nikel

84
0
Dirjen Minerba KESDM, Tri Winarno (Foto: MNI/Shiddiq)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok terbesar nikel dunia dinilai menjadi modal strategis untuk memperkuat industri nasional. Dengan kontribusi sekitar 60%–65% terhadap pasokan nikel global, pemerintah mendorong agar keunggulan tersebut tidak berhenti pada produksi, tetapi dikonversi menjadi nilai tambah melalui hilirisasi.

Direktur Jenderal (Dirjen)  Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Tri Winarno, mengatakan, besarnya porsi Indonesia dalam pasokan nikel dunia seharusnya memberikan posisi tawar yang kuat bagi Indonesia dalam industri mineral global.

“Karena kita 60%, mungkin 65% pemasok nikel dunia, maka sudah sepatutnya kita mengelola komoditas tersebut,” ujar Tri dalam perayaan HUT Ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Menurut dia, nikel kini memiliki peran strategis seiring perkembangan kendaraan listrik, baterai, perangkat elektronik, dan teknologi tinggi. Kondisi tersebut membuat mineral strategis semakin penting dalam rantai pasok industri global. Indonesia harus memanfaatkan posisi tersebut dengan memperpanjang rantai nilai nikel di dalam negeri. Hilirisasi tidak cukup hanya menghasilkan produk antara, tetapi perlu diarahkan pada pengembangan industri material, manufaktur, teknologi, dan tenaga profesional nasional.

“Orientasinya bukan hanya berapa banyak yang kita produksi, tetapi berapa besar nilai tambah yang kita dapat atau kita ciptakan dari industri pertambangan,” katanya.

Dirjen Minerba itu juga mencatat harga nikel pada 2025 rata-rata berada di kisaran US$15.000 per ton, kemudian sempat meningkat hingga mendekati US$19.000 per ton dan kini berada di sekitar US$16.800–US$16.900 per ton. Dinamika harga tersebut menunjukkan perubahan kapasitas produksi global dapat memengaruhi keseimbangan pasar. Bagi Indonesia, kondisi itu menjadi peluang sekaligus tantangan untuk memperkuat industri nikel nasional.

Namun, besarnya sumber daya dan dominasi pasokan tidak otomatis menjamin daya saing. Indonesia tetap harus memperkuat eksplorasi, efisiensi logistik, teknologi, energi, serta infrastruktur.

“Daya saing Indonesia tidak hanya dibangun melalui keunggulan sumber daya,” tegasnya. 

Dengan demikian, tantangan Indonesia ke depan bukan sekadar mempertahankan posisi sebagai produsen utama nikel, tetapi memastikan komoditas tersebut menjadi fondasi bagi penguasaan industri dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri. (Shiddiq)