

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Harga nikel Indonesia kembali mengalami tekanan pada awal September 2026. Berdasarkan Indonesia Nickel Price Index (INPI) yang dirilis Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Shanghai Metals Market (SMM) per 7 September 2026, seluruh komoditas yang tercantum dalam indeks mengalami penurunan dibandingkan pekan sebelumnya.
Penurunan terjadi baik pada bijih nikel maupun produk olahan. Harga rata-rata bijih nikel kadar 1,2% (CIF) turun dari US$28/mt menjadi US$27/mt. Sementara bijih nikel kadar 1,6% (CIF) terkoreksi dari US$65,8/mt menjadi US$64,1/mt.
Tekanan lebih besar terlihat pada produk hilir. Harga rata-rata nickel pig iron (NPI) turun menjadi US$142,73/mt, sedangkan high-grade nickel matte (HGNM) merosot menjadi US$15.365/mt. Penurunan terdalam secara nominal terjadi pada mixed hydroxide precipitate (MHP) yang turun US$334/mt menjadi US$14.659/mt.

Kondisi ini berbeda dengan rilis INPI 31 Agustus 2026, ketika harga bijih nikel masih stabil, sementara HGNM dan MHP justru mengalami penguatan. Pada pekan tersebut, HGNM naik US$95/mt dan MHP naik US$91/mt, sedangkan NPI terkoreksi US$1,48/mt.
Perbandingan Harga INPI 31 Agustus 2026 dan 7 September 2026
| PRODUK | 31 AGUSTUS 2026 | 7 SEPTEMBER 2026 | KETERANGAN |
| Bijih Nikel 1,2% (CIF) | US$28/mt | US$27/mt | Turun US$1/mt |
| Bijih Nikel 1,6% (CIF) | US$65,8/mt | US$64,1/mt | Turun US$1,7/mt |
| NPI (FOB) | US$144,47/mt | US$142,73/mt | Turun US$1,74/mt |
| HGNM (FOB) | US$15.626/mt | US$15.365/mt | Turun US$261/mt |
| MHP (FOB) | US$14.993/mt | US$14.659/mt | Turun US$334/mt |

Lima Komoditas Kompak Melemah
Harga bijih nikel kadar rendah 1,2% (CIF) pada 7 September 2026 berada di kisaran US$25–29/mt, dengan rata-rata US$27/mt. Angka tersebut turun US$1/mt dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di rata-rata US$28/mt. Untuk bijih nikel kadar 1,6% (CIF), harga berada pada rentang US$63,6–64,6/mt, dengan rata-rata US$64,1/mt. Dibandingkan 31 Agustus yang mencapai US$65,8/mt, harga terkoreksi US$1,7/mt.
Di segmen produk antara, NPI (FOB) juga melanjutkan pelemahan. Harga rata-ratanya turun dari US$144,47/mt menjadi US$142,73/mt, atau berkurang US$1,74/mt dalam sepekan. Tekanan lebih besar terjadi pada HGNM. Harga rata-rata produk tersebut turun dari US$15.626/mt menjadi US$15.365/mt, atau terkoreksi US$261/mt.
Sementara itu, MHP menjadi produk dengan penurunan terbesar. Harga rata-rata MHP turun dari US$14.993/mt pada 31 Agustus menjadi US$14.659/mt pada 7 September 2026. Dengan demikian, MHP mengalami koreksi US$334/mt dalam satu pekan.
Produk Hilir Berbalik Melemah
Pergerakan INPI pekan ini menunjukkan perubahan cukup tajam dibandingkan rilis sebelumnya. Jika pada 31 Agustus dua produk hilir, yakni HGNM dan MHP, menjadi penopang indeks melalui penguatan masing-masing US$95/mt dan US$91/mt, pada 7 September keduanya justru menjadi produk dengan koreksi paling besar.
Penurunan serentak tersebut membuat pasar nikel domestik menunjukkan tekanan yang lebih luas. Tidak hanya bijih nikel sebagai bahan baku yang terkoreksi, tetapi juga produk olahan yang berada di rantai pasok stainless steel maupun bahan baku baterai.
Pergerakan tersebut juga terjadi ketika harga nikel global masih berada di level relatif tinggi. Data pasar global yang tersedia hingga 4 September menunjukkan harga nikel berada di kisaran US$16.811/ton, dengan tekanan dari persediaan yang tinggi dan permintaan China yang masih lemah.
Sebelumnya, memasuki September 2026, Harga Mineral Acuan (HMA) nikel periode pertama juga mengalami penurunan menjadi US$16.733,33/wmt, atau turun US$226,67/wmt dibandingkan Agustus 2026 periode kedua.

Tekanan Terbesar di MHP dan HGNM
Jika melihat besaran koreksi, MHP menjadi produk yang paling tertekan pada rilis INPI 7 September 2026 dengan penurunan US$334/mt. HGNM menyusul dengan koreksi US$261/mt.
Sementara itu, penurunan NPI relatif lebih kecil secara nominal, yakni US$1,74/mt. Namun, arah pergerakan seluruh produk yang seragam menunjukkan bahwa tekanan harga pada pekan ini tidak lagi terbatas pada satu segmen.
Dengan demikian, rilis INPI 7 September 2026 memperlihatkan pasar nikel Indonesia memasuki pekan kedua September dengan tren melemah. Lima komoditas dalam indeks sama-sama turun, dengan tekanan paling dalam terjadi pada produk hilir HGNM dan MHP.
Kondisi ini menjadi perhatian bagi pelaku usaha nikel, khususnya karena pergerakan harga produk hilir kini berbalik dari penguatan yang terjadi pada akhir Agustus. Sementara itu, harga bijih nikel juga mulai terkoreksi setelah sebelumnya bertahan stabil selama beberapa pekan. (Li Han)












































