


NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menegaskan pentingnya kesiapan teknologi untuk mempercepat pengolahan sumber daya mineral nasional. Hal itu mengemuka dalam perayaan HUT Ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Ketua Umum APNI, Komjen Pol. (Purn.) Drs. Nanan Soekarna, hadir langsung mewakili APNI dalam agenda yang mengusung tema “Industri Mineral & Batu Bara: Kondisi Saat Ini dan Kontribusinya bagi Masa Depan Bangsa & Negara”. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, lembaga riset, dan pemangku kepentingan pertambangan untuk membahas arah kebijakan serta masa depan industri mineral dan batu bara Indonesia.

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah bagaimana memastikan sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia dapat segera dikembangkan melalui teknologi pengolahan yang tepat.
Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi Badan Industri Mineral (BIM), Prof. Dr. Ir. Yogi Wibisono Budhi, S.T., M.T., I.P.M., mengungkapkan, pemetaan sumber daya dan cadangan menjadi langkah awal untuk menentukan mineral yang dapat dikembangkan dan diolah lebih dahulu.

“Dari BIM dan pemangku kepentingan, kami memastikan bagaimana keberadaan sumber daya dan cadangan yang kita miliki serta jenis mineral mana yang dapat diolah lebih awal atau terlebih dahulu,” ujar Prof. Yogi.
Menurut dia, pengembangan hilirisasi tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan sumber daya. Teknologi pengolahan juga harus disiapkan agar mineral Indonesia dapat memberikan nilai tambah secara optimal. Karena itu, BIM bersama lembaga riset dan pelaku industri terus menyiapkan berbagai pilihan teknologi yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik sumber daya mineral.

“BIM bersama sejumlah lembaga riset dan pelaku industri menyiapkan teknologi-teknologi yang bisa kita pilih, yang bisa kita kembangkan, untuk menjaga kesiapan pengolahan mineral,” katanya.
Yogi menambahkan, teknologi yang dikembangkan harus melewati tahapan pengujian dan validasi sebelum masuk ke tahap komersialisasi. Proses tersebut diperlukan untuk memastikan teknologi benar-benar siap diterapkan dalam skala industri.

“Mulai dari pilot validation kemudian ditingkatkan pada skala komersial,” ujarnya.
Perayaan HUT Ke-36 Perhapi sendiri diisi dengan sejumlah agenda strategis, mulai dari sambutan hingga diskusi mengenai perkembangan kebijakan dan industri pertambangan. Sejumlah tokoh turut menjadi pembicara, di antaranya Ketua Umum Perhapi, Sudirman Widhy Hartono, Kepala BIM, Prof. Brian Yuliarto, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Dr. Ing. Tri Winarno, serta Menteri Batu Bara dan Pertambangan India, Hons. Shri G. Kishan.
Diskusi juga membahas perkembangan kebijakan sektor pertambangan dan kondisi industri, dengan melibatkan perwakilan pemerintah, pelaku industri mineral, serta perusahaan pertambangan. (Shiddiq)











































