
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Kinerja ekspor nikel dan barang daripadanya masih mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang Januari–Juli 2026. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor komoditas dengan kode HS 75 tersebut tumbuh 49,84% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menjadikan nikel sebagai salah satu komoditas ekspor nonmigas dengan kinerja terbaik sepanjang tujuh bulan pertama 2026, berada di bawah aluminium dan barang daripadanya yang mencatat pertumbuhan 85,78%, namun di atas tembaga dan barang daripadanya yang tumbuh 36,14%.
Meski demikian, kinerja ekspor nikel mengalami tekanan pada Juli 2026. Secara bulanan, ekspor nikel dan barang daripadanya turun 38,25% dibandingkan Juni 2026. Penurunan nikel menjadi salah satu komoditas yang memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekspor nonmigas pada Juli.

Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai US$26,22 miliar, naik 2,98% dibandingkan Juni 2026 dan meningkat 6,05% dibandingkan Juli 2025. Ekspor nonmigas berkontribusi sebesar US$25,43 miliar, tumbuh 4,25% secara bulanan dan 6,84% secara tahunan.
Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Budi Santoso, mengatakan, surplus perdagangan Juli menunjukkan kinerja ekspor Indonesia masih terjaga di tengah dinamika ekonomi global. Pemerintah, kata dia, akan terus mendorong diversifikasi pasar dan komoditas ekspor.
“Surplus perdagangan pada Juli 2026 menunjukkan kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga. Diversifikasi pasar dan komoditas ekspor perlu terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusi perdagangan nonmigas. Pemerintah akan terus mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan peluang di berbagai pasar tujuan serta memperluas pasar ekspor produk Indonesia,” ujar Budi melalui keterangan pers yang diterima Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), Kamis (3/9/2026).

Ekspor Nikel Masih Tumbuh Kuat
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar, meningkat 4,43% dibandingkan periode yang sama pada 2025. Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas mencapai US$160,01 miliar atau tumbuh 5,21% secara tahunan.
Kinerja nikel menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekspor nonmigas tersebut. Pertumbuhan sebesar 49,84% menunjukkan ekspor nikel dan produk turunannya masih memiliki peran penting dalam perdagangan luar negeri Indonesia.
Selain nikel, sejumlah komoditas berbasis logam juga mencatat pertumbuhan tinggi. Ekspor aluminium dan barang daripadanya meningkat 85,78%, sedangkan ekspor tembaga dan barang daripadanya tumbuh 36,14% sepanjang Januari–Juli 2026. Kinerja tersebut sejalan dengan semakin besarnya kontribusi industri pengolahan dalam struktur ekspor Indonesia. Sepanjang Januari–Juli 2026, ekspor sektor industri pengolahan tumbuh 7,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Industri pengolahan menyumbang 82,18% terhadap total ekspor Indonesia, jauh lebih besar dibandingkan sektor pertambangan dan lainnya yang berkontribusi 11,73%, migas 4,20%, serta pertanian 1,89%. Menurut Budi, dominasi industri pengolahan menunjukkan pentingnya peningkatan nilai tambah produk dalam negeri melalui hilirisasi.
“Industri pengolahan menjadi salah satu kekuatan utama ekspor Indonesia. Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi dan peningkatan daya saing produk ekspor perlu terus dilakukan agar semakin banyak produk Indonesia mampu menembus pasar global,” katanya.

Surplus
Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 masih mencatat surplus sebesar US$0,12 miliar. Surplus tersebut terutama berasal dari perdagangan nonmigas yang mencapai US$3,10 miliar dan mampu mengimbangi defisit perdagangan migas sebesar US$2,98 miliar. Secara kumulatif Januari–Juli 2026, Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$3,70 miliar. Surplus tersebut berasal dari perdagangan nonmigas sebesar US$22,45 miliar, yang mengimbangi defisit migas sebesar US$18,75 miliar.
Dari sisi komoditas, surplus perdagangan nonmigas Januari–Juli 2026 terutama berasal dari lemak dan minyak hewani/nabati dengan nilai US$20,96 miliar, bahan bakar mineral US$16,39 miliar, serta besi dan baja US$10,32 miliar. Adapun pada Juli 2026, ketiga kelompok komoditas tersebut menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan total US$7,90 miliar.
Dengan demikian, meski ekspor nikel mengalami penurunan cukup dalam pada Juli 2026, kinerja kumulatifnya masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Pertumbuhan ekspor nikel sebesar 49,84% sepanjang Januari–Juli menjadi sinyal bahwa komoditas tersebut tetap memiliki posisi strategis dalam struktur ekspor Indonesia, khususnya di tengah penguatan industri pengolahan dan agenda hilirisasi mineral. (Li Han)










































