Beranda Berita Nasional Prof. Evvy Kartini: Teknologi Baterai tak Sulit, Indonesia harus Menguasainya agar tak...

Prof. Evvy Kartini: Teknologi Baterai tak Sulit, Indonesia harus Menguasainya agar tak Tergantung Impor

94
0
Founder NBRI, Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini, M.Sc. (Foto: MNI)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Insan pertambangan jangan hanya memahami aktivitas penambangan, tetapi juga harus menguasai teknologi baterai agar Indonesia mampu membangun industri kendaraan listrik secara mandiri.

Ajakan itu disampaikan pendiri National Battery Research Institute (NBRI), Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini, M.Sc. dalam Training to Miners (TTM) APNI Seri Ke-8 yang digelar Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis (30/7/2026). Menurut Prof. Evvy, anggapan bahwa teknologi baterai sangat rumit merupakan persepsi yang keliru.

“Saya coba belajar, yang katanya sulit itu sebenarnya kalau dipelajari tidak sulit. Sekarang kenapa kita harus impor motor listrik atau baterainya? Katanya sulit? Di tempat kami (NBRI), dua hari belajar, Anda sudah bisa bikin,” ujarnya.

Ia menjelaskan, lembaga yang dipimpinnya selama lima tahun terakhir ini telah melatih lebih dari seribu peserta dari berbagai industri, mulai dari PLN, Pertamina, hingga sektor otomotif.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

“Selama lima tahun ini kami sudah melatih lebih dari 1.000 peserta industri. Belajarnya bukan hanya teori, tetapi siangnya langsung praktik membuat baterai, membuat motor listrik, battery pack, sampai konversi sepeda motor listrik,” katanya.

Guru besar kelahiran Bogor yang terkenal atas penemuannya tentang konduktor superionik berbahan gelas ini mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan besar juga telah mengikuti pelatihan di institut yang bermarkas di Kawasan Puspiptek BRIN, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor itu.

“Astra, Toyota, dan sebagainya juga belajar. Kenapa? Karena, sebenarnya teknologi itu tidak sulit kalau kita mau belajar,” ujarnya memberi semangat.

Selain pendidikan, timnya juga aktif memberikan konsultasi teknis kepada industri baterai nasional, termasuk membantu menyelesaikan persoalan di fasilitas produksi berskala besar. Ia mencontohkan, ketika terjadi gangguan pasokan listrik pada pabrik baterai berkapasitas 10 GWh, yang dapat menyebabkan kerugian jutaan dolar.

“Kami diminta membantu melakukan komputasi. Alhamdulillah, bisa membantu menghemat kerugian ratusan ribu dolar dari setiap kejadian. Jadi, kami bukan hanya riset, tetapi juga membantu industri,” tuturnya.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg

Dia juga menyoroti pentingnya regulasi pengelolaan baterai bekas kendaraan listrik melalui skema extended producer responsibility (EPR).

“Kalau baterai mobil listrik setelah lima atau sepuluh tahun kapasitasnya turun, apakah sudah ada aturannya? Belum. Harusnya ada EPR. Jadi, baterainya harus diambil kembali. Banyak persoalan seperti ini yang harus kita selesaikan,” tegasnya.

Pada akhir paparannya, fisikawan dunia dari Indonesia itu mengajak seluruh peserta TTM untuk menjadikan ilmu sebagai modal membangun industri nasional.

“Tambang itu punya siapa? Tambang itu punya Indonesia. Dengan apa caranya kita bisa membangun? Dengan ilmu dan teknologi. Kalau Anda menguasai teknologi, tidak ada yang sulit,” katanya yakin.

Ia menutup pesannya dengan optimistis bahwa Indonesia mampu menjadi pemain utama industri baterai dunia apabila seluruh pemangku kepentingan mau terus belajar dan berkolaborasi.

“Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik jika kita semua bersama, bekerja bersama, belajar bersama, dan membuat Indonesia lebih baik,” tutupnya. (Shiddiq)