
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Selama bertahun-tahun, baterai litium menjadi tulang punggung perkembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dunia. Hampir seluruh produsen otomotif mengandalkan litium karena mampu menyimpan energi dalam jumlah besar dengan bobot yang relatif ringan. Sehingga, kebutuhannya terus meningkat seiring naiknya permintaan baterai kendaraan listrik.
Oleh karena itu, unsur yang termasuk logam alkali bernomor atom 3 ini menjadi primadona, menjadi rebutan. Harganya melambung. Saat ini litium dalam bentuk litium karbonat harganya antara US$17.000 hingga US$26.000.
Akan tetapi, tampaknya masa keemasan “emas putih” ini akan segera tergantikan oleh garam. Ya, memang tidak secara langsung garam bisa dimanfaatkan untuk bahan baku baterai, tetapi kandungan natriumnyalah yang akan merebut tahta litium. Natrium biasanya berikatan dengan klorida membentuk garam dapur atau natrium klorida (NaCL).

Selain harganya dan cadangan litium yang minim, para peneliti mulai mengembangkan alternatif baru yang memanfaatkan bahan baku jauh lebih melimpah di alam, yakni natrium (dikenal juga dengan sebut sodium).
Teknologi tersebut dikenal sebagai sodium-ion battery atau baterai natrium. Meski kerap disebut sebagai “baterai berbahan garam”, teknologi ini tidak menggunakan garam dapur secara langsung, melainkan memanfaatkan ion natrium (Na) sebagai pembawa muatan listrik. Prinsip kerjanya hampir sama dengan baterai ion litium, yaitu ion bergerak antara katode dan anode saat proses pengisian maupun pelepasan energi.
Minat terhadap baterai natrium terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai kajian ilmiah yang dipublikasikan melalui ScienceDirect menyebutkan, natrium memiliki sejumlah keunggulan, terutama karena ketersediaannya yang sangat melimpah. Berbeda dengan litium yang cadangannya terkonsentrasi di sejumlah negara, natrium merupakan salah satu unsur paling banyak ditemukan di kerak bumi maupun air laut sehingga pasokannya dinilai lebih aman untuk jangka panjang.

Melimpahnya bahan baku tersebut juga membuka peluang menekan biaya produksi baterai. Faktor inilah yang membuat banyak peneliti memandang sodium-ion sebagai salah satu solusi untuk menghadirkan baterai yang lebih ekonomis, terutama bagi kendaraan listrik di segmen harga terjangkau dan sistem penyimpanan energi (energy storage system/ESS).
Selain biaya, aspek keamanan menjadi keunggulan lain yang banyak disoroti. Sejumlah penelitian menunjukkan baterai natrium memiliki stabilitas termal yang lebih baik, sehingga risiko panas berlebih (thermal runaway) dapat ditekan. Karakteristik tersebut membuat teknologi ini dinilai cocok digunakan pada fasilitas penyimpanan energi berskala besar yang membutuhkan tingkat keamanan tinggi.
Meski menawarkan berbagai kelebihan, baterai natrium belum mampu sepenuhnya menggantikan baterai litium. Tantangan utamanya terletak pada kepadatan energi (energy density). Dibandingkan litium, ion natrium berukuran lebih besar sehingga jumlah energi yang dapat disimpan dalam ruang yang sama masih lebih rendah. Akibatnya, kendaraan listrik yang menggunakan baterai natrium umumnya memiliki jarak tempuh lebih pendek.
Karena itu, hingga saat ini baterai litium masih menjadi pilihan utama untuk kendaraan listrik yang membutuhkan performa tinggi dan daya jelajah jauh. Sementara itu, baterai natrium lebih diproyeksikan untuk kendaraan perkotaan, kendaraan roda dua, maupun sistem penyimpanan energi yang lebih mengutamakan efisiensi biaya daripada kapasitas energi maksimum.

Perkembangan teknologi tersebut mulai memasuki tahap komersialisasi. Salah satu perusahaan yang paling aktif mengembangkannya adalah Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia asal China. CATL telah memperkenalkan baterai sodium-ion sebagai bagian dari strategi diversifikasi teknologi baterainya.
Perusahaan tersebut menilai baterai natrium bukan untuk menggantikan litium, melainkan menjadi pilihan baru yang dapat digunakan sesuai kebutuhan pasar. Teknologi ini dinilai memiliki keunggulan dalam performa pada suhu rendah, kemampuan pengisian daya yang cepat, serta biaya produksi yang lebih kompetitif untuk sejumlah aplikasi.
Langkah CATL menunjukkan bahwa industri baterai global mulai bergerak menuju ekosistem yang lebih beragam. Jika sebelumnya pasar didominasi baterai berbasis litium, kini berbagai teknologi lain mulai berkembang, termasuk lithium ferrophosphate (LFP), lithium manganese ferrophosphate (LMFP), baterai solid-state, hingga sodium-ion.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa masa depan industri kendaraan listrik kemungkinan tidak lagi bergantung pada satu jenis baterai. Setiap teknologi akan memiliki keunggulan dan segmen pasarnya masing-masing. Baterai litium masih akan menjadi pilihan utama untuk kendaraan berperforma tinggi, sementara baterai berbahan natrium berpotensi mengisi kebutuhan kendaraan listrik yang lebih terjangkau dan sistem penyimpanan energi berskala besar. Dengan berbagai inovasi yang terus berkembang, persaingan teknologi baterai diperkirakan akan semakin dinamis. Bukan lagi sekadar mencari pengganti litium, melainkan menghadirkan berbagai pilihan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan pasar yang semakin beragam. (Tubagus)











































