Beranda Berita Nasional Kemenperin Perluas Akses Pasar Eurasia Lewat Innoprom 2026

Kemenperin Perluas Akses Pasar Eurasia Lewat Innoprom 2026

73
0
Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita (Foto: Humas Kemenperin)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus memperluas peluang kerja sama industri di kawasan Eurasia melalui partisipasi dalam ajang Innoprom 2026 yang berlangsung di Ekaterinburg, Rusia, pada 6–9 Juli 2026. Dalam pameran industri internasional tersebut Indonesia membawa 19 perusahaan dan lembaga yang mewakili sektor industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika (ILMATE) untuk memperkuat akses pasar sekaligus menjajaki investasi dan kolaborasi teknologi.

Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan, keikutsertaan Indonesia di Innoprom 2026 tidak hanya bertujuan mempromosikan produk manufaktur nasional, tetapi juga membangun kerja sama industri yang lebih konkret dengan Rusia, negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU), serta BRICS.

“Melalui partisipasi tersebut, Indonesia tidak hanya mempromosikan produk unggulan, tetapi juga membidik kerja sama industri yang lebih konkret melalui perluasan akses pasar, kolaborasi produksi, dan penguatan rantai pasok dengan Rusia serta negara-negara anggota EAEU dan BRICS,” kata Agus dalam keterangannya, dikutip Kamis (9/7/2026).

Kehadiran sektor ILMATE dalam pameran tersebut, katanya melanjutkan, menjadi bukti bahwa kapasitas manufaktur Indonesia semakin berkembang dan mampu bersaing di pasar global.

“Kami ingin memperlihatkan kepada mitra internasional bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mitra industri yang mampu menghadirkan inovasi, teknologi, dan produk manufaktur bernilai tambah tinggi,” ujarnya.

Sektor ILMATE merupakan salah satu penopang utama transformasi manufaktur nasional karena menghasilkan produk dengan kandungan teknologi serta nilai tambah yang tinggi. Dalam Innoprom 2026, berbagai inovasi yang ditampilkan mencakup teknologi kecerdasan buatan (AI), virtual reality, RFID, industri kapal dan komponen maritim, drone, energi surya, logam besi dan baja, hingga permesinan industri.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

Kinerja sektor ini juga menunjukkan tren positif. Pada triwulan I 2026, sektor ILMATE mencatat pertumbuhan sebesar 4,28% secara tahunan (year-on-year). Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 4,28% atau hampir seperempat dari total PDB industri pengolahan nonmigas. Selain itu, realisasi investasi sektor ILMATE mencapai Rp90,48 triliun, mencerminkan tingginya minat investasi terhadap industri manufaktur berbasis teknologi di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Jenderal ILMATE Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, mengatakan, partisipasi Indonesia di Innoprom 2026 menjadi momentum untuk memperluas jejaring industri nasional di pasar internasional.

“Kami berharap kehadiran mereka dapat membuka lebih banyak peluang kolaborasi teknologi, investasi, dan pengembangan rantai pasok dengan mitra industri di kawasan Eurasia,” pungkasnya.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg

Bagi industri logam nasional, termasuk sektor nikel dan produk turunannya, perluasan kerja sama dengan kawasan Eurasia dinilai dapat membuka peluang baru dalam pengembangan rantai pasok global. Kebutuhan material logam untuk industri permesinan, energi, transportasi, hingga manufaktur berteknologi tinggi terus meningkat seiring transformasi industri di berbagai negara.

Penguatan hubungan industri Indonesia dengan kawasan Eurasia juga telah ditandai melalui penandatanganan Non-Disclosure Agreement (NDA) antara PT PAL Indonesia dan Rosatom pada April 2026. Kerja sama tersebut menjadi salah satu contoh kolaborasi strategis dalam pengembangan teknologi industri bersama mitra internasional.

Pada Innoprom 2026, Indonesia diwakili oleh perusahaan dan lembaga dari berbagai subsektor, antara lain teknologi digital, industri logam, galangan kapal, komponen maritim, kabel, energi surya, drone, manufaktur peralatan industri, hingga smart farming.

Melalui partisipasi tersebut, Kementerian Perindustrian berharap kerja sama yang terjalin dapat berkembang menjadi investasi, transfer teknologi, pengembangan rantai pasok, hingga kolaborasi produksi. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat daya saing industri manufaktur nasional sekaligus membuka pasar baru bagi produk industri Indonesia, termasuk produk logam bernilai tambah, di kawasan Eurasia dan pasar global. (Fi Yun)