
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBM) menjadikan tambang nikel PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) sebagai pilar utama model bisnis terintegrasi perusahaan sekaligus mempercepat pengembangan feed preparation plant (FPP) untuk memperkuat rantai pasok bahan baku baterai dan meningkatkan efisiensi operasional.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 yang digelar Selasa (23/6/2026), MBM melaporkan SCM menjadi salah satu kontributor utama kinerja perusahaan sepanjang 2025. Tambang tersebut memproduksi 7 juta wmt bijih saprolit dan 14,7 juta wmt bijih limonit, yang menjadi basis pasokan bagi fasilitas pengolahan hilir milik perseroan.
Presiden Direktur MBM, Teddy Nuryanto Oetomo, mengatakan, keputusan yang dihasilkan dalam RUPST akan mendukung fase pertumbuhan berikutnya melalui peningkatan kapasitas produksi dan penguatan integrasi bisnis dari hulu hingga hilir.

“MBM berhasil mempertahankan kinerja yang tangguh di tengah tekanan harga nikel global, didukung oleh peningkatan volume produksi dan peningkatan margin di operasi hilir. Kami akan terus mempercepat pengembangan ekosistem hilir terintegrasi untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang Perseroan,” ungkap Teddy.
Sepanjang 2025, MBM membukukan pendapatan sekitar US$1,435 miliar dengan EBITDA sebesar US$219 juta di tengah pelemahan harga nikel global. Kinerja tersebut ditopang peningkatan volume produksi nikel, kontribusi yang lebih besar dari operasi hilir, serta disiplin biaya di seluruh rantai nilai bisnis.
Pada sektor hilir, MBM mencatat produksi nickel pig iron (NPI) sebesar 73.871 ton, high-grade nickel matte (HGNM) sebanyak 19.998 ton, dan mixed hydroxide precipitate (MHP) sebesar 25.994 ton.

Untuk memperkuat integrasi operasional, perusahaan mulai mengoperasikan FPP yang berfungsi mengirimkan sluri limonit melalui jalur pipa dari tambang SCM menuju fasilitas high pressure acid leach (HPAL) yang dioperasikan PT ESG New Energy Material.
Selain itu, proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SNC) dengan kapasitas terpasang 90.000 ton nikel per tahun terus berjalan sesuai jadwal. Perseroan menargetkan proses commissioning lini pertama fasilitas tersebut pada semester II 2026.
Memasuki 2026, MBM menargetkan produksi bijih saprolit sebesar 8 juta hingga 10 juta wmt dan bijih limonit sebesar 20 juta hingga 25 juta wmt. Di sektor hilir, produksi NPI ditargetkan mencapai 70.000–80.000 ton, sedangkan HGNM ditargetkan sebesar 44.000–48.000 ton.

Ia menegaskan, penguatan organisasi juga dilakukan untuk mendukung agenda pertumbuhan perusahaan. RUPST menyetujui pengangkatan James Nicholas sebagai direktur sekaligus chief financial officer serta Ashutosh Srivastava Fausimm sebagai direktur operasional.
“Penguatan susunan direksi diharapkan dapat mendukung fokus MBM pada disiplin keuangan, eksekusi operasional, dan penciptaan nilai jangka panjang seiring pengembangan posisi perseroan dalam rantai nilai bahan baku baterai,” katanya.
MBM menyatakan akan terus fokus pada efisiensi operasional, disiplin alokasi modal, serta pengembangan portofolio bahan baku baterai terintegrasi guna memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global. (Shiddiq)









































